SHEPERD’S STAFF (TONGKAT GEMBALA)

Sheperd’s Staff  
(Tongkat Gembala)
(Baca: Keluaran 4:1-5)
TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di tanganmu itu?” 
Jawab Musa: “Tongkat.” Keluaran 4:2
 
Ada seorang penduduk desa terasing di pulau terpencil yang datang ke kota besar.  Ia membawa sejumlah peralatan dan perbekalan.  Sesampai di kota, ia mulai terkagum kagum melihat kemajuan dan kehebatan teknologinya.  Ia sangat lapar dan hendak barter antara makanan di depot kecil pinggir kota dan barang bawaanya.  Sang pemilik depot enggan dan tentu saja tidak mau.  “Apa kamu tidak punya uang?  Mengapa harus barter dengan mie pangsit kepunyaanku?!”  Tanya pemilik depot dengan ketus.
“Saya memiliki batu ukiran seni dari nenek moyang kami.”  Jawab si perantau itu sambil menunjukkan banyak perbekalan batu di kantung kulitnya.  “Maaf, tidak bisa makanan ditukar dengan batu.”  Pemilik depot kemudian meninggalkan perantau dalam keadaan kelaparan.  “Tetapi pak! Batu-batu ukiran ini sangat berharga.  Bahkan di tempat kami dapat ditukar dengan ayam, babi, ataupun sayur-sayuran!”  Kata perantau itu.  “Pokoknya tidak bisa.  Di kota, batu itu tidak laku untuk beli makanan.  Pergi sana!  Kecuali kamu punya batu emas, barulah saya mau ganti dengan 10 mangkuk pangsit.  Ayo, pergi!”
Mendengar perkataan pemilik depot, perantau ini langsung lemas.  “Seandainya batu jelek itu kubawa di sini, tentu saya bisa makan.  Batu bewarna kuning yang disebut orang kota: emas, biasa kami pakai untuk melapisi dinding kandang babi kami.”
Apa yang dianggap penting bagi seseorang bisa jadi tidak penting bagi orang lain, dan apa yang dianggap tidak penting bagi orang lain bisa jadi sangat penting bagi kita.  Semuanya tergatung cara kita memandang sesuatu dan standar yang dipakai untuk menilai sesuatu itu.
Demikian juga halnya Musa, pada waktu ia bertemu dengan Allah di semak belukar bersikap merendah dan merasa tidak bisa berbuat apa-apa bagi Tuhan, bagi bangsa Israel.  Tuhan menyatakan kepada Musa bahwa tongkat gembala yang sudah tua dan jelek itu bisa dipakai untuk menyatakan mujizat lambang kemuliaan Tuhan (Keluaran 4:1-5).
Tongkat gembala tidaklah lebih hanya sebuah tongkat bagi kebanyakan orang di Mesir.  Bagi gembala dombapun sebatas alat untuk menggembalakan dan melindungi hewan ternak.  Nilai yang dipandang oleh Musa hanya sebatas itu.
Berbeda halnya dengan cara penilaian Tuhan terhadap tongkat yang dipegang oleh Musa.  Di hadapan Tuhan, tongkat biasa dapat menjadi tongkat luar biasa.  Tongkat ini bila diletakkan dapat menjadi ular.  Tongkat ini bila dipegang posisi tangan di atas, dapat memenangkan pertempuran.  Tongkat gembala ini luar biasa di tangan Tuhan.
Demikian pula halnya dengan tongkat (baca:talenta) yang kita miliki.  Mungkin orang lain tidak melihat dan menganggap biasa-biasa saja, tetapi di mata Tuhan tongkat kita dapat diubah secara luar biasa dan dahsyat.  Bisa memberkati orang lain, mendukung pekerjaan pelayanan, bahkan mengerjakan masa depan yang penuh arti.
Tongkat gembala di tangan Musa bertujuan menyatakan kekuasaan dan kehadiran Allah.  Tongkat gembala di tangan kita juga mempunyai tujuan menyatakan kemuliaan Tuhan.  Setiap talenta yang Tuhan berikan, wajib dikembangkan dan dipakai untuk tujuan yang berkenan di hadapan Allah.  Prinsip yang sama antara tongkat gembala Musa dengan tongkat talenta kita bertujuan membawa orang-orang percaya dan menyembah Tuhan serta menguatkan iman orang percaya bahwa mereka tidak sendirian, tetapi Allah hadir dan menyertai mereka.
Bagaimana dengan Anda?  Sudahkah tongkat Anda dikembangkan dan digunakan sebagaimana mestinya?  Apakah itu membangun tubuh Kristus?  Apakah tongkat (talenta) itu memuliakan Tuhan?  Di tangan manusia, tongkat hanyalah sebuah alat yang terbatas.  Di tangan Tuhan, tongkat dapat menjadi mujizat menyatakan berkat Tuhan.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

SEPERTI AYAH MENDIDIK ANAKNYA

SEPERTI AYAH MENDIDIK ANAKNYA
Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.  Mazmur 32:8
Saya melihat seorang ayah tengah mendidik anaknya mengenai sopan santun ketika mengotak-atik barang orang lain.  Ayah ini melarang anaknya untuk menyentuh sebuah handycam yang dipasang di sebuah tripod. 
Dengan antusias  anak ini ingin mengetahui benda yang jarang dilihatnya.  Anak ini tidak menghiraukan perkataan orang tuanya, karena begitu heran dan asyik mengamati benda kecil yang menampilkan gambar bergerak.
Melihat perkataan dirinya yang tidak digubris apalagi justru melihat anaknya makin mendekati tiga kaki penyangga dari aluminium ringan itu, sang ayah segera “menylentik” telinga anaknya.  Kontan saja anaknya terkejut dan langsung diam.
Saya kagum, sang ayah tidak memukul, menampar, apalagi memaki-makin supaya anaknya tidak mendekati handycam kecil itu.  Anak ini beruntung memiliki ayah yang sayang dan perhatian kepadanya.  Tidak lama setelah dilarang, anak kecil ini digendong dan dipeluk oleh ayahnya.
Kurang lebih seperti inilah yang dilakukan Tuhan kepada kita dalam mendidik dan membimbing jalan hidup.  Pemazmur Daud menggambarkan dengan jelas arti sikap Bapa terhadap anak-anak-Nya.  Bapa yang baik bukan saja memberitahu yang mana benar dan yang mana salah, tetapi juga memberikan pengampunan dan kesempatan bagi yang terjatuh di dalam dosa.  Tuhan tidak berdiam diri, tetapi mendidik dan bila perlu menghajar anak-anak-Nya supaya bertobat dan kembali di dalam pelukan kasih-Nya.
Ketika Daud jatuh di dalam perbuatan dosa, ia merasakan ketidaknyamanan dan ketidakdamaian dalam hatinya.  Ia menggambarkan keadaannya sebagai tulang-tulang yang lesuh sepanjang hari.  Sampai ia mengakui dosanya dan bertobat, barulah Daud merasakan yang namanya berbahagia!
Ketika Tuhan memandangkan wajah-Nya kepada orang percaya, Ia sedang mendidik dan menunjukkan jalan yang harus ditempuh.  Jikalau orang percaya itu begitu asyik dan terbuai terhadap hal-hal duniawi, maka Tuhan akan memperingatkannya.  Jikalau orang percaya itu masih belum sadar akan bahaya yang sedang diperingatkan, Tuhan akan “menylentik telinganya”.  Sesudah orang percaya itu sadar dan mau berubah, diampuninyalah dan dipeluk dalam dekapan kasih Bapa.
Relasi kehidupan kita dengan Tuhan  adalah sama dengan relasi kehidupan Daud dengan Tuhan.  Hubungan  Tuhan dengan kita adalah Bapa terhadap anak.  Ada kalanya Bapa tersenyum melihat kita yang unik.  Bisa jadi mengerutkan dahinya ketika kita mulai “nakal” dan “menylentikan” tangan-Nya ketika kita tidak dengar-dengaran.  Marilah kita belajar tidak terbuai di dalam dunia, tetapi belajar mendengar dan mentaati Firman-Nya.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

SALAH NASIHAT JADI RUGI DECH

SALAH NASIHAT JADI RUGI DECH!
Berkatalah pemuka-pemuka bani Amon itu kepada Hanun: “Apakah menurut anggapanmu Daud hendak menghormati ayahmu, karena ia telah mengutus kepadamu orang-orang yang menyampaikan pesan turut berdukacita? Bukankah dengan maksud untuk menyelidik, untuk mengintai dan menghancurkan negeri ini maka pegawai-pegawainya datang kepadamu?”  I Tawarikh 19:3
Seorang pemborong rumah pernah bercerita kepada saya mengenai kegagalan hidupnya ketika ia salah mendengarkan nasihat.  Ia memulai modal usaha sekitar Rp.1.750; untuk membangun rumah (waktu itu sekitar tahun 1970 an).  Usahanya terus berkembang hingga ia mempunyai lebih dari 35 rumah hasil dari kerja keras membangun dan memborong rumah.
Pamannya memberi nasihat agar ia lebih baik menjual semua rumah dan disimpan dalam bentuk uang tunai.  Ia melakukannya.  Sekian waktu kemudian, Indonesia terkena sneering, yakni: pemotongan nilai rupiah menjadi setengahnya saja.  Jika uang seseorang adalah Rp.1 juta, maka hanya dihargai Rp.500.000;  Dirinya frustasi dan jadi kurus, banyak beban pikiran yang ditangungnya hingga sekian lama sebelum bangkit kembalai menjalani hidup.
Salah mendengarkan nasihat dapat menjadi bencana yang sangat merugikan seseorang.  Mendengarkan nasihat bukan hanya perkara enak dan tidak enak dilakukan, tetapi menyangkut penghitungan sebanding tidaknya kerugian yang ditimbulkan di masa depan.  Nasihat yang baik bukan saja perlu kebijakan yang takut akan Tuhan tetapi juga hikmat dari Tuhan.
Hanun baru saja menjadi raja Amon menggantikan ayahnya Nahas.   Niat baik Daud dengan mengutus sejumlah orang untuk memberi bela sungkawa atas meninggalnya ayahnda dari Hanun sekaligus menjalin hubungan baik diantara kedua negara.
Sayangnya, penasihat yang dimiliki oleh Hanun adalah jenis orang berprasangka buruk dan berpikiran pendek.  Mereka menyarankan agar utusan raja Daud dipermalukan dengan asumsi negatif bahwa utusan itu sedang mengintai dan mempersiapkan peperangan melawan negara Amon.
Tentu saja membuat malu delegasi Daud, apalagi hingga merendahkan martabatnya denga mencukur janggut dan memotong semua pakaian hingga pangkal paha, tak pelak ini membuat murka raja Daud.
Raja Hanun harus menyewa puluhan ribu tentara di berbagai negara tetangga, mengeluarkan berton-ton perak dan segala macam pasukan tentara negaranya agar siap menghadapi pasukan Daud.   Dari semua usaha itu, akhirnya Amon ditaklukan juga oleh Daud.
Jikalau menganalisa cerita di atas, bukankah suatu kebodohan tindakan Hanun?  Mengapa begitu angkuh dan berprasangkah buruk terhadap niat baik orang?  Inilah kebodohan Hanun yang mendengarkan penasihat yang salah.
Hati-hati terhadap penasihat atau orang-orang yang member nasihat di sekitar Anda!  Kitapun dapat seperti Hanun ketika menghadapi masalah dan menyelesaikannya dengan bertanya pada orang yang salah.  Mungkin nasihat itu berasal dari gwamia, ramalan, dukun, horoskop, dsb.  Jikalau kita mendasarkan nasihat pada Firman Tuhan dan orang-orang yang takut akan Tuhan, maka kita akan dituntun kebenaran Tuhan bukan kebenaran diri/manusia.  Marilah kita belajar memperhatikan apa yang kita dengar dari penasihat, jangan sampai salah membuat keputusan yang nantinya justru merugikan diri sendiri.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

PRINCESS AND THE PAUPER

PRINCESS AND THE PAUPER
Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah
perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu. Mazmur 90:17
Anda pernah menonton film kartun: “Barbie as The Princess and the Pauper” (Barbie sebagai Puteri dan Si Miskin) ?  Film animasi ini menceritakan dua gadis kembar yang memiliki dua kehidupan berbeda.  Sang Puteri hidup dengan segala kemewahan di istana sedangkan Si Miskin hidup di rumah bawah tanah kerja sebagai budak penjahit pakaian.
Sekalipun mereka hidup di dunia yang berbeda, dua gadis kembar ini memiliki satu kesemaan: kebebasan!  Sang Puteri ingin bebas mengatur waktunya di istana, tanpa seribu satu aturan kode etik.  Si Miskin ingin bebas dari hutang, dan kerja paksa di setiap waktunya.
Bukankah kartun animasi ini ada kemiripan dengan kehidupan sehari-hari: setiap orang memiliki kesusahannya sendiri.  Entah ia hidup sebagai orang kaya ataupun sebagai orang miskin, masing-masing memiliki pergumulan dan masalahnya sendiri.
Pemazmur Musa juga memiliki permasalahannya sendiri.  Pujian no.90 adalah ungkapan isi hatinya.  Ia merasakan banyak pergumulan di tahun-tahun kehidupannya.  Ia merasa tidak berdaya, sepi dan ditinggalkan oleh Tuhan.  Terkekang oleh kehidupan yang terbatas, Musa menyadari perlunya kebebasan yang sesungguhnya!
Kebebasan sejati dimulai dengan menyadari keterbatasan dan fananya hidup badani manusia.  Jikalau manusia memandang hidup dengan cara pandang yang sempit, maka ia akan terjebak di dalam penjara kesia-siaan.  Waktu Tuhan bukanlah waktu manusia (II Pet.3:8).
Jalan keluar menuju kebebasan sejati adalah memandang hidup dari perspektif kekekalan.  Dari sinilah Musa belajar menjalani hidupnya dengan bijaksana.  Ia merindukan persekutuan yang hidup dengan Tuhan.  Ia belajar menggunakan setiap harinya untuk memuliakan Tuhan.  Karena sadar hidup ini adalah anugerah, ia ingin setiap pekerjaan tangannya mendapat perkenan Tuhan.
Oh ya, bagaimana dengan akhir cerita The Princess and the Pauper?  Mereka akhirnya mendapatkan kebebasan yang diimpikan.  Sang Putri menikah dengan  orang yang dicintainya, sedangkan Si Miskin selain terbebas hutang dan paksaan kerja juga menikah dengan seorang Pangeran yang dicintainya.  Mereka memperoleh kebebasannya dengan menghidupi apa yang dipercayainya.  Mereka bebas untuk percaya, mereka bebas untuk memulai lagi apa yang rusak menjadi indah.
Keputusan yang bijaksana dalam hidup adalah menjalani waktu  dengan iman percaya dan terus mengerjakan ulang setiap hari: apa yang sudah rusak menjadi indah.  Itulah sebabnya Musa menaikkan doanya: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”  Biarlah itu juga menjadi doa kita.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail