WARISAN 40 TAHUN!

Warisan 40 Tahun!

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu (Amsal 22:6).

Pagi ini ketika melihat-lihat foto perpustakaan mini sebuah gereja, tiba-tiba saya teringat masa kecil sekitar 40 tahun yang lalu! Ya, seperti diputar kembali film kisah nyata masa lalu. Waktu itu di rumah orang tua, keluarga membuka perpustakaan mini dengan nama NFSJY (diambil dari inisial nama depan dari anak-anak Sudirgo).

Kami memiliki sejumlah literatur, termasuk majalah-majalah, buku cerita bergambar Donal Bebek, BOBO, novel dan banyak sekali buku-buku lain yang saya tidak ingat detilnya. Perpustakaan ini dibuka dengan tujuan jadi berkat buat sesama, terkhusus teman, kenalan dan tetangga sekitar rumah kecil kami. Ada tersedia buku catatan untuk para peminjam agar rapi dan jelas kapan literatur itu masuk dan keluar. Ada juga stempel dengan tulisan NFSJY di setiap buku sebagai lambang sukacita sekaligus identitas kepemilikan literatur tersebut. Jangan lupa, jaman itu stempel adalah barang spesial untuk legitimasi formil. Ya, itulah kegembiraan yang masih menempel di dalam memori saya.

Ada orang-orang yang datang hanya sekedar membaca di sana dan kemudian pulang. Ada pula yang membaca dan kemudian tertarik meminjam untuk dibawa pulang. Bahkan beberapa sering datang untuk meminjam secara rutin dan dibawa pulang agar kenikmatan membaca dan membuka wawasan, imajinasi dan kreativitas berkembang.

Waktu berlalu. Rupanya sukacita menjadi berkat lewat literatur berlanjut di Sekolah Dasar Negeri tempat saya mengenyam pendidikan. Sering sebagai relawan saya ikut melayani di Perpustakaan sekolah. Mulai dari menyusun dan merapikan buku-buku hingga melayani kawan-kawan yang hendak meminjam atau mengembalikan buku kesukaan mereka. Suasana cukup ramai dan tidak jarang sampai antri demi mendapatkan buku yang disukai itu. Di SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas) rupanya kebiasaan suka berada di Perpustakaan berlanjut, bahkan sering ber”tengger” di perpustakaan Gereja. Seperti memang menyadari ada banyak “harta karun” pengetahuan dan rohani, bak ketertarikan musafir yang haus akan air di sumur hidup.

Tidak disangka sebelumnya, ketika masuk Seminari Alkitab pun, berkutat di bidang literatur menjadi kesukaan yang besar. Di tingkat dua, saya dipercayakan untuk memimpin pengelolaan redaksi majalah Sekolah Minggu TABITA yang disalurkan ke gereja-gereja di seluruh Indonesia. Meski dengan modal kas keuangan yang sangat sedikit, kami belajar arti berjuang, berusaha, ber-kreativitas dan terlebih ber-iman dan berdoa. Kalau Tuhan yang membuka pintu, tidak akan ada yang bisa menutup nya.

Selesai wisuda dari Seminari Alkitab di Malang, Tuhan mempercayakan saya untuk 10 tahun  pelayanan di sebuah Gereja dan termasuk di dalam nya mengelolah perpustakaan.  Sekarang 15 tahun berjalan pelayanan di sebuah Yayasan, Tuhan percayakan untuk berambil bagian dalam pelayanan literatur di Indonesia Timur. Puji Tuhan! Tuhan masih beri kesempatan ikut mencerdaskan bangsa lewat buku-buku pelajaran, buku-buku kisah Alkitab, buku-buku Teologi Praktikal bagi rohaniwan serta renungan rohani bagi umat Tuhan. Rupanya ini yang Tuhan percayakan. Sebuah legacy 40 tahun lalu dari keluarga dan terus menjadi berkat buat sesama hingga hari ini.

Amsal 22:6 mengingatkan kepada kita semua makna sebuah legacy/warisan hidup. Warisan tidak hanya harta atau aset atau uang peninggalan yang kita peroleh, namun juga terkhusus sebuah kelanjutan/estafet dari nilai-nilai hidup, kebiasaan-kebiasaan baik dan membangun, serta pencapaian dan kontribusi yang membawa dampak menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

Pendidikan yang diajarkan kepada seseorang, terkhusus dimulai dari keluarga sejak masa kecil dapat berdampak besar dan berkelanjutan pada masa depan nya. Pendidikan itu tidak terbatas pada sekolah formil, tetapi sering kali lebih kuat dan berpengaruh pada kebiasaan yang diterapkan oleh keluarga dalam keseharian. Kata “didiklah” dalam bahasa Ibrani חָנַךְ berarti melatih dengan disiplin dan berdedikasi. Kalau dalam konteks Alkitab Amsal adalah dedikasi raja Salomo menghargai Tuhan dengan membangun tempat Ibadah adalah hasil dari sebuah teladan dan didikan.

Hari ini legacy atau warisan hidup apa yang ber harga bagi kita? Apakah ada warisan yang kita ingin teruskan kepada generasi selanjutnya? Apakah kita hanya numpang lewat dan membawa banyak penyesalan, kekecewan, kemarahan dan kepahitan masa lalu? Apakah kita justru sebaliknya mau mewariskan nilai-nilai kebaikan, kasih, pengampunan dan teladan sebagai legacy yang akan dikenang banyak orang kelak? Andalah yang berhak memililh dan memutuskan untuk hidup yang Tuhan anugerahkan.

Bagi saya, warisan 40 tahun lalu dari keluarga sungguh meng-amin-kan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Warisan itu berdampak kuat lewat teladan, sukacita dan persekutuan dalam keluarga. Pendidikan formil di Sekolah dan pembinaan di Gereja sifat nya sangat terbatas dan hanya sebagai penambah dari pendidikan non formil di rumah.

Mari kita tanamkan bagi generasi mendatang, bagi anak-cucu kita mengenai indah nya hidup di dalam Tuhan. Indah nya bersekutu, berdoa, membaca Alkitab, memuji Tuhan bersama, saling berbagi, saling megampuni, saling mendukung sebagai latihan menghadirkan Kerajaan Allah di bumi seperti di Sorga. Namanya hidup, pasti banyak kekurangan, banyak kelemahan, banyak kesalahan. Itu wajar. Kendati demikian, mari kita fokus untuk ke depan dan mengijinkan Tuhan hadir dan berdampak dalam kebaikan. Mari dimulai dari kita. Kiranya Tuhan menolong dan memberkati kita semua. Amin.

WARISKAN HIDUP YANG MENUMBUHKAN KEBAIKAN DAN HARAPAN

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

TIPS PENTING AGAR ANAK PUNYA MASA DEPAN BAIK

TIPS PENTING AGAR ANAK PUNYA MASA DEPAN BAIK

(Baca: 2 Raja-raja 1:1-18)

Orang tua mana yang tidak ingin anaknya berhasil? Siapa yang tidak senang bila anaknya diberkati Tuhan? Banyak orang berpikir bila banyak uang atau menempati kedudukan tinggi, pasti hidupnya berhasil dan bahagia. Kenyataannya tidaklah demikian.  Inilah kenyataan hidup yang diderita oleh Ahazia. Orang tuanya, Ahab adalah orang yang sangat kaya dan menempati posisi jabatan nomor satu yakni raja Israel Utara. Ironis nya, Ahab lupa mengajarkan prinsip penting agar anak punya masa depan yang baik.

Semasa hidup Ahab memberi teladan buruk seorang ayah dalam hal kerohanian dan karier. Secara kerohanian, ia memberi pengaruh buruk keluarga dan rakyatnya menyembah berhala. Ahab seharusnya menjadi suami yang memimpin istri dan anak-anaknya hidup dalam Tuhan, namun ia justru  membiarkan diri di dominasi istrinya (ratu Izebel) hidup keji di hadapan Tuhan.  Secara karier, sejoli  Ahab dan Izebel memang lihai dan licik dalam hal bisnis. Ia merebut kebun anggur Nabot tanpa keluar uang sepeser pun (1 Raja-raja 21). Bukankah ini yang banyak terjadi di jaman sekarang?

Sepeninggal Ahab, Ahazia mewarisi harta dan takhta tetapi tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Ia mengirim tiga rombongan pasukan bersenjata lengkap untuk menangkap Elisa karena menyampaikan Firman Tuhan yang keras. Rombongan pasukan pertama dan kedua mati hangus dilalap api Tuhan. Tidak ada lagi masa depan bagi mereka. Rombongan pasukan ke tiga selamat karena pemimpinnya (kemungkinan perwira  yang jaman sekarang sejajar dengan pangkat kapten) takut akan Tuhan. Singkat cerita Ahazia meninggal tidak di dalam Tuhan dalam sakitnya.

Belajar dari Ahab, ada tips penting agar anak punya masa depan. Pertama harta dan takhta bukan segalanya, bahkan dapat menjadi racun mematikan bagi anak yang tidak siap dan bijaksana mengelolah apa yang ada padanya. Kedua, agar anak punya masa depan yang baik maka ia perlu di didik menghargai Tuhan dalam hidupnya. Ini semua bukan diajarkan dalam teori belaka tetapi teladan hidup orang tua. Apa pandangan anak terhadap Anda? Apa yang mereka pelajari dari hidup orang tuanya? Lebih sayang dengan pekerjaan atau keluarga? Apakah pandangan mereka tentang bisnis culas dan curang jadi agenda untung atau buntung? Kalau ada masalah cari Tuhan dalam doa atau cari jimat dan dukun? Didiklah anak menghargai Tuhan agar ada masa depan yang baik. Amin.

DIDIKLAH ANAK MENGHARGAI TUHAN AGAR ADA MASA DEPAN YANG BAIK

Jeffry Sudirgo
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

ANAK TAKUT GELAP

ANAK TAKUT GELAP

(Baca: Matius 5:14-16)

terang

      Apakah anak Anda takut gelap? Malam itu, salah satu anak kami minta ditemani untuk pergi ke kamar mandi karena ia takut gelap. “Kenapa kamu begitu penakut?” Kalimat yang kemudian saya sesali dan meminta maaf kepadanya. Bagaimana mendidik anak apabila takut gelap?

       Ketika berada di bukit Arbel, Yesus menyebut bahwa setiap pengikut-Nya adalah Terang Dunia. Dari bukit inilah kita bisa melihat betapa subur dan indah nya pemandangan danau Galilea dari atas. Terang dari atas menyingkapkan realitas keadaan di bawah. Inilah panggilan hidup orang percaya, yakni menjadi saksi dan saluran berkat Tuhan.

       Apa yang dapat kita lakukan ketika anak takut gelap? Pertama, jangan menyebutnya “Penakut”. Dengan menghakimi atau melabeli anak sebagai penakut sama saja dengan semakin menjerumuskan anak tersebut menjadi rendah diri (inferiority).

       Kedua, dampingi anak Anda menghadapi rasa takut. Ingat bahwa anak yang takut gelap bisa bermacam-macam sebabnya. Ada anak yang takut gelap karena sering menonton film monster, dan ada pula karena perceraian orang tua sehingga timbul rasa cemas dalam diri anak yang keluar dalam bentuk takut gelap. Dalam kasus yang berat, kita perlu bantuan profesional konselor atau psikiatri. Jangan memarahi atau mengabaikan perasaannya.

       Ketiga, ijinkan anak bertumbuh secara wajar.  Setiap orang memiliki rasa takut masing-masing. Bagi anak, gelap gulita dapat menimbulkan rasa tidak aman karena tidak dapat melihat keadaan sekitarnya. Jangan menakuti anak dengan ancaman ada hantu A yang datang bila tidak dengar-dengaran perkataan Anda. Ijinkan dan hargai perasaannya ketika ia cerita perasaan, pikiran dan imajinasinya agar Anda dapat memahami dan menolongnya. Ajak anak berdoa dan mendengarkan Firman Tuhan sebelum tidur.

      Oh ya sejak semua hal praktis di atas diterapkan, anak saya sudah beberapa kali pergi ke kamar mandi sendiri, termasuk ke ruangan gelap sendiri. Tanpa disadarinya, ia jadi tidak setakut sebelumnya. Mari kita jadi Terang di tengah keluarga maupun lingkungan sekitar kita. Selamat menjadi Terang Dunia  dan Tuhan Yesus memberkati.

“You’re here to be light, bringing out the God colors in the world.” Matthew 5:14

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail