BERSIKAP TEPAT DI SAAT TIDAK TEPAT

BERSIKAP TEPAT DI SAAT TIDAK TEPAT
 (Baca: II Samuel 16:5-14)
Demikianlah Daud melanjutkan perjalanannya dengan orang-orangnya, sedang Simei berjalan terus di lereng gunung bertentangan dengan dia dan sambil berjalan ia mengutuk, melemparinya dengan batu dan menimbulkan debu.
II Samuel 16:13
Menjadi orang yang reaksional lebih mudah dari pada mengendalikan diri. Beberapa waktu yang lalu, saya melihat ada seorang yang dipukul ramai-ramai karena dituduh mencuri.  Entah bagaimana kejadian mulanya; namun dengan cepat ada orang-orang mulai berdatangan untuk memukuli tanpa diketahui dengan jelas apakah ini pencuri atau orang yang difitnah mencuri.
Kurang lebih sikap reaksional dan penuh emosi seperti ini yang muncul dalam diri Simei—salah seorang kaum keluarga Saul—ketika melihat Daud dikejar Absalom dalam peristiwa kudeta kerajaan.  Simei merasa Daud mencuri kedudukan Saul dengan cara yang tidak benar; akibatnya harus menanggung balasan hukuman dari Tuhan melalui peristiwa kudeta itu.  Bisa dibayangkan bagaimana kemarahan; makian; dan lontaran batu-batu disertai dengan debu padang gurun yang tidak enak sebagai luapan kebencian Simei.
Menakjubkan sekali bagaimana Daud menghadapi sikap emosional Simei; bukannya membalas memaki atau bahkan menyuruh Zeruya untuk menghabisi Simei; tetapi Daud bersikap rendah hati.  Sekalipun adalah mudah bagi Daud untuk membunuh Simei tetapi ia menyerahkan masalahnya kepada Tuhan. 
Inilah yang seharusnya menjadi teladan orang-orang percaya ketika menghadapi permasalahan dalam hidup ini.  Lebih mudah bagi kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan; dari pada menyerahkan pembalasan kepada Tuhan; apalagi menghadapi kesulitan yang diperbuat orang lain sebagai bagian dari pembentukan Tuhan.
Mengalami saat yang tidak tepat dapat terjadi pada siapa saja.  Ketika seseorang diperlakukan tidak adil oleh orang lain; ketika bencana datang tanpa sebab yang jelas; ketika disalahpahami dan langsung dipersalahkan orang di sekitar kita; ketika ditolak dan selalu dipandang remeh dan negatif; semua terjadi pada saat yang tidak tepat.
Bagaimana kita harus bersikap?  Mampukah kita bersikap rendah hati dan terus mencapai tujuan hidup atau kita justru bersikap reaksional?  Mungkin kita kecewa kepada orang lain; menaruh prasangka negatif seperti yang mereka perbuat.  Mungkin kita sakit hati dan kecewa; benci dan marah; ingin membalas bahkan pembalasan yang lebih kejam lagi.
Daud menganggap kutukan Simei sebagai pembentukan Tuhan untuk mendidik dan mengingatkan Daud terhadap segala kesalahan dan kelemahannya.  Daud tidak terbawa sikap reaksional; tetapi mengevaluasi diri dan meneruskan arah langkahnya pada tujuan hidup.  Daud tahu caranya bersikap tepat di saat yang tidak tepat.
Seperti ada pepatah, ”anjing menggonggong, khafila berlalu”, marilah kita memohon Tuhan Yesus Kristus untuk memampukan kita bersikap tepat di saat tidak tepat: Bersikap rendah hati; evaluasi diri dan tetap mengarahkan diri pada tujuan hidup sebagaimana yang Tuhan kehendaki.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

BAGAIMANA MENJALANI 2011

BAGAIMANA MENJALANI 2011 …??
Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya. I Samuel 30:6b
Bagaiamanakah persiapan Anda memasuki 2011?  Apakah Anda memiliki kiat tertentu agar dapat membuat hidup lebih baik?  Apakah Anda membutuhkan motivasi sejati dari Firman-Nya? 
Tak asing bagi sebagian besar kita bahwa hingga sekarang Indonesia bak dihajar musibah.  Mulai dari gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, panas terik, cuaca tidak menentu, kebakaran, listrik kritis, air bersih kurang hingga banjir, banjir dan banjir.  Di sana kita melihat harga-harga yang terus melambung, BBM yang kian langka, demo di mana-mana, cari uang tidak semudah dulu, hidup semakin sulit dan penuh tantangan.
Di tempat lain kita mendengar banyak artis kawin-cerai, banyak ibu dan anak bunuh diri lantaran tidak sanggup menghadapi sulitnya hidup.  Belum lagi makin banyak kaum muda yang terlibat narkoba, kekerasan dalam rumah tangga hingga keadaan keluarga yang tidak bahagia.
Belajar dari Daud, setidaknya ada dua hal yang dapat dipetik untuk menghadapi kesulitan demi kesulitan hidup manusia.  Pertama adalah setiap orang dapat tertimpa masalah, yang penting bukan bagaimana menghindarinya tetapi bagaimana menghadapinya.
   Daud dan orang-orang yang mengikutnya mengalami kedukaan yang sangat besar karena istri, anak, orang tua bahkan seluruh hartanya dirampas pasukan Amalek.  Pengikut Daud sangat marah dan hancur hatinya, mereka menyalahkan Daud sebagai pemimpin dan hendak membunuhnya.
Banyak anak muda menyalahkan orang tuanya karena tidak memperhatikannya, tidak kaya, tidak sebaik orang tua temannya.  Banyak suami selingkuh dan menyalahkan istri sebagai penyebab kurang memperhatikannya.  Banyak istri mengeluh suaminya yang kurang perhatian dan membuat pernikahan mereka tidak bahagia.  Banyak.. banyak..banyak.. kesalahan adalah karena orang lain dan karena situasi.
Bukankah kecenderungan manusia berdosa adalah menyalahkan orang lain ketika mengalami kesulitan?  Adam menyalahkan Hawa karena dosanya, Hawa menyalahkan ular karena dosanya.
Gelas yang airnya setengah dapat dipandang sebagai: “Puji Tuhan!  Untung, masih ada setengah gelas!” atau “Celaka, airnya tinggal setengah!”Ada kalanya kita tidak dapat memilih keadaan, kita tidak dapat memilih berkat, kita tidak dapat mengubah orang lain, namun kita dapat selalu memilih sikap atas semua hal yang terjadi pada diri kita.  
Kedua adalah setiap orang dapat kembali bangkit dari keterpurukan, yang penting bukan bagaimana percaya pada diri sendiri tetapi seberapa jauh hati kita melekat kepada Kristus.  Percaya diri adalah baik, namun bila berhenti sampai disitu kita telah jatuh kepada paham humanis yang mengatakan manusia bisa sempurna dengan dirinya sendiri tanpa Allah. 
Ketika Daud terjepit dan dijarah semua miliknya, ia menangis, sedih dan perasaannya hancur, namun ia tidak berhenti di sana. Menyadari bahwa pemulihan, kekuatan dan semangat untuk bangkit menghadapi masalah adalah pada Tuhan, maka ia bangkit dari keterpurukan.
Banyak orang memulai usahanya dengan doa dan cucuran air mata, namun ketika usahanya berhasil ia menyisihkan waktunya untuk pelacuran dan mengabaikan Sang Pemberi berkat.  Banyak anak muda mencari jodoh dengan sungguh-sungguh berharap kepada-Nya, namun ketika pacaran sudah tidak pernah kelihatan di gereja. 
Apakah yang terjadi di tahun 2011?  Meskipun banyak paranormal mengatakan akan terjadi begini dan begitu, namun mereka tidak pernah pasti tahu akan masa depan.  Masa depan dan segala berkatnya ada di tangan Tuhan.  Marilah kita menyemangati hidup ini dengan bersandar pada Tuhan.  Hidup ini sulit, marilah kita tidak membuatnya jadi pesimis dan makin sulit.  Hidup ini sulit, tetapi bersama Tuhan jadi manis.  Marilah kita mulai dengan lebih rajin Saat Teduh dalam mendekatkan diri kepada-Nya.  Belajar lebih percaya Tuhan dan hidup di dalam Tuhan.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

KARAKTER PEMIMPIN: TIDAK AJI MUMPUNG

KARAKTER PEMIMPIN: TIDAK AJI MUMPUNG
I Tawarikh 11:19
katanya: “Jauhlah dari padaku, ya Allah, untuk berbuat demikian! Patutkah aku meminum darah taruhan nyawa orang-orang ini? Sebab dengan mempertaruhkan nyawanya mereka membawanya.” Dan tidak mau ia meminumnya. Itulah yang dilakukan ketiga pahlawan itu.
 
Siapakah yang tidak mengenal nama Daud, raja Israel?  Melalui keturunannya, lahirlah generasi yang dipakai dalam lintasan sejarah Tuhan.  Melalui keturunannya, Tuhan menghadirkan Yesus Kristus yang dikandung dari pada Roh Kudus.
Kepemimpinan  Daud selama masa hidupnya banyak menunjukkan kualitas yang luar biasa dari seorang leader.  Daud bukan sembarang pemimpin yang ditunjuk oleh organisasi atau kumpulan para pemimpin.  Daud bukan pemimpin yang diperoleh dari warisan orang tua pemimpin besar.  Daud menjadi pemimpin karena memiliki karakter pemimpin sejati.
Salah satu kisah dari kehidupan Daud adalah diserang musuh bangsa Filistin di Betlehem.  Sementara Daud di Pas-Damim, ia sangat merindukan dapat meminum kembali air segar di sebuah sumur tempat kelahirannya di Betlehem.
Mendengar pemimpinnya menginginkan air segar dari sumur kelahirannya di Betlehem mereka segera mewujudkannya meskipun tempat itu menjadi markas Filistin.  Mengambil air di tempat itu tampaknya identik  dengan misi bunuh diri.  Herannya, ketiga pahlawan Daud bernama: Isybaal, Sama dan Eleasar (II Sam.23:8-12) berani menyusup diantara markas militer hanya untuk mengambil sekirbat air!
Begitu di depan Daud sudah disajikan air dari sumur Betlehem, Daud bukannya meminum dan tertawa terbahak-bahak: “saya bercanda lho!  Saya kan mau menguji kesetiaanmu.”  Tidak, Daud tidak berkata demikian.  Perkataan Daud menunjukkan karakternya yang memang pemimpin sejati.
Pengorbanan ketiga pahlawan pengikut Daud sangat dihargai.  Daud mempersembahkan air itu bagi Tuhan dan ia tidak meminum barang setetespun.  Bukan karena Daud jual mahal, tetapi karena penghargaan yang sangat besar bagi pahlawan pengikutnya yang rela berkorban nyawa.
Jaman sekarang banyak pemimpin yang menggunakan kesempatan dibalik kesempitan.  Mendelegasikan tipis bedanya dengan mengeksploitasi.   Mendelegasikan adalah membagi tugas untuk tujuan dan kepentingan bersama.  Mengeksploitasi adalah memanfaatkan pengikut untuk kepentingan dan keegoisan pemimpin.
Pemimpin sejati adalah pemimpin yang dimulai dari takut akan Tuhan.  Pemimpin sejati tidak berpikir: “Apa yang dia bisa lakukan untuk saya?”  Pemimpin sejati berpikir: “Apa yang dapat saya lakukan buat dia?  Apa yang dapat kita lakukan untuk mencapai tujuan bersama?” 
Kepemimpinan Daud tidak aji mumpung.  Artinya, kepemimpinannya tidak dilakukan dengan mencari kesempatan mempergunakan pengikut untuk memenuhi kebutuhannya dan memuaskan ambisi “visi”-nya, bukan pula pilih kasih berdasarkan suka atau tidak suka.
Daud menunjukkan kepemimpinan yang menghargai pengorbanan pengikutnya.  Ia memberikan hasil pertaruhan nyawa ketiga pahlawan sebagai korban persembahan dihadapan Tuhan.  Dengan kata lain, apa yang dilakukan Daud ditujukan bagi kemuliaan Tuhan.  Marilah kita belajar menjadi pemimpin yang tidak aji mumpung.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

BEBAS DARI BELENGGU DOSA

BEBAS DARI BELENGGU DOSA
(Baca: Yoh.3:14-17)
Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Yohanes 3:17
 free
Firman Tuhan hari ini mengajak saya untuk mengingat kembali bagaimana kemenangan dari belenggu dosa bukan dimulai dengan berbagai cara/strategi untuk mengatasi kegagalan sifat manusia.  Bukan pula dengan seabreg hasil penelitian dan kesimpulan para pakar mengenai tingkah laku manusia.  Segala cara dan usaha manusia yang dikerjakan untuk membuat manusia jadi lebih baik adalah jalan yang terbatas; sementara manusia itu sendiri tetap dalam belenggu kecenderungan berbuat dosa.
Mulanya saya berpikir buku rohani yang bagus dimulai dengan pemahaman yang sangat tepat mengenai pokok permasalahan; dan diakhiri dengan berbagai cara/strategi/tips untuk mengatasinya.  Semisal kebiasaan orang yang suka merokok.  Permulaan pakar menuliskan bagaimana kecanduan merokok tidaklah semudah membalik tangan untuk menghentikannya; kemudian diakhiri dengan kiat khusus untuk menangani merokok dengan tekad; latihan dan lingkungan kebiasaan.
Kemudian saya mulai mengerti bahwa semua itu sebatas usaha manusia; tanpa pertolongan dari kuasa Ilahi segala permasalahan yang ada tidak dapat diselesaikan dengan tuntas. 
Penulis Injil Yohanes menceritakan kembali bagaimana percakapan Yesus Kristus dengan Nikodemu, seorang pemuka agama…!  Kenyataan membuktikan bahwa segala teknik dan ritual keagamaan manusia sifatnya terbatas dan tetap tidak dapat menemukan jalan keluar secara tuntas dari segala hal yang paling mendasar yang dicari manusia: keselamatan; kedamaian; kemerdekaan atas dosa. 
Hal ini agaknya menjadi satu tren yang dicari oleh orang-orang Israel; khususnya pemuka agama yang bernama Nikodemus.  Mereka sedang mencari apa yang paling signifikan yang dibutuhkan manusia dalam satu sebutan: Kerajaan Allah.
Yesus Kristus memperlihatkan kembali bahwa segala hal yang mendasar dalam hidup manusia: Kerajaan Allah; dapat ditemukan dalam anugerah Allah.  Hanya memandang Salib Kristus dan percaya penuh. 
Perbandingan peristiwa keselamatan yang diperoleh bangsa Israel pada waktu lampau adalah perwujudan keselamatan di dalam Kristus (Bil.21:4-9).  Waktu itu; Israel yang terkena gigitan ular tedung dapat diselamatkan dengan memandang hanya patung ular tembaga. 
Memusatkan keseluruhan pandangan dan percaya kepada kuasa Allah (bukan pada patung ularnya); adalah jalan keselamatan.  Demikian pula manusia yang tersengat bisa dosa dapat diselamatkan hanya dengan mengarahkan pandangan secara menyeluruh kepada salib Kristus.
Kehadiran Kristus dalam dunia adalah melepaskan manusia dari belenggu dosa.  Hal ini dapat diperoleh hanya dengan mengarahkan seluruh pandangan kepada salib Kristus.  Pertanyaan sekarang adalah: Apakah kita sudah memandang hanya kepada Dia sepenuhnya?
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail