Zamzummites

ZAMZUMMITES

(Read: Psalm 110:1)

ammanpic

 

       Can you guess the name of this city? This is Amman the capital city of Jordan. From the Bible, we can know that Ammonites owned this land as God’s gift to Lot’s descendants. (read Deuteronomy 2:19). But, before Lot’s descendants lived in the land, the Bible tells of numerous, strong, giant people living there called Zamzummites. Can you imagine about four thousand years ago when Zamzummites were living here? Their attitude was very bad and they were cruel which is why God destroyed them and gave the land to Lot’s descendants.

       At that time,  the Ammonites were a small tribe meaning they were very weak and didn’t have many people. But, for the Lord nothing is impossible. Thanks to God’s help, the Ammonites could win the land from the Zamzummites. When God opens the door, no one can shut it. When God closes the door, no one can open it.

       The Zamzummites reminded me about the Israelites journey to the promise land, called Canaan. (read Exodus 6:8)   ‘I will bring you to the land which I swore to give to Abraham, Isaac, and Jacob, and I will give it to you for a possession; I am the LORD.”  At that time giants called Anakim (who part of other giants called Nephilim) were living there.

       The Israelites felt very small like grasshopers before these very strong people (Joshua 14:12, Number 13:33). In this land, the grapes grew so large that it took two people to carry one cluster of grapes (Numbers 13:24). The Promised Land (Exodus 6:8) or as we call it Israel today, is a fertile region.

       In this context, Joshua and Caleb saw opportunity in the middle of giant problems while others were pessimistic, and frightened, having lost all hope. Joshua and Caleb choose to follow God’s way. Remember, what is impossible for people, is possible with God.

Titan6

       Do you remember when David fought Goliath? If you do, you will certainly recall how that Israelites, including their King Saul, trembled before this giant elite force of the Philistines. David belived God and choose to fight with Him. He was able to conquer the giant Goliath only because of God’s power.

       When trouble comes into your life, or when you face a situation that seems impossible, remember the God who help David, Joshua, Caleb, the Israelites and even the Ammonites they faced the giants. That same God is able to help you in the middle of any disastrous problem you face.

       What kind of giant problem are you facing today? God is able and willing to help you and me. My best advice to you is to follow God, pray to Jesus and seek His way. Amen.

cover zam

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

I LOVE MONDAY

 

I LOVE MONDAY

(Baca: I Korintus 1:4-5)

Thanks God3

 

 

       Kapan saat yang tepat mengucap syukur? Apakah mengucap syukur itu hanya dilakukan pada saat lancar dan merayakan keberhasilan? Bagaimana apabila kita menghadapi kesulitan dan masalah besar? Masihkah orang percaya perlu mengucap syukur?

       Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus tidak hentinya mengucap syukur kepada Tuhan. Padahal pada saat itu jemaat Korintus hidup ditengah-tengah kota sekuler yang makmur tetapi jauh dari kebiasaan takut akan Tuhan. Lebih mengejutkan bahwa dalam surat Korintus, Paulus lebih dahulu mengetahui jemaat yang tidak sempurna ini ada yang jatuh dalam dosa, hidup dalam dosa seksual, mengkompromikan penyembahan berhala dan terjadi keributan jemaat satu dengan yang lain. Mengapa Paulus mengucap syukur dalam kondisi seperti ini?

       Tentunya Paulus tidak mengucap syukur untuk dosa yang dilakukan beberapa jemaat. Paulus juga tidak bergembira atau syukur atas konflik antar jemaat yang menimbulkan perpecahan di rumah ibadah. Paulus mengucap syukur karena Tuhan, karena masih ada harapan bahwa tidak peduli seberapa buruk keadaan seseorang apabila di bawah anugerah Tuhan maka ada hari depan yang baik.

       Mengucap syukur adalah obat yang mujarab. Dalam rasa syukur kita dihindarkan dari nafsu rakus. Dengan mengucap syukur kita diingatkan anugerah Tuhan yang melimpah dalam hidup kita. Oleh rasa syukur kita diingatkan bahwa hanya oleh anugerah-Nya kita dapat menjadi kaya dalam segala hal.

       Mari belajar mengucap syukur pagi ini di hadapan Tuhan. Kalau kita sering dengar, “I don’t like monday.” Mari kita ganti dengan, “Thanks God. I love monday” Tidak ada hari yang lebih berarti kecuali menjalani hidup bersama Tuhan. Amin.

DUNIA BOLEH BERKATA, “I HATE MONDAY”, TETAPI ORANG YANG MAU HIDUP DALAM ANUGERAH TUHAN DAPAT BERKATA, “THANKS GOD! I LOVE MONDAY”

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

DAHSYATNYA RASA RINDU

DAHSYATNYA RASA RINDU

(Baca: Mazmur 63)

Maz 63_4

       Rasa rindu dapat membuat seseorang rela menempuh 7 lautan dan 7 benua agar dapat bertemu kekasihnya. Karena rindu, seorang ayah bertahan hidup sebagai sandera teroris di hutan liar. Apakah sebenarnya rindu itu? KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memberikan definisi dari kata “rindu” sebagai keinginan atau harapan kuat terhadap sesuatu.

       Itulah yang dituliskan dalam perikop pujian doa Daud ketika dikudeta oleh Absalom, anaknya sendiri. Di masa sulit seperti ini, pergumulan Daud bukan tentang gersangnya padang gurun, bukan pula kurangnya air segar tetapi kesesakan dan kekecewaan hati. Daud menetapkan diri mencari Tuhan dan merenungkan kebaikan-Nya selama ini.

       Alkitab menyebut Daud sangat rindu Tuhan! Dalam bahasa Ibrani kata “rindu” (khamah) memiliki pengertian sangat kangen. Seperti ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya tanpa Tuhan. Daud menyadari bahwa ada sesuatu yang missing (hilang) dan itu hanya dapat dipuaskan dengan kehadiran Tuhan dalam hidupnya.

       Sejarah Alkitab mencatat bahwa Absalom gagal dalam kudeta dan apa yang dipilih Tuhan tetaplah terpilih. Kalau Tuhan yang berketetapan, maka tidak ada yang dapat mengubahnya.

       Suatu kali seorang pemuda datang ke tempat cukur untuk memangkas rambutnya yang sudah gondrong. Ketika ngobrol, tukang cukur berkata bahwa tidak ada Tuhan. Pemuda Nasrani ini terkejut, “Kenapa Anda berkata demikian?

       Jawab Tukang Cukur ini, “Kalau Tuhan itu ada, kenapa di dunia ini banyak penderitaan? Penyakit? Kesusahan?” Pemuda ini terdiam sejenak. Selesai cukur, ia melihat ada seorang pemuda gondrong dan berjanggung lebat melintas. Sontak pemuda ini berkata, “Di dunia ini tidak ada tukang cukur!!”  Tukang Cukur menjawab, “Hah?! Bukannya saya baru saja memotong rambutmu?”

       Pemuda berkata, “Kalau Tukang Cukur ada, kenapa di dunia ini masih ada orang berjenggot dan gondrong, berantakan lagi seperti itu?”. Jawab Tukang Cukur, “Ya, karena dia tidak datang kepada tukang cukur untuk merapikan rambutnya!”

       Pemuda ini berkata, “Tepat sekali! Itulah yang kumaksudkan, Tuhan pun ada! Hari ini ada begitu banyak masalah, penderitaan dan kesengsaraan bukan karena Tuhan tidak ada atau tidak peduli, tetapi karena manusia tidak datang mencari pertolongan-Nya.

       Daud mencari Tuhan dan menemukan kelegaan. Kebaikan Tuhan sesungguhnya lebih baik dari pada hidup itu sendiri. Carilah Tuhan! Utamakan Dia! Gunakan cara-Nya! Saya percaya Anda pun akan melihat dan mengalami kemuliaan Tuhan dinyatakan, berkat dari surga diturunkan dan kehidupan yang dipulihkan. Amin.

Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. Mazmur 63:4

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

PRIVILEGE

PRIVILEGE

(Baca: II Raja-raja 2:1-18)

Privilige

       Apa yang ada dalam benak Anda mendengar kata “privilige”? Kalau saya langsung teringat Airport Lounge Club. Tidak semua orang memiliki akses ke ruangan ini kecuali orang tersebut adalah member dan sedang akan terbang ke suatu tempat.

       Kata “privilige” dalam kamus  Meriam Webster didefinisikan sebagai keuntungan atau hak atau kesempatan khusus yang diberikan kepada orang tertentu dan tidak kepada orang lain dalam sebuah komunitas. Status inilah yang diberikan oleh Tuhan kepada Elia dan Elisa, yakni sebuah privilege dari Tuhan kepada umat tertentu yang dipilih-Nya.

       Tidak semua orang dapat masuk ke surga, tetapi hanya sejumlah orang tertentu atas anugerah-Nya. Tidak semua orang dapat menikmati naik ke surga tanpa kematian (Alkitab mencatat 2 orang yakni Henokh dan Elia). Tidak semua orang mendapat kesempatan melihat Elia naik ke surga kecuali Elisa yang memang dipilih dan dipersiapkan Tuhan.

       Kalau Tuhan memilih umat-Nya, maka pilihan-nya tidak setengah hati alias sepenuhnya. Tuhan yang memilih adalah Tuhan yang memanggil dan memperlengkapi hamba-hamba-Nya. Pertanyaannya sekarang adalah Apakah kita sebagai orang percaya mengikut Tuhan setengah-setengah atau sepenuh hati? Pengikut Tuhan yang ambil bagian dalam pelayanan atau penonton yang terlambat bereaksi?

       Ketika Elia dipanggil Tuhan untuk melayani, ia mengikut sepenuh hati dan kemuliaan Tuhan dinyatakan. Ketika Elisa dipanggil dalam pelayanan, ia langsung merespon dengan totalitas dan kemuliaan Tuhan dinyatakan. 50 orang yang mengaku rohaniwan, pandai bicara dan mengerti banyak tentang Teologi namun hanya menjadi penonton dari kejauhan ketika Tuhan beperkara dalam hidup Elia dan Elisa. Mereka telat berespon dan tidak melihat jejak apapun dari kenaikan Elia ke surga. Sementara itu Elisa berkeputusan tidak akan meninggalkan Elia sebentar saja menjelang masa kenaikan ke surga.

       Seandainya sekarang Tuhan berkata, “Mintalah sesuatu!”, Kalau Elisa tentu menjawab jadikan saya rohaniwan seperti Elia. Kalau Anda? Apa respon Anda? Mari kita gunakan privilige dari Tuhan dengan baik, ketika kita bisa percaya, mengikut dan melayani Tuhan. Amin.

elia naik ke sorga

ADALAH PRIVILEGE APABILA KITA DAPAT MENGIKUT DAN MELAYANI TUHAN DALAM HIDUP INI

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail