SIAP RESESI?

SIAP RESESI?
(Baca: Kejadian 50:20)

 

 

 

       Anda siap menghadapi resesi? Resesi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai kelesuhan dalam kegiatan dagang, industri, dan sebagainya; menurunnya kegiatan dagang; kelesuhan ekonomi.

       Resesi dunia pernah terjadi sebelum Perang Dunia II (1933) dengan dampak yang sangat parah dan disebut The Great Depression. Sederhananya resesi adalah kebangkrutan ekonomi. Kolumnis Sidney J.Harris menyebut, “Resesi adalah ketika tetanggamu kehilangan pekerjaan dan depresi adalah ketika kamu yang kehilangan pekerjaan.”

       Laporan reporter Charles Riley dalam CNN Business (14 Agustus 2019) mengenai 5 negara besar yang beresiko besar terkena resesi adalah Inggris, Jerman, Itali, Mexico dan Brazil. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah juga dipengaruhi imbal obligasi jangka panjang dan pendek (Inverted Yield)? Tentu ada banyak pandangan para ahli.

       Alkitab relevan dengan topik resesi. Abraham mendapat nubuat akan terjadi masa kelam 400 tahun; Ishak mengalami kelaparan dengan pindah ke Gerar; Yakub mengalami great depression di Tanah Kanaan dan Yusuf sudah diutus Tuhan untuk persiapkan 7 tahun masa paceklik. Belum lagi peristiwa Naomi yang mengalami kelaparan di Bethlehem, jaman Elia kekeringan di Israel, dan nubuat Agabus di Perjanjian Baru akan adanya resesi besar kelaparan.

       Apa yang kita perlu perhatikan? Pertama Alkitab tidak tutup mata realitas hidup manusia. Jadi salah besar kalau ada orang bilang ikut Tuhan maka semua masalah beres dan hidup lancar. Firman Tuhan mengajar kita untuk bertumbuh dan berkembang lewat kesulitan hidup termasuk resesi.
Kedua, Bagaimana umat Tuhan hadapi resesi dengan bersandar pada-Nya, baik lewat resilience (siap dibentuk dan pergi kemanapun Tuhan utus) maupun menabung (Emergency Fund). Kita perlu tetap tenang (be calm) dan fokus kerja pada apa yang Tuhan percayakan. Kita perlu belajar tidak hidup boros, belajar berhemat (living below your mean) dan sebisa mungkin mengatur keuangan dengan bijaksana (Istilah kerennya: Don’t put your egg in one basket, build multiple source income). Kiranya Tuhan menolong kita tetap mengikut Dia apapun keadaannya. Amin.

RESESI BUKAN KIAMAT, TETAP TENANG DAN HIDUP DALAM PRINSIP FIRMAN TUHAN.

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

ADA MASALAH KOQ BAHAGIA?

ADA MASALAH KOQ BAHAGIA?

(Baca: Yakobus 1:2)

       Ada masalah koq bahagia? Biasanya orang bahagia itu kalau semua lancar. Inilah pertanyaan yang timbul ketika saya membaca surat Yakobus pagi ini. Iman kepada Tuhan Yesus itu bukan iman utopia, bukan pula candu agama yang difitnahkan Marxis.

       Ikut Tuhan tidak serta merta hidup berjalan lancar dan tidak ada masalah. Justru semakin mendalami Kitab Suci, semakin tampak jelas bahw iman itu bertumbuh lewat kesulitan dan dirayakan lewat ketekunan. Ini pun adalah berkat Tuhan.

       Yakobus mengerti pergumulan umat percaya di berbagai tempat perantauan pada waktu itu. Hidup memang tidak selamanya mudah, tetapi bahagia adalah pilihan yang lahir dari  cara pikir sabar bertekun dalam iman. Penjelasan Yakobus berakar dari pengharapan hari Tuhan sudah dekat (Yakobus 5:8).

       Orang yang hidup dengan banyak masalah dan tanpa pengharapan, maka sesungguhnya ia sekarat. Sebaliknya orang yang memiliki pengharapan tetap semangat jalani hidupnya meski banyak masalah. Kekuatan berlimpah datangnya dari Tuhan yang memberi iman tersebut. Lihatlah Paulus, justru menulis surat sukacita ketika di penjara. Abraham tetap bersukacita meski Lot menyerobot tanah subur di lembah Yordan, karena pengharapan janji Tuhan melampaui yang kelihatan. Gideon tetap semangat hadapi ratusan ribu tentara Midian walaupun ia hanya memiliki 300 orang membawa buyung dan sangkakala (sophar). Mengapa? Karena ia menjalani imannya dengan sabar bertekun dalam pengharapan.

       Saya teringat salah satu ponakan tekun berlatih alat musik biola hingga memar-memar. Tidak jarang ia mengalami rasa sakit di pundak tempat biola bertengger. Kini kalau ia bermain musik menghasilkan lagu yang sangat indah. Musik yang indah kerap lahir dari kerja keras pemain di balik layar. Bahagia nya terbayar dalam kepuasan bermain musik secara sempurna. Orang lain pun yang mendengar juga bahagia karena diberkati. Hidup bertekun dalam iman juga demikian, buah bahagianya terletak dari berkat yang Tuhan nyatakan lewat kerja keras. Bahagia bukan tujuan utama, tetapi akibat dari melakukan Firman Tuhan. Tujuan utama hidup adalah berkarya menjadi saluran berkat-Nya.  Kiranya Tuhan menolong kita. Amin.

IMAN BERTUMBUH LEWAT KESULITAN DAN DIRAYAKAN LEWAT KETEKUNAN

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

REJEKI KOQ DITOLAK?


REJEKI KOQ DITOLAK?

(Baca: 2 Korintus 4:1)

 

       Sore itu saya sedang berjalan di taman dan melihat seorang ojek on line (ojol) yang tampak bingung mencari alamat. Kemudian saya dekati dan membantu menunjukkan alamat tersebut. Ojol ini hendak mengambil barang rupanya. Sambil mengeluh ia mengatakan, baru dari tempat lain untuk mengambil barang antaran namun dirasa terlalu besar dan ditolaknya. Kali itu pun juga demikian, ia menolak lantaran barang dianggap merepotkan. Dalam hati saya berujar, “lho, barangnya kan tidak besar? Kenapa rejeki ditolak dua kali? Kan rugi bahan bakar dan tenaga?” Karena bukan saya yang order ojol dan tidak ada sangkut pautnya, maka saya melanjutkan jalan kaki di taman tersebut.

       Menjalani sebuah pekerjaan memang ada kalanya berhak ditolak karena tidak sesuai prosedur atau merugikan namun menolak pekerjaan terus menerus dengan alasan tidak mau repot dan mau enaknya saja tentu bukanlah hal yang bijaksana. Apapun pekerjaannya bila dilakukan dengan benar dan kerja keras tentu tidak sia-sia. Inilah arti menghargai pekerjaan pelayanan yang dimaksudkan oleh Paulus.

       Paulus menolak mundur dari pekerjaan pelayanan bila alasannya hanya karena sulit dan kerja keras. Pun ia tidak mau memanfaatkan jabatannya sebagai rohaniwan untuk menjual ayat Kitab Suci demi keuntungan pribadi. Baginya, besar kecil pekerjaan sama berharga di mata Tuhan. Ia semangat bekerja bukan karena pujian manusia tetapi pujian Allah. Paulus tidak tawar hati (bahasa asli Yunani memiliki pengertian tidak menyerah, tidak berkecil hati) tetapi belajar mensyukuri pekerjaan yang Tuhan beri dan menganggap sebagai pemberian, belas kasihan bahkan kehormatan dari Tuhan.

       Bagi banyak orang, pekerjaan yang berhasil itu kalau jadi pejabat tinggi, disegani dan ditakuti banyak orang. Yang lain menganggap pekerjaan berhasil itu kalau punya pengaruh besar, banyak uang dan lebih ideal kerja sedikit (bahasa gaul nya kerja cerdik “smart”) penghasilan maksimal. Ah yang benar aja, idealisme seperti ini berapa persen dari seluruh populasi? Apapun pandangan yang bisa diperdebatkan, pandangan Firman Tuhan jelas bahwa kerja yang berhasil bukan dilihat dari besar kecil tetapi dari bagaimana menghargai anugerah yang Tuhan sudah percayakan. Tuhan yang menciptakan kita adalah Tuhan yang memanggil dan mengutus kita di dunia ini, kelak semua yang kita kerjakan akan dipertanggungjawabkan kembali kepadaNya. Kiranya Tuhan menolong kita berkarya dan jadi berkat buat sesama. Amin.

BUKAN BESAR KECIL PEKERJAAN YANG DILIHAT TUHAN, TETAPI BAGAIMANA KITA MENGHARGAI ANUGERAH YANG TUHAN PERCAYAKAN ITULAH YANG PALING PENTING.

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

IA DI SAMPING KITA

IA DI SAMPING KITA

Maka menangislah Yesus  (Yohanes 11:35).

 

       Anda pernah ke Ruang Gawat Darurat di Rumah Sakit? Saya pernah berkali-kali, baik itu mendoakan orang yang sakit maupun membawa keluarga yang sedang sakit parah. Sering kali dijumpai dalam ruang seperti ini adalah wajah tegang, sedih, hingga teriakan kesakitan. Ada anak yang menjerit kesakitan dan hati orang tua yang mendampingi serasa teriris iris. Ada suami yang memasuki fase akhir kehidupan dan hati istri anak-anaknya hancur piluh. Di ruangan ini bukan hanya banyak uang mengalir keluar tetapi air mata banyak mengalir keluar tanda kesedihan mendalam.

       Alkitab sangat relevan dengan kehidupan manusia. Lihatlah apa yang dialami oleh kakak adik dalam rumah tangga dari Betania tersebut. Mungkin ayah ibunya sudah lama meninggal sehingga tiga bersaudara ini harus bersatu dan saling topang demi melanjutkan kehidupan. Salah satu saudaranya terkena penyakit parah. Tampaknya pengobatan sudah diusahakan sana dan sini tetapi tidak juga sembuh bahkan akhirnya saudaranya tersebut meninggal. Ialah Lazarus, Maria dan Marta pengikut Yesus. Mereka menantikan pertolongan Tuhan yang tidak kunjung datang namun bukan berarti Tuhan tidak peduli. Yesus turut menangis bersama Maria dan Marta yang sedang berduka.

       Mengikut Tuhan Yesus tidak sama dengan memiliki jimat atau lampu aladin yang keluar  menuruti semua keinginan kita. Mengikut Tuhan Yesus berarti menjadikan Tuhan sebagai Tuhan dan manusia sebagai manusia. Manusia dipanggil untuk taat dan percaya Firman Tuhan melewati susah dan senangnya hidup. Uniknya adalah Tuhan yang Kasih itu bukan jauh tetapi dekat bahkan turut menangis bersama tangisan yang kita rasakan. Tuhan melihat hati dan memperhitungkan iman walau sebesar biji sesawi.

       Hari ini bila Anda merasa sedih, berbeban berat bahkan berdukacita, maka ingatlah Anda tidak sendirian. Tuhan Yesus mendengar doa dan memahami keadaan kita, bahkan Ia turut menangis dengan kita. Ia melihat jauh ke dalam hati dan sanggup memulihkan dan membalut semua luka. Mungkin apa yang Anda harapkan tidak terjadi tetapi bukan berarti Tuhan tidak peduli. Itulah sebabnya Tuhan disebut Tuhan dan bukan jimat atau lampu aladin karena Ia punya cara-Nya, hikmat-Nya dan waktu-Nya sendiri. Bila kita percaya, maka kita akan melihat kemuliaan-Nya dinyatakan. Kiranya Tuhan menolong kita setia mengikut Dia. Amin.

PENGHIBURAN TERBESAR DALAM WAKTU DUKA ADALAH TUHAN HADIR DI SAMPING KITA

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail