KETIKA PAPA MENINGGALKAN KAMI

KESAKSIAN: KETIKA PAPA MENINGGALKAN KAMI

       Malam itu perangkat seluler saya berdering setelah mendapatkan sinyal di pegunungan Toraja. Di layar terbaca nama kakak perempuan yang melakukan panggilan. Saya berpikir, “Oh, ini kakak saya. Mungkin mau ngobrol atau menyampaikan sebuah info”. Saya tidak terkejut karena kami biasa bertukar  informasi. Dari kejauhan suara dan pesan singkat dilontarkan kakak, “Jeff, Papa sudah tidak ada.” Saya berharap kakak saya menjelaskan apa penyebab dan bagaimana ceritanya, namun seperti kehabisan kata kata dan terdiam. Bunyi telepon ditutup. Air mata mengalir deras serasa malam itu lebih gelap dari kelihatannya. Saat itu saya berada lebih dari 1900 kilometer dari tempat Ayah tinggal di Surabaya.

      Mendapatkan transportasi untuk kembali ke Surabaya bukan perkara mudah dan murah, namun Tuhan membuka jalan sehingga semua berjalan lancar walau sangat melelahkan. Biasanya apabila naik transport darat, saya lebih suka menyetir sendiri atau duduk depan untuk perjalanan berkelok kelok yang memabukkan itu. Malam itu, semua seat di depan penuh sisa di belakang yang masih banyak kosong. Tuhan beri ekstra kekuatan tidak mual dan justru di belakang lah ada cukup ruang untuk berduka malam itu. Seperti film yang diputar dari awal hingga akhir pejalanan hidup bersama Papa, saya hampir tidak tidur sepanjang malam dan berganti dengan rasa duka disertai cucuran air mata.

       Pagi hari ketika tiba di Makassar dan sebelum menlanjutkan perjalanan udara ke Surabaya, saya ber saat teduh yakni membaca Alkitab dan merenungkan keberan Firman Tuhan. Mazmur 100:3,5 “Ketahuilah, bahwa TUHAN-lah Allah; Dia lah yang menjadikan kita dan punya Dia lah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun temurun.”

       Tuhan itu baik! Mungkin Anda bertanya, “Bagaimana mungkin Anda berkata Tuhan itu baik sementara keadaanmu sama sekali tidak baik?”. Inilah yang menjadi bahan renungan saya pagi itu. “Tuhan, apa maksud ayat ini?” Seruku dalam hati. Tiba-tiba saat itu seperti damai sejahtera yang luar biasa melingkupi. Saya merasakan Tuhan hadir di samping dan meneguhkan bahwa saya tidak sendirian. Dalam hitungan detik, Tuhan dengan lembut memperlihatkan alasan mengapa Tuhan itu baik.

       Seolah Tuhan berbisik, “Jeff, kamu lihat seisi keluargamu termasuk semua saudara saudari, semua ipar dan semua ponakan mereka sedang belajar mengenal Tuhan dengan ke Gereja, berdoa dan membaca Alkitab. Bukankah itu anugerah Tuhan? Tidak semua orang memiliki keadaan yang sama denganmu.”

       Dalam permenungan itu saya semakin menyadari kalau seisi keluarga meski tidak semuanya pendeta, namun hidup keluarga Sudirgo menjadi berkat bagi orang lain bahkan bagi banyak orang. Inipun anugerah Tuhan yang memampukan kami bisa jadi saluran berkat.

       Bahkan semenjak saya memutuskan diri menjadi hamba Tuhan penuh waktu hingga hari ini saya tidak kekurangan makan dan minum. Tuhan memelihara begitu luar biasa lewat suka dan duka, bukankah itu pun kebaikan anugerah Tuhan? Tiga hal inilah yang membuat hati saya berseru, “YESS! GOD IS SO GOOD!” Tuhan itu baik dan sungguh baik. Siapakah kita umat ciptaan-Nya sehingga mendapat kasih karunia-Nya? Tuhan itu baik!

       Di hari hari kedukaan itu ada ratusan orang yang datang melayat dan sungguh menjadi penghiburan buat kami. Lewat Firman Tuhan, kesaksian keluarga dan kekompakkan kerjasama diantara anggota keluarga, kami melihat campur tangan Tuhan yang ajaib yang bukan saja memberkati keluarga yang berduka tetapi juga banyak orang yang hadir. Baik melalui lisan dan tulisan banyak yang menyampaikan terima kasih karena diberkati Tuhan lewat semuanya itu.

       Pada kesempatan ini kami berterima kasih kepada semua pihak baik keluarga besar dari Papa, dari Mama, sanak famili, besan, semua sahabat, rekan-rekan pelayanan hamba Tuhan, rekan-rekan pelayanan gereja-gereja, rekan rekan usaha, juga dukungan handai taulan dari Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Jakarta, Mojokerto, Malang, Makassar, Surabaya, Medan, Papua, Jember, Kediri dan tempat-tempat lain yang belum disebutkan. Kami mohon maaf apabila semasa hidup Papa Sudirgo pernah melakukan kesalahan baik dari perkataan maupun perbuatan semasa hidupnya. Terima Kasih dan Tuhan Yesus Memberkati kita semua. Amin.

 

 

 

MASA DEPAN ITU SEKARANG!

MASA DEPAN ITU DIMULAI SEKARANG!

(Baca: I Petrus 1:3-5)

fut

 

       Ada seorang bapak yang segera pensiun. Anak-anaknya sudah menikah dan bekerja. Ia berkata kepada istrinya, “Sebentar lagi saya akan pensiun dan saya ingin membaktikan hidup melayani Tuhan.” Belum genap keinginannya terlaksana, bapak ini terserang sebuah penyakit dan meninggal. Inilah realitas kehidupan. Apa yang menjadi cita-cita belum tentu terwujud.

       Pengharapan adalah penyemangat hidup yang membawa manusia ke sebuah arah yang diyakininya. Sayangnya banyak diantara kita terjebak pada dua ekstrim: tenggelam di dalam kenangan masa lalu dan melamun dalam utopia masa depan hingga tidak menjalani hidup yang saat ini yang seharusnya dilakukan sekarang!

       Ketika rasul Petrus menuliskan suratnya kepada umat Tuhan di perantauan, nada suratnya adalah antusias akan pengharapan hidup di masa kini dan masa depan. Yesus Kristus  bangkit dari kematian telah membuka jalan bagi setiap orang yang mau percaya untuk memperoleh hidup baru (brand new life), hidup kekal di sorga (eternity life) dan masa depan itu dimulai saat ini (the future starts now!)!

       Orang yang terlalu kerja keras untuk masa depan namun melupakan kesehatan saat ini, akan membayar semua tabungannya untuk biaya berobat. Orang yang terlalu sibuk merintis usaha untuk berhasil tetapi melupakan keluarganya, akan membayar harga sebuah kehancuran rumah tangga.

       Hari ini kalau Tuhan masih memberikan kesempatan hidup buat Anda dan saya itu artinya ada tugas yang mulia yang Tuhan masih percayakan kepada kita saat ini, SEKARANG! Satu pribadi banyak peran, itulah sebenarnya keseimbangan yang kita butuhkan dalam menjawab panggilan Tuhan. Sebagai pelayan Tuhan, sebagai orang tua/anak, sebagai pekerja, sebagai suami/isteri, sebagai sahabat, dan sebagai komunitas di masyarakat itulah peran kita. Mari minta hikmat Tuhan agar dalam menjalani hidup sekali ini kita mulai masa depan itu sekarang! Tuhan Yesus beserta kita, Amin.

MASA DEPAN DALAM TUHAN ITU BUKAN DIMULAI NANTI ATAU SUATU SAAT, TETAPI SEKARANG JUGA…!

IMLEK BUAT KELUARGA

IMLEK BUAT KELUARGA

(Baca: Matius 15:4-6)

sincia

 

 

       Imlek atau Tahun baru pengkalenderan Tiongkok 2569 ditandai pada 16 Februari 2018 ini. Bagi banyak orang yang belum mengenal Firman Tuhan, cenderung melihat ramalan dan mengikuti petunjuk atau larangannya, tp bagi orang-orang percaya Firman Tuhan maka tahun baru tetap mengandalkan petunjuk dan larangan dari Alkitab. Ramalan belum tentu pasti dan berdasarkan teori konformitas persuasi dalam psikologi, kita cenderung mengkonfirmasi memori dan sugesti diri dengan apa kata orang.

       Imlek bagi umat Nasrani adalah baik karena di masa ini adalah waktu untuk bersyukur, berbakti kepada orang tua/keluarga dan memasuki hari depan dengan semangat dan harapan baik. Imlek di Tiongkok seperti lebaran di Indonesia. Banyak orang pulang kampung menengok orang tua dan berkumpul dengan keluarga besar. Saya pun melakukannya selama puluhan tahun merantau kecuali memang dalam keadaan yang sangat tidak memungkinkan.

       Bukankah menghormati orang tua dan peduli keluarga juga dicantumkan dalam Firman Tuhan? Yesus justru menegur keras para munafik berjubah agama yang rajin melakukan rutinitas religi tetapi mengabaikan hal mengasihi sesama termasuk keluarga dan terkhusus orang tua. Teguran dilayangkan kepada para aktifis dan rohaniwan Yahudi yang pada saat itu memakai dalih “demi Tuhan” dan atas nama  tradisi tetapi berbuat jahat terhadap sesama terkhusus orang tua. Ini kejam dan Tuhan benci dengan sikap munafik seperti ini.

       Apabila Anda merayakan Imlek, mari gunakan kesempatan ini (dan bukan kali ini saja) untuk menengok orang tua/berkumpul dengan keluarga. Lakukan Firman Tuhan dengan jadi saluran berkat. Beri ang pao kepada orang tua dan makan bersama. Bukan jumlah nya yang terutama tetapi kualitas dan hati yang paling penting. Selamat tahun baru Imlek bagi yang merayakannya! Sin nien men en, Sang Ti cu fu ni men.

MERAYAKAN IMLEK BERDASARKAN FIRMAN TUHAN SUNGGUH INDAH DAN BERMAKNA

BABY SHARK DODODO

BABY SHARK DODODO

(I Korintus 15:33)

BABY

       “Baby shark, dododo…” itulah potongan lirik sebuah lagu yang lagi tren di kalangan anak-anak termasuk Elishia, putri bungsu saya. Berhubung lagu ini diajarkan di sekolah (mungkin untuk mengasah kemampuan dasar bahasa Inggris anak) dan dinyanyikan terus menerus oleh Elishia maka saya jadi penasaran dan ikut menyimak hingga akhirnya terngiang dalam kepala. Lagu ini disajikan dengan susunan kalimat sederhana yaitu tentang keluarga ikan Hiu yang sedang berburu. Menurut saya tidak ada hal yang khusus dan spesial dari lagu ini, namun karena dinyanyikan berulang-ulang maka menjadi populer. Dalam hati saya tersenyum sambil bergumam, “Betapa mudahnya anak mempengaruhi orang tua”.

       Tidak dapat dipungkiri bahwa hidup kita ini dipengaruhi oleh informasi di sekitar kita. Entah orang muda atau pun orang tua, pergaulan buruk akan merusakkan kebiasaan baik. Paulus mengingatkan jemaat di kota Korintus pada waktu itu agar waspada dengan gaya hidup duniawi dengan pikiran yang sia-sia. Ada kebangkitan hidup dan harapan sorgawi bagi orang percaya yang hidup dalam Kristus Yesus.  Kerja keras umat percaya di dalam persekutuan dengan Tuhan tidak akan pernah sia-sia oleh sebab itu sangat penting untuk tidak menodai kerja keras di dalam Tuhan dengan pergaulan buruk.

       Kalau anak-anak saja dapat dengan mudahnya mempengaruhi orang tua, apalagi generasi anak-anak muda tentu juga gampang dipengaruhi oleh banyak hal. Berkaca dari Firman Tuhan ada pertanyaan yang perlu dipertimbangkan yakni : Tipe kawan kawan seperti apa yang di sekeliling kita? Orang-orang yang suka berkata kotor? Humor jorok? Atau yang mengasihi Tuhan dan berusaha melakukan Firman itu siang dan malam? Kiranya Tuhan menolong setiap kita. Amin.

PERGAULAN BURUK MERUSAKKAN KEBIASAAN BAIK