NENEK TUA TERJATUH DARI SEPEDA


NENEK TUA TERJATUH DARI SEPEDA
Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari.
Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Matius 11:17
Apa respon pertama Anda membaca atau bahkan membayangkan seorang nenek terjatuh dari sepeda roda tiganya?  Apakah Anda langsung berkomentar, “lho sudah tua koq masih beraninya naik sepeda di tengah jalan?”  Atau Anda akan berespon, “Wah, kasihan sekali!  Apa yang terjadi?  Bagaimana keadaannya?“
Ya, itulah yang saya lihat kemarin pagi ketika duduk melaju di sebuah kendaraan.  Dengan mata kepala sendiri saya melihat seorang nenek hendak menyeberang dengan sepeda tua roda tiganya, entah apa yang terjadi tiba-tiba seperti ada angin atau jalan yang tidak rata yang membuatnya terjungkal jatuh.  Kami sangat terkejut dan mencoba berhenti.  Dalam hitungan detik pengendara lain berhenti dan bersama-sama menolong seorang nenek yang berusia sekitar 85-an.  Wajahnya sangat keriput, suaranya lirih lemah dan tubuhnya tampak rapuh tak berdaya.
Sembari saya menaikkan sepeda yang menindihnya, seorang lain segera membantu mengangkatnya.  Selesai saya memasukkan barang-barangnya yang jatuh, tiba-tiba kami diperlihatkan tetesan darah di sadel sepedanya.  Astaga!!  Luka di sebelah mana?  Rupanya badan yang sudah lanjut usia tersebut tidak dapat menahan gesekan aspal dengan sepeda. 
Saya teringat dengan sejumlah berita miris di tempat-tempat dimana ketika seorang mengalami kecelakaan dan tidak ada seorangpun yang menolong padahal suasana lalu lintas cukup ramai.  Sungguh memalukan masyarakat, bangsa dan bahkan peradaban manusia sendiri.
Memiliki hati nurani di tengah-tengah masyarakat modern zaman ini adalah barang langka dan tidak datang atau ada dengan sendirinya.  Hati nurani yang menentukan apakah seseorang akan menolong atau membiarkan atau bahkan menyakiti orang lain.  Hati nurani yang menentukan apakah seseorang masih segan dan mau menghormati Tuhan dalam hidupnya. 
Yesus mengomentari angkatan bebal yang tidak mau percaya dan mengeraskan hati nurani kepada orang-orang zaman itu.  Seperti seorang mati suri dan tidak ada respon demikianlah orang-orang yang tidak lagi memperhatikan hati nurani.  
Yesus memakai perumpamaan anak-anak yang meniup seruling tetapi tidak menari, menyanyikan kidung duka tetapi tidak berkabung.  Sebuah sindiran akan kematian hati nurani yang tidak mau meresponi lawatan kasih Allah lewat Tuhan Yesus Kristus.  Bila seseorang berpikiran negatif maka ia hanya akan melihat hal negatif.  Bila seseorang berpikiran positif dan terbuka pada karya Allah, maka bisa jadi ia mendapat kemurahan Allah melihat lawatan Allah yang dahsyat!
Agaknya kita sekarang hidup di zaman yang “mati suri“ yakni mengeraskan hati nurani terhadap perbuatan salah dan pertobatan.  Kasih kebanyakan orang menjadi dingin sebagai tanda semakin dekatnya hari kiamat: hari dimana segala sesuatu berakhir dan setiap manusia berhadapan dengan Pencipta untuk dihakimi dalam kekekalan. 
Saya salut dengan seorang bapak yang lebih gesit dan cepat menolong nenek tua yang terjatuh tersebut.  Rupanya masih ada orang-orang yang perduli dan mau menolong orang lain di sekitar saya.  Bagaimana dengan tempat di mana Anda tinggal ?  Apa masih ada atau justru sudah hilang lenyap ?  Bila tidak ada atau belum melihat orang yang perduli terhadap masyarakat yang masih punya hati nurani, maka bisa jadi Tuhan mau Anda menjadi orang pertama di tempat Anda tinggal.  Mungkin itu di sekolah dengan menghormati guru dan menyapa dengan sopan, mungkin di masyarakat dengan membuang sampah pada tempatnya (hal paling kecil dan sederhana), mungkin di tempat kerja dengan disiplin masuk dan pulang kerja dan tanggung jawab yang baik.  Mungkin juga di keluarga dengan mengajak mezbah keluarga agar keluarga ingat dan melakukan bersama-sama Firman Tuhan.
Masih adakah hati nurani mencari Tuhan ?  Masih adakah hati nurani bertobat dan kembali kepada jalan Tuhan ?  Masih adakah hati nurani memberi persembahan dan perpuluhan ?  Masih adakah hati nurani untuk menyatakan kasih Allah yang sudah kita nikmati di masa-masa lalu ?  Kiranya Tuhan menolong setiap kita.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

RIBUT RIUH DALAM KELUARGA


RIBUT RIUH DALAM KELUARGA
(Baca: Kejadian 21:8-21)
Ada pepatah mengatakan, “setiap keluarga ada kesusahannya sendiri”.  Pepatah ini hendak merangkumkan bahwa yang namanya hidup berkeluarga itu tidak ada yang sempurna.  Masing-masing keluarga akan menghadapi kesulitan dan tantangan baik di masa lalu, sekarang, maupun yang akan datang.  Selama keluarga itu hidup di dalam dunia, tantangan dan kesulitan akan datang silih berganti.
Kehidupan keluarga Abraham boleh dikatakan adalah gambaran dari banyak kehidupan keluarga saat ini.  Orang tua kuatir dengan masa depan anaknya; ibu yang hancur hatinya melihat penderitaan anaknya; istri yang tidak suka dimadu apalagi diduakan dengan wanita lain oleh suaminya; remaja yang frustasi melihat keluarganya broken home.  Semua tema di atas adalah rangkaian yang kurang lebih terjadi pada kehidupan keluarga Abraham.
Keluhan dan protes besar muncul dari Sara kepada Abraham sehubungan dengan Hagar dan Ismail.  Ini rupanya harga yang harus dibayar ketika Sara berinisiatif memberikan budaknya (Hagar) kepada Abraham untuk melanjutkan keturunan.  Inilah konsekuensi yang harus ditanggung untuk solusi tanpa melibatkan Tuhan.  Padahal mereka sudah tahu bahwa Allah akan memberikan keturunan lewat Sarah, namun mereka berpikir hal itu mustahil dikerjakan Allah.  Mereka mengambil cara yang lebih masuk akal menurut ukuran manusia dan diakhiri dengan mengambil keputusan yang tidak melibatkan Tuhan.
Sarah yang memulai inisiatif bentuk keluarga poligami, ia pula yang harus membayar ribut riuh dalam keluarga.  Permasalahan terjadi ketika dua wanita dengan posisi istri tidak cocok dalam satu rumah tangga.  Permasalah jadi rumit ketika masing-masing merasa anaknya-lah yang berhak mendapat yang terbaik.  Permasalahan menjadi runyam ketika intensitas keributan mengarah kepada perpecahan dalam rumah tangga. 
Meskipun dalam kenyataan hukum, Sara adalah istri yang sah namun Abraham menyayangi keluarga dan anak-anaknya.  Meskipun Hagar adalah budak, tetapi juga seorang manusia yang punya perasaan dan insting seorang ibu.  Bisa jadi berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun cek cok dalam rumah tangga membuat keadaan sangat tidak nyaman dan tidak damai.
Dalam kondisi keluarga yang broken home, Hagar dan Ismail harus memulai rumah tangga baru di tempat yang berbeda.  Tampaknya kehidupan jadi tidak adil dan berat bagi Hagar.  Ia harus menafkahi hidupnya dan anaknya, Ismail.  Ia harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dan sekaligus mendidik anaknya supaya menjadi orang yang berhasil.
Apakah Tuhan tidak adil? Apakah Tuhan membiarkan hal yang buruk terjadi dalam keluarga anak-anak Tuhan?  Jawabannya adalah tidak.  Tuhan turut campur tangan dan bekerja melampaui dari apa yang sanggup kita pikirkan dan bayangkan.  Tuhan bekerja menurut cara-Nya bukan cara kita.  Tuhan punya rencana dalam kehidupan masa depan manusia. 
Adalah rencana dan kehendak Tuhan untuk memimpin keluarga Abraham dan Sara dalam berkarya di kehidupan Ishak maupun keturunannya.  Adalah penyertaan Tuhan, menolong Hagar dan Ismail di padang gurun sampai Ismail menjadi bangsa yang besar di tanah Arab.  Tuhan tetap berkarya dalam kehidupan orang percaya bukan karena orang itu hebat dan sempurna, tetapi karena orang itu tetap mau percaya dan hidup di dalam Tuhan bersama dengan keluarganya.
Dilema yang sangat berat bagi Abraham untuk mengusir Ismail dan Hagar.  Dilema yang sangat berat bagi Sara untuk hidup bersama dengan Hagar dan Ismail.  Bencana yang sangat besar bagi Hagar diusir Abraham.  Kesusahan yang sangat pahit dan berat bagi remaja Ismail ketika melihat keluarganya berantakan.  Alkitab Kejadian 21:17 mencatat bahwa remaja yang bernama Ismail ini didengar doanya oleh Tuhan dan mendapatkan pertolongan.
Apa yang dapat kita simpulkan dari peristiwa ini?  Apakah keluarga yang bermasalah ribut riuh pasti Tuhan ubahkan menjadi keluarga yang damai, harmonis dan baik sesuai keinginan kita?  Ternyata tidak.  Tuhan memang berjanji dan terbukti menyertai dan memimpin orang yang mencari dan bersandar kepada-Nya.  Tuhan tidak pernah berjanji apa yang kita mau—meskipun baik—pasti dikabulkan sesuai kemauan dan waktu kita. 
Dibalik setiap permasalahan—bahkan yang paling berat dan buruk sekalipun—yang terjadi, Tuhan tidak tinggal diam.  Ia bekerja menurut rencana dan waktunya yang baik untuk masa depan, untuk kemuliaan-Nya, untuk membentuk dan sekaligus mengasah kita menjadi bejana yang indah.  Pada saat itu terjadi, kita bertanya-tanya, kita tidak bisa mengerti dan menerimanya.  Ini semua terjadi  dan kita tetap dipanggil untuk mempercayai dan mengikut Tuhan.  Sampai waktu dan kehendak Tuhan dinyatakan, di sanalah kita masih tetap dipanggil untuk hidup bagi Tuhan.
Memang benar pepatah yang mengatakan, “setiap keluarga ada kesusahannya”.  Ribut riuh dalam keluarga adalah bagian dari kenyataan hidup.  Abraham mengalami ribut riuh dalam keluarga.  Hagar dan Sara mengalami ribut riuh dalam keluarga.  Ismail dan Ishak mengalami ribut riuh dalam keluarga.  Mereka adalah pelaku-pelaku sejarah yang ujung-ujungnya menceritakan karya Allah dalam masa hidup mereka, masa depan dan masa kita saat ini. 
Apa yang dapat kita katakan saat ini?  Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.  Roma 8:28.  Biarlah ayat ini dapat menjadi kekuatan, pengharapan dan penghiburan bagi kita semua.  Amin.
 RIBUT RIUH KELUARGA ITU BIASA, TETAPI BERSAMA TUHAN JADI LUAR BIASA INDAH DAN BERARTI
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

CINTA KELUARGA

Cinta Keluarga
(Baca: Kejadian 14:1-16)
Pernakah Anda mendengar semboyan “Cintailah Keluargamu!” atau pepatah, “seburuk-buruknya keadaan bagaimanapun juga adalah keluargamu” ?  Ungkapan di atas menunjukkan bahwa keluarga adalah hal yang penting.  Namun hal ini tidaklah mudah ketika anggota keluarga itu merugikan, menyakiti, melukai bahkan mengkhianati diri kita.  Kurang lebih seperti inilah yang dialami Abram dengan Lot yang adalah kerabatnya.
Abram yang lebih tua, lebih senior, lebih mapan, lebih berpengalaman, dan LEBIH, dalam banyak hal pernah berselisih dengan Lot yang adalah anak dari saudaranya.  Lot tentu saja lebih muda, lebih yunior, meskipun tidak kalah kaya tetapi Lot-lah yang mengikut Abram.  Perselisihan dalam keluarga dapat terjadi pada siapa saja, di mana saja, dan dalam situasi apa saja.  Abram berselisih dengan Lot dikarenakan ada banyak kepentingan dan tumpang tindih dalam teritorial.
Sebenarnya Alkitab hanya mencatat bahwa perselisihan Abram dan Lot lebih dahulu dimulai dari perselisihan antara para gembala mereka.  Bisa jadi karena sumur tempat minum hewan ternak menjadi masalah.  Kambing domba mana yang perlu didahulukan mendapatkan minuman bisa jadi memunculkan pertengkaran.  Masalah bisa terjadi ketika ternak milik orang lain menginjak-injak kesuburan padang rumput.  Besar kemungkinan juga adalah karena banyaknya ternak dan hidup berdampingan, maka ada sejumlah hewan yang berpindah tempat ke ladang orang lain.
Singkat cerita, Abram dan Lot berpisah.  Alkitab tidak banyak menceritakan bagaimana perasaan Abram.  Abram mengalah dari Lot dalam hal keputusan meskipun ia lebih senior.  Abram mengalah untuk tidak memilih tanah yang makmur.  Apakah mungkin ada rasa kecewa dari Abram?  Apakah mungkin ada rasa tidak suka dan marah terhadap Lot?  Bisa jadi.
Apapun perasaan dan pemikiran Abram, ia tetap mengasihi keluarganya Lot.  Ketika ada konflik antar penguasa Kedorlaomer dan sekutu penguasa Sodom, Abram tidak tinggal diam.  Abram dengan segera mengambil langkah strategis demi menyelamatkan keluarga Lot beserta seluruh hartanya.  Abram terbukti sayang dengan Lot sebagai keluarganya (bdk.Kejadian 18:16-33).
Hari ini banyak terjadi konflik diantara sesama orang “Gereja“ .  Permasalahan bukan bagaimana menghindari konflik, tetapi bagaimana menghadapi dan menyelesaikan konflik secara benar.  Ironis sekali bila ada keluarga Kristen yang konflik sampai di pengadilan, saling pukul, saling jatuhkan dan melibatkan aparat keamanan.  Konflik menjadi tajam dan besar ketika kedagingan lebih diutamakan dan penyangkalan diri diabaikan.
Alkitab mengajarkan kepada kita untuk cinta keluarga.  Abram mengasihi Lot walaupun sudah merugikan dan bisa jadi mengecewakannya.  Abram bisa tetap mengasihi keluarga dan kerabatnya karena ia hidup di dalam Tuhan.  Ini bukan berarti orang Nasrani suka dianiaya atau harus mematikan perasaannya.  Ini bukan berarti anak-anak Tuhan harus jadi korban dirugikan.  Sikap Abram adalah contoh bagaimana orang percaya bebas memberi respon untuk hidup di dalam Tuhan.  Suatu sikap yang tidak ditentukan oleh keadaan dari luar tetapi dari dalam adalah penting menjadi pembelajaran setiap kita.  Setiap orang bebas memilih reaksi apa yang terjadi atas situasi yang menimpanya.  Ia bisa marah dan kemudian membalas kejahatan atau ia bisa marah tetapi menenangkan diri dan berpikir positif.
Cinta terhadap keluarga adalah ajaran Alkitab.  Cinta terhadap keluarga gampang-gampang sulit.  Dikatakan gampang karena itu adalah keluarga sendiri, orang dekat.  Kalau orang tionghoa bilang, “ce ci ren”.  Dikatakan susah, karena setiap keluarga berbeda kedekatanan dan perlakukan satu sama lain.  Itulah sebab apabila kita ingin bisa mengasihi keluarga dalam keadaan apapun, kita harus belajar kasihNya Tuhan.  Tanpa memahami dan mengalami kasih Tuhan Yesus Kristus, akan menjadi hal yang sukar bahkan mustahil untuk bisa mengasihi keluarga dalam keadaan apapun.   Bagaimana keadaan hubungan keluarga Anda? Lancar dan penuh kasih atau jauh dan saling bermusuhan?  Mari kita mohon Tuhan memampukan untuk bisa mengasihi keluarga dan bahkan menjadi kesaksian kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita.  Amin.

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

MENGENAL LEBIH DALAM SILSILAH KELUARGA

MENGENAL LEBIH DALAM SILSILAH KELUARGA:
MENGUAK SEDIKIT MAKSUD DARI SILSILAH DALAM ALKITAB
(Baca: Kejadian 10:1-32)
Dalam salah satu cabang materi psikologi terdapat pelajaran mengenai mengerti diri sendiri lewat pohon keluarga.  Dengan asumsi bahwa siapa diri kita sedikit banyak dipengaruhi dan membawa gen dari generasi di atasnya, maka kita bisa melihat kecenderungan sikap dan perilaku kita di masa sekarang dan akan datang.  Sebagai contoh, seseorang yang pohon keluarganya banyak memiliki keadaan bunuh diri, sakit jiwa tertentu akan menurunkan kecenderungan tersebut di anak atau cucu atau mungkin juga salah seorang dari generasi ke tiga.
Seberapa jauh keabsahan kebenaran teori ini belum dapat dipastikan meskipun lewat sejumlah kasus dan dengan hasil analisa sementara.  Sedikit banyak inilah yang membuat sebagian orang tua menasihati anaknya agar mencari pasangan memperhatikan bibit, bobot, bebetalias memperhatikan latar belakang, status dan keadaan secara menyeluruh.
Bila ada teori tentang pohon keluarga dari salah satu cabang materi psikologi, ternyata Alkitab juga memaparkan beberapa kali catatan tentang pohon keluarga (Kejadian 10; I Tawarikh 1; Matius 1; Lukas 3).  Tentu saja Alkitab tidak menyetujui teori sementara pohon keluarga ini.  Alkitab punya tujuan khusus yang terlihat jelas ketika dipaparkan silsilah dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.  Alkitab tidak mengkotakkan seseorang dengan nasib tertentu yang merugikan, tetapi justru lebih pada hal positif di dalam misi Kerajaan Allah.
Alkitab mencatat silsilah untuk memperlihatkan secara jelas blue print atau bagan dari rencana pekerjaan Allah untuk menyelamatkan manusia.  Silsilah Yesus Kristus Sang Mesias yang diutus Allah datang kedunia menaiki kereta keluarga Adam, Abraham, Musa, dan juga Daud.  Mereka adalah tokoh-tokoh Alkitab yang bukan kebetulan dan sekedar ada tetapi dihadirkan Tuhan dengan misinya masing-masing dalam rangkaian rencana Allah bagi umat manusia.
Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa setiap orang, setiap pribadi, setiap individu adalah berharga di hadapan Tuhan.  Setiap kita ada bukan sekedar mencari penghasilan hidup, menikah, punya anak, membangun rumah dan mewujudkan cita-cita tetapi harus diingat bahwa Tuhan menciptkan kita dengan tujuan menggenapi rencana Allah.
Apakah Anda seorang pedagang? Apakah Anda seorang montir? Apakah Anda seorang manajer? Entah Anda adalah orang tua maupun anak, Anda diundang untuk masuk dalam blue printAllah bila Anda ingin berhasil dalam hidup ini.  Rencana Tuhan bukan menghancurkan tetapi membangun, bukan membinasakan tetapi menghidupkan, tidak selalu sensasional tetapi bersifat kekal.
Psikologi pohon keluarga mungkin bisa membawa kita lebih mengenal siapa diri kita dan mengapa kita ada, tetapi tidak bisa menjawab untuk apa kita ada.  Alkitab memberikan paradigma pohon keluarga kita adalah gambaran peran kita dalam sejarah penyelamatan Allah lewat Yesus Kristus.  Peran anak-anak Tuhan bukan sekedar ada dan hidup tetapi memberi makna untuk men-sukses-kan pekerjaan Allah.  Mari, kita ada bukan sekedar ada tetapi ikut dalam pekerjaan Allah yang dirancangkan-Nya sebelum permulaan jaman, supaya kita hidup didalamnya (Efesus 2:10).  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail