ANTARA IMLEK DAN TAHUN BARU DI ALKITAB

ANTARA IMLEK DAN TAHUN BARU DI ALKITAB

Jikau engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaah Allah (I Korintus 10:31).

1

 

       Apa yang berkesan atau yang paling Anda inginkan pada saat menyambut Tahun Baru Tionghoa (Imlek)? Makanan yang enak? Angpao? Atau bahkan kesempatan emas bisa berkumpul dengan sanak keluarga besar? Tahun Baru Tionghoa kali ini jatuh pada tanggal 19 Februari 2015 atau berdasarkan pengukuran kalender bulan adalah 2566. Kebanyakan orang-orang Tionghoa akan berkumpul atau pulang ke kampung orang tuanya (seperti lebaran kalau di Indonesia).

       Tahun baru imlek ditandai dengan warna merah sebagai lambang gembira, sukacita dan harapan yang baik di tahun yang baru yang dijelang. Perayaan di musim semi ini dilengkapkan dengan makan bersama dan tidak ketinggalan angpao atau amplop merah berisi uang dari orang tua kepada anak-anak. Sebagian orang percaya dengan menyapu rumah dan menyalahkan kembang api atau petasan pada saat menyambut tahun baru adalah untuk mengusir sial dan menyambut untung.

       Bagaimana dengan Tahun Baru di Alkitab? Imamat 23:23-25 & Bilangan 29:1-6 yang disebut sebagai tahun baru memiliki latar belakang yang berakar dari budaya Ibrani, yakni perayaan tahun baru dari kalender Israel yang dirayakan pada 1 & 2 Tishri 5776 (14 September 2015). Tahun baru Israel disebut Rosh Hashanah dan dirayakan dengan makanan yang manis-manis sama dengan Imlek, hanya saja maknanya adalah lambang janji Tuhan yang manis di tahun yang baru. Mereka biasa meniupkan shofar (sangkakala) sebagai lambang pertobatan dan komitmen total ikut Tuhan. Kebiasaan sebagian orang merayakan Tahun Baru Rosh Hashanah adalah dengan makan madu, apel dan roti seperti halnya perayaan Imlek dengan kue keranjangnya.

       Kedua budaya Israel dan tionghoa memiliki kesamaan dalam hal menyambut tahun baru, yakni mengharapkan hal yang sejahtera di masa pengkalenderan baru. Terlepas dari kepercayaan sial dan untung atau berkat dan kutuk; setiap orang yang menyambut tahun baru haruslah menyadari bahwa itupun adalah kasih karunia Tuhan. Prinsip Alkitab tidak mengajarkan “kebetulan” dan “takhayul”, namun mengajak setiap orang percaya Tuhan untuk ingat dan melibatkan Tuhan di tahun yang baru. Selamat menyambut tahun baru Imlek! 新年快樂 万事如意。

ORANG YANG MELIBATKAN TUHAN DALAM HIDUPNYA, TIDAK AKAN KEKURANGAN PENYERTAAN TUHAN

3

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

MOSHI MOSHI KAMEO


MOSHI MOSHI KAMEO
Baca: II Petrus 3:1-13
Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. II Petrus 3:9
Pernah dengar lagu “Usagi to Kame”? Lagu ini pertama kali saya dengar dari anak sulung ketika memijat bapaknya. Dengan semangat “45” ia memijat sambil menyanyi apa yang konon diajari gurunya. Kemudian saya baru menyadari bahwa lagu ini mengisahkan Kelinci dan Kura-kura. Kura-kura begitu lambat tetapi tekun hingga berhasil, sementara kelinci walaupun gesit dan cepat tetapi karena kemalasan dan kesombongannya membuat ia kalah.
Bisa jadi lagu yang dinyanyikan gurunya dengan semangat membuat anak saya bernyanyi dengan semangat pula. Gurunya semangat bernyanyi juga untuk dirinya termotivasi masa depan anak didik cerah. Sabar terhadap ketidaktahuan, sabar terhadap kenakalan, sabar terhadap hal-hal sepele yang merepotkan dan ada kalanya menjengkelkan. Itulah yang ada dipikiran saya. Lagu ini sederhana, tetapi bermakna dahsyat!
Bukankah itu yang jadi pergumulan setiap kita? Sebagai orang tua betapa repotnya mengurus anak dari bayi, memandikan, mengganti popok, pipisnya, tahinya, belum lembur malam. Ketika besar, anak menjadi nakal, tidak dengar-dengaran dan membuat masalah demi masalah. Sebagai atasan atau senior betapa repotnya mengurus junior dan bawahan dengan segala kebandelan sok bisa, sok pandai, dan “sol sepatu” lainnya. Kadang masalah itu bisa menghampiri pelajar, pekerja, mertua, menantu, bahkan jemaat. Betapa “repot”-nya membentuk sesuatu dari nol sampai jadi berhasil, seolah lambat seperti kura-kura berjalan.
Ketika kita tidak sabar dan hampir menyerah untuk menjalani sesuatu yang baik dan benar, ingatlah bahwa Tuhan tidak tidur, tetapi terus bekerja hingga kiamat (II Petrus 3:1-8). Ia sabar dan PASTI menepati janji-Nya. Ia menantikan setiap kita hidup yang suci dan saleh walaupun kerap kita hidup kotor dan najis. Moshi-moshi kame yo … doushite sonna ni noroi no ka (klik lagu tersebut di: http://kiwi6.com/file/j8i6p7i95n) Halo, Tn. Kura-kura … kenapa kamu jalan begitu lambat?  Kalau Tuhan saja sabar dengan kita, mari kita tidak putus asa untuk melakukan yang baik dan benar. Bisa jadi itu sebagai guru di sekolah, pendeta yang menggembalakan gereja, manager terhadap bawahan, orang tua terhadap anak atau bahkan sebaliknya. Kiranya Tuhan menolong setiap kita. Amin.
KALAU TUHAN SABAR DAN TIDAK LALAI TEPATI JANJI, KENAPA KITA HARUS BERHENTI MELAKUKAN YANG BAIK DAN JAUH DARI TUHAN?
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

RICH DAD, POOR DAD


RICH DAD, POOR DAD
Baca Yakobus 4:13-17
Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung.” Yakobus  4:13b.
Anda pernah mendengar istilah “Rich Dad, Poor Dad”? Ini adalah judul buku dari teori kemerdekaan finansial yang dikenalkan oleh Robert Kiyosaki di tahun 2000. Teorinya sangat terkenal di seluruh dunia, hingga buku tulisannya terjual lebih dari 26 juta buah.
Orang disebut berhasil apabila pemasukan lebih besar dari pada pengeluarannya. Kata “Aset” bukan sekedar milik seseorang tetapi sesuatu yang menghasilkan uang (cash flow).  Orang biasa dan miskin cenderung menghabiskan uang untuk barang-barang (disebut “stuff”) yang nantinya dibuang atau disimpan di gudang, dan sesuatu yang menciptakan tagihan setiap bulannya (disebut oleh Kiyosaki sebagai “liabilities”) seperti telepon seluler, kulkas, mobil, dst.  Orang yang kaya (rich dad) akan membelanjakan dengan cerdik sehingga menghasilkan aliran uang terus menerus seperti pengusaha besar dan investor. Singkatnya, uang yang bekerja untuk dirinya (kebebasan finansial).
Teori ini kelihatan menarik dan menjanjikan, namun benarkah hidup manusia yang berhasil berakar dari jangkar materialisme kekayaan? Benar, sisi positif dari teori ini adalah diajak untuk belanja secara berhikmat/tidak boros. Benar, kita perlu belajar mengatur keuangan secara bijak. Apakah sebaiknya kita mengikuti teori Kiyosaki? Apa kata Firman Tuhan?
Yakobus menjelaskan mengenai seorang pengusaha besar yang cerdik dan prudent (berpikir jauh ke depan). Menurut teori managemen keuangan, ini adalah keputusan di jalan yang benar tetapi menurut Firman Tuhan ini adalah langkah yang salah (Yakobus 4:16). Disebut salah karena hidup yang begitu luas dan misterius ke depannya tetapi mengandalkan diri sendiri dan tidak melibatkan Tuhan.
Hidup ini tidak diukur dari berapa banyak yang kita dapat dan bukan pula diukur dari semangat yang bermental “mendapat lebih banyak lagi”. Orang yang miskin adalah orang yang semangat hidupnya untuk dirinya sendiri. Bagi saya, teori “Rich Dad, Poor Dad” sangat menarik dan selalu ada sisi yang kita bisa petik. Namun justru teori ini menjadikan ayah kaya (rich dad) adalah orang miskin. Miskin sebagai ayah yang berorientasi pada materi bukan keluarga. Miskin sebagai pribadi di hadapan Pencipta, miskin menikmati keajaiban hidup berjalan bersama Tuhan.
Oh ya, sejarah mencatat perusahaan Kiyosaki, Rich Global LLC yang bernilai lebih 23 juta dollar Amerika Serikat itu sudah dinyatakan bangkrut pada Agustus 2012. Libatkan Tuhan bukan dengan mental “bagaimana mendapat lebih banyak lagi harta (rakus)” tetapi “bagaimana berhikmat menggunakan apa yang ada pada kita di DALAM Tuhan”.
INGIN JADI BERHASIL ITU LUAR BIASA! KUNCINYA ADA DUA: LIBATKAN TUHAN DAN WASPADA KANKER RAKUS TIDAK PERNAH CUKUP.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

PENGALAMAN NAIK AIR ASIA



PENGALAMAN NAIK 
AIR ASIA SETELAH 
TRAGEDI 8501
Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Yohanes 2:10
Anda sudah mendengar kecelakaan maskapai Air Asia 8501? Bagaimana apabila Anda ditawari untuk naik pesawat ini? Berani? Mau? Bagaimana kalau gratis?
Sebelum dan sesudah tragedi maut 28 Desember 2014 tersebut, saya bersama keluarga naik pesawat Air Asia berhubung alasan ekonomis. Ada beberapa yang berbeda dari biasanya, yakni penerbangan kali ini mendapat perhatian dari keluarga dan teman dengan pertanyaan yang sama, “Apa sudah sampai? Sampai di mana?
Tidak dapat dipungkiri, apabila kita mengadakan traveling di musim hujan dapat berdampak pada awan tebal, pesawat goyang seperti naik jet coster hingga mendaratnya pesawat di tengah hujan lebat. Itulah yang saya alami baik dalam perjalanan di Medan, Surabaya, Makassar maupun Jakarta. Puji Tuhan! Perjalanan kami berjalan lancar. Saya belajar untuk tidak “take for granted” alias kelancaran sebagai barang biasa, melainkan mensyukuri anugerah Tuhan.
Kerap kali kita baru melibatkan Tuhan kalau sudah dalam permasalahan besar dan lupa Tuhan kalau kehidupan lancar-lancar saja. Banyak orang baru menjerit kepada Tuhan kalau pangkat tidak juga naik, penghasilan menurun dan sakit tidak kunjung sembuh. Sebaliknya banyak orang menganggap sudah seharusnyalah kalau Tuhan memberi berkat kesehatan, usaha lancar dan keluarga baik-baik.
Ketika Yesus dilibatkan dalam pesta perkawinan di Kana, banyak orang tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi (Yohanes 2:1-10). Terkhusus bagi kepala pesta (Master of Ceremony) yang memuji keluarga mempelai pesta berhasil sukses karena kehebatan stok melimpah. Padahal dibalik keberhasilan terdapat campur tangan Tuhan mengubah air menjadi anggur. Siapa lagi yang sanggup melakukan mujizat selain Tuhan pemberi berkat?
Mari kita belajar melibatkan Tuhan dalam segala hal, baik pesta perkawinan, pesta ulang tahun, syukuran rumah baru, dst. Belajar ingat Tuhan dalam doa! Susah senang belajar ikut Kristus Yesus. 
HIDUP INI TERASA LEBIH PENUH APABILA KITA TIDAK MENGANGGAP BIASA KELANCARAN DAN BERKAT. SUSAH SENANG BELAJAR MELIBATKAN TUHAN.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail