BERBUAH SEPERTI POHON ARA

figfruits
BERBUAH SEPERTI POHON ARA
(Baca: Lukas 13:6-9)
Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Lukas 13:7
Apakah Anda pernah melihat buah Ara?  Saya pernah mencicipi salah satu jenis dari buah Ara di rumah dosen Perjanjian Lama.  Rasanya enak, seperti makan buah kiwi namun sedikit lebih keras (mungkin tergantung dari pemupukan, sinar matahari hingga keadaan tanah dan iklim).  Buah ara sangat enak dimakan bila sebelumya dimasukkan di dalam kulkas, segar dan unik.
Dosen saya yang kebanyakan dari kami menyebutnya pakar Perjanjian Lama ini sangat mencintai Israel dan kebudayaannya hingga mendorongnya menanam sendiri pohon Ara di depan tempat tinggalnya.  Pohon Ara sebenarnya memiliki banyak jenis dan macam.  Ada yang besar sekali dan ada yang tinggi tetapi tidak terlalu besar.  Khusus peristiwa Zakheus di atas pohon Ara adalah jenis yang besar sehingga manusia bisa naik dan bertengger di atasnya.  Mengenai ayat yang kita baca di atas adalah konteks pohon Ara yang tidak terlalu besar dan ditanam diantara perkebunan anggur dengan maksud untuk dinikmati buahnya.
Lumrahnya benih Ara yang ditanam memang tidak langsung jadi pohon apalagi berbuah lebat.  Konon perlu waktu beberapa tahun untuk menghasilkan buah, yang satu musim bisa dua kali berbuah.  Perkiraan pohon Ara berbuah adalah 3-5tahun.  Sementara yang diceritakan dalam perumpamaan pemilik pohon Ara ini sudah menantinya setiap tahun hingga tahun ke tiga.  Penggarap kebun anggur dan sekaligus mengusahakan buah Ara minta kesempatan setahun lagi untuk mengusahakan sedemikian rupa agar berbuah di tahun yang ke empat.  Bila tidak, penggarap ini juga setuju pohon Ara dibuang karena bikin sesak tanah dan tidak ada gunanya hidup.
Apa maksud dari perumpamaan Yesus ini?  Bila kita konteks perjalanan pelayanan Yesus pada waktu itu, terlihat dengan jelas bahwa banyak orang hidup di dalam keagamaan yang fanatik tetapi gagal menghasilkan kehidupan yang berbuah seperti yang Tuhan mau.  Kehidupan fanatiknya adalah munafik.  Contoh praktisnya,  mereka menekankan Sabat tetapi melupakan makna dasar dari tujuan Sabat.  Kesalehan pengikut agama pada waktu itu hanya supaya dilihat orang dan dihormati.  Wadah keagamaan yang saleh tidak ada artinya bila tidak diikuti dengan sikap hati yang percaya dan mengikut Yesus Kristus. 
Kebenaran yang sama juga berbicara kepada kita hari ini: Tuhan tidak memanggil manusia untuk menjadi pengikut agama yang “saleh” lalu kehidupannya tidak berbuah dan jauh dari kehendak Tuhan.  Tuhan tidak ingin kita hanya sekedar jadi orang Kristen yang hidupnya  dipenuhi dengan kesibukan pribadi, karier, masa depan, pengembangan usaha, rencana-rencana sendiri, dst.  Setiap kita yang percaya sungguh kepada Kristus Yesus dipanggil hidup bukan lagi untuk diri sendiri tetapi untuk Dia yang sudah mati dan bangkit menebus kita.  Kita dipanggil untuk menggenapi setiap rencana Tuhan.  Kita dipanggil untuk berbuat sesuatu supaya Kerajaan Allah nyata di bumi seperti di sorga.
Ingat, seperti pemilik pohon Ara memberi batasan waktu supaya pohon itu berbuah, demikian pula setiap orang percaya diberikan kesempatan terbatas di dunia ini untuk berbuah bagi Kristus.  Sudahkah Anda mengerti hal ini? Sedangkah Anda menjawab panggilan Tuhan? Atau jangan-jangan kita melayani cuman sekedar melayani; memberi persembahan cuman sekedar persembahan; menyediakan waktu untuk Tuhan kalau tidak sibuk di kerjaan; tidak ada ujian di sekolah dan ketika tidak ada masalah.  Kesibukan di gedung gereja tidak identik dengan berbuah bagi Tuhan.   Marilah kita menjalani hari-hari dengan kerangka hidup untuk Kerajaan Allah.  Di rumah, keluarga, pekerjaan, studi, pelayanan dan bahkan tempat Ibadah kita berbuah bagi Kristus.  Sudahkah Anda berbuah? Lebih tepatnya; Apakah Anda sedang berbuah bagi Kristus?  Apakah Anda sedang mendukung dan turut bersama membangun Kerajaan Allah?  Kiranya Tuhan menolong kita berbuah terus sampai Ia datang!  Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *