BENTENG PERLINDUNGAN

BENTENG PERLINDUNGAN
Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah,
kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan
dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.
Roma 6:22
 
Ada cerita fabel mengenai seekor kambing yang dikejar oleh pemburu.  Mulanya, pemburu tidak dapat menemukan kambing itu karena bersembunyi di antara ranting-ranting pohon Anggur.
Karena merasa aman, kambing keluar dari persembunyiannya dan mulai makan daun-daun pohon anggur itu.  Pada saat itulah, pemburu mendengar gemerisik daun dan melihat bagian badan kambing.  Kambing ini dibidik dengan sebuah panah dan mati.  Fabel ini coba menjelaskan bagaimana orang yang meninggalkan perlindungannya akan merusak dirinya sendiri.
Menjadi orang Kristen dan tinggal di dalam Kristus adalah sama dengan seorang prajurit tinggal di benteng yang sangat kuat.  Ia dapat mengerjakan tugasnya dengan lebih efektif dan dan efisien.
Demikian halnya orang Kristen menghadapi segala permasalahan hidup.  Di mana-mana dosa mengintip dan memperbudak manusia.  Sisi ekstrim dosa: membuat orang kecanduan narkoba; kecanduan film porno hingga tindak kejahatan yang di luar pikiran sehat.  Belum lagi perkataan dan pikiran kotor hingga berbagai permasalahan yang menyebabkan manusia menjadi rusak.
Sengat dosa inilah yang dibereskan oleh Yesus Kristus dengan datang ke dalam dunia; disalibkan; mati; dan bangkit mengalahkan maut.  Setiap orang yang mau menerima Yesus dan karya-Nya dalam iman, akan diselamatkan.  Orang yang sudah diselamatkan disebut manusia baru.
Manusia baru inilah yang mampu hidup bebas dari belenggu dosa.  Jikalau manusia baru mau mentaati Kristus, ia akan hidup menurut pimpinan Roh.  Jikalau ia menuruti keinginan daging, maka ia akan menderita dalam dosa kembali.
Itulah sebabnya, Paulus mengingatkan setiap orang Kristen agar mati dan bangkit bersama Kristus.  Mati bersama Kristus artinya, mati terhadap dosa dan hidup lama.  Bangkit bersama Kristus artinya, mengenakan manusia baru dan mentaati Kristus.  Di sinilah hidup Kristen baru efektif, hanya ketika ia berpaut sepenuhnya kepada Kristus. 
Seperti ranting yang menjadi perlindungan bagi kambing dalam cerita di atas, demikian pula manusia membutuhkan benteng perlindungan dengan tetap tinggal sepenuhnya dalam Kristus.  Bagaimana dengan hidup kita?  Adakah saat ini kita tergoda untuk menikmati “jajan” duniawi? 
Meninggalkan waktu untuk saat teduh (baca Alkitab, merenungkan dan mengevaluasi hidup), mengesampingkan apa yang kita tahu itu tidak boleh, tetapi kita terus saja melakukan, memilih cari dukun atau gwamia atau iseng-iseng lihat horoskop/ramalan bintang di Facebook adalah tindakan sederhana meninggalkan benteng perlindungan diri.
Mengesampingkan atau bahkan meninggalkan benteng perlindungan adalah tindakan nekat merusak diri.  Jikalau kita perduli dengan diri kita yang adalah bait Allah, mari kita cepat-cepat kembali kepada Yesus benteng hidup kita.  Amin.

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

TUHAN YESUS TERIMA KASIH

“TUHAN YESUS… TERIMA KASIH.. SUDAH MENYERTAI.. AMIN.”
Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
I Timotius 6:6
  
Mengajarkan anak sendiri untuk berdoa adalah salah satu bagian hidup rohani yang indah.  Kami senang ketika mengajak Jonas untuk belajar berdoa.  Mulanya Jonas hanya mendengar, kemudian lama kelamaan dia mengikuti doa kami.  Hal yang menggembirakan saya adalah ketika malam itu sebelum tidur, saya menanyakan: “Apakah Jonas mau berdoa?” dan dijawabnya, “No”.  Saya lanjutkan lagi pertanyaan, “Apakah Jonas mau papa berdoa?” dijawabnya lagi, “No”.  Kemudian saya bertanya sekali lagi, “Apakah Jonas mau berdoa sendiri?”  Dia langsung menjawab, “Yes.”
Belum selesai dengan rasa gembira di hati saya, tiba-tiba Jonas berdoa, “Tuhan Yesus.. Terima Kasih… Sudah menyertai.. Amin.”  Saya begitu terharu mendengar doa pertama kalinya dan memujinya, “Good Job!  Excellent!”.  Sembari menemani anak saya tidur, saya seperti terngiang oleh doanya yang singkat dan tulus ini.  Doa anak ini sederhana, tulus dan sangat wajar.
Jonas belum mengetahui banyak tentang Teologi Berdoa, doktrin apalagi pengajaran-pengajaran seputar Citra Diri Allah.  Namun, doanya yang singkat ini seperti berbicara banyak kepada saya.  Pertama, kalimat doa yang singkat itu sarat dengan ungkapan syukur.  Suatu rasa dan pengakuan yang sadar akan pemeliharaan Tuhan.  Mengucap syukur bisa menjadi hal yang biasa teramat biasa (rutin) dan tidak lagi bermakna. 
Saya sangat diberkati oleh doa sederhana Jonas.  Suatu pernyataan tahu diri terhadap kebaikan Tuhan sepanjang hari ini.  Mengucap syukur adalah bentuk keindahan doa bila diserapi dan dimengerti dalam dimensi manusia yang menyadari keberadaan dan kasih Allah.  Tentu doa ini terasa hambar bila diucapkan dengan motif keraguan, kemarahan, kekecewaan serta kesalahpahaman terhadap Allah.
Kedua, doa singkat itu mengingatkan akan kata contentment.  Kata ini dalam kamus Oxford  Tenth Edition didefinisikan sebagai suatu keadaan damai dan puas.  Surat Paulus kepada Timotius mengungkapkan dalam beribadah bila disertai dengan rasa puas (contentment) akan memberikan faedah yang sangat besar. 
Doa adalah bagian dari hidup beribadah.  Hidup yang disyukuri dan disikapi dengan rasa contentment di hadapan Tuhan memang memberikan untung yang besar.  Ini bukan tentang harta atau barang tertentu yang mahal, tetapi tentang rasa sukacita dan damai sejahtera yang diberikan sebagai anugerah Allah.
Ketiga, doa Jonas yang singkat dengan perkataan, “… sudah menyertai”mengandung makna yang sangat dalam bagi saya.  Frasa ini memperlihatkan suatu keadaan yang sudah pernah di tolong oleh Tuhan.  Suatu bentuk past tense untuk menggambarkan sudah berlalu dan diingat sebagai bentuk rasa terima kasih.  Frasa ini sekaligus mengingatkan suatu pengharapan dan kepercayaan yang sangat dalam kepada Tuhan yang sanggup memelihara hidup kita.  
Doa kita sering kali diikuti dengan permohonan, permintaan, dan juga harapan agar Tuhan berbuat ini dan itu di masa yang akan datang.  Doa yang dipanjatkan Jonas, seolah Tuhan bicara kepada saya: “Tuhan sudah memelihara hidupmu secara perfect.  Tidak ada yang kamu perlu kuatirkan.”  Seolah doa ini sekaligus mewakili suatu keyakinan dan sikap mempercayakan diri akan hari depan kepada Tuhan (submissive).
Anda ingin memetik keuntungan dan kenikmatan berdoa?  Mulai dari hati dan diucapkan dengan kesungguhan.  Tidak perlu bertele-tele atau memakai kata-kata yang dalam dan rumit (yang pernah saya lakukan J ).  Doa yang sederhana dari seorang anak bila diucapkan dengan tulus dapat besar kuasanya.  Seperti ada tertulis, “… Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya.“ (Yakobus 5:16b).  Kiranya Tuhan menolong kita berdoa.  Amin.

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

BERSYUKURLAH UNTUK TERANG

Bersyukurlah untuk Terang!
(Baca: Kejadian 1:1-5)
Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.  II Korintus 4:6
Pernakah di rumah Anda mengalami mati lampu sepanjang malam?  Saya pernah, dan sungguh tidak enak keadaanya.  Ketika mati lampu, saya sedang berada di kamar berpendingin (Air Conditioner).  Kamar jadi panas; lembab dan gelap sekalipun pintu kamar terbuka lebar-lebar.  Rupanya mati lampu bukan hanya di rumah tetapi satu kompleks tempat tinggal kami.
Bicara tentang terang dan gelap, saya belajar mensyukuri untuk ciptaan Tuhan yang ajaib ini: Terang!  Pada awal, yakni Allah mulai menciptakan dari tidak ada menjadi ada: ruang dan waktu.  Pada waktu itu jugalah ciptaan-Nya ditambahkan dengan adanya terang di bumi.
Terang tidak ada dengan sendirinya di dalam dunia.  Terang adalah anugerah Tuhan bagi alam semesta yang sebelumnya kosong; kemudian gelap gulita; dan tidak nyaman.  Kehadiran terang tidak terlepas dari Sabda Tuhan yang dinyatakan pada waktu itu.  Sabda itu begitu singkat; jelas; dan sempurna.
Manusia sering menemukan berbagai macam alat penerang; namun tidak pernah ciptaannya langsung sempurna.  Ambilah contoh: Thomas Alfa Edison, seorang Kristen yang saleh dan tekun.  Dalam salah satu penemuannya untuk lampu, Edison harus mengalami banyak sekali penelitian; praktik; dan bahkan kegagalan (Edison menyebutnya  9.955 kali berhasil menemukan cara gagal membuat lampu menyala).   Penemuannya tidak sempurna, terus diuji coba hingga berhasil digunakan oleh masyarakat luas.  Pun demikian, penemuan Edison hingga sekarang tidak sempurna. Ada banyak peneliti yang sampai sekarang terus mengembangkan; memperbaiki; dan menyempurnakan lampu itu sendiri.  Ada penemuan lampu hemat energi, tahan lama dipakainya, bahkan yang murah meriah (tapi gampang putus J ).
Terang itu sendiri diciptakan baik adanya.  Ciptaan Tuhan adalah anugerah yang memberkati manusia.  Manusia memperoleh banyak manfaat dari terang dalam segala aktivitas maupun kreativitasnya.  Melalui terang; kita dapat melihat, menulis, berinteraksi, dan tidak tersesat.
Pada bagian pertama penciptaan, Tuhan memisahkan terang dan gelap sebagai bagian dari pemberian tanda atas pagi dan malam.  Melalui pemisahan ini manusia dapat mengetahui kapan waktunya bekerja dan istirahat; kapan waktunya pekerjaan diselesaikan dan kapan waktunya hidup ini dijalankan.
Jika aktivitas kita pernah terganggu dengan mati lampu, seharusnya di sana kita diajarkan bukan untuk bersungut-sungut.  Justru mati lampu mengajarkan kita untuk bertindak lebih cerdik.  Pertama, mengucap syukur karena kita masih dapat merasakan berkat Tuhan: Terang.  Kedua, mengevaluasi sejenak segala kekurangan; dan keberadaan diri kita sebagai anak Terang (Efesus 5:1-21).  
Apakah saat ini kita berada dalam Terang?  Apakah saat berada dalam ruangan yang lampunya terang gemerlap, tetapi hati kita gelap dan kalap?  Jangan-jangan, orang buta lebih melek (melihat) dan berada dalam Terang batin dari pada kita yang melihat tetapi jauh dari sumber Terang Tuhan Yesus Kristus.  Mari kita terus mengevaluasi diri dan membuka hati agar Tuhan Yesus Kristus yang menciptakan Terang, menyinari hati kita.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

BERSIKAP TEPAT DI SAAT TIDAK TEPAT

BERSIKAP TEPAT DI SAAT TIDAK TEPAT
 (Baca: II Samuel 16:5-14)
Demikianlah Daud melanjutkan perjalanannya dengan orang-orangnya, sedang Simei berjalan terus di lereng gunung bertentangan dengan dia dan sambil berjalan ia mengutuk, melemparinya dengan batu dan menimbulkan debu.
II Samuel 16:13
Menjadi orang yang reaksional lebih mudah dari pada mengendalikan diri. Beberapa waktu yang lalu, saya melihat ada seorang yang dipukul ramai-ramai karena dituduh mencuri.  Entah bagaimana kejadian mulanya; namun dengan cepat ada orang-orang mulai berdatangan untuk memukuli tanpa diketahui dengan jelas apakah ini pencuri atau orang yang difitnah mencuri.
Kurang lebih sikap reaksional dan penuh emosi seperti ini yang muncul dalam diri Simei—salah seorang kaum keluarga Saul—ketika melihat Daud dikejar Absalom dalam peristiwa kudeta kerajaan.  Simei merasa Daud mencuri kedudukan Saul dengan cara yang tidak benar; akibatnya harus menanggung balasan hukuman dari Tuhan melalui peristiwa kudeta itu.  Bisa dibayangkan bagaimana kemarahan; makian; dan lontaran batu-batu disertai dengan debu padang gurun yang tidak enak sebagai luapan kebencian Simei.
Menakjubkan sekali bagaimana Daud menghadapi sikap emosional Simei; bukannya membalas memaki atau bahkan menyuruh Zeruya untuk menghabisi Simei; tetapi Daud bersikap rendah hati.  Sekalipun adalah mudah bagi Daud untuk membunuh Simei tetapi ia menyerahkan masalahnya kepada Tuhan. 
Inilah yang seharusnya menjadi teladan orang-orang percaya ketika menghadapi permasalahan dalam hidup ini.  Lebih mudah bagi kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan; dari pada menyerahkan pembalasan kepada Tuhan; apalagi menghadapi kesulitan yang diperbuat orang lain sebagai bagian dari pembentukan Tuhan.
Mengalami saat yang tidak tepat dapat terjadi pada siapa saja.  Ketika seseorang diperlakukan tidak adil oleh orang lain; ketika bencana datang tanpa sebab yang jelas; ketika disalahpahami dan langsung dipersalahkan orang di sekitar kita; ketika ditolak dan selalu dipandang remeh dan negatif; semua terjadi pada saat yang tidak tepat.
Bagaimana kita harus bersikap?  Mampukah kita bersikap rendah hati dan terus mencapai tujuan hidup atau kita justru bersikap reaksional?  Mungkin kita kecewa kepada orang lain; menaruh prasangka negatif seperti yang mereka perbuat.  Mungkin kita sakit hati dan kecewa; benci dan marah; ingin membalas bahkan pembalasan yang lebih kejam lagi.
Daud menganggap kutukan Simei sebagai pembentukan Tuhan untuk mendidik dan mengingatkan Daud terhadap segala kesalahan dan kelemahannya.  Daud tidak terbawa sikap reaksional; tetapi mengevaluasi diri dan meneruskan arah langkahnya pada tujuan hidup.  Daud tahu caranya bersikap tepat di saat yang tidak tepat.
Seperti ada pepatah, ”anjing menggonggong, khafila berlalu”, marilah kita memohon Tuhan Yesus Kristus untuk memampukan kita bersikap tepat di saat tidak tepat: Bersikap rendah hati; evaluasi diri dan tetap mengarahkan diri pada tujuan hidup sebagaimana yang Tuhan kehendaki.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail