Dapatkan!!
Buku Kesaksian dan Renungan Rohani “Bersama Tuhan di Jordan”
langsung diantar ke alamat Anda, dimanapun di seluruh dunia! Kesempatan ini hanya bagi 10 Orang terpilih.
Caranya sangat mudah:
Masuk ke Facebook Serambi Jeffry Sudirgo, Kemudian di gambar di atas
1. Klik “Like”/”Suka”
2. Klik “Share”/”Bagikan”
Dengan Klik tombol Anda jadi saluran berkat-Nya!
Periode Buku Gratis Kesaksian dan Renungan Rohani “Bersama Tuhan di Jordan” ini berlaku hingga 25 Desember 2016. Penilaian dilakukan berdasarkan Tombol “Suka”, dan “Bagikan” terbanyak atau komentar yang memberkati banyak orang. Penilaian 10 orang terpilih dilakukan oleh Tim Facebook Serambi Jeffry Sudirgo dan tidak dapat diganggu gugat. Pemenang akan dihubungi langsung lewat inbox untuk memperoleh informasi alamat kirim.
Jurnal Science dengan judul “Neural Mechanisms for Lexical Processing in Dogs” (30 Agustus 2016), memaparkan bahwa dengan meneliti respon otak kanan dan kiri, Anjing sedikit banyak mengerti bahasa manusia. Anjing bukan hanya bisa memahami kalimat yang diucapkan tetapi juga membaca ekspresi non verbal manusia yang mengucapkannya.
Hubungan manusia dengan Anjing bukan hal baru. Apa kata Alkitab dan apa relevansinya terkhusus buat pecinta binatang ini? Alkitab mencatat setidaknya ada 75x kata “Anjing” disebutkan. Tidak dapat dipungkiri konteks Alkitab ditulis di jaman dahulu di mana hewan tersebut tidak diperhatikan seperti jaman sekarang. Alhasil binatang diidentikan dengan kata “liar”, “kotor” dan kerap kali “ganas”. Intinya kata “Anjing” banyak dipakai sebagai konotasi negatif tidak baik, hina dan rendah.
Pertama kali Anjing diciptakan oleh Tuhan dan yang menjadi master/pack leader/tuan adalah Adam (Kejadian 1:28, 2:19). Ketika Adam jatuh dalam dosa, alam semesta rusak dan termasuk Anjing hidup mengembara tanpa tuan yang seharusnya. Akibatnya, diantara kelompok anjing ada yang paling dominan yang menjadi pack leader. Bahasa teori evolusi adalah survival for the fit (bahasa sederhananya alam jadi liar, saling bunuh dan taklukan untuk bertahan hidup).
Konteks jaman sekarang, Anjing menjadi binatang yang lebih dirawat dan dilatih dibandingkan jaman dahulu. Sebut saja negara maju seperti Amerika Serikat yang mana dapat menghabiskan jutaan dolar per tahun untuk urus Anjing mulai dari makanan, dokter, perawatan hingga penampungan. Di Jepang, merawat Anjing bisa lebih mahal dari makanan manusia.
Dahulu dogie hanya sebatas hewan penjaga (Contoh: Akita, Herder/German Shepherd, Chow-chow, Doberman, Rottweiler), berburu (Seperti: Beagle, Basset Hound, Dachshund, Terrier, Welsh Corgi) ataupun alat transportasi (seperti: Siberian Husky, Malamute, Samoyed).
Kini dogie dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis manusia, baik itu membantu terapi depresi, menolong anak autis, mendeteksi penyakit kanker, diabetes, dst. Di bandara Anjing telah menjadi alat penting mendeteksi adanya bom, barang-barang karantina hingga menemukan tahanan kabur.
Salah satu maskapai penerbangan kelas Internasional, KLM Belanda bahkan menyediakan Anjing khusus setelah penumpang turun dari pesawat untuk mendeteksi apabila ada barang-barang penumpang yang ketinggalan. Anjing inilah yang hanya dengan mengendus barang tersebut sanggup mencari dan menggembalikan kepada pemiliknya secepat mungkin.
Anda masih berpikiran Anjing haram? Berarti Anda kuno. Kalau konteks jaman dahulu, ya! Namun apabila kita memahami konteks tersebut secara komprehensif dan integratif, maka kita akan memahami bahwa hewan ciptaan Tuhan itu berharga dan dapat dipakai untuk kemuliaan-Nya. Bisa jadi lewat Anda, dog lovers maka sahabat manusia tersebut bisa jadi berkat buat keluarga dan sahabat-sahabat kita. Amin.
MISI TUHAN KEPADA SETIAP MANUSIA SEJAK PENCIPTAAN TIDAK BERUBAH, KITA DIPANGGIL UNTUK MEMULIAKAN TUHAN LEWAT ALAM SEMESTA YANG KITA TINGGALI INI
How does it feel to have a restored life? How beautiful is it to have freedom in our life? I want to take you to the story of young man who used to live in Umm Qais (Gadara). This place is near from the border between Jordanian and Syria. Today, this place is dangerous because of ISIS terror and violence.
The true Bible story began about a young man possessed by demons. It looks like he has freedom in his life. He lived by his own will and did whatever he wanted. Nobody could chain him or control him. He lived not far from Sea of Galilee.
Many times people saw him walking around wildly in the tombs near a village called Gadara. When someone shouts loudly, there are often two possibilities: either they need help or it is a shout of happiness.
This man lived alone and had long lonely nights among the tombs and in the hills. He tried several times to commit suicide because he was suffering so much. We can know that he was not really free, but was called ‘Legion’ because he was possessed by many, many impure spirits.
No one could set him free. No one cared anymore about this poor man. But Jesus Christ wanted to set him free. He rebuked legion and cast out the demons from this young man. He was healed, saved and in peaceful condition after meeting Jesus! Yet, this is not the end of the story.
Jesus sent him back to his village with clear instructions: Go, Tell what God has done to your life! The world history records that even Jesus Christ was rejected in Gadara Village, but still the Good News spread across the ages.
Do you know that one of the church fathers who attended the Nicaea Council (325 A.D) was from Gadara? At the Byzantine era, the majority of Gadara residents were Christian. Archeologists found more than 400 crusader coins in Gadara.
It proof of what this young man had done — he followed Jesus’ instructions and told the Good News of Christ and this had a big impact on Gadara’s history.
Today God’s calling resounds with the same echo of truth. If God has ever blessed your life, saved you, healed your sickness and helped your life, now is the time to continue bearing fruit of good deeds for God’s work.
People who let God be involved in their life, will not lack God’s providence.
People who obey God’s word already blessed in their life.
Air mata saya mengalir penuh haru dan rasa syukur ketika menonton Indonesia mendapat medali emas dalam olah raga bulu tangkis di Rio De Janeiro, Brazil pada 17 Agustus 2016. Dialah Tantowi Ahmad dan liliyana Natsir yang mempersembahkan nama harum bagi Indonesia di hari kemerdekaan dalam pertandingan ganda campuran badminton kelas dunia.
Di berbagai tempat banyak orang Indonesia nonton bareng alias menyaksikan bersama pertandingan bergensi internasional ini. Pada saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan, maka rasa kebangsaan dan persatuan menyatu tanpa memandang suku, agama, rasa dan perbedaan lain kecuali bangga dengan satu Indonesia. Bahkan tidak sedikit saya melihat sejumlah orang yang menyanyikan lagu kebangsaan ini dengan mencucurkan air mata. Momentumnya sangat pas! Hari Kemerdekaan 17 Agustus!
Dalam gelanggang pertandingan olimpiade internasional, hanya orang-orang utusan terbaik negaranya yang akan bertanding, dan dari orang-orang yang terbaik hanya akan diambil yang terbaik dari yang terbaik untuk medali emas. Inilah prestasi, kebanggaan dan tujuan akhir dari pertandingan yang diselenggarakan tersebut.
Ketika melihat Ahmad dan Lilyani memenangkan medali emas bagi Indonesia, saya langsung teringat ucapan Paulus mengenai pertandingan hidup orang percaya. Paulus menggambarkan hidup ini seperti pertandingan. Gelanggangnya adalah dunia, pesertanya adalah semua orang, pelatihnya adalah kesulitan dan tantangan hidup, dan tujuannya adalah menang alias berhasil mencapai tujuan diciptakan Tuhan di dunia ini.
Setiap olah ragawan yang bertanding tentunya mempersiapkan diri sebaik mungkin agar menang. Tidak jarang latihan itu menyakitkan dan luar biasa melelahkan. Kerap latihan tiada henti dan seolah tidak mengenal batas. Demikian pula hidup manusia adalah persiapan dan sekaligus pertandingan untuk kekekalan. Disebut berhasil apabila kita mengikut Tuhan dengan setia sampai akhir hayat. Disebut berhasil apabila kita menghasilkan buah dalam pelayanan bagi kemuliaan-Nya.
Saya terharu, bangga dan gembira karena prestasi yang dicapai anak bangsa Indonesia memenangkan medali emas dalam pertandingan bulu tangkis di Rio 17 Agustus 2016. Suatu saat kita yang mengikut dan melayani Tuhan pun akan terharu, bangga dan gembira melampaui semua yang dapat dikatakan ketika Hari Tuhan datang memberikan mahkota kehidupan bagi hamba-Nya yang setia dan taat. Amin.
HIDUP BAK PERTANDINGAN OLAH RAGA, PELATIHNYA ADALAH KESULITAN DAN TANTANGAN, TUJUANNYA ADALAH BERHASIL MENGGENAPI TUJUAN KITA DICIPTAKAN DI DUNIA INI