KESAN PERTAMA

first-impression


KESAN PERTAMA
Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan… Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaanMu! (Ratapan 3:21-23).

Saya teringat moto iklan produk AXE, “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.” Sewaktu pertama kali tiba di Manado, saya memikirkan begitu banyak hal menyenangkan. Berada di kota yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani seharusnya membuat suasana, keadaan, serta orang-orang kota ini berbeda dengan kota-kota lainnya.
Namun, kesan yang saya dapatkan selama kurang lebih 6 tahun di kota tersebut tidak se-menyenangkan yang saya pikirkan pada awalnya. Dengan mayoritas penduduk beragama Nasrani, sepertinya tidak ada yang berbeda dengan keadaan kota lainnya.
Mengingat hal tersebut, membuat saya berpikir bahwa kesan pertama tidak dapat dijadikan patokan untuk pandangan kita selanjutnya. Kadang-kadang penilaian kita akan sesuatu dapat salah jika hanya didasarkan pada pandangan sesaat. Seperti ada pepatah yang mengatakan bahwa jangan menilai sebuah buku dari sampulnya.
Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa hidup kita tidak dapat lepas dari “kesan pertama,” terutama pada saat kita menemui hal-hal baru dalam hidup kita. Kesan pertama pada saat masuk sekolah, masuk universitas, bekerja untuk pertama kalinya, bepergian ke kota baru, bertemu dengan sahabat serta teman baru, menghadapi masalah yang berat, dan hal-hal baru lainnya. Kesan pertama kita biasanya akan berubah seriring waktu saat kita mengetahui kenyataan lain yang kita hadapi.
Namun, masih ingatkah saat kita pertama kali berjumpa dengan Tuhan? Bagaimana kesan pertama kita saat itu? Apakah kesan itu masih sama hingga sekarang ataukah telah berubah? Saya ingat ketika pertama kali mengenal Tuhan ialah sewaktu masih berada di Sekolah Minggu. Mengenal Tuhan pertama kali dengan segala kebaikan dan kelembutan yang Ia miliki, pada waktu itu membuat saya mengidolakannya. Namun, seiring waktu berjalan, saya menyadari bahwa sering kali masalah dan keadaan yang saya hadapi membuat saya melupakan-Nya, membuat saya menjauhi-Nya. Bahkan kadang-kadang saat melakukan dosa, saya justru menutup diri dari-Nya.
Mungkin sebagian besar dari kita mengalami hal yang sama. Namun, hal tersebut tentunya tidak membuat kesan pertama kita pada-Nya berubah. Ia tetap Tuhan yang sama, Allah yang baik, Allah yang penuh dengan kelembutan, dan Allah yang akan selalu membuka tangan-Nya lebar-lebar saat kita telah berbuat dosa dan ingin kembali pada-Nya. Bagi saya, kesan pertama yang dapat saya pertahankan sampai saat ini adalah pada Tuhan.
Kemudian, apakah kita sendiri pernah berpikir bagaimana kesan pertama Tuhan pada kita? Apakah kesan pertama Tuhan pada kita juga berubah seiring dengan waktu yang berlalu?  Apapun pemikiran masing-masing dari kita untuk pertanyaan tersebut, tidak membuat Kasih Tuhan berubah dalam kehidupan kita. Ia tetap mengasihi kita tanpa syarat, Ia senantiasa menunjukkan kebaikan-Nya dalam hidup kita, serta melimpahi kita dengan anugerahnya hari lepas hari. Apapun kesan pertama Tuhan pada kita, Ia tetap memberikan yang terbaik bagi kita menurut pandangannya.
Menutup tulisan ini, mungkin saya ingin sedikit membagikan ilustrasi yang pernah saya dengar sebelumnya sewaktu masih bekerja di salah satu universitas swasta di Manado.  Ada salah satu mahasiswa yang sepertinya sangat serius dalam membicarakan kebaikan Tuhan dalam hidup mereka.  Ilustrasinya yang dia ceritakan kepada teman-temannya kira-kira seperti ini:
Bayangkan jika kamu berada di sebuah ruangan, kamar kamu sendiri misalnya. Kemudian di kamar tersebut ada sebuah jendela. Karena kamar tersebut terlalu gelap, maka kamu membuka jendela dan mendapati matahari sedang bersinar terang di luar. Tidak lama setelah itu, karena matahari tersebut terlalu terik, kamu merasa kepanasan kemudian memutuskan untuk menutup jendela. Nah, pada saat kamu menutup jendela, apakah matahari tersebut berhenti bersinar? Apakah pada saat kamu menutup jendela, matahari tersebut tidak akan panas lagi? Tentu saja tidak bukan? Sama seperti kasih dan kebaikan Tuhan padamu, walaupun kamu menutup pintu hatimu, kasih dan kebaikan Tuhan akan tetap bersinar untukmu.
Ilustrasi yang sederhana, tetapi dapat mengingatkan kembali kepada saya bahwa Kasih Tuhan dalam hidup kita tetap sama hari lepas hari.  Bagaimana dengan kita? Apa kesan pertama kita saat pertama kali berjumpa dengan Tuhan? Apapun kesan pertama kita, Kasih Tuhan dalam hidup kita tidak akan pernah berubah. Semoga setiap dari kita juga dapat belajar lebih mengasihi Tuhan hari lepas hari seperti Ia yang telah lebih dahulu mengasihi kita. Amin. 
(Karya Dewi Septiawati)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *