AJARLAH KAMI BIJAKSANA (MAZMUR 90:12)

 
AJARLAH KAMI BIJAKSANA (MAZMUR 90:12)
 
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian,
hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Bukan ajarlah kami menghitung-hitung jasa kami,
apalagi hitung-hitungan sama Tuhan,
Bukan pula kamilah yang mengajar mereka hingga mereka bijaksana
dan diri sendiri bebal,
Bukan ajarlah kami sampai berhari-hari
lebih melihat angan-angan dari pada realita,
Bukan pula ajarlah kami sampai berhari-hari
lebih melihat kenangan dari pada kenyataan
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian,
hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

KORUPSI ATAS NAMA TUHAN

Korupsi atas Nama Tuhan
Berpikirlah Gehazi, bujang Elisa, abdi Allah: “Sesungguhnya tuanku terlalu menyegani Naaman, orang Aram ini, dengan tidak menerima persembahan yang dibawanya. Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya aku akan berlari mengejar dia dan akan menerima sesuatu dari padanya.”
II Raja-raja 5:20
Kita sering mendengar banyaknya kasus korupsi yang dilakukan oleh orang-orang di negara kita.  Mulai dari pemerintahan tingkat bawah hingga atas, di lembaga sosial, lembaga keagamaan hingga di banyak perusahaan swasta terjadi korupsi.
Definisi “korup” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 2 (Jakarta: Balai Pustaka, 1996) diartikan sebagai: buruk; rusak; busuk; suka memakai barang yang dipercayakan kepadanya. Korupsi didefinisikan dengan penyelewengan/penggelapan (uang negara atau perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.
Peristiwa korupsipun juga terjadi di dalam pelayanan atas nama Tuhan.  Gehazi, sudah melihat banyak pekerjaan mujizat Tuhan melalui hamba-Nya Elisa.  Minyak berlimpah dalam bejana kosong, orang mati dibangkitkan, keracunan disembuhkan, laparnya isi perut ratusan orang dikenyangkan dengan mujizat beberapa roti jelai serta gandum.
Seharusnya peristiwa ini membuat Gehazi takjub dan gentar akan kehadiran Tuhan.  Seharusnya pula, Gehazi mengerti arti pelayanan yang mengandalkan Tuhan dan hidup dalam takut akan Tuhan.  Kenyataannya, Gehazi berani memakai nama Tuhan dan memakai otoritas nabi Elisa untuk menggelapkan pemberian panglima raja Aram, Naaman.
Beberapa kesalahan Gehazi: pertama, Gehazi mencari kesempatan di tengah kesempitan dengan cara tidak jujur pada keinginan dan kebutuhan pribadi.  Kedua, Gehazi memakai otoritas Tuhan dan Nabi untuk meraup keuntungan pribadi.  Gehazi sudah mencuri kemuliaan nama Tuhan.
Agaknya di jaman ini, kehidupan keagamaan rentan menjadi  sasaran korupsi.  Mulai dari dana kesejahteraan umat yang dikorup, uang pembangunan tempat ibadah yang hutangnya tidak pernah lunas dibayar, dan semua ketidak jujuran demi kepentingan pribadi.
Korupsi 2 talenta perak, 2 pundi-pundi dan 2 potong pakaian telah membuat Gehazi harus membayar penyakit kusta seumur hidupnya (II Raj.5:27).  Sungguh tragis tindakan korupsi, terlebih mengerikan apabila korupsi itu dilakukan demi nama Tuhan dan mengatasnamakan lembaga keagamaan.
Andai saja Gehazi berterus terang kepada Naaman dan tidak memakai nama Tuhan, otoritas keagamaan ataupun cerita palsu, maka ia tidak perlu harus kena kusta.  Hidup jujur dan ikut Tuhan mendatangkan anugerah Tuhan yang berkecukupan.  Marilah kita mengoreksi diri: Adakah tanpa disadari sebelumnya, kita juga melakukan korupsi? Kiranya Tuhan menolong kita untuk hidup lurus dan terhindar dari upah dosa korupsi.  Amin.

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

GESEK TERUS…..!

Gesek Terus…!
Seperti pada hari tatkala engkau keluar dari negeri Mesir,
demikianpun Aku akan memperlihatkan dia beberapa perkara ajaib.
Mikah 7:15 (LAI Terjemahan Lama)
Pernakah Anda mendengar iklan sebuah bank yang mengajak nasabah untuk banyak berbelanja dengan kartu kredit? Dengan himbauan ”Gesek Terus…!”  seolah-olah memberitahukan betapa semakin banyak untung yang diperoleh nasabah bila semakin banyak berbelanja. 
”Gesek Terus…!” berarti melakukan sesuatu dengan alat yang sama secara berulang ulang hingga menghasilkan tujuan yang hendak dicapai.  Bila yang ditawarkan undian, maka semakin besar peluang untuk menang.  Bila yang ditawarkan point reward, maka semakin banyak pula discount/barang yang diperoleh.
Nabi Mikah diutus Tuhan untuk mengingatkan Israel akan kejatuhannya apabila mereka tidak bertobat.  Nubuatan ini berlangsung sekitar 20 tahun (742-722 SM) sebelum Israel Utara ditaklukan oleh Asyur. 
Ada nabi-nabi yang terus mengingatkan mengenai pertobatan Israel.  Di tahun 753 SM Tuhan mengutus Hosea.  Di tahun 740 SM Tuhan mengutus pula Yesaya.  Semuanya mengerjakan misi yang sama: menggesek terus hati nurani Israel agar berbalik kepada Tuhan.
Jaman ini banyak orang Kristen yang memiliki kebebalan mirip dengan orang-orang Israel.  Mereka lebih menyukai gereja yang sensasional, menarik, dan meninggalkan Firman Tuhan.  Alkitab hanya menjadi bumbu penyedap untuk kegiatan makan-makan dalam acara syukuran.  Penyembahan (worship)  hanya menjadi istilah untuk memuaskan jiwa.  Kegiatan di gedung gereja lebih mirip tempat hiburan dari pada tempat ibadah.  Banyak orang percaya lebih suka terima berkat dari pada memberi berkat.
Ketika memperhatikan bagaimana orang membersihkan kotoran dengan sebuah sikat, muncullah makna kebenaran di dalamnya.  Sikat digesekkan terus menerus agar kotoran yang menempel bisa dibersihkan.  Demikian kehidupan iman percaya harus terus menerus digesek oleh Firman Tuhan agar tetap kudus.
Marilah kita tidak melalaikan makanan rohani ketika makanan jasmani dan jiwa dipuaskan setiap harinya.  Biarlah makanan secara fisik (nasi goreng, cap cay, dst) boleh diimbangi dengan makanan baca Alkitab.  Biarlah makanan jiwa (kenikmatan, kepuasan, dan ambisi) dikontrol dengan makan Firman Tuhan.
Marilah kita gesek terus Firman Tuhan setiap hari!  Gesek kartu kredit untuk memuaskan perut boleh saja jika ada uang.  Gesek kartu kredit untuk mendapatkan kenikmatan beli alat-alat elektronik juga boleh asal halal.  Yang penting jangan lupa gesek setiap debu yang menodai kerohanian kita.  Jangan lupa gesek kerohanian biar makin kinclong!  Gesek hati nurani biar tetap hidup.  Gesek Terus…! Gesek Terus…!

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

BUAT TUHAN JANGAN YANG GRATISAN

Buat Tuhan Jangan yang Gratisan!
Tetapi berkatalah raja Daud kepada Ornan: “Bukan begitu, melainkan aku mau membelinya dengan harga penuh, sebab aku tidak mau mengambil milikmu untuk TUHAN dan tidak mau mempersembahkan korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.”
I Tawarikh 21:24
Siapa yang tidak suka barang gratisan?  Hampir semua orang menyukai yang namanya pemberian ataupun bonus.  Ibu-ibu yang belanja sabun, tentu senang apabila dapat sebuah piring cantik tanpa bayar.  Bapak-bapak yang beli kendaraan, tentu senang apabila gratis servis dan bensin selama setahun.  Bahkan para remaja senang gonta-ganti nomor handphone lantaran banyak bonus sms dan layanan gratis lainnya.
Banyak orang senang menerima barang gratisan dan bila perlu memberi kepada orang lain tanpa keluar biaya alias tidak rugi.  Di balik setiap barang yang gratis sebenarnya ada pengalihan pembayaran atau ada orang yang sudah menanggung sebelumnya.  Sebenarnya tidak ada yang namanya barang gratisan, sebab ada yang sudah atau akan menanggung biaya barang itu.
Pemberian kepada Tuhan—entah itu persembahan ataupun perpuluhan—tidak boleh didasarkan pada motivasi gratisan.  Prinsip dasarnya: persembahan bagi Tuhan adalah yang terbaik.  Tuhan sudah memberikan yang terbaik untuk kita melalui keselamatan dalam Yesus, demikian kita harus memberi terbaik buat Tuhan.
Apabila kebutuhan pelayanan yang harusnya mengeluarkan sejumlah biaya, namun ditanggung oleh seorang jemaat/simpatisan dan pada akhirnya tidak mengeluarkan sepeserpun tidaklah boleh dianggap gratisan.  Itu adalah persembahan yang harus disyukuri dan dilihat sebagai wujud pengorbanan yang diberikan oleh jemaat/simpatisan tersebut kepada Tuhan.
Daud menaikkan korban bakaran dan keselamatan kepada Tuhan agar wabah sampar berhenti adalah bentuk pertobatan Daud dari dosanya.  Daud mau memberikan yang terbaik dan bukan gratisan kepada Tuhan.  Daud mau melayani dan hidup bagi Tuhan dengan membayar harga yang sesungguhnya.
Jaman ini banyak orang-orang Kristen yang mau mengikuti kegiatan Gereja dengan dibayar.  Pelayanan song leader, singers, bahkan operator LCD harus dibayar.  Mengajar sebagai guru Sekolah Minggu minta uang transport.  Mengikuti camp/re-ret mau yang semurah mungkin, lebih senang bila gratis.  Datang ke persekutuan karena konsumsi yang enak dan ada antar jemputnya.  Pokoknya sebisa mungkin tidak rugi, tetapi untung kalau ikut gereja.
Hendaknya motivasi dan hati yang tidak mau rugi tidak ada di dalam diri kita apabila menghadap dan melayani Tuhan.  Lain halnya, bila orang mau sungguh-sungguh melayani tetapi tidak punya dana transport.  Berbeda ceritanya, bila seseorang mau serius mengikuti camp tetapi tidak cukup uang.  Untuk alasan-alasan ini, tentu saja dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.  Marilah kita belajar seperti Daud: untuk Tuhan jangan gratisan!
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail