SEPERTI AYAH MENDIDIK ANAKNYA

SEPERTI AYAH MENDIDIK ANAKNYA
Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.  Mazmur 32:8
Saya melihat seorang ayah tengah mendidik anaknya mengenai sopan santun ketika mengotak-atik barang orang lain.  Ayah ini melarang anaknya untuk menyentuh sebuah handycam yang dipasang di sebuah tripod. 
Dengan antusias  anak ini ingin mengetahui benda yang jarang dilihatnya.  Anak ini tidak menghiraukan perkataan orang tuanya, karena begitu heran dan asyik mengamati benda kecil yang menampilkan gambar bergerak.
Melihat perkataan dirinya yang tidak digubris apalagi justru melihat anaknya makin mendekati tiga kaki penyangga dari aluminium ringan itu, sang ayah segera “menylentik” telinga anaknya.  Kontan saja anaknya terkejut dan langsung diam.
Saya kagum, sang ayah tidak memukul, menampar, apalagi memaki-makin supaya anaknya tidak mendekati handycam kecil itu.  Anak ini beruntung memiliki ayah yang sayang dan perhatian kepadanya.  Tidak lama setelah dilarang, anak kecil ini digendong dan dipeluk oleh ayahnya.
Kurang lebih seperti inilah yang dilakukan Tuhan kepada kita dalam mendidik dan membimbing jalan hidup.  Pemazmur Daud menggambarkan dengan jelas arti sikap Bapa terhadap anak-anak-Nya.  Bapa yang baik bukan saja memberitahu yang mana benar dan yang mana salah, tetapi juga memberikan pengampunan dan kesempatan bagi yang terjatuh di dalam dosa.  Tuhan tidak berdiam diri, tetapi mendidik dan bila perlu menghajar anak-anak-Nya supaya bertobat dan kembali di dalam pelukan kasih-Nya.
Ketika Daud jatuh di dalam perbuatan dosa, ia merasakan ketidaknyamanan dan ketidakdamaian dalam hatinya.  Ia menggambarkan keadaannya sebagai tulang-tulang yang lesuh sepanjang hari.  Sampai ia mengakui dosanya dan bertobat, barulah Daud merasakan yang namanya berbahagia!
Ketika Tuhan memandangkan wajah-Nya kepada orang percaya, Ia sedang mendidik dan menunjukkan jalan yang harus ditempuh.  Jikalau orang percaya itu begitu asyik dan terbuai terhadap hal-hal duniawi, maka Tuhan akan memperingatkannya.  Jikalau orang percaya itu masih belum sadar akan bahaya yang sedang diperingatkan, Tuhan akan “menylentik telinganya”.  Sesudah orang percaya itu sadar dan mau berubah, diampuninyalah dan dipeluk dalam dekapan kasih Bapa.
Relasi kehidupan kita dengan Tuhan  adalah sama dengan relasi kehidupan Daud dengan Tuhan.  Hubungan  Tuhan dengan kita adalah Bapa terhadap anak.  Ada kalanya Bapa tersenyum melihat kita yang unik.  Bisa jadi mengerutkan dahinya ketika kita mulai “nakal” dan “menylentikan” tangan-Nya ketika kita tidak dengar-dengaran.  Marilah kita belajar tidak terbuai di dalam dunia, tetapi belajar mendengar dan mentaati Firman-Nya.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

BERIKAN TELADAN DULU DONK!

BERIKAN TELADAN DULU DONK!
Segera setelah perintah ini tersiar, orang Israel membawa dalam jumlah yang besar hasil pertama dari pada gandum, anggur, minyak, madu dan segala macam hasil bumi. Mereka membawa juga persembahan persepuluhan dari segala sesuatu dalam jumlah yang besar.
II Tawarikh 31:5
Saya pernah mendengar orang tua melarang anaknya untuk merokok sementara dia sendiri merokok seperti asap kereta api sepanjang jalan.  Tidaklah heran perkataan-perkataan seperti ini sering didengar tetapi sulit untuk dilakukan.  Orang yang memberikan pengajaran dan instruksi harus disertai dengan keteladanan.
Inilah yang dilakukan Hizkia, raja Yehuda di dalam menjalankan roda pemerintahannya.  Ia tidak memulai dengan ketamakan untuk mencapai kemajuan negaranya.  Ia merendahkan diri dan mencari Tuhan yang memimpin masa depan bangsanya.
Hizkia memberikan jumlah persembahan yang sangat banyak yang belum pernah terjadi setelah masa pemerintahan raja Salomo.  1000 ekor lembu jantan dan 7000 ekor kambing domba (II Taw.30:23).  Tindakan memberikan persembahan yang besar bagi Tuhan ini diikuti oleh para pemimpin.
Jelaslah ada suatu kaitan antara bagaimana raja Hizkia, para pemimpin memberikan teladan hidup dengan ketaatan rakyat Israel memberikan persembahan bagi Tuhan.  Ketika para pemimpin, rohaniwan dan pengurus gereja memberikan hati yang sungguh bagi pelayanan, tidak hitung-hitungan dalam pelayanan, maka pekerjaan Tuhan di gereja itu akan dibangunkan seperti jaman Hizkia.
Sewaktu SMA, saya pernah mengikuti ret-ret perpisahan kelas 2.  Waktu itu yang putra tidur di ruangan yang besar beramai-ramai.  Seperti barak yang digelar tempat tidur, banyak yang istirahat bersebelahan.  Sebelum tidur saya berdoa.  Rupanya tindakan ini diikuti pula oleh beberapa teman yang tadinya sudah dalam posisi tidur.
Satu orang yang melihat saya berdoa, bangun dan tidak lama juga ikut berdoa kemudian melanjutkan tidur.  Saya senang melihat sejumlah teman juga melakukan hal demikian di hari berikutnya.
Perbuatan kita memberikan efek bagi orang lain.  Memberikan pengaruh dan dipengaruhi adalah bagian dari hidup berkomunitas.  Apa yang dikerjakan di dalam kebenaran Firman Tuhan memberikan efek yang lebih besar dengan perbuatan dari perkataan.  Biarlah kita boleh belajar dari Hizkia, seorang raja muda yang rendah hati dan takut akan Tuhan.  Kiranya Tuhan menolong kita dan menjadikan kita saluran berkat bagi orang-orang di sekitar kita.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

MENGUPAS ARTI PERSAHABATAN

 

 

MENGUPAS ARTI PERSAHABATAN
“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran.” Amsal 17:17
Orang seperti apakah yang menjadi teman dekatmu?  Pendiam atau yang suka bicara?  Jika anda seorang pendiam kemungkinan lebih suka mencari teman bicara yang ramai; demikian pula sebaliknya: orang yang ramai cenderung suka mencari teman yang pendiam. 
Terlepas dari kebalikan sifat atau jenis kelamin, pada umumnya kita mencari orang yang memenuhi kebutuhan kita, dan bisa jadi justru orang yang mempunyai kecocokan dengan diri kita.  Kecocokan itu dapat berupa kegemaran; keahlian; kerohanian; karakter maupun kebiasaan.  Sering juga persahabatan terjalin akrab karena nyambung-nya bicara; pemikiran maupun tujuan.
Persahabatan seringkali ditandai dengan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.  Hubungan timbal balik dapat terjadi karena senasib sepenanggungan.  Ada pula hubungan kesalingan ini dimulai dari salah satu pihak yang berinisiatif  untuk berbuat baik kepada orang lain terlebih dahulu.  Apapun penyebab dan alasannya; persahabatan muncul dan berkembang sejalan dengan kesalingan yang menguntungkan ke dua belah pihak.
Kata “sahabat” dalam ayat di atas mempunyai pengertian adanya sikap menghormati; menghargai; mencari kesejahteraan/kebaikan kawannya.  Rupanya kesalingan dalam persahabatan di kitab Amsal ini dilandasi dengan motivasi tersebut.  Hubungan yang kokoh kerap kali memang didasari dengan kasih yang menaruh respek.  Dua orang teman yang mendasarkan hubungan hanya pada minat tanpa adanya rasa hormat dan penerimaan, kerap kali menimbulkan konflik; ketersinggungan dan kekecewaan.  Persahabatan yang tidak mempunyai landasan kuat tidak akan bertahan lama dalam permasalahan dan perbedaan.
Ada sebuah cerita mengenai sejumlah burung yang terbang dengan formasi V. Diantara sejumlah burung yang terbang itu ada seekor burung dengan suara jelek dan gaya terbangnya payah.  Pada waktu sedang terbang, ada pemburu menembak salah satu burung tersebut.  Komandan burung memerintahkan dua ekor burung lain untuk menolong dan mendampingi burung yang jatuh tertembak itu.
Dalam cerita ini ke dua burung yang diutus untuk menolong burung yang tertembak tidak jadi menolong justru melarikan diri.  Ke dua burung itu ketakutan dengan letusan bertubi-tubi dari pemburu.
Melihat keadaan itu, burung dengan suara jelek dan gaya terbang yang payah merasa kasihan dan turun menolong burung yang tertembak.  Pada akhir cerita, burung ini sekalipun suara jelek dan gaya terbangnya payah, dia menjadi pemimpin dari kelompok burung lain. 
Cerita ini mengekspresikan bagaimana persahabatan yang baik itu dilukiskan.  Ada orang yang hanya menolong sahabatnya atas perintah orang lain atau karena menguntungkan diri.  Jika tidak membawa keuntungan, pastilah sahabat itu ditinggalkan.  Ada pula orang yang mendasari persahabatannya karena kasih yang menaruh respek.  Persahabatan seperti ini tidak jarang menghasilkan kesetiaan dan keakraban yang dalam. 
Terlepas dari kelemahan dan kekurangan, persahabatan yang didasarkan pada kasih yang hormat menembus batas kepicikan dan menghasilkan kebaikan yang benar.  Persahabatan sejati ini sudah diteladankan oleh Yesus Kristus kepada kita, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.  Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15:13-14). 
Yesus Kristus memberikan teladan persahabatan sejati melalui pengorbanan diri-Nya.  Inilah bukti nyata Allah yang berinisiatif mau bersahabat dengan manusia.  Ini pula dasar yang kuat persahabatan antara sesama orang percaya, yakni Kristus Yesus yang sudah mati dan bangkit buat kita.  Yesus Kristus mau menjadi sahabat Anda dan saya.  Maukah Anda menerima jenis persahabatan ini?
Bila ya, maka kita harus masuk dalam dimensi persahabatan yang berbeda dengan cara pandang dunia.  Jenis persahabatan ini bukan angan-angan, bukan pula cari untung, tetapi persahabatan yang ditindaklanjuti dengan melakukan apa yang Tuhan kehendaki.  Persahabatan dengan Allah dan atas inisiatif-Nya ini harus diresponi dengan kasih yang menaruh respek.  Bilah kita mau bersahabat dengan Allah, maka kita harus menaruh sikap respek/hormat kepada-Nya.  Respek itu diwujudkan secara nyata seperti yang Tuhan Yesus mau, “… jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.”
Maukah Anda menjadi sahabat Allah?  Maukah Anda menjalani persahabatan yang kekal ini?  Yuk, kita bersama-sama belajar menjalani relasi persahabatan seperti yang diinisiatifkan Yesus.  Selamat berproses! 
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

NO PLACE LIKE HOME

NO PLACE LIKE HOME
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Roma 8:28
Istilah ini menunjukkan: tidak ada tempat yang lebih indah; lebih nyaman; lebih baik; lebih menyenangkan selain rumah kita sendiri.  Namun kenyataan yang sering kali terjadi adalah sebaliknya.  Keadaan di rumah sendiri serasa di neraka; tidak nyaman; tidak menyenangkan bahkan frustasi yang membuat mau gila saja rasanya.
Ada orang yang mengatakan, rumput tetangga selalu kelihatan lebih indah.  Kita mulai melihat keluarga lain yang lebih harmonis; lebih ber “ada”; lebih nyaman; lebih menyenangkan dan lebih terjamin dalam banyak hal.
Kemudian kita disadarkan bahwa masing-masing keluarga ada kesusahannya sendiri.  Setiap orang dalam keluarga tidak akan pernah puas dengan keadaanya jikalau tidak dimulai dengan diri sendiri untuk mengubah cara pandang terhadap hidupnya.
Sang Pencipta telah menempatkan kita dalam keluarga yang sekarang ini.  Bukan suatu kebetulan; bukan suatu kecelakaan; bukan suatu musibah.  Di balik kesusahan yang paling berat pun, menanti berkat Tuhan bagi orang yang mengasihi Dia.
Rancangan kita bukan rancangan Tuhan, Jalan Tuhan bukan jalan kita.  Tuhan sedang membentuk setiap orang berdasarkan kasih dan keadilan-Nya.  Yang kelihatan paling buruk dan tidak berpengharapan dapat dibuat-Nya sukses gemilang.   
Seperti halnya diri kita ataupun dalam keluarga kita; setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.  Untuk inilah Kristus datang dan berkarya di atas kayu salib, supaya kita merasakan keselamatan dan hidup yang sesungguhnya.
Kehidupan serasa sulit bila dipikirkan sendiri, diusahakan sendiri dan ditanggung sendiri.  Tuhan Yesus Kristus menebus kita bukan sekedar memiliki keluarga kandung; tetapi keluarga seiman yang dikerjakan bersama untuk kemuliaan-Nya.
Di sinilah seharusnya beban hidup ditanggung bersama; bertumbuh bersama; saling mendukung dan membangun.  Keindahan rumah ditentukan dari keberadaan Kristus di dalamnya.  Bagaimanapun rumput di rumah milik sendiri.  Kenapa harus mencari ilusi, apalagi halusinasi?  There’s no place like home.    Selamat Tahun Baru 2011.                                
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail