Terkhusus memasuki usia 40-65 tahun adalah periode penting bagi kesehatan otak, perubahan pembuluh darah, metabolisme, hormon dan pola tidur. Ini semua dapat mempengaruhi resiko fungsi kognitif di kemudian hari.
Mari lindungi kesehatan otak Anda dengan aktif secara fisik dan juga salah satu nya tidur yang cukup dan berkualitas. Barusan saya menjumpai penelitian: Tidur berkualitas membuat 4 sistem chemical oscillation mandiri berjalan sinkron. Diprediksi manfaat tidur bukan saja membersihkan protein neurodegeneratif, menjaga kesehatan otak, memori lebih baik, tetapi juga kesehatan mental dan mood lebih baik. Sederhana nya: kurang tidur meningkatkan resiko terkena dimensia.
Kalau dipikir-pikir lho, Tuhan itu hebat ya! Mekanisme tubuh bekerja dengan ajaib lewat tidur. Saya jadi teringat Mazmur 127:2b “Sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” Ya bener banget! Bahkan lewat tidur, Tuhan sanggup memberkati kita. Jikalau bukan Tuhan, kita mau jadi apa? Usaha yang diberkati datang nya dari Tuhan. Tidur berkualitas dan baik pun datang nya dari Tuhan.
Kiranya Tuhan bermurah hati memberkati tidur kita malam ini. Semua karena anugerah Tuhan.
Pagi ini sewaktu merenungkan kisah Henokh, saya berpikir apa tujuan akhir dari belajar? Naik kelas? Mendapatkan gelar? diwisuda? atau mungkin lebih kekinian dapat pekerjaan impian dan gaji tinggi? Hidup Henokh boleh disimpulkan sebagai belajar bersama Tuhan. Ya, pembelajaran nya 350 tahun! Wisuda nya adalah ke sorga. Bonus nya, tidak mengalami kematian alias diangkat ke sorga. Asyik bukan?!
Secuil kisah Henokh sengaja diletakkan dari rentetan konteks pohon kehidupan manusia sejak Adam hingga nabi Nuh (Antediluvian/Pre Flood Era). Umur akhir hidup mereka masing-masing dicatat jelas, kecuali Henokh. Dari sana kita melihat pesan yang jelas bahwa angka harapan hidup manusia (life expectancy) terus merosot sejak dosa masuk dalam hidup manusia. Ya, bak kanker yang menggerogoti dengan sakit dan penyakit baik mental maupun jasmani.
Uniknya, bukan di jaman Adam umur tertinggi manusia (930 tahun), tetapi di jaman Metusalah (969 tahun), anak dari Henokh. Coba tengok ayah nya Henokh, Yared yang hidup selama 962 tahun! Apakah ada korelasi secara tidak langsung antara orang yang takut akan Tuhan dan belajar hidup di dalam Tuhan dengan umur panjang? Apakah ada keterkaitan secara tidak langsung antara orang yang saleh dibesarkan oleh orang tua yang takut akan Tuhan dan melahirkan generasi yang diberkati Tuhan? Sebaliknya, apakah ada sebab akibat orang yang hidupnya menjauh dari Tuhan atau jalan sendiri tidak melibatkan Tuhan atau berbuat jahat dengan kekacauan global dan umur pendek (relatif menurun angka harapan hidup)?
Saya mencoba untuk mengukur trend penurunan angka harapan hidup dengan data yang ada dari Adam sampai Salomo. Kerohnaian diukur dari angka 1-5, dimana 5 adalah belajar bersama Tuhan, tidak ada catatan perbuatan dosa yang fatal; angka 4 untuk pribadi yang setia tetapi ada waktu berbuat kesalah fatal seperti membunuh, berzinah; angka 3 untuk ukuran kerohanian di tengah-tengah ya duniawi tetapi juga rohani. Kehidupan yang relatif kacau. Angka 2 untuk hidup yang jauhh dari Tuhan, banyak pemberontakan dan perbuatan tercela tetapi di akhir ditandai pertobatan dan angka 1 untuk yang hidup dalam dosa dan tidak bertobat. Ini sebagai independen variabel dan dependen variabel adalah umur saat meninggal. Data diinput menggunakan perhitungan Regression Analysis lewat Phyton code. Hasil nya: angka coefficient negatif dan dapat diintepretasikan ada korelasi antara kerohanian yang buruk dengan angka harapan hidup yang lebih rendah.
Tentu saja banyak variabel yang tidak lengkap dan bisa terjadi confounding factor karena bias ataupun belum dikaitkan dengan tingkat kesehatan, gaya hidup sehari-hari termasuk nutrisi makanan, aktivitas olah raga, pendidikan, gender, dan lain sebagai nya. Ini hanya gambaran sederhana mengenai untuk melihat bahwa orang yang belajar bersama Tuhan memiliki hidup yang lebih baik.
Sudah banyak penelitian serupa mengenai orang yang memperhatikan hal kerohanian berdampak positif, seperti: berkutat dalam hal religius diasosiasikan dengan kesehatan fisik dan mental yang lebih baik; orang yang menghadiri acara religius seperti beribadah di Gereja cenderung memiliki angka mortalitas yang lebih rendah 5-10 tahun; kegiatan rohani melibatkan sejumlah orang berdampak pada dukungan sosial (social support), merasa bagian dari komunitas (sense belonging community) dan berbagi kegiatan ritual. Ini semua berdampak pada mengurangi stress (reduce stress), memberi semangat hidup yang lebih sehat, mencegah perilaku buruk (discourage harmful behavior) dan menguatkan kesehatan mental dan fisik. Belajar bersama Tuhan seringkali dikaitkan dengan kerohanian vertikal dan berdampak pada horizontal sesama.
Saya rasanya ingin diskusi dan bertanya kepada Henokh, apa apa saja yang telah dipelajari selama 350 tahun bersama Tuhan? Apakah banyak belajar membuat dia menjadi malaikat dan jauh dari realitas kekurangan manusia atau justru sebaliknya dalam kelemahan kuasa Tuhan semakin nyata dalam anugerah-Nya? Rahasia dan tips apa agar bisa sukses belajar sewaktu bersama Tuhan? Di Alkitab dituliskan Henokh “diangkat” (לָקַח) ke sorga (Kejadian 5:24). Kata ini mengandung arti yang sangat dalam, baik oleh pribadi Ilahi yang berinisiatif memberikan kenaikan kelas, memberkati, mendapat anugerah spesial termasuk di dalam nya penebusan. Belajar bersama Tuhan memang luar biasa! Bukan karena manusia nya, tetapi karena Tuhan yang luar biasa mau memberkati. Saya pikir Henokh ini setara pendidikan doktoral yang sudah jadi professor. Kalau ditanya, apakah 350 tahun studi doktoral membuat dia jadi luar biasa hebat? Saya ber imajiner, Henokh menjawab, “Ah, tidak Jeff. Bisa aja kau ini! Semua karena anugerah Tuhan. Saya ini cuman pembelajar. Namanya juga belajar bersama Tuhan bukan bermain menjadi Tuhan apalagi sok menyebut lebih tau dari Tuhan.“
BELAJAR BERSAMA TUHAN BUKAN UNTUK KESOMBONGAN DIRI, TETAPI UNTUK MENGERTI SEDIKIT LEBIH TENTANG ANUGERAH-NYA.
Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu (Amsal 22:6).
Pagi ini ketika melihat-lihat foto perpustakaan mini sebuah gereja, tiba-tiba saya teringat masa kecil sekitar 40 tahun yang lalu! Ya, seperti diputar kembali film kisah nyata masa lalu. Waktu itu di rumah orang tua, keluarga membuka perpustakaan mini dengan nama NFSJY (diambil dari inisial nama depan dari anak-anak Sudirgo).
Kami memiliki sejumlah literatur, termasuk majalah-majalah, buku cerita bergambar Donal Bebek, BOBO, novel dan banyak sekali buku-buku lain yang saya tidak ingat detilnya. Perpustakaan ini dibuka dengan tujuan jadi berkat buat sesama, terkhusus teman, kenalan dan tetangga sekitar rumah kecil kami. Ada tersedia buku catatan untuk para peminjam agar rapi dan jelas kapan literatur itu masuk dan keluar. Ada juga stempel dengan tulisan NFSJY di setiap buku sebagai lambang sukacita sekaligus identitas kepemilikan literatur tersebut. Jangan lupa, jaman itu stempel adalah barang spesial untuk legitimasi formil. Ya, itulah kegembiraan yang masih menempel di dalam memori saya.
Ada orang-orang yang datang hanya sekedar membaca di sana dan kemudian pulang. Ada pula yang membaca dan kemudian tertarik meminjam untuk dibawa pulang. Bahkan beberapa sering datang untuk meminjam secara rutin dan dibawa pulang agar kenikmatan membaca dan membuka wawasan, imajinasi dan kreativitas berkembang.
Waktu berlalu. Rupanya sukacita menjadi berkat lewat literatur berlanjut di Sekolah Dasar Negeri tempat saya mengenyam pendidikan. Sering sebagai relawan saya ikut melayani di Perpustakaan sekolah. Mulai dari menyusun dan merapikan buku-buku hingga melayani kawan-kawan yang hendak meminjam atau mengembalikan buku kesukaan mereka. Suasana cukup ramai dan tidak jarang sampai antri demi mendapatkan buku yang disukai itu. Di SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas) rupanya kebiasaan suka berada di Perpustakaan berlanjut, bahkan sering ber”tengger” di perpustakaan Gereja. Seperti memang menyadari ada banyak “harta karun” pengetahuan dan rohani, bak ketertarikan musafir yang haus akan air di sumur hidup.
Tidak disangka sebelumnya, ketika masuk Seminari Alkitab pun, berkutat di bidang literatur menjadi kesukaan yang besar. Di tingkat dua, saya dipercayakan untuk memimpin pengelolaan redaksi majalah Sekolah Minggu TABITA yang disalurkan ke gereja-gereja di seluruh Indonesia. Meski dengan modal kas keuangan yang sangat sedikit, kami belajar arti berjuang, berusaha, ber-kreativitas dan terlebih ber-iman dan berdoa. Kalau Tuhan yang membuka pintu, tidak akan ada yang bisa menutup nya.
Selesai wisuda dari Seminari Alkitab di Malang, Tuhan mempercayakan saya untuk 10 tahun pelayanan di sebuah Gereja dan termasuk di dalam nya mengelolah perpustakaan. Sekarang 15 tahun berjalan pelayanan di sebuah Yayasan, Tuhan percayakan untuk berambil bagian dalam pelayanan literatur di Indonesia Timur. Puji Tuhan! Tuhan masih beri kesempatan ikut mencerdaskan bangsa lewat buku-buku pelajaran, buku-buku kisah Alkitab, buku-buku Teologi Praktikal bagi rohaniwan serta renungan rohani bagi umat Tuhan. Rupanya ini yang Tuhan percayakan. Sebuah legacy 40 tahun lalu dari keluarga dan terus menjadi berkat buat sesama hingga hari ini.
Amsal 22:6 mengingatkan kepada kita semua makna sebuah legacy/warisan hidup. Warisan tidak hanya harta atau aset atau uang peninggalan yang kita peroleh, namun juga terkhusus sebuah kelanjutan/estafet dari nilai-nilai hidup, kebiasaan-kebiasaan baik dan membangun, serta pencapaian dan kontribusi yang membawa dampak menjadi saluran berkat bagi banyak orang.
Pendidikan yang diajarkan kepada seseorang, terkhusus dimulai dari keluarga sejak masa kecil dapat berdampak besar dan berkelanjutan pada masa depan nya. Pendidikan itu tidak terbatas pada sekolah formil, tetapi sering kali lebih kuat dan berpengaruh pada kebiasaan yang diterapkan oleh keluarga dalam keseharian. Kata “didiklah” dalam bahasa Ibrani חָנַךְ berarti melatih dengan disiplin dan berdedikasi. Kalau dalam konteks Alkitab Amsal adalah dedikasi raja Salomo menghargai Tuhan dengan membangun tempat Ibadah adalah hasil dari sebuah teladan dan didikan.
Hari ini legacy atau warisan hidup apa yang ber harga bagi kita? Apakah ada warisan yang kita ingin teruskan kepada generasi selanjutnya? Apakah kita hanya numpang lewat dan membawa banyak penyesalan, kekecewan, kemarahan dan kepahitan masa lalu? Apakah kita justru sebaliknya mau mewariskan nilai-nilai kebaikan, kasih, pengampunan dan teladan sebagai legacy yang akan dikenang banyak orang kelak? Andalah yang berhak memililh dan memutuskan untuk hidup yang Tuhan anugerahkan.
Bagi saya, warisan 40 tahun lalu dari keluarga sungguh meng-amin-kan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Warisan itu berdampak kuat lewat teladan, sukacita dan persekutuan dalam keluarga. Pendidikan formil di Sekolah dan pembinaan di Gereja sifat nya sangat terbatas dan hanya sebagai penambah dari pendidikan non formil di rumah.
Mari kita tanamkan bagi generasi mendatang, bagi anak-cucu kita mengenai indah nya hidup di dalam Tuhan. Indah nya bersekutu, berdoa, membaca Alkitab, memuji Tuhan bersama, saling berbagi, saling megampuni, saling mendukung sebagai latihan menghadirkan Kerajaan Allah di bumi seperti di Sorga. Namanya hidup, pasti banyak kekurangan, banyak kelemahan, banyak kesalahan. Itu wajar. Kendati demikian, mari kita fokus untuk ke depan dan mengijinkan Tuhan hadir dan berdampak dalam kebaikan. Mari dimulai dari kita. Kiranya Tuhan menolong dan memberkati kita semua. Amin.
WARISKAN HIDUP YANG MENUMBUHKAN KEBAIKAN DAN HARAPAN