IMLEK: SAMBUT TAHUN BARU 2575

Sambut Tahun Baru Imlek 2575
“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.”  Kolose 3:1
 
 
 
 
Pernah suatu kali saya pergi membeli barang di sebuah toko.  Di tempat itu ada sebuah patung kucing kecil yang melambai-lambai.  Saya diberitahukan bahwa mainan itu adalah semacam kepercayaan yang artinya mengundang rejeki datang di tempat itu. Bagaimana pandangan orang Nasrani terhadap hal ini?  Apakah kita boleh mengikuti mitos-mitos seperti ini? 
 
Bulan Februari ini kita jelang dengan berbagai momen penting, mulai dari Imlek, Valenite Day (Hari Kasih Sayang) hingga Pemilu 2024. Banyak orang mulai mempersiapkan diri untuk banyak event ini sekaligus.  Terkhusus untuk hari raya Tahun Baru Tionghoa, sejumlah kertas merah menjadi pernik kebahagiaan.  Konon kertas merah yang ditempel di rumah dipercayai dapat membuat setan-setan takut.  Demikian pula dengan petasan yang katanya akan membuat takut setan gunung yang turun ke rumah penduduk. 
 
Surat Paulus kepada jemaat di Kolose membicarakan jalan keluar atas pertanyaan ini.  Bagaimana orang Nasrani  harus bersikap terhadap mitos-mitos atau berbagai takhayul yang kelihatan begitu menggiurkan dan meyakinkan. Bagaimana menyikapi tahun 2024 yang penuh dengan ketidakpastian ini?  Jemaat Tuhan di kota Kolose saat itu sedang dirongrong ajaran filsafat dunia dan pengaruh kuasa jahat yang bekerja di dunia.  Paulus mengingatkan bagaimana setiap orang percaya yang sudah menerima penebusan Kristus adalah orang merdeka dan menjadi milik Tuhan bukannya ditawan oleh Iblis. 
 
Bahasa asli Yunani Kolose 3:1 yang dituliskan Paulus untuk kata “carilah” menggunakan kata ζητεῖτε yang artinya mencari resolusi sampai akar nya alias mencari dengan sungguh sampai menemukan jawaban nya. Dengan demikian cara menghadapi masalah, maka solusi nya adalah dengan mencari dan mengandalkan Tuhan sampai muncul jalan keluar yang disediakan Tuhan. Paulus mengingatkan jemaat Tuhan agar mereka memandang realitas surgawi bukan hanya perkara di dunia.  Jika seseorang mati bersama Kristus dan hidupnya di dalam Allah, maka kelak akan mendapat kemuliaan Allah kelak ketika Kristus menyatakan diri di akhir jaman sebagai Tuhan.
 
Bagaimana kita sebagai orang Nasrani yang merayakan Imlek?  Boleh-boleh saja dan justru baik bila dirayakan dengan pemahaman yang benar dan tidak mempercayai mitos/takhayul.  Pergantian tahun lama menuju tahun baru digunakan sebagai kesempatan evaluasi dan refleksi diri.  Tahun baru menjadi pengucapan syukur setiap berkat Tuhan sekaligus komitmen hidup lebih bersandar kepada Tuhan.  Apapun yang terjadi di tahun 2024, entah suasana politik yang tidak menentu, keadaan usaha naik turun maupun hubungan keluarga dengan segala dinamika nya, mari andalakan Tuhan!
 
Perayaan tahun baru Imlek sering ditandai dengan warna merah, baik itu di hung bao, pakaian, asesori sampai kepada hiasan-hiasan rumah.  Semuanya ini menurut mitos dapat membawa keselamatan, perlindungan, rejeki, dan kebahagiaan.  Bagi kita sebagai orang percaya warna merah hanya lambang sukacita dan kebahagiaan.  Keselamatan, perlindungan, rejeki dan kebahagiaan hanya di peroleh dari Tuhan saja.
 
 
Tradisi Imlek boleh terus berjalan dan menjadi sukacita kita untuk melihat pemeliharaan dan kasih Tuhan di tengah-tengah berbagai kesulitan hidup.  Marilah kita merayakannya dengan mata yang memandang kepada Sang Pemberi berkat dan Pohon Selamat, Yesus Kristus.  Xin Nien Bing An… Ang Pao Lai Lek…! Selamat Tahun Baru Imlek 2575.
 
 
                                                                                                                                                                       
 
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

BILA CARI JODOH TIDAK MELIBATKAN TUHAN…

Bila Cari Jodoh Tidak Melibatkan Tuhan …
(Baca: Kejadian 6:1-7)
Kalau Anda (yang sedang berpacaran) ditanya: apakah alasan Anda memilihnya sebagai teman hidupmu?  Apakah jawaban Anda?  Banyak orang ketika ditanya apa alasan berpacaran, jawabannya bisa  bermacam-macam: “Hmm.. dia sangat memperhatikan saya.”; “saya rasa cocok dengan dia”; “orangnya cute banget”; “saya kasihan, soalnya dia sudah menembak berkali-kali” 
Mencari dan memilih pasangan hidup adalah fase yang dialami oleh sebagian besar orang di sekitar kita.  Sebagian orang memang masih dicarikan/dijodohkan oleh orang tua atau kerabatnya.  Konon ketertarikan laki-laki dan perempuan mempunyai banyak teori.  Ada teori yang mengatakan mereka tertarik karena diciptakan secara berbeda.  Ada pula teori yang mengatakan laki-laki dan perempuan saling tertarik karena sering berjumpa dan berinteraksi.  Sementara teori lain menjelaskan ketertarikan lawan jenis karena banyaknya kemiripan antara pasangan dengan dirinya sendiri.
Apakah batasan dan kebebasan di dalam memilih pasangan hidup?  Apakah yang sebaiknya perlu menjadi pertimbangan dan mana yang menjadi prioritas dalam memilih pasangan hidup?
Berkaca dari bagian perikop ini, tampaklah dalam perkembangan keturunan manusia terjadi yang namanya pencarian dan pemilihan pasangan hidup.  Alkitab menuliskan anak-anak Allah mencari dan memilih pasangan hidupnya karena cantik.  Pengertian cantik bisa berarti banyak hal: cantik dalam pengertian fisik yang sesuai dengan selera kebanyakan orang; cantik dalam pengertian karakter dan sikap yang baik; cantik dalam hal kepandaian atau kegesitan dalam perilaku; dsb.
Di dalam bahasa Ibrani-Perjanjian Lama, kata “cantik” memiliki arti baik dalam berbagai macam aspek.  Pengertian baik bisa berarti baik secara moral; baik dalam pengertian sepadan; baik dalam pengertian watak; bisa juga baik dalam pengertian sikap dan perilaku.
Apapun pertimbangannya, tampak jelas bahwa manusia-manusia kepunyaan Allah alias orang-orang percaya memilih pasangan hidup berdasarkan apa yang menurut pertimbangan mereka baik.
Apa yang terjadi kemudian dalam generasi mereka?  Alkitab mencatat pula bahwa dari perkawinan antara orang-orang pilihan Allah dan manusia (yang besar kemungkinan  mengacu kepada orang-orang yang sudah tidak lagi mengikuti Tuhan) memang ada yang menghasilkan sejumlah besar pahlawan.  Kendati demikian, bila dikaji secara luas dalam populasi, Alkitab justru dengan gamblang menjelaskan bahwa banyak diantara mereka yang menjadi rusak, jahat dan membuat alam semakin rusak pula karena dosa.
Pengertian Pahlawan bisa ditafsirkan banyak hal, mulai dari pahlawan berarti orang-orang yang berani; orang-orang yang mengenal dan menjalankan kehendak Tuhan; pahlawan bisa juga punya maksud harafiah orang-orang berbadan besar dan tegap yang telah memenangkan banyak pertempuran berdarah.  Saya pribadi cenderung mengambil pemahaman pahlawan sebagai orang-orang yang takut akan Tuhan dan menjalankan perintah-Nya yang disebut pahlawan.  Mengapa demikian?  Karena dalam rangkaian penulisan kitab Kejadian ini, terkhusus di pasal-pasal sebelumnya tampak bahwa penulis mencatat nama-nama keturunan Adam yang dipilih dan dipakai Allah.  Sebenarnya ada banyak orang lain keturunan Adam yang tidak dicatat, namun hanya sejumlah orang pilihan Allah yang ditulis dan berkaitan dengan nubuatan serta penggenapan di Perjanjian Baru.
Syukur-syukur bila orang-orang percaya mendidik anak mereka di dalam Tuhan dan pasangannya bertobat dan mendukung hidup di dalam Allah.  Tetapi, kenyataan di dalamnya justru lebih banyak generasi yang rusak karena orang tua yang ketika mencari dan memilih jodoh tidak di dalam dan melibatkan Tuhan.  Bukankah Tuhan yang menciptakan manusia mengenal manusia lebih dari pada siapapun termasuk diri manusia?  Bukankah Tuhan yang menciptkan jodohnya Adam dengan pasangan yang sepadan?  Bila demikian sudah sewajarnya dan sangat logis bila mencari pasangan harus melibatkan Tuhan terlebih dahulu.
Hari ini banyak orang-orang Nasrani mencari jodoh dengan pemikiran perasaannya saja.  Mereka tidak menanyakan dan menggumulkan bersama Tuhan terlebih dahulu sebelum berpacaran.  Hari ini banyak orang-orang Nasrani menikah dengan orang-orang yang tidak seiman dan menghasilkan kehidupan yang biasa-biasa saja, bahkan berantakan.  Orang bisa tenang-tenang dan kelihatan harmonis dalam pernikahan tidak seiman, tetapi bukan berarti berhasil dalam tujuan pernikahan.  Tujuan pernikahan adalah menjalankan dan menggenapkan kehendak Tuhan di dalam hidup rumah tangga mereka dan membawa anak-anak mereka menjadi pahlawan-pahlawan Allah.
Ada sejumlah orang Nasrani yang sudah memutuskan pacaran barulah mencari kehendak Tuhan atas hubungan mereka, apalagi ketika dihadang dengan banyak masalah.  Sebenarnya hal ini agak terlambat bukan salah sama sekali.  Sebaiknya sebelum memutuskan untuk berpacaran di bawa dalam doa, mencari pimpinan Tuhan.  Sewaktu berpacaran terus melibatkan Tuhan sambil menguji kecocokan dan pertumbuhan relasi satu dengan yang lain di dalam kerohanian, karakter, dsb.
Hari ini bila anak-anak Tuhan mencari jodoh tidak di dalam dan melibatkan Tuhan, maka akan menghasilkan generasi yang broken home, anak-anak yang tidak mengenal Tuhan dan hidup di dalam Tuhan.  Meskipun tidak menjamin bahwa orang-orang dari keluarga orang percaya pasti menghasilkan anak-anak di dalam Tuhan, sebab orang tua mereka terlalu sibuk hidup sekuler.  Kenyataan, lebih banyak orang-orang Nasrani yang mencari jodoh di luar Tuhan mengalami banyak kesulitan dari pada orang-orang yang sejak semula melibatkan Tuhan.  Tapi kisah hidupnya tidak berhenti di sana, ada banyak hal dahsyat yang Tuhan kerjakan dalam hidup pasangan yang melibatkan Tuhan.  Survei membuktikan bahwa pasangan yang melibatkan Tuhan dalam kekudusan hubungan mereka, memiliki tingkat kepuasan seksual jauh lebih besar dari pada mereka yang hamil di luar nikah atau sudah pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah.    Moga-moga saja diantara mereka yang sudah berkeluarga, masih ada orang tua yang mendidik anaknya dalam Tuhan dan muncul anak-anak pahlawan Allah. 
Hari ini bila Anda sedang mencari pasangan hidupmu, buka mata buka hati.  Bukan hanya melihat kecantikan/ketampanan dan kecocokan, tetapi yang terlebih penting melihat apa yang Tuhan mau.  Selamat bergumul, saya mendoakan Anda.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA PART II

CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
(Baca: Kejadian 24:1-67)
Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya. Kejadian 24:64
PART II
 
 
 
Hari ini banyak anak muda yang mencari jodoh berdasarkan paras wajahnya saja, “yang penting dia cantik atau ganteng atau baik.”  Sebagian orang memilih berdasarkan perasaan saja, yang lain berdasarkan pertimbangan logika saja, sementara ada banyak pula yang hanya berdasarkan rasa cocok saja tanpa memperhitungkan hal utama: seiman atau tidak seiman.
Apakah Ribka dan Ishak adalah pasangan yang sempurna?  Jawabannya adalah Tidak.  Apakah dia adalah pasangan yang dikehendaki Tuhan dan jodoh dari Tuhan? Jawabannya adalah Ya.  Kenapa?  Bila kaji lebih dalam tentang kehidupan Ribka misalnya, akan ditemukan banyak hal yang kurang baik dari keluarga besarnya. 
Sejak ayahnya meninggal, peran ayah dalam hidup Ribka adalah Laban.  Laban adalah orang yang suka uang alias mata duitan.  Laban akan menghargai dan menyambut orang maupun teman kalau punya sesuatu harta benda.  Motto hidupnya adalah: apa untung dan rugi?  Saudara-saudara Ribka dan ibunya tentu saja sedikit banyak terpengaruh hal ini. 
Laban, ibunya dan saudara-saudaranya sepakat melepaskan Ribka dibawa kepada Ishak kemarinnya (ayat 54-55), esok paginya mereka menahan Ribka dari manager Abraham.  Sikap ini adalah sikap yang tidak konsisten dan terlalu buru-buru mengambil keputusan karena melihat harta dan pemberian-pemberian hadiah.  Sederhanya, mereka dari keluarga yang tidak berintegritas, impulsif, dan gila harta.
Apakah Ribka adalah keluarga yang ideal? Tentu saja tidak.  Namun, Abraham jauh hari sebelumnya sudah mendoakan campur tangan dan hikmat Tuhan.  Tangan kanan Abraham pun juga tidak kalah serius mencari dan memohon hikmat Tuhan.  Manager Abraham bukan saja berdoa tetapi juga pakai segala kekuatan dan kemampuannya dalam observasi (ayat 21).  Ribka adalah jodoh yang dari Tuhan. 
Ishak apakah dari keluarga yang ideal?  Tidak juga!  Alkitab berani berterus terang bahwa Abraham bukan suami yang sempurna.  Abraham menyangkali Sara istrinya karena takut mati (Kejadian 12:10-20).  Bukan hanya satu kali, tetapi dua kali Abraham menyangkal istrinya karena takut mati (Kejadian 20:1-18).  Suami macam apakah Abraham? Suami yang bisa dibanggakan?  Belum lagi dengan istri 3 (Sara, Hagar, Ketura).  Astagaa, bukannya ini poligami?? 
Apakah berarti kedua keluarga Ishak dan Ribka tidak ada kelebihan? Justru banyak.  Mereka adalah orang-orang yang mengasihi keluarga, ada yang takut akan Tuhan, suka menolong dan banyak hal lain yang tercatat di Alkitab.  Mereka adalah keluarga biasa seperti Anda dan saya, hanya saja Alkitab mencatat dengan jelas bahwa mereka memilih jodoh di dalam dan untuk Tuhan.  Kelebihan dan kekurangan dalam keluarga besar adalah satu paket yang harus mereka jalani dan hidupi.
Kendati Ishak dan Ribka bukan dari keluarga sempurna, tetapi mereka adalah jodoh yang dari Tuhan.  Banyak orang berpikir, bahwa jodoh yang dari Tuhan adalah segala sesuatu sempurna padahal tidaklah demikian.  Jodoh yang dari Tuhan adalah orang yang seiman dan sevisi: hidup bagi Tuhan.  Jodoh yang dari Tuhan apabila syarat utama ini sudah digenapi dan selanjutnya dengan sekuat tenaga orang tua atau pemuda/pemudi itu memikirkan, mencari, melihat dan mempertimbangkan dengan sekuat tenaga.
Apakah Anda orang tua yang kuatir dengan jodoh anak-anak Anda?  Apakah Anda adalah pemuda atau pemudi yang merindukan pasangan hidup, belahan jiwa yang tepat?  Ingatlah prinsip penting: di dalam Tuhan!  Pakailah semua hikmat, pertimbangan, pemikiran dan usaha yang benar dan baik di dalam Tuhan.  Terus doakan dan jangan lepas prinsip Alkitab.  Doa saya, Tuhan menolong Anda.  Amin.

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA PART I


CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
(Baca: Kejadian 24:1-67)
Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya. Kejadian 24:64
 PART I
 
 
 
 
 
 
 
Apakah Anda setujua “jatuh cinta pada pandangan pertama?  Ada orang yang setuju dan mengatkan, “kenapa tidak?!  Cinta datangnya dari mata turun ke hati”.  Ada pula yang mengatakan, “tidak!  Cinta itu adalah proses.”   Manakah yang benar?  Tentu saja setiap orang dapat memiliki pandangan dan perasaanyang berbeda.  Subjektivitas setiap orang tidak dapat menjadi tolok ukur mengenai rasa dan definisi “cinta”.
Bila kita melihat kisah cinta Ribka dan Ishak, khususnya di ayat 64 “… dilihatnya Ishak..” boleh dikatakan Ribkah mengalami love at first sight.  Kata “lihat” yang dipakai di dalam bahasa Ibrani ra’ahmengandung pengertian: melihat jauh (vision); berpikir, mempertimbangkan dan menikmati.  Ribka bukan sekedar melihat tetapi ada sesuatu dalam perasaanya, pikiran dan angan-angan atau idealismenya yang terwujud di dalam penglihatan itu.  Bisa jadi Ribkah kagum melihat Ishak yang waktu senja masih giat bekerja dengan berkeliling ladang.  Ada kemungkinan perawakan Ishak sehat dan bagus  di mata Ribka.  Apapun kenyataan fisik objektif antara penglihatan Ribka dengan Ishak, Alkitab mencatat suatu perasaan sukacita yang menimbulkan rasa ingin tahu.
Ketika Ribka mengetahui bahwa yang dilihatnya adalah calon pasangan hidupnya, ia segera menutupi wajahnya dengan syal.  Konon menutup wajah dengan cadar atau kerudung atau jilbab atau parokhet (ibrani) adalah kebiasaan wanita timur tengah dengan budayanya.  Pemakaian cadar itu menunjukkan makna sopan santun, moralitas yang baik, atau juga sebagai sarana menutupi keadaan sesungguhnya.  Ribka mengamati Ishak tetapi tidak meninggalkan sopan santun dan integritasnya sebagai wanita.  Tampaknya perasaan hatinya tidak serta merta membuatnya lupa daratan.
Selanjutnya, Alkitab mencatat bahwa Ishak mencintai Ribka (ayat 67).  Besar kemungkinan bukan sekedar wajahnya yang cantik tetapi juga sikap anggun dan ber-integritasnya sebagai wanita yang ditampilkan secara sederhana oleh Ribka.  Kisah cinta Ishak dan Ribka sebenarnya jauh dimulai dari keinginan, doa dan harapan yang sangat besar dari Abraham untuk memilihkan anaknya memiliki pasangan yang seturut dengan kehendak Tuhan.
Hari ini banyak pemuda pemudi pusing dalam memilih jodoh.  Ada pria yang bergonta-ganti pacar karena bingung memilih yang terbaik.  Ada wanita yang kuatir tidak dapat pasangan karena usianya yang terus bertambah sementara belum ada yang cocok.  Banyak 0rang tua yang campur tangan memilihkan jodoh bagi anaknya, mulai dari sebatas pengarahan dan prinsip sampai memilihkan berapa tingginya, dari keluarga mana, tabiatnya seperti apa, pekerjaannya, pakaiannya, dst.  Dalam kenyataan, mencari jodoh atau mencarikan jodoh gampang-gampang susah.  Di sebut gampang bilang sudah banyak kandidat dan tidak banyak syarat, dan disebut susah karena yang namanya manusia memiliki berbagai macam penilaian, standar dan subjektivitas yang berbeda satu dengan yang lain.
Apakah prinsip dasar dan tips dari kisah Abraham mencarikan jodoh bagi anaknya Ishak?  Apakah tips-tips Alkitab dari kisah cinta Ishak dan Ribka?  Merenungi Kejadian pasal 24 ini setidaknya adalah beberapa hal yang dapat kita perhatikan:
Pertama, Abraham hanya mau calon mantu yang mau mengikut Ishak di Tanah Kanaan (ayat 6).  Ini bukan perihal tanah atau letak geografis tetapi perihal visi hidup dan hidup bagi Tuhan.  Abraham dipanggil untuk menjalani kehendak Tuhan bagi sejarah keselamatan Allah kepada manusia.  Abraham sadar bahwa hidup ini yang sekali harus dikerjakan untuk Tuhan.  Abraham sadar bahwa panggilan Tuhan bukan hanya dibatasi pada dirinya saja tetapi dilanjutkan kepada anaknya Ishak, dan kita tahu itu terus berlanjut dari keturunan kepada keturunan bahwa mereka dipanggil untuk hidup mengerjakan kehendak Tuhan.  Abraham mencarikan calon mantu yang bukan saja di dalam Tuhan tetapi sevisi dengan panggilan Tuhan atas hidup Ishak.
Hari ini banyak orang tua mencarikan jodoh untuk anaknya hanya berdasarkan perhitungan ekonomi atau pendidikan.  “Yang penting calon suami/istrimu itu kaya, berpendidikan tinggi dan terlebih sekolah di luar negri lho!”.  “Yang penting dia mau sama kamu, orangnya baik dan bertanggung jawab.”  Bila kita mau berkaca dari kebenaran Firman Tuhan, Tuhan tidak memberikan syarat detil tentang calon pasangan hidup yang kurus atau gemuk, tinggi atau pendek, kaya atau miskin.  Semua pertimbangan sekunder adalah tanggung jawab kita untuk berhikmat dan memikirkannya.  Alkitab mengajarkan pasangan yang dikehendaki Tuhan adalah seiman (II Korintus 6:14) dan memiliki visi: hidup bagi Tuhan (Kejadian 24:7).
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail