IMITATION OF CHRIST

buddy-Jesus

Imitation of Christ
Yohanes 5:19-47
Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?” Yohanes 5:47
Barang yang dibuat imitasi seperti aslinya, kerap kali selalu ada kekurangan dan cacatnya.  Sekilas orang melihat barang imitasi adalah sama dengan aslinya.  Bentuk dan segala pernik-perniknya juga hampir sama; apalagi jika orang tersebut tidak mengenal dengan baik bagaimana bentuk aslinya.
Demikian halnya dengan orang Kristen yang hendak menjadi serupa Kristus.  Ia harus mengenal dengan baik bagaimana bentuk asli dari keberadaan Yesus Kristus lewat Alkitab.  Hal yang paling utama adalah: ia harus mengenal dengan baik siapakah Kristus sebelum dirinya berusaha mewujudkan hidup Kristen yang sejati.  Memang dapat dipahami bahwa setiap orang tidak dapat menjadi sama persis dengan Kristus yang adalah Tuhan; namun arah yang hendak dicapai setiap orang percaya adalah menjadi serupa dengan Dia  (Ef.4:15; Rom.12:2; Kol.2:6).  Menjadi serupa Kristus adalah sebuah proses hidup orang percaya.
Kristus menyatakan diri sebagai satu kesatuan dengan Bapa di sorga.  Kristus hanya melakukan apa yang Bapa kehendaki; kapan dan bagaimana Ia melakukan-Nya; semua itu dikerjakan dengan mengandalkan kehendak Bapa.
Mengenal Bapa bukan sekedar dapat dilihat dari Perjanjian Baru; namun lebih banyak juga tergambar di Perjanjian Lama.  Keberadaan Bapa di Perjanjian Lama menunjukkan sebagai Bapa yang utuh.  Artinya; Tuhan adalah Tuhan yang menyatu antara apa yang dikatakan dengan yang dilakukan.  Tuhan yang adil sekaligus juga kasih.  Tuhan yang bijaksana; pemelihara; sekaligus menjalankan hukuman berdasarkan ketetapan-Nya. 
Keberadaan Yesus Kristus adalah wujud dari puncak kasih Allah dan sekaligus demonstrasi dari hukuman Allah yang seharusnya ditanggung oleh manusia berdosa. 
Di sinilah misi Yesus di dalam dunia ini.  Ia tidak bertindak karena aturan main masyarakat pada umumnya.  Ia tidak melayani berdasarkan mood dari diri-Nya sendiri.  Ia melayani berdasarkan waktu dan kehendak Bapa.
Bagaimanakah dengan kita?  Adakah kita melayani hanya berdasarkan kalau kita suka; tidak lelah; atau tidak sibuk?  Adakah kita melayani karena hitung-hitungan untung rugi dengan Tuhan; dengan orang lain?
Adakah kita melayani dengan motivasi yang tidak benar?  Adakah motivasi kita untuk berkarya dan menggenapkan kehendak Bapa dalam hidup kita?  Atau dengan motivasi supaya kita dikenal?  Diakui?  Dihormati orang lain karena kita hebat dalam melayani?
Jikalau motivasi kita salah dalam melayani dan hidup berkarya bagi Tuha, mohon kiranya Tuhan mengampuni dosa kita.  Biarlah Firman-Nya mengoreksi kita kembali untuk hidup bagi Tuhan Yesus Kristus saja. 
Menjadi serupa dengan Kristus adalah proses yang terus menerus untuk mewujudkan Allah hadir dan berkarya di tengah-tengah kita.  Menjadi serupa dengan Kristus dimulai dengan meneladani hidup Yesus.  Selamat bertumbuh. 

CARILAH DAHULU

priority

CARILAH DAHULU…!

“Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kau katakan, teapi buatalah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya…” IRaja-raja 17:13b
Pernakah Anda mendengar kisah tentang seorang professor yang sedang mengajar di sebuah kelas?  Professor ini membawa aquarium bundar cukup besar dan meletakkannya di atas meja mengajarnya.  Ia mengisi batu-batu besar dan bertanya kepada murid-murid, “Apakah aquarium bundar ini sudah penuh?”  para murid menjawab, “sudah!”  Professor itu berkata, “belum.” 
Kemudian ia mengambil batu batu kerikil yang dipersiapkannya dalam sebuah kantong dan mengisinya.  Kali kedua sang guru ini bertanya, “apakah aquarium bundar ini sudah penuh?” Sebagian murid mulai ragu, ada yang menjawab, “sudah” dan ada pula yang setengah menggelengkan kepalanya.  Professor ini bilang, “memang belum.” 
Kemudian ia mengambil kantong ketiga berisi pasir dan mengisi hingga bibir aquarium bundar itu.  Kali ketiga ia bertanya kepada para murid, “apakah sudah penuh?”  murid-murid masih bingung dan ada yang menjawab penuh, ada pula yang menjawab belum.  Sebagian lain tidak memberi respon.  Professor ini bilang, “belum juga.”
 Terakhir ia mengambil sebuah air gallon dan mengisinya hingga penuh dan bertanya hal serupa kepada para murid, “apakah aquarium bundar ini sudah penuh?”  mereka serentak menjawab “iya!”.  Kemudian Professor ini menyimpulkan ilustrasi peragaan tersebut: “Tempatkan batu besar terlebih dahulu dalam hidupmu sehingga engkau bisa mengisi yang lainnya.  Bila kita mengisi air dahulu, maka yang lain tidak akan terisi.  Bila kita mengisi kerikil, maka pasir dan air dapat terisi tetapi batu besar tidak akan muat di dalam aquarium tadi.  Inilah yang disebut prioritas!”

Dalam hidup ini tidaklah selalu mudah menentukan prioritas.  Ada kalanya kita gagal dan salah mengambil keputusan karena tidak ada prioritas dan prinsip hidup yang jelas.  Janda sarfat hidup di tengah-tengah keadaan yang amat sulit: kelaparan yang sangat hebat.  Janda sarfat ini bersama anaknya tidak memiliki apa-apa kecuali sedikit tepung, minyak dan beberapa potong kayu bakar untuk membuat roti.  Rencananya, selesai makan mereka hanya menunggu waktu untuk mati.

Adalah hal mustahil dan diluar logika manusia apabila ditengah-tengah kelaparan masih mau berbagi kepada orang lain.  Kebutuhan primer (pangan) saja sudah sangat kurang, bagaimana mungkin prioritas diberikan kepada orang lain meskipun Elia disebut sebagai rohaniwan??!
Waktu pertama kita membaca ini, tentu kita tidak habis mengerti dan bertanya, “Mengapa Tuhan?”  Mengapa pada saat sulit justru Tuhan meminta janda sarfat itu mendahulukan Elia?  Bukankah Tuhan bisa mengutus gagak untuk memberi makan dan mengadakan banyak mujizat buat Elia?  Mengapa Tuhan seolah-olah merampas dari seorang miskin lagi tak berdaya ini?  Apa maksud Tuhan?
Bila kita membaca pasal-pasal sebelum dan sesudahnya, terlihat adanya rencana Tuhan yang sangat baik kepada janda sarfat dan anaknya ini.  Justru yang kelihatan jahat dan tidak masuk akal dengan meminta janda sarfat makanan terakhirnya, Tuhan hendak memberkati dengan makanan yang berkecukupan.  Tuhan peduli dan sayang kepada janda sarfat serta anaknya.  Tuhan bisa saja memberkati Elia dengan cara yang ajaib seorang diri, tetapi dalam peristiwa ini Tuhan mau memelihara Elia, janda sarfat dan anaknya dengan cara-Nya.
Bukankah prinsip Tuhan yang dinyatakan Elia juga dinyatakan Yesus?  Lihatlah Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerjaan Allah dan kebenarannya, maka semuaya itu akan ditambahkan kepadamu.”   Inilah Prinsip Prioritas dalam hidup.  Bukan masalah memberi roti, tetapi masalah mengutamakan Tuhan dalam hidup ini.  Carilah dahulu Kerajaan Allah adalah perihal percaya sepenuhnya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan satu-satunya Juruselamat.  Mencari kebenaran-Nya berarti mencari dan mentaati Firman Tuhan.  Maka semuanya yang kita butuhkan, Tuhan akan pelihara dengan cara yang unik dan ajaib.
Bagaimana dengan kehidupan Anda dan saya?  Apakah kita masih hitung-hitungan dengan Tuhan ketika memberikan perpuluhan?  Apakah kita takut dan berpikir: “Tuhan saya kasih kurangnya ya dan bukan lebihnya dari perpuluhan penghasilanku”.  Apakah kita pelit dan tidak berani memberi banyak kepada pekerjaan Tuhan padahal kita memiliki berlimpah?  Adakah kita mau menyediakan waktu untuk berdoa dan membaca Alkitab setiap harinya?  Apakah kita mau melibatkan Tuhan dalam rencana sehari-hari dan termasuk rencana sekian tahun ke depan?  Sudahkah kita menempatkan Tuhan dalam prioritas kita yang utama? 
Hidup ini milik Tuhan, sejarah dan masa depan ada di tangannya.  Segala berkat yang manusia peroleh baik dengan jerih lelah usahanya maupun kelancarannya adalah bagian kecil dari berkat Tuhan.  Jangan sampai lalu kita merasa itu hak kita, sudah seharusnya kita peroleh dan lupa bahwa inipun pemberian Tuhan.  Kalau kita lagi bokek, tidak banyak berkat atau kena musibah jangan sampai pula kita bilang Tuhan berhutang sama kita dan menganggap Tuhan jahat.  Dibalik semua hal terjadi ada rencana baik dan maksud Tuhan yang tidak dapat diselami oleh manusia bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan.
Hari ini ketika kita hidup, marilah kita meluruskan prioritas arah hidup kita.  Tempatkanlah Tuhan menjadi nomor satu dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan dan hidup pribadi kita.  Firman Tuhan berjanji “… maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”.  Ya, semuanya yang baik menurut waktu dan rencana Tuhan bukan menurut mau-maunya kita.  Kiranya kita boleh sadar dan terdorong hidup di dalam Tuhan Yesus Kristus.  Amin.

SOUL MATE

couple

Soul Mate
Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal.
Kejadian 24:67

Mencari teman hidup adalah bagian dari kebutuhan intimasi di kebanyakan pemuda dan pemudi.  Pertanyaan yang kerap muncul adalah: Siapakah belahan jiwaku?  Manakah “Adam” atau “Hawa” yang Tuhan sediakan bagiku?  Belajar dari prinsip dan kehidupan Abraham, kita akan melihat bagaimana Ishak menemukan pasangan hidupnya.
Abraham memulai perjalanan imannya dengan ketaatan penuh kepada Tuhan.  Ia bukan sekedar taat, tetapi lebih dari itu Abraham berjalan bersama dengan Allah.  Itulah sebabnya ia mengerti betul apa yang menjadi kehendak Tuhan perihal jodoh bagi anaknya.  Tuhan menghendaki pasangan yang seiman bukan sekedar seagama, segereja, sepelayanan tetapi sama-sama percaya Tuhan Yesus Kristus dan mau hidup bagi Dia.
Belahan jiwa adalah kerinduan hampir setiap pemuda dan pemudi.  Hal ini wajar karena memang di usia muda-mudi (13-29 tahun), baik yang baru menginjak usia remaja maupun menyelesaikan masa pemuda/i dan menuju dewasa dapat tertarik dengan lawan jenisnya. Pada fase ini tentu timbul banyak pertanyaan: apa dan bagaimana mengerti soul mate yang dari Tuhan?
Belajar dari rangkaian cerita Ishak dan Ribka, kita bisa melihat beberapa hal yang dapat dipelajari ketika mencari dan menemuka pasangan hidup dari Tuhan.  Pertama, seperti Abraham yang mencarikan anaknya pasangan seiman.  Ini diperlihatkan dengan kembali ke daerahnya yang sebenarnya dimaksudkan adalah orang-orang yang sama-sama percaya kepada Tuhan Allah.
Kedua, Abraham mengutus orang kepercayaannya untuk mencari jodoh dengan doa dan harapan penuh kepada Tuhan.  Manager Abraham ketika menjalankan tugasnya, bukan sekedar mencari tanda dari Tuhan tetapi juga melihat karakter dari calon pasangan boss-nya.  Berarti untuk mencari pasangan yang dari Tuhan selain seiman juga harus dimulai dengan doa yang sungguh-sungguh minta pimpinan Tuhan. 
Memilih pasangan hidup tidaklah mudah, ada kalanya membingungkan dan penuh pergumulan.  Ada kalanya sulit ditemukan dan tampaknya tidak ada harapan.  Tetapi di balik semua pergumulan ini, ingatlah Tuhan tetap menjadi sahabat dan mengerti kebutuhan kita yang paling dalam.  Bila kita berjalan di dalam pimpinan dan penyertaan Tuhan, Ia akan menuntun kita pada jalan yang terbaik sesuai dengan keberadaan kita.  Ia akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.  Amin.

YARMULKE

Black_Kippah

YARMULKE: TANDA MENGHORMATI TUHAN
Kejadian 21:1-7; Galatia 6:15
Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah. Roma 2:29
Pernakah Anda mendengar istilah Yarmulke?  Ini adalah topi kecil yang disematkan di atas kepala sebagai simbol menghormati Allah (honoring God).  Yarmulke atau Kippah/Kipa biasa dipakai oleh orang-orang Yahudi sejak muda.  Mereka yang memakai Kippa dipandang sebagai orang yang saleh.
Budaya Israel, khususnya tradisi Yahudi dalam pemakaian Yarmulke sangat menarik dan memiliki pengertian yang mendalam.  Kita perlu terus mengingatkan dan diingatkan kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.  Pemakaian Yarmulke adalah salah satu cara simbolis untuk mengingatkan kita agar senantiasa hidup di dalam Tuhan.  Namun, apabila simbol Yarmulke hanya sekedar di luar dapat tanpa diikuti dengan sikap hati yang saleh, maka topi kecil di kepala justru dapat menjadi kemunafikan dan hal yang tidak ada gunanya.
Abraham adalah salah satu contoh terbaik di kalangan Yahudi, Islam maupun Kristen tentang kesalehan hidup.  Abraham menghormati Tuhan dengan keluarganya, pekerjaannya, dan bahkan seluruh hidupnya.  Abraham menyunatkan Ishak pada hari ke delapan setelah Ishak lahir sebagai simbol perjanjian Tuhan dengan umat-Nya.  Disunat pun adalah simbol kesalehan di Perjanjian Lama.  Namun, apakah berarti orang yang tidak disunat itu tidak saleh dan orang yang bersunat pasti hidupnya dipandang saleh?  Jawabannya adalah tidak.
Sunat adalah ekspresi luar dari sikap hati yang mau percaya dan taat kepada Tuhan.  Intinya bukan terletak pada perbuatan sunat, tetapi pada sikap hati percaya dan mengikut Tuhan.  Abraham dibenarkan bukan karena sunatnya, tetapi karena imannya. 
Hal yang paling penting di dalam sikap menghormati Tuhan adalah sunat rohani, yakni sunat hati dan telinga.  Sunat yang dilakukan di dalam hati lewat pertobatan dan bukan ritual keagamaan atau sekedar religi simbolik.  Tuhan menghendaki setiap orang percaya yang mau beriman kepada Allah menyunatkan diri secara rohani lewat pertobatan dan iman kepada Isa Almasih/Yesus Kristus/Yesua HaMashiach (Kolose 2:11).
Abraham dibenarkan Allah karena imannya bukan karena perbuatan sunat.  Perihal sunat atau tidak sunat bukan lagi menjadi masalah hidup manusia yang diperkenan Tuhan. Paulus memaparkan dengan sangat gamblang bahwa orang Yahudi yang asli, tulen, sejati adalah mereka yang bersunat secara rohani bukan hurufiah.  Seseorang bersunat baik adanya, tidak bersunat juga tidak salah (I Korintus 7:18, bdk.Galatia 5:6; 6:12,15; Kolose 3:11; Kisah Para Rasul 7:51).  Hal yang utama adalah pertobatan dari mengandalkan dan menuruti nafsu diri, beralih kepada mempercayai, mengikut dan menghormati Tuhan.
Sara dan Abraham diberkati Tuhan secara luar biasa selama masa hidupnya.  Sekalipun mereka menjalani kehidupan yang tidak mudah, banyak kerikil kesulitan dan penderitaan, tetapi iman dan perbuatan mereka untuk Tuhan tidak sia-sia.  Abaraham dan Sara menyebut anaknya yang tunggal itu Ishak yang artinya: tertawa.  Arti nama tertawa bukan terhina, terejek, atau bermakna negatif lainnya, melainkan bermakna positif yakni sukacita, gembira, senang dan puji syukur.  Sara bersukacita untuk berkat Tuhan yang menakjubkan dalam hidupnya dan ia mau juga berbagai “tawa” (baca: sukacita) dengan orang lain (Kejadian 21:6).

Apakah Anda ingin mendapatkan berkat dan janji yang dari Tuhan seperti halnya Abraham dan Sara?  Apakah Anda ingin hidup di dalam Tuhan secara saleh dari dalam hati dan bukan simbolis belaka?  Apakah Anda ingin menghormati Tuhan?  Apakah Anda ingin menghidupi anugerah Tuhan yang besar itu?  Bila jawabannya adalah iya, maka pastikan bahwa diri Anda dan keluarga maupun orang-orang yang  Anda kasihi memperoleh sunat rohani (Kolose 2:11), bukan paksaan tetapi kerelaan dan kesadaran hati di hadapan Tuhan.  Mari kita belajar menjalani hidup yang bersunat telinga dan hati sebagai sikap menghormati Allah.  Kiranya Tuhan menolong kita.  Amin.