MEMAKNAI RUTINITAS

Memaknai Rutinitas
(Baca: Kejadian 1:14-19)

Pernakah Anda merasa bosan dengan kegiatan rutin yang berjalan?  Sebagian orang menghabiskan setiap harinya dengan bangun pagi, pergi ke tempat kerja, pulang malam bertemu keluarga sebentar dan tidur.  Esok hari berputar kembali seperti kemarin. 
Pelajar setiap hari harus berhadapan dengan buku dan guru di sekolah.  Ibu rumah tangga setiap hari harus menyiapkan sarapan untuk keluarganya, pergi ke pasar, mencuci, setrika, menyapu dan pel lantai, membersihkan rumah, menyiapkan makan siang dan malam.  Kegiatan rutin ini berputar terus setiap hari sehingga tampak monoton dan membosankan.
Setiap orang bisa didera dengan penyakit kebosanan, jenuh dan penat.  Bila kita melihat kisah kejadian penciptaan di hari keempat, maka terlihat bahwa Allah sengaja meletakkan matahari, bulan dan bintang sebagai tanda pengenal waktu. Melaluinya manusia bisa mengenal hari berlalu, musim akan datang dan cuaca dapat diprediksi berdasarkan tanda-tanda alam.  Inilah keajaiban dunia!  dari rutinitas alam terdapat tujuan Allah yang berorientasi ke depan dan bukan berputar-putar di tempat.
Kembali kepada kegiatan rutin dari manusia, sebagian besar kita memiliki jadwal kehidupan rutin setiap hari bahkan sepanjang tahun.  Terkadang tidak dapat dipungkiri semua kegiatan yang berulang terus dapat menimbulkan kelelahan, kebosanan dan kekosongan.  Seolah-olah kita tidak sedang maju tetapi berputar-putar di tempat yang sama. 
Keteraturan adalah baik sebab membuat kita lebih sehat lebih tertata dengan rapi, tidak membuat kita bingung, kacau ataupun panik.  Bila terjadi kekacauan, maka ketidak teraturan akan menimbulkan ketidaknyamanan, kerugian bahkan kehilangan.
Berdasarkan hal di atas, maka ditengah-tengah kerutinan kita dapat memetik sejumlah pelajaran agar hidup ini lebih hidup:  Pertama, adalah belajar memaknai setiap pekerjaan kita setiap hari.  Artinya, kita perlu evaluasi atas semua hal yang telah berjalan, entah di penghujung hari ataupun dipenghujung minggu.  Dengan evaluasi, membuat kita mengerti setiap keberhasilan dan kegagalan yang terjadi.  Rencana ke depan dapat lebih baik dari sebelumnya, sehingga tujuan hidup kita berhasil di dalam Tuhan semakin terasah baik.

Kedua, kerutinan dari pagi hingga malam sebenarnya adalah penanda waktu bahwa kita diikat di dalam ruang dan waktu.  Belajar dari kerutinan harusnya mengingatkan bahwa kita manusia terbatas. Banyak orang tidak menyukai dan berusaha menyangkali bahwa dirinya terbatas di saat berada dalam kegiatan rutin yang berulang-ulang.  Sebagian orang berdalih dengan sedemikian rupa dan menyebut dirinya tidak diikat oleh kerutinan.  Orang ini kemudian mamacu hidupnya melewati batas, menjadi gila kerja dan akhirnya sakit.  Bukankah dari kerutinan alam saja kita bisa mengetahui bahwa di dalam perjalanan waktu yang bergulir ke depan, alam ini terbatas dan diikat oleh dimensi ruang dan waktu?  Apalagi di dalam rutinitas harian kita, sebenarnya Allah berbicara banyak mengenai keterbatasan manusia.

 Ketiga, rutinitas setiap hari dari pagi hingga malam, dari terang hingga gelap sebenarnya tidak pernah sama persis.  Rutinitas walaupun tampaknya tidak berubah, sesungguhnya ada perubahan berjalan di dalam keteraturan.  Bila kita memaknai waktu berjalan hanya dengan berputar pagi-malam-pagi, maka kita telah kehilangan arti waktu yang sesungguhnya.  Belajar dari kerutinan, kerutinan yang dipandang sebagai anugerah Allah setiap hari akan menghasilkan hidup.  Bila kita menghargai anugerah Allah, maka kita bukan saja hidup di dalam anugerah-Nya, melainkan kita hidup bagi Allah.  Di sinilah titik tolak hidup jadi lebih hidup, yakni ketika kita mengijinkan dan berusaha memadukan seluruh diri kita bagi Allah, maka di sana terjadi efek yang disebut sukacita, damai sejahtera, lega, dan dipakai Allah sepenuhnya.

Hari ini banyak orang merasa hidupnya jenuh, tidak berarti dan berputar-putar dalam rutinitas.  Mereka diperbudak oleh dosa sehingga hidupnya didorong oleh nafsu dan bukan Allah.  Sebagian orang terjebak dalam kesibukan yang luar biasa dan sekaligus kemalasan yang luar biasa sehingga tidak punya waktu untuk berdiam diri dan mengevaluasi hidupnya. 
Pagi, siang dan malam akan terjadi lagi esok.  Terang dan gelap adalah makanan keseharian, demikian pula dengan rutinitas.  Memaknai rutinitas di dalam Tuhan adalah jawaban bagi kesegaran hidup.  Kehidupan diciptakan secara teratur dan rutin oleh Allah dengan tujuan yang sangat indah bagi kehidupan manusia, iya kehidupanbukan kebosanan apalagi kematian.  Kiranya Tuhan menolong kita.  Amin.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *