TERJERAT DALAM DOSA BENCI

Terjerat dalam Dosa Benci
Kejadian 4:8-16
Kebencian terhadap sesama adalah dosa yang berpotensi mematikan.  Pernakah Anda membenci seseorang karena sakit hati?  Firman Tuhan menjelaskan, orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia (I Yohanes 3:15).  Kain semula tidak senang dengan adiknya Habel karena persembahannya diterima Tuhan sementara persembahan Kain tidak diterima Tuhan.  Bisa dibayangkan rasa tidak senang Kain berubah menjadi kebencian yang dipupuk waktu demi waktu.  Puncak dari kebencian Kain terhadap Habel adalah membunuhnya dengan pukulanmaut.
Ketika dosa menggerogoti hidup manusia, maka efek dosa itu seperti kanker yang semakin lama semakin menjalar dan merusak hidup manusia.  Efek dari manusia yang tercemar oleh dosa adalah merusak orang lain dan lingkungan di sekitarnya.  Bila kita mengamati apa yang terjadi dalam Kejadian 4:8-16, terlihat beberapa aspek dari dosa benci.
Ketika ketidak sukaan berubah menjadi iri dan berlanjut pada benci, maka kebencian itu akan menghasilkan pembunuhan pada akhirnya.  Dosa benci dalam diri Kain membuat Kain menjadi manusia yang berbeda jauh dari gambaran rupa Allah.  Beberapa aspek yang setidaknya dapat kita lihat pada bagian ini adalah:
Pertama, dosa benci dalam diri Kain menghasilkan ketidakperdulian.  Kain merasa tidak punya tanggung jawab untuk menjagai adiknya.  Kain mengelak tanggung jawab bukan karena tidak terjadi apa-apa, melainkan sudah ada dosa dalam dirinya.
Hari ini kita menjumpai banyak orang yang hidup di dalam ketidakperdulian.  Ada orang yang tidak perduli dengan lingkungannya.  Orang-orang ini merokok di sembarangan tempat.  Ada pula yang membuang sampah di selokan sehingga berpotensi membuat bibit penyakit dan banjir.  Orang-orang yang lain meludah di jalan dan menyebarkan bakteri karena air ludah yang menguap di udara. 
Ketidakperdulian juga menimpa banyak aspek di keluarga terdapat orang tua-orang tua yang tidak memperhatikan dan mendidik anak-anaknya di dalam Tuhan.  Di masyarakat masing-masing hidup dan mengurus urusannya sendiri sehingga tidak saling kenal dan tidak perduli.  Tidaklah heran kemudian muncul cerita ada seorang wanita dibunuh di lingkungan padat penduduk sementara wanita ini teriak-teriak minta tolong, semua orang yang mendengarnya merasa bukan urusannya.  Ketika polisi datang, wanita ini sudah menjadi mayat dan warga baru tahu ternyata sudah terlambat untuk menolong.
Sikap cuek adalah efek nyata dari manusia berdosa yang perlu diubah di dalam Kristus.  Sikap yang seharusnya adalah perduli terhadap sekitarnya.  Membuang sampah pada tempatnya, ikut menghijaukan lingkungan dengan berbagai tanaman, tidak meludah sembarangan, menyapa tetangga dan menyediakan waktu untuk bersosialisasi adalah baik.  Hal ini bukan bermaksud bahwa kita harus ikut meng-gosip di pertemuan antar tetangga, tetapi ada bentuk keperdulian di tempat kita berada: entah di kantor, rumah, sekolah, dst.
Kedua, efek dari manusia yang jatuh dalam dosa benci adalah berujung pada ketakutan.  Takut adalah rasa sadar yang diberikan Pencipta kepada manusia bahwa ada sesuatu yang perlu diwaspadai atau diperhatikan atau diantisipasi.  Memang tidak semua orang yang takut pasti karena dosa benci, tetapi kebencian dan perbuatan jahat dapat berakibat rasa takut orang lain juga akan menyakitinya. 
Kain takut diusir dari tempat asalnya oleh Tuhan.  Kain takut dibunuh dan dicederai orang lain karena ia merasa jauh dari Tuhan.  Perbuatan dosa yang kita lakukan terhadap orang lain mengakibatkan kita takut orang lain berbuat dosa persis seperti yang kita lakukan terhadap orang lain.  Kain membunuh Habel dengan kebencian.  Bisa jadi orang lain akan membunuh Kain pula.
Rasa takut kerap membuat manusia tidak hidup sebagaimana seharusnya.  Ketakutan membuat banyak orang tidak berbuat apa-apa.  Ketakutan membuat orang bertindak salah.  Ketakutan membuat orang tidak melakukan yang seharusnya yang Tuhan mau.  Beberapa ketakutan adalah masuk akal mengingat dunia yang sudah rusak dan jahat.  Manusia perlu waspada, tetapi tidak perlu dikuasai ketakutan.
Hari ini kita hidup di dunia yang tidak ideal karena dunia yang tengah dirusak oleh dosa.  Syukur, karena cinta Allah yang besar maka Tuhan masih masih memberikan keselamatan melalui Yesus Kristus.  Tuhan menyertai orang yang mau mencari-Nya.  Janji penyertaan Tuhan bukan hidup yang selalu lancar, tetapi hidup tidak sendiri.  Keperdulian Tuhan tampak dalam setiap karya-Nya di dunia ini hingga dunia berakhir adalah bagian dari integritas Allah. 
Marilah kita hidup di dalam rencana-Nya yang baik di tengah-tengah jaman yang tidak baik ini.  Biarlah Tuhan menolong kita agar hidup di dalam keperdulian dan ketaatan bukan didalam kecuekan dan ketakutan.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

SEPERTI BOLA SALJU

Seperti Bola Salju yang Menggelinding
(Baca: Kejadian 3:14-20)
 Bila Ada sebuah bola salju kecil kemudian digelindingkan turun dari atas ke bawah, maka kira-kira apa yang terjadi?  Bola salju yang kecil itu akan dibungkus oleh hamparan salju sepanjang perjalanan dan menjadi sangat besar pada waktu tiba di dasar.  Seperti inilah kehidupan manusia akan tertimpa bencana bila manusia membiarkan dosa-dosanya tidak dibereskan di hadapan Tuhan.
Adam dan Hawa setelah jatuh dalam dosa harus merasakan akibat dari perbuatannya.  Pertama, hubungan alam dengan isinya menjadi tidak stabil, tidak harmonis dan cenderung kacau.  Lihatlah dengan ulah manusia membuat alam ini rusak, banjir, longsor, udara tercemar polusi.  Hewan memakan hewan, manusia memakan manusia.
Kedua akibat manusia jatuh dalam dosa adalah kesakitan luar biasa bila seorang ibu melahirkan bayi secara normal dan untuk menjalani hidup yang lancar di dunia ini adalah tidak mungkin.  Dalam perkembangan sejarah, dapatlah diketahui bahwa ada ibu-ibu yang meninggal sewaktu melahirkan.  Rasa sakit melahirkan normal maupun caesar  juga tidak mudah untuk dijalani. 
Jangan heran kemudian di masa lalu hingga sekarang terjadi kesulitan bagi banyak orang untuk menjalani hidupnya.  Banyak orang sulit mencari pekerjaan, apalagi yang penghasilan dan pekerjaannya cocok.  Terjadi resesi global di masa lalu dan sekarang.  Banyak orang ditipu dan saling menipu untuk mendapatkan untung berlimpah dalam usaha, sehingga banyak pula korban yang dirugikan dan hidup semakin menderita.  Sebagian orang konflik dengan keluarga, teman dan rekan kerjanya sehingga membuat hidup ini stres.  Sebagian orang dengan permasalahannya mengakibatkan gangguan kejiwaan seperti paranoid, schizophrenia, phobia,hingga depresi berkepanjangan.
Semua yang terjadi adalah bagian dari gelombang awal dosa menggelinding dari sejak Hawa dan Adam.  Hubungan manusia dengan alamnya tidak baik dan sedang menuju kehancuran.
Syukur kepada Tuhan, karena kehadiran Yesus Kristus yang meremukkan kepala ular, mengalahkan neraka dan memberikan kemenangan kepada manusia untuk diselamatkan.  Dengan percaya dan mengikut Yesus maka manusia memperoleh kembali apa yang telah dihilangkannya di Taman Eden.  Manusia yang mati secara rohani dan akan segera mati secara jasmani dapat memperoleh kehidupan rohani dan kehidupan kekal.
Hanya orang-orang yang di dalam Tuhanlah yang dapat menggarami dunia yang membusuk ini.  Terang di tengah kegelapan dapat menuntun dunia yang buta menjadi lebih baik dan lebih sadar diri.  Kehadiran Kristus Yesus memampukan manusia menjadi lebih baik dan kembali kepada tujuan penciptaannya.
Hidup di dunia ini sulit dan banyak masalah, marilah kita tidak membuatnya makin hancur dan suram.  Bersama Kristus dan di dalam Kristus kita dapat membuat dunia lebih baik dan membuat hidup kita pribadi lebih baik. 
Kiranya Tuhan menolong kita menjadi bola salju yang baik bukan bola salju dosa.  Bola salju manusia baru akan menggarami, menerangi dan mempengaruhi orang di sekitar kita menjadi lebih baik, alam lebih seimbang dan hidup lebih damai.  Hanya bersama Sang Pencipta kita dapat menyelesaikan panggilan kita di dunia ini.  Kiranya Tuhan Yesus menolong kita.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

TIDAK BISA MENIKMATI HIDUP?

Tidak Bisa Menikmati Hidup ?
(Baca: Kejadian 3:8-13)
 Siapa yang tidak ingin menikmati hidup?  Pada umumnya semua orang ingin dapat menikmati hidup.  Kenyataannya, tidak semua orang dan tidak selalu setiap orang bisa menikmati hidup.  Ada orang yang sangat kaya dan mempunyai banyak rumah mewah di Indonesia, Singapore, Australia, Hongkong tetapi jarang ditinggali dan yang menikmati rumah mewah dan segala fasilitas adalah pembantunya.
Ada orang yang sangat sukses di dalam pekerjaannya, penghasilannya begitu besar tetapi menanggung beban pikiran yang sangat berat dan resiko yang besar.  Hari-harinya dihabiskan untuk kerja dan ia melewatkan waktu mendidik anak bertumbuh sehingga anak-anaknya yang sudah besar tidak mengenalnya.
Sebagian orang lain lagi hidupnya biasa-biasa tetapi sulit tidur karena kebencian dan dendam dengan sesamanya.  Sementara orang lain hidup di dalam topeng kemunafikan, ketidakjujuran dan kepalsuan dengan pikiran agar dapat diterima oleh  orang-orang di sekitarnya.
Bila dikaji lebih dalam, ternyata hidup manusia itu rumit dan sangat bervariasi permasalahan maupun berkatnya.  Manusia yang terhempas di dalam kubangan dosa semakin membuat dirinya sulit dan tidak bisa menikmati hidup.  Maksud saya, bukan berarti contoh-contoh kehidupan di atas adalah efek dosa, tetapi bisa jadi karena adanya dosa, maka kehidupan tidak bisa dinikmati dengan sepenuhnya.
Apa yang dialami Adam dan Hawa adalah tragedi kemanusiaan akibat berkubang di dalam dosa.  Pada mulanya Allah merancang manusia dengan gambar serupa Allah, memberikan manusia misi untuk dikerjakan dan menikmati hidup anugerah Allah.  Taman Eden, semua jenis binatang, tumbuhan, air, matahari, dsb adalah bagian dari fasilitas dari Allah untuk dinikmati dan diperlihara dengan penuh tanggung jawab. 
Dalam perkembangannya, manusia diajak dan dipengaruhi sedemikian rupa untuk berbuat dosa, melanggar kehendak Tuhan.  Bukankah ini sering kita dengar di dalam percakapan, “Yang namanya berdagang, kalau nga bohong, kita bisa untung.”  atau perkataan lain, “Hidup di dunia ini kalau lurus-lurus ya tidak bisa.”  Ada pula yang memastikan pepatah, “Kalau mau hidup jujur ya ajur (hancur).”
Kenyataannya, semakin manusia hidup di dalam dosa, semakin hidupnya masuk di dalam kesusahan.  Mungkin seseorang merasa senang dan lebih untung dengan berbuat dosa, tetapi justru ia sedang diperdaya dalam kehidupan yang tidak sejahtera dan sulit.
Pada waktu Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, setidaknya terlihat 4 efek dosa yang membuat mereka tidak bisa menikmati hidup.  Pertama adalah tidak bisa menikmati kesejukan.  Pada umumnya orang menyukai kesejukan dan tidak suka kepanasan maupun kedinginan.  Sejuk berarti segar atau “fresh”, inilah komponen yang membuat manusia lebih hidup.  Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari air, manusia suka berada di ruangan dengan kelembapan air yang sejuk.  Demikian pula halnya kalau kita memilih buah suka yang segar bukan busuk. 
Pada saat manusia jatuh dalam dosa, ia tidak bisa menikmati kesegaran hidup dari Allah secara penuh.  Dosa begitu mencederai manusia hingga tidak dapat menikmati hidup.  Adam dan Hawa sekalipun berada di alam yang sejuk, tetapi tidak bisa menikmati alam.  Semakin banyak dunia berdosa dan mengeksploitasi bahkan menghancurkan alam, maka suhu udara di dunia akan meningkat lebih panas.  Manusia tidak dapat menikmati kesejukan hati tanpa kekudusan dan persekutuan dengan Tuhan.  Manusia perlu berbaik kembali agar menemukan kesejukan hati walau udara di alam lebih panas dari biasanya.
Kedua, manusia yang jatuh dalam dosa dikuasai oleh rasa takut.  Rasa takut sendiri adalah anugerah Tuhan yang membuat orang mewaspadai bahaya, tetapi takut yang berlebihan membuat manusia jadi paranoid. 
Adam dan Hawa jadi takut bertemu dengan Allah setelah jatuh dalam dosa. Mereka dikendalikan dan diperbudak oleh rasa takut sehingga terus bersembunyi.  Seperti pepatah, “Anda bisa lari, tetapi tidak bisa sembunyi” adalah efek penghindaran yang dalam hal ini diakibatkan oleh rasa takut.
Dikuasai dan diperbudak rasa takut membuat orang membangun rumah seperti benteng, membuat manusia tidak bisa tidur malam, bahkan menerpa banyak orang dipenuhi rasa curiga dan prasangka buruk.
Ketiga, efek dosa dapat membuat manusia tidak transparan.  Hidup yang sehat memang bukan berarti buka-bukaan tetapi juga bukan berarti memakai topeng.  Hawa dan Adam tidak berani bertemu dengan Allah secara langsung sampai Tuhan mencarinya.  Ketidaktransparanan adalah wujud dari ada sesuatu yang disembunyikan: pelanggaran. 
Orang yang bersalah dan melakukan kecurangan bisa jadi terlihat dari ekspresi nonverbal, ketidaksesuaian perilaku antara satu dengan yang lain bagian tubuh, sering mengedipkan mata atau menatap benda lain yang tidak fokus dan gelisah.
Ketidaktransparanan adalah bentuk dari kebohongan, kecurangan, dan telah melakukan kesalahan yang berusaha ditutupi atau dikubur dalam-dalam.  Orang yang jatuh dalam dosa menjadikan dirinya palsu dan menyangkali hati nuraninya.  Orang yang masih merasa diri bersalah ketika berbuat dosa masih ada harapan.  Sebagian orang sudah terbiasa dengan berdosa dan membenarkan diri maupun mematikan hati nuraninya.  Bila seperti ini keadaannya, maka orang itu menjadi kebal terhadap kebenaran dan tidak mampu melihat yang benar dan yang salah.
Adam dan Hawa malu ketika telanjang, bukan sekedar tidak berpakaian tetapi malu melihat dirinya bersalah dan berdosa.  Inti dari ketidaktransparanan bukan persoalan telanjang tetapi persoalan hati yang tercemar.
Ke empat, efek dari dosa adalah melemparkan tanggung jawab kepada orang lain.  Adalah muda menyalahkan orang lain ketika kita berbuat kesalahan namun hal ini membuat hubungan kita dengan Tuhan, sesama dan diri sendiri menjadi lumpuh dan bertambah tidak baik.
Manusia pertama saling menyalahkan kegagalan dan kejatuhan dosa mereka.  Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular.  Sikap melempar tanggung jawab dan saling menyalahkan adalah ciri dari manusia yang jatuh dalam dosa.
Efek dosa membuat manusia tidak dapat menikmati hidup sepenuhnya.  Hidup yang dinikmati dengan jerih lelahnya jadi terbatas bahkan terkadang hampa.  Manusia perlu dipulihkan Yesus Kristus dari dosa dan hubungan yang putus dengan Allah.  Bila manusia hidup di dalam Tuhan Yesus Kristus, maka modal awal untuk diberkati Tuhan sebagai umat yang bertumbuh adalah memungkinkan.
Banyak orang berusaha menikmati hidup dengan mengumbar hawa nafsu, membelanjakan banyak barang kebutuhan dan menghabiskan sejumlah besar uang untuk hiburan, tetapi semua itu bersifat sementara dan tidak menjawab kebutuhan dasar manusia akan Tuhan. 
Manusia dapat menikmati hidup sepenuhnya dari berkat-berkat Tuhan yang berbeda, bervariasi dan sesuai porsinya berdasarkan rasa syukur, rasa cukup (contentment), dan rasa tenang damai sejahtera.
Kiranya Tuhan masih bermurah hati memampukan kita menikmati hidup di dalam Tuhan bukan di luar Tuhan, sebab diluar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak bertumbuh.  Kiranya Tuhan menolong hidup kita.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

3 HAL MENDASAR GODAAN IBLIS

3 Hal Mendasar Godaan Iblis
(Baca: Kejadian 3:1-7)
Menurut Anda, godaan hidup terbesar apa yang pernah Anda alami?  Sebagian orang jatuh dalam dosa ketika digoda dengan percabulan atau film porno.  Sebagian orang lain jatuh dalam dosa ketika berhadapan dengan harta.  Setiap orang bisa mengalami pencobaan yang berbeda dan jatuh di tempat yang berbeda pula.
Berdasarkan Kitab Kejadian dan padanannya dengan pencobaan yang dialami Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-11; Markus 1:12-13; Lukas 4:1-13), setidaknya ada 3 hal mendasar dari godaan Iblis yang perlu kita waspadai:  Pertama, Memakan Roti atau Dimakan Roti.  Manusia hidup secara jasmani harus makan, terlebih adalah makanan yang sehat dan bersih.  Bila hidup manusia diperbudak oleh makanan, manusia bisa menjadi rakus dan makan secara berlebihan hingga tidak sehat.  Bila seseorang kekurangan makanan, maka ia bisa tergoda menjadi pencuri karena makanan.  Sebaliknya, bila seseorang berlimpah makanan, ia dapat berdosa bila menghambur-hamburkan makanan apalagi sengaja memuntahkannya (bulimia).
Hawa dicobai Iblis dengan bujukan yang licik sehingga buah pengetahuan baik dan jahat itu terlihat baik untuk dimakan dan sedap!  Hawa jatuh dalam dosa ketika melanggar kehendak Allah dengan memakan buah terlarang itu.
Yesus Kristus pada waktu berpuasa di Padang Gurun juga dicobai hal serupa.  Iblis membujuk Yesus untuk mengubah batu menjadi roti.  Bila kita lihat sekilas, semua pencobaan Iblis kelihatan ada benarnya.  Manusia perlu makan, manusia bebas menentukan pilihan hidupnya, dsb.  Kendati demikian, perlu diketahui bahwa yang menjadi permasalahan bukan makanannya, tetapi sikap hati yang memberontak terhadap Tuhan.  Makan bukan inti dari kejatuhan, tetapi diperbudak oleh makanan.  Makan bukan inti dari kejatuhan manusia, tetapi mau dikontrol oleh Iblis adalah kebodohan manusia.
Yesus Kristus menyadari jebakan Iblis dan memenangkan pencobaan itu dengan prinsip hidup: Manusia tidak hidup dari makanan saja, tetapi dari setiap Firman Tuhan.  Artinya, hidup manusia tidak melulu bersifat jasmani, tetapi ada dimensi rohani.  Manusia perlu makan, tetapi manusia yang merdeka adalah manusia yang tidak diperbudak oleh makanan. 
Hari ini banyak orang terkena stroke karena tidak dapat menahan diri dari makanan berkolesterol tinggi.  Hari ini banyak orang lebih memilih tidak datang ke gereja untuk beribadah dan pergi ke restauran untuk pesta.  Hari ini banyak orang tidak segan mengeluarkan uang untuk makanan mahal daripada memberikan persembahan maupun perpuluhan.  Tidak jarang banyak orang yang sekali makan di rumah makan cepat saji seperti Mc.Donald, KFC, JCo, dst mengeluarkan uang setidaknya Rp.100.000; namun untuk persembahan tidak lebih dari  Rp.10.000;  Betapa manusia sudah diperbudak oleh makanan. Memang terkadang tipis bedannya antara manusia makan roti dan kemudian dimakan oleh roti.
Kedua, Menguji Tuhan atau Menguji Diri.  Manusia memang perlu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya, namun terkadang tipis bedanya antara mengandalkan Tuhan dengan mencobai Tuhan.  Iblis mempengaruhi Hawa bahwa tidak apa-apa kalau manusia memakan buah pengetahuan baik dan jahat.  Seolah-olah Iblis mengatakan Tuhan tidak marah, Tuhan mengijinkan, cobalah dan kamu akan melihat kebenaran.  Hal ini tentu saja sangat menggoda dan tidak benar.
Ketika Yesus dicobai di Padang Gurun, Iblis datang dan membujuknya agar mencoba pemeliharaan Tuhan.  Kedengarannya hal ini bagus dan bahkan mengandalkan Tuhan.  Iblis meminta Tuhan menjatuhkan diri dari tempat tinggi di Bait Allah.  Malaikat Allah akan menolong Yesus.  Jika kita perhatikan padanan antara kisah Hawa dan Yesus di Padang Gurun, kita dapat melihat bahwa sesungguhnya Iblis hendak membuat manusia mencobai Tuhan.
Hari ini banyak orang lebih suka menguji pertolongan Tuhan dari pada mengevaluasi sikap hidup dan perilakunya.  “Bila Tuhan tidak sembuhkan penyakit saya, maka bukan salah saya lho Tuhan kalau saya akan meninggalkan Engkau.”  “Kalau Tuhan tidak tolong usaha saya, maka saya tidak akan ke gereja lagi.”  Banyak orang berpikir kalau Tuhan seharusnya wajib menolong dan memberkati dirinya dari pada orang itu harus mengevaluasi dosa apa yang perlu dibereskan, bagaimana mengandalkan Tuhan dan bukan mencobai Tuhan. 
Orang yang mencobai Tuhan, orang yang hitung-hitungan dengan Tuhan mengenai kalau saya beri sekian kepada Tuhan maka saya mengharapkan Tuhan membalas berlipat-lipat adalah pikiran bisnis dan tamak.  Sikap ini adalah dosa. 
Keangkuhan kerap menjebak orang-orang percaya jatuh di dalam dosa.  Ketika Hawa merasa diri layak untuk jadi sama dengan Tuhan dan bahkan berhak menentukan standar baik dan jahat, maka di sana sedang terjadi kejatuhan manusia.
Jaman ini banyak manusia secara tidak langsung merasa lebih bijaksana dan adil dari Tuhan.  Banyak orang merasa Tuhan tidak adil mengijinkan orang-orang korupsi dan penjahat jadi kaya, sementara orang baik menjadi miskin dan hidupnya sulit.  Ada pula orang yang mengatakan adalah tidak adil kalau Tuhan menyelamatkan seseorang dan menghukum orang lain ke dalam neraka, sementara dikatakan Tuhan itu kasih. 
Bila kita kaji dengan logika berpikir, maka terlihat bahwa sesungguhnya Tuhan yang menciptakan ruang, waktu, konsep, perencanaan bahkan keberadaan manusia.  Dengan demikian, yang paling tahu standar benar salahnya seseorang, atau konsep adil dan baik adalah dari Tuhan bukan dari standar manusia.  Bila Tuhan mau hukum semua manusia masuk neraka, itu adalah hak-Nya dan itu adil.  Bila Tuhan mau selamatkan beberapa orang saja ke dalam surga sementara yang lain masuk neraka adalah hak-Nya pula.
Semakin kita bertambah umur, bertambah pengetahuan, bertambah prestasi dan kesuksesan, maka semakin besar pula godaan untuk jatuh dalam dosa.  Orang yang berada di atas lebih sulit untuk ditegur dan mengevaluasi diri.  Orang yang berada di atas lebih mudah membenarkan diri dan merasa diri benar dari pada mengevaluasi diri dan terbuka pimpinan Tuhan.  Baiklah ini menjadi awas bagi setiap kita.
Ketiga, Menyembah Tuhan atau Menyembah ilah.  Pada umumnya kita mengetahui bahwa adalah benar menyembah Tuhan dan salah meyembah ilah atau hal lain secara Tuhan.  Masalahnya yang sering terjadi adalah kesalahan menempatkan prioritas dalam hidup. 
Hawa dalam percakapan dengan Iblis telah dikontrol sedemikian rupa dan mendapat tawaran memiliki kemampuan seperti Allah.  Ini adalah kuasa seperti Allah dan bukan seperti Allah dalam hal karakter atau kehidupan yang benar dan baik.
Yesus Kristus pun juga dicobai Iblis waktu itu dengan diperlihatkan semua kuasa dunia dan segala kemuliannya.  Yesus Kristus tahu bahwa ini adalah salah dan bukan prioritas hidup.  Prioritas hidup bagi setiap manusia adalah menyembah Allah saja. 
Hari ini banyak orang Nasrani tidak ke gereja demi mengejar keuntungan usahanya.  Sebagian orang lebih mengejar kesuksesan karier dengan pindah agama dari Nasrani yang percaya Yesus kepada agama lain agar naik pangkat.  Banyak pelajar Nasrani lebih suka menyontek untuk mendapat nilai bagus dari pada mengedepankan kejujuran sebagai bentuk takut akan Tuhan.
Biasanya, semakin seseorang diberkati dan memperoleh kemajuan dalam aspek hidupnya maka ia akan menghadapi godaan yang lebih besar lagi untuk dikuasai dengan kuasa dan kemuliaan dunia dari pada menghambakan diri untuk kemuliaan Kristus.
Yesus Kristus menang dari semua pencobaan dan kehadiran Yesus Kristus di dunia dengan membatasi diri dari Tuhan menjadi manusia adalah memberikan kemenangan kepada kita atas sengat dosa.
Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena godaan makanan, keangkuhan hidup dan kuasa kemuliaan dunia.  Adam ke dua, Kristus memenangkan godaan Iblis dan menunjukkan bahwa di dalam Tuhan manusia bisa menang atas dosa.
Setiap kita manusia, tidak kebal dari godaan dan bisa jatuh dalam dosa.  Masing-masing orang ada titik kelemahannya.  Kita perlu minta Roh Kudus menguasai hati dan pikiran kita agar boleh menang dan mengalahkan godaan Iblis.  Iblis memang punya kuasa, tetapi tidak mahakuasa.  Kiranya Tuhan menolong kita untuk hidup di dalam rencana dan anugerah-Nya.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail