TIDAK NYENYAK TIDUR

TIDAK NYENYAK TIDUR
Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu.  Mazmur 119:45
Melewati malam hari dengan tanpa penerang adalah hal yang tidak diharapkan sebagian besar orang yang hidup menggunakan listrik.  Pengalaman ini pernah terjadi ketika pemerintah mengupayakan penghematan listrik dengan mengadakan pemadaman secara bergilir.
Saya tinggal di kamar yang jika tanpa listrik akan dirasa panas sebab tidak ada ventilasi udara yang baik.  Malam itu, lampu padam listrik pun mati.  Beberapa saat setelah tertidur, saya terbangun karena sesak nafas dan panasnya udara kamar.  Sungguh tidak nyaman bila tidur tidak nyenyak dan istirahat tidak cukup.
Esok harinya listrik padam kembali pada jam yang sama.  Jika kemarin tidak sempat berdoa banyak, hari itu saya mengambil waktu untuk berdoa syafaat dan berdoa memohon berkat agar dapat tidur nyenyak.  Apa yang terjadi?  Sungguh ajaib, saya tidur dengan nyenyak hingga pagi hari.
Berbicara tentang kenyamanan dan kepuasan tidur tidak lepas adalah bagian dari berkat Tuhan yang membuat bahagia.  Pemazmur menyatakan kelegaan dan bahagia di dalam nomor 119 ini.  Ia mendengar, melihat dan sekaligus merasakan sukacita  ketika hidup merenungkan taurat Tuhan.  Sekalipun banyak tantangan dan cobaan, hidup mengandalkan Tuhan adalah jalan terbaik bagi setiap orang.
Berdoa sebelum tidur adalah hal mutlak bagi setiap orang yang sadar dirinya terbatas dan perlu berkat Tuhan dalam tidur nyenyak.  Berdoa sebelum tidur bukan hanya tambal sulam untuk melapor atau mengucap salam selamat tidur Tuhan.  Berdoa sebelum tidur adalah mengucap syukur atas segala berkat Tuhan dan memohonkan berkat agar Tuhan menjaga dan memberkati sepanjang kawal malam.
Banyak orang sulit tidur karena berbagai alasan.  Ada yang sulit tidur karena banyak pikiran dan permasalahan yang memperbudak dirinya.  Ada yang sering terbangun/tidak nyenyak tidur karena semakin lanjut usia.  Ada juga yang tidak nyaman tidur karena insomnia, hormon, masalah psikis, dsb.
Jalan keluar menuju tidur nyenyak oleh sejumlah orang didapat melalui kebiasaan tidur yang baik, ruangan dengan ventilasi yang memadai dan tempat tidur yang nyaman.  Sebagian lainnya memakai obat tidur dan psikoterapi untuk mengatasi gangguan tidur yang kronis, yakni beberapa minggu tidak dapat tidur.
Firman Tuhan mengajarkan kepada kita suatu kenyataan bahwa betapa orang dapat tidur nyenyak adalah berkat Tuhan yang luar biasa.  Dapat tidur nyenyak adalah kebahagiaan tersendiri bagi orang yang mengalami sulit tidur.  Amsal 3:24 menjelaskan rangkaian berkat tidur nyenyak adalah dari mempercayakan segenap hati pada Tuhan bukan pengertian sendiri.  Pemazmur Daud menyadari berkat tidur dengan aman, nyaman dan tenteram adalah dari Tuhan.
Berdoa sebelum tidur meminta berkat dan penyertaan Tuhan adalah perlu dan tepat.  Mohon Tuhan bermurah hati memberi kita kenyenyakan tidur.  Selamat tidur nyenyak.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

SAFETY CARD

SAFETY CARD
Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi.   Lukas 18:31
Setiap orang yang naik pesawat terbang akan dibacakan panduan keselamatan.  Ini adalah aturan baku penerbangan secara internasional, bahwa pramugari berkewajiban memperagakan aturan main dan cara penyelamatan diri jikalau sewaktu-waktu terjadi pendaratan darurat atau kecelakaan pesawat terbang. 
Beberapa kali saya mengikuti penerbangan, tidak pernah satu kalipun tidak ditampilkan peragaan petunjuk keselamatan.  Dalam pengamatan, saya sering kali melihat cukup banyak orang yang kurang memperhatikan petunjuk kesalamatan itu.  Entah karena sudah sering terbang, sehingga hafal dan tahu betul isi kartu keselamatan itu atau memang peragaan pramugari hanya dianggap sebagai bumbu pelengkap penerbangan.
Kemudian saya terpikir, bagaimana bila hal yang tidak diinginkan itu terjadi.  Pesawat mesinnya rusak dan harus mendarat darurat.  Apakah penumpang hafal dan siap betul di dalam aturan main penyelamatan diri?  Jangan-jangan yang terjadi adalah kepanikan dan kebingungan cara memakai baju pelampung.  Bisa jadi baju pelampung ditiup atau ditarik mengembang sebelum keluar pesawat.  Sungguh perlu bagi setiap kita untuk terus memperhatikan dan mempersiapkan perangkat keselamatan terbang.
Mempersiapkan keselamatan hidup pun juga perlu dikaji terus oleh setiap orang.  Entah orang itu sedang liburan santai maupun sibuk bekerja dan  meniti karier.  Persiapan selalu menjadi bagian penting mencegah kepanikan dan kebingungan dari hal yang tidak diharapkan.
Coba bandingkan negara-negara maju memiliki kebiasaan berlatih untuk keadaan darurat seperti evakuasi waktu gempa, evakuasi waktu terjadi kebakaran dengan ketidakbiasaan negara-negara yang tidak terbiasa dengan prosedur keselamatan.  Tidak heran bila negara-negara yang tidak terbiasa dengan prosedur latihan keselamatan akan kocar-kacir, banyak korban dan kerugian.
Yesus pun juga mengingatkan kepada kedua belas murid agar bersiap menjalani waktu terburuk sekaligus terbaik hidup mereka.  Dikatakan terburuk karena mereka akan sedih dan takut dikejar-kejar orang-orang Farisi dan pasukan pengawal bait Allah.  Dikatakan waktu terbaik karena mereka akan melihat waktu Tuhan bekerja menyelamatkan manusia di dalam Yesus Kristus.
Segala peristiwa yang akan dijalani oleh Yesus sudah tertulis di dalam kitab Perjanjian Lama.  Mesias akan datang menggenapi hukum Taurat dan menebus dosa manusia melalui pengorbanan sempurna dari Tuhan yang menjadi manusia tidak berdosa (Ibr.4:15).  Semuanya itu sudah tertulis dalam kartu keselamatan Alkitab.  Saatnya akan tiba, segala yang tertulis di Alkitab akan digenapi.
Jikalau seandainya Tuhan menjemput Anda hari ini, apakah Anda sudah siap dan yakin akan keselamatan Anda?  Apakah yang sedang Anda kerjakan?  Sibuk mengumpulkan harta dan membangun lumbung kekayaan atau menginvestasikan nilai-nilai kekekalan?  Jangan-jangan kita terkejut, panik dan bingung bagaimana mempersiapkan hidup yang berkenan di hadapan Tuhan.  Kartu petunjuk keselamatan (safety card) sudah diberikan kepada manusia.  Apakah kita menanggapinya dengan baik agar tetap hidup terarah kepada-Nya atau justru kita cuek dan menganggap enteng setiap kali safety card Firman Tuhan dibacakan dan diuraikan?  Kiranya Tuhan menolong kita tetap terus meresponi Firman Tuhan.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

SUDAH JATUH DILEMPAR TANGGA

Sudah Jatuh Dilempar Tangga
Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu—yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api—sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” I Petrus 1:7

Bagaimana rasanya bila Anda tidak sengaja terpeleset ketika menaiki tangga kayu, jatuh dan tangga itu menimpahi Anda?  Mungkin Anda merasa jengkel, kecewa dan marah.  Kurang lebih perasaan seperti ini yang muncul pada beberapa remaja yang tidak lulus ujian sekolah.
Beberapa remaja ini bukan bodoh pun tidak malas, namun mereka mempunyai satu komitmen ketika ujian akhir nasional tidak akan menyontek seperti teman-teman yang lain.  Ketika pengumuman, siswa yang bodoh dan terkenal nakal dinyatakan lulus (karena nyontek), sedangkan dirinya yang biasa-biasa dinyatakan tidak lulus. 
Pulangnya dengan sedih ia memberitahu orang tua, dengan harapan dihibur, didukung dan dikuatkan.  Apa yang terjadi?  Orang tuanya memarahin anaknya yang gagal: “Bodoh!  Kenapa kamu tidak menyontek seperti teman-temanmu?!”
Kalau ada pepatah mengatakan, “sudah jatuh ditimpa tangga”; mungkin apa yang dialami oleh remaja ini cocok diberikan pepatah, “sudah jatuh, dilempar tangga pula.”.  Pada saat-saat seperti ini tentu ada segudang kesedihan, kekecewaan dan bisa jadi pertanyaan: “Tuhan, kenapa ketika saya berusaha jujur hasilnya ajur (hancur)?!” 
Petrus hamba Kristus menjawab pergumulan semua orang percaya ketika berbuat benar tapi justru rugi.  Tuhan mengijinkan peristiwa yang tidak diinginkan untuk menguji iman percaya kita.  Seperti emas yang ditempah di dalam perapian, demikian kita diuji di dalam kesulitan hidup.  Apakah ketika  rugi berbuat baik, kita tetap setia kepada-Nya?  Apakah ketika hidup terpeleset dan jatuh ditimpah tangga, kita tetap beriman pada kebenaran dan janji-Nya?
Semua peristiwa tidak baik—seperti: sudah capek-capek melayani, eh disalahpahami; bersedia jadi bendahara, eh uangnya dicopet dan harus ganti; tidak menyontek waktu ujian, eh tidak lulus—dapat membuat iman kita surut, pelayanan kita mundur dan menyalahkan Tuhan.
Jikalau kita mau perhatikan lebih dalam, semuanya itu sebenarnya terjadi untuk melihat: Apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada Kristus?  Apakah iman saya adalah emas murni yang ketika kena panas menunjukkan kemurniannya?  Atau jangan-jangan iman kita palsu, hati kita tidak sungguh mempercayai dan mau mengikut Dia?

Semua yang namanya diuji dalam tekanan dan api pastilah tidak enak, namun marilah kita mengingat tujuan dari ujian itu adalah kemurnian iman kita.  Ada upah, sukacita, dan semua yang terbaik yang disediakan Yesus bagi orang yang tetap bertahan pada iman-Nya.  Jikalau kita emas murni, jatuh ditimpah tanggapun membawa berkat.  Bisa jadi sakit awalnya, kemudian sejumlah orang menolong mengobati.  Ada yang membawa kue, ada yang membawa air, ada yang membawakan makanan dan buah-buahan.  Asyiik dech pada akhirnya!  So, jangan pesimis dulu dan mengeluh: “Mana berkat Tuhan?”, melainkan: “Apakah imanku murni seperti emas?”

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

SULITNYA BILANG CUKUP

SULITNYA BILANG CUKUP
Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir.   II Raja-raja 4:6
Berjalan pagi bersama-sama di pantai losari (Makassar, Sulawesi Selatan) adalah hal yang sangat menyenangkan lagi sehat.  Dikatakan menyenangkan karena dapat bangun pagi, menghirup udara segar, melihat pemandangan pantai dan menikmati kebersamaan.  Dikatakan sehat karena olah raga melatih otot-otot yang kendur, menambah stamina dan memperlancar kerja otak. 
Sewaktu berada di pantai, ada beberapa macam tanggapan orang mengenai olah raga pagi.  Seorang merasa cukup berjalan kaki saja, sementara yang lain lebih suka lari kencang pada jarak tertentu.  Ada juga merasa cukup dengan lari-lari kecil dan yang lain duduk menikmati terbitnya matahari.
Sebutan “cukup” bagi setiap orang bisa relatif, masing-masing mempunyai pendapat sendiri tentang kata cukup berolah raga pagi itu.  Kecukupan dapat didasarkan stamina, jarak maupun mood.  Demikian juga dengan namanya berkat dari Tuhan.  Sering kali banyak pendapat tentang kecukupan berkat itu sendiri.  Ada yang merasa cukup dengan penghasilannya, ada yang merasa puas dengan kesehatannya, tetapi ada juga yang sekalipun sudah banyak harta masih belum merasa cukup.  Memang “cukup” itu relatif.
Perjalanan nabi Elisa bertemu dengan seorang janda miskin yang kekurangan berada di dalam konteks keadaan kacau, miskin dan masa sulit perekonomian.  Janda ini hidup dililit hutang besar dan jika tidak melunasi tunggakan, maka anak-anaknya terancam jadi budak.
Elisa menjadi saluran berkat Tuhan bagi janda miskin itu.  Pertolongan Tuhan datang secara luar biasa dalam tuangan minyak zaitun secara melimpah-limpah keluar dari sebuah buli-buli.  Ketika semua bejana kosong terisi, minyak itu seketika juga habis.  Sungguh kata: “cukup” memberi arti tersendiri dalam peristiwa ini.
Masalahnya, “cukup” bukan dari seberapa rakus dan hausnya keinginan  dipenuhi oleh berkat Tuhan, melainkan seberapa tahu diri dan bersyukurnya seseorang pada setiap tetesan minyak berkat itu. 
Jika standar “cukup” dilihat pada manusia, maka kata “cukup” seringkali menjadi sulit diucapkan.  Bisa jadi janda ini akan berkata: “kenapa Tuhan memberi berkat sedikit?!  Mana cukup?!  Kalau minyak sudah dijual dan dapat membeli sedikit makanan, bulan depan kami makan apa?” 
Marilah kita mewaspadai hati yang tamak.  Semakin sulit kita menghayati dan mensyukuri setiap tetesan berkat Tuhan, bisa jadi semakin besarlah benih ketamakan itu.  Kata “cukup” dimulai dari hati bukan dari benda yang kita inginkan.  Seperti ada tertulis: Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail