Mission to Accomplished

Mission to Accomplished
(Baca: Kejadian 2:15-17)

 

Pernakah Anda mendengar istilah di atas?  Istilah ini biasa muncul dari orang yang lebih berwenang seperti di instansi militer kepada tim lapangan tempur untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya.
Sebenarnya hidup ini juga adalah sebuah misi dari Tuhan kepada kita untuk dikerjakan dengan sebaiknya, sepatuhnya dan selengkapnya hingga selesai.  Setiap kita lahir dan dibesarkan di tempat kita masing-masing bukanlah suatu kebetulan.  Entah itu di kota besar ataupun di pedalaman, Tuhan punya rencana yang dipersiapkan sebelum permulaan jaman supaya kita boleh hidup di dalamnya (Efesus 2:10; II Timotius 1:9).
Adam manusia pertama di alam semesta ini diciptakan sedemikian rupa dengan semua sarana dan prasarana kehidupan yang lengkap adalah untuk tujuan kemuliaan-Nya.  Ketika Adam ditempatkan di taman Eden yang sangat indah dan memuaskan (arti Eden: kesenangan), Allah menugaskan agar manusia pertama ini mengerjakan dan memelihara taman itu. 
Tuhan memberikan aturan main atas kehidupan manusia untuk dipatuhi dan dikerjakan dengan baik.  Setiap bentuk pemberontakan, termasuk ketidaktaatan adalah melenceng dari kehendak Allah alias sesat.  Inilah yang disebut dosa.  Dosa adalah kematian manusia secara rohani dan sedang menuju kematian jasmani.
†        Apakah panggilan hidup Anda? 
†        Seperti apakah lingkungan di mana Anda berada? 
†        Apakah talenta/bakat Anda? 
†        Sejauh apakah Anda sudah mengembangkan dan menggunakan talenta/bakat yang Tuhan berikan?
Semua pertanyaan ini perlu kita renungkan dan jawab di dalam persekutuan dengan Tuhan, di dalam doa.  Bila kita rindu berhasil dalam langkah kita bersama Yesus dan sukses dalam hidup ini, maka kita harus mencari kehendak Tuhan dan menyelesaikan misi dari-Nya.
Kerjakan tugas yang ada pada Anda dengan baik dan bertanggung-jawab.  Janganlah mencoba-coba melakukan dosa, entah itu dengan cara curang, berbohong atau berkelit untuk naik prestasi atau jabatan.  Semua cara berdosa membawa ketidakdamaian, ketidakpuasan, dan kerugian besar hingga kehancuran pada akhirnya.  Ingatlah Tuhan dalam setiap perencanaan, entah itu mau sekolah, ujian, berpacaran, cari kerjaan, hingga ambil bagian dalam pelayanan.  Terbukalah pimpinan-Nya, dan berusahalah mencari dengan sungguh maka Allah akan menunjukkan jalan terbaik.
Tuhan Allah memberikan kebebasan yang harus kita gunakkan dengan   baik dan bertanggung-jawab.  Nikmati setiap berkat dan kesempatan berkarya yang Tuhan hadirkan dengan syukur.  Selamat menyelesaikan misi hidup ini di dalam Tuhan Yesus Kristus.  Soli Deo Gloria.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

SEBUAH PEMIKIRAN

Sebuah Pemikiran tentang Cafe Nasrani:
Unsur-unsur Garden Community
(Baca: Kejadian 2:8-14)

Kira-kira seperti apa unsur-unsur sebuah Cafe Nasrani?  Bagaimana melibatkan Allah di dalam dunia usaha ini?  Bila kita mengamati kitab Kejadian 2:8-14, maka terdapat banyak hal menakjubkan bagaimana Allah sangat mengasihi dan perduli dengan kesejahteraan manusia.  Allah membuat sebuah taman (garden) khusus dengan rancangan yang sempurna untuk kesejahteraan manusia.  Mulai dari makanan, minuman dan semua unsur keindahan artistik ditata sedemikian rupa agar manusia memelihara dan menjalani kehidupan di dalam Tuhan.
Seperti apa persisnya taman Eden itu, kita tidak dapat memastikannya.  Berdasarkan kata “Eden”, yang artinya sangat memuaskan hati, sangat indah, sangat menyenangkan; terlihat bahwa taman ini bukan sembarangan taman yang ada apalagi terbentuk dengan sendirinya.  Allah memformulasikan dengan sejumlah unsur alam plus dengan sentuhan Allah yang membuat taman Eden ini boleh dikatakan seperti surga.
Tentu saja kita tidak mungkin membuat taman Eden kedua, sebab yang pertama saja kita tidak tahu persis dan unsur kesegaran alam sempurna tidak kita miliki.  Kendati demikian mengacu kepada beberapa aspek alam dan catatan Musa ini, maka kitab Kejadian setidaknya dapat merumuskan ide sederhana perihal usaha Cafe Nasrani yang bercorak Gardenia alias taman.
Saya membayangkan Gardenia di Eden ditata sedemikian asli dan bersih sehingga orang yang tinggal tidak stress tetapi mengalami kesegaran (refreshment).  Di dalam Gardenia terdapat unsur makanan yang sehat, bersih, enak dan sedap dilihat mata.  Makanan yang sehat artinya menggunakan bahan-bahan yang baik bagi kesehatan tubuh.  Makanan bersih artinya terhindar dari penyakit, maupun kuman-kuman lain, alias higenis.  Makanan enak tentu saja nikmat dan berasa khas sesuai dengan selera kebanyakan orang.  Makanan yang sedap dilihat artinya ditata sedemikian rupa sehingga kelihatan elegan (terpilih & tertata rapi).
Adapun minuman di taman Eden mengalir dari air kehidupan dan memancar ke sungai Pison, Gihon, Tigris dan Efrat.  Air yang diminum bukan mematikan, membiuskan, memabukkan, ataupun beracun.  Minuman sehat tidak selalu hambar dan tidak enak.  Minuman yang ada di Gardenia selain bersih, sehat dan juga baik untuk sirkulasi tubuh manusia. 
Keindahan taman Eden memang tidak tergambarkan secara jelas dan sulit untuk dibayangkan kecermatannya.  Meskipun demikian, kitab Kejadian menyebutkan unsur penataan pohon-pohonan dan buah-buahan.  Bisa jadi terdapat kerindangan, campuran warna hijau yang konon katanya menyegarkan mata.  Adanya aliran air di Gardenia yang bersih, segar dan mengeluarkan suara gemericik.  Konon aliran air gemericik dipakai pula untuk terapi di jaman ini. 
Bisa juga setting Gardenia dilengkapi dengan satu atau lebih jenis bebatuan yang diikuti dengan sirkulasi udara yang baik.  Aroma alam dapat ditimbulkan secara soft dan berefek ringan untuk membawa suasana yang fresh.  Campuran warna emas adalah bagian dari keceriaan, keindahan sekaligus berkelas.  Semua unsur inipun didapati dari aliran cabang sungai Pison, Gihon, Tigris dan Efrat.
Hal terpenting dari semua komponen di taman Eden adalah adanya pusat taman dengan hadirnya pohon kehidupan dan pohon pengetahuan baik dan jahat.  Pohon kehidupan bisa ditafsirkan sebagai pohon yang nyata yang bila dimakan buahnya membuat orang awet muda.  Pohon kehidupan bisa juga ditafsirkan sebagai simbol bahwa Allah hadir sebagai pusat kehidupan dan yang menyelenggarakan kesejahteraan. 
Pohon pengetahuan baik dan jahat bisa ditafsirkan sebagai standar yang menentukan yang jahat dan baik adalah dari Tuhan.  Ketika manusia memutuskan untuk menentukan sendiri arti baik dan jahat, pada saat itu pula manusia tersesat.  Pengertian lain tentang pohon pengetahuan baik dan jahat adalah simbol ketaatan manusia.  Bila manusia memakannya, maka manusia memberontak terhadap Allah karena sudah dilarang sebelumnya.
Gardenia ala Nasranibukan tentang agama, tetapi seputar kehidupan yang dipelihara.  Gardenia ala Nasranibukan religi, tetapi menghadirkan Allah sebagai pusat hidup dan pusat dunia usaha. 
Di tengah-tengah Gardenia dapat didesign sedemikian rupa dengan ornamen yang mengagungkan Allah, yang menyatakan bahwa Tuhanlah pusat kehidupan yang menyegarkan.  Bisa juga diletakkan sejumlah ayat Alkitab di berbagai sudut atau pusat Gardenia.
Akhir kata dari semua pemikiran seputar Cafe Nasrani adalah inti dari bagian ini jangan sampai dilupakan pembaca.  Pertama, Allah yang menciptakan kehidupan dan memfasilitasi manusia dengan kesejahteraan.  Kedua, Hidup manusia dirancang untuk bersekutu dan berpusat kepada Allah.  Ketiga, Sentuhan kehidupan yang sejahtera, damai, dan menyegarkan berasal dari Allah dan untuk kemuliaan Allah.    Oleh sebab itu mari kita mulai bersama Allah, dengan doa dan relasi di dalam Tuhan kita menjalankan masing-masing panggilan kita.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

Allah Cuti?

Allah Cuti?
(Baca: Kejadian 2:1-3)
Dewasa ini istilah cuti begitu lekat bagi banyak orang yang bekerja di berbagai bidang.  Setiap tahun ada sejumlah hari untuk cuti, baik itu di lembaga pemerintahan, swasta hingga di gereja.  Cuti bertujuan bukan saja untuk istirahat, refreshing, tetapi juga menjadi ajang untuk belajar dan diperlengkapi dengan lebih baik.  Inti dari cuti adalah istirahat, berhenti sejenak.
Sebagian orang tidak menyukai kata “cuti”, sebab bagi mereka hidup adalah terus menerus bekerja, produktif dan menghasilkan sesuatu.  Bila tidak bekerja, rasanya diri ini bersalah bahkan berdosa.  Sebagian orang lain merasa “cuti” adalah sebuah kerugian dan kegagalan.
Sebagian orang lain sangat menyenangi yang namanya “cuti” tetapi mempergunakannya dengan keliru.  Cuti dipakai sebagai kesempatan untuk mengumbar nafsu.  Ada orang yang mengkorupsi “cuti” dengan bolos kerja atau memperpanjang sendiri waktu liburnya.  Sudah tidak asing bila sejumlah oknum di instansi tertentu masuk kerja semaunya, pulang kerja secepatnya, dan libur kerja seenaknya.

Bagaimana dengan pola Allah dalam hal cuti?  Apakah Allah juga cuti?  Iya, Kejadian pasal dua adalah pemaparan sangat jelas bagaimana Allah juga cuti alias istirahat.  Pengertian “cuti” ini berbeda dengan konteks pemahaman sejumlah orang pada umumnya termasuk pembahasan di atas.  Sebelum segala sesuatu ada, Allah telah merancang dengan akurat segala isi alam semesta.  Allah menciptakan dengan tidak terburu-buru dan menikmati hasil kerjanya dengan syukur.  Setelah menyelesaikankarya penciptaan, pada hari ketujuh Allah beristirahat.

Pola Allah di dalam berkarya adalah merencanakan, bekerja, istirahat dan menikmati ciptaan-Nya.  Setelah semua itu, Allah tetap bekerja melanjutkan karya-Nya hingga sekarang.  Pada waktu Allah beristirahat, bukan berarti dunia ini kacau ataupun vacuum.  Di dalam cuti Allah, alam berjalan dengan teratur, pemeliharaan Allah berlaku bahkan kehidupan yang dinamis dan bervariasi tengah berjalan dalam prosesnya.
Ada perencanaan dan ada kerja.  Ada kerja dan ada menikmati hasil kerja.  Ada kerja dan ada pula istirahat.  Rupanya ada pola kerja yang perlu diikuti setiap manusia dalam menjalani hidupnya.  Orientasi hidup bukan pada produktivitas atau seberapa banyaknya bekerja, tetapi pada rencana, tujuan, prioritas, kerja, evaluasi/mensyukuri hasil kerja/menikmati, istirahat dan berputar lagi mencapai tujuan (konsep spiral).
Menariknya dalam pola kerja Allah ini adalah Allah memberkati dan menguduskan semua ciptaan-Nya.  Artinya, apa yang dikerjakan Allah bukan saja baik, akurat dan sempurna, tetapi juga di dalam kekudusan.  Di bagian ini kita dapat mengerti bahwa setiap pekerjaan harus dikerjakan di dalam Tuhan dan untuk Tuhan, sebab hanya dalam kerangka inilah manusia dapat menikmati secara tepat dan benar arti dari kehidupan ini.
Apapun pekerjaan Anda (entah sebagai pelajar, karyawan, manager, dst), perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan cuti adalah bagian dari pola hidup yang sehat.  Tidak perlu berlebihan bekerja, sebab akan membuat kita kelelahan dan sakit.  Tidak boleh kelewatan libur, sebab akan membuat kita malas.  Kerja keras perlu, asal tidak diperbudak oleh kerja.  Mau cuti?  Silahkan, Tuhan aja juga cuti.  

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

PUNYA SELERA SENDIRI

PUNYA SELERA SENDIRI
(Baca: Kejadian 1:20-25)
Sore itu saya sedang menonton sebuah film dokumenter bersama dengan istri, sementara Jonas anak saya (10bln waktu itu) sedang tidur.  Volume suara kami kecilkan sedemikian rupa hingga tidak mengganggunya.  Setelah beberapa waktu, anak saya terbangun dan kemudian bermain.  Herannya adalah, Jonas terus rewel.  Istri dan saya curiga, “jangan-jangan anak ini mau nonton film anak dan tidak suka dengan film yang sedang kita tonton”.  Akhirnya kami coba mengganti film dokumenter itu dengan film kesukaannya.  Anda tahu apa yang terjadi?  Anak ini langsung diam, duduk manis dan terpaku melihat film kesukaannya.  Memang Jonas memiliki selera sendiri.
Setiap orang diciptakan secara berbeda, baik dari keunikan maupun karakternya.  Ada orang yang walaupun saudaranya kembar namun yang satu periang sementara yang lain pendiam.  Ada yang menyukai berada di pegunungan, yang lain menyukai berada di pantai.  Ada yang suka bekerja di dalam ruangan dan ada juga yang senang berada di lapangan.  Setiap orang punya bakat dan keistimewaannya sendiri.
Bila kita melihat kembali runtutan penciptaan Allah atas hari kelima dan keenam, maka terdapat sebutan hewan air dan darat berdasarkan jenisnya.  Allah menghabiskan satu hari untuk hewan air dan esoknya baru melanjutkan ciptaan hewan darat.  Ini bukti bahwa Allah tidak terburu-buru dan punya waktu sendiri.  Ini bukti bahwa Allah mengerjakan ciptaan-Nya dengan detil, cermat, akurat.  Setiap hewan mungkin beberapa diantaranya mirip, tetapi bila dikaji lebih lanjut ternyata memiliki jenis yang berbeda.  Bahkan jenis hewan yang samapun memiliki kehendak dan karakternya sendiri.
Allah senang dengan keberagaman sebab itu ketika penciptaan disajikan dengan berbagai macam jenis, karakter dan keunikan disebutkan bahwa Allah puas/senang dan memberkati ciptaan-Nya.  Keberagaman adalah bagian dari kekayaan yang indah dari segi estetika dan saling melengkapi dari segi fungsional.
Sayangnya, di jaman ini banyak orang yang bukannya mencintai ciptaan Allah tetapi berusaha memanfaatkan/eksploitasi bahkan merusaknnya.  Di sana-sini banyak dari antara kita yang membuang sampah sembarangan, mencoret-coret fasilitas umum, menembaki burung di udara untuk iseng, membuat saluran air sedemikian kotor dan jorok sehingga banyak ikan yang musnah.
Sebagian orang lain saling acuh tak acuh di dalam satu tempat ibadah karena konflik tidak terselesaikan, ketidakcocokan pendapat, perbedaan suku dan status serta prasangka negatif.  Padahal bila dikaji lebih lanjut tampak nyata bahwa setiap ciptaan, termasuk setiap pribadi manusia adalah berbeda dan istimewa dalam kepribadian, latar belakang maupun bakat/kelebihannya.
Allah sengaja menghadirkan keberagaman agar kita boleh belajar saling mengisi dan memperlengkapi, saling melayani dan menghargai.  Setiap orang boleh berbeda asah dan rasa, tetapi janganlah karena perbedaan berarti permusuhan. 
Bila Allah senang dengan ciptaan-Nya, bukankah kita seharusnya menghargai ciptaan Allah dengan semestinya?  Marilah kita belajar mencintai lingkungan di sekitar kita dengan baik.  Setidaknya dimulai di rumah kita, hadirkanlah tanaman agar menghijaukan lingkunganmu.  Buanglah sampah pada tempatnya, jangan mengotori selokan dan merusak lingkungan sekolah/kerja/rumah.  Bila rumah dan diri Anda bersih, maka kebersihan dan keindahan itu akan mempengaruhi dan menghasilkan hal yang baik bagi orang-orang sekitar Anda.
Marilah kita belajar menghargai keberagaman dan perbedaan dengan orang lain.  Sah-sah saja bila setiap kita memiliki selera, tetapi bukan berarti selera kita adalah mutlak dan paling benar.  Jangan karena masalah sepele kemudian bertengkar dan saling “menggigit”.  Kita boleh tidak setuju, kita boleh punya keinginan sendiri, kita boleh berbeda tetapi harus ada kesatuan di dalam keberbedaan sebab disinilah timbul kekompakkan dan kebaikan. 
Marilah kita bercermin dengan cara Allah menciptakan dan memperlakukan ciptaan-Nya.  Kehidupan yang diikat di dalam Allah dan dipimpin oleh-Nya akan menghasilkan keberagaman yang indah.  Kehidupan yang berjalan semau-maunya sendiri dengan mengedepankan ego, nafsu dan keserakahan akan menghasilkan kekacauan, kerusakan dan kehancuran.  Punya selera sendiri?  Boleh, tetapi jangan lupa dipersatukan oleh Tuhan kita Yesus Kristus agar tidak keluar batas. 
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail