AJAIBNYA MATA ROHANI

Ajaibnya Mata Rohani
II Raja-raja 6:16-17
Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.” Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.
Pernah seorang hamba Tuhan, Pdt.Eri  menceritakan bagaimana Tuhan menolong keluarganya.  Orang tuanya yang sudah percaya  tidak putus asa   mengabarkan Injil di daerah anti Kristen.  Suatu malam mereka diserbu oleh ratusan orang dengan membawa obor (waktu itu belum ada listrik).  Sambil berteriak: “bakar gereja ini!” dan melempari banyak batu ke arah rumah, mereka mendekat.
Suasana begitu panik dan mencekam.  Ayah  dari Eri (waktu itu masih kecil) menganjurkan keluarganya lari mengungsi, sementara sang ayah di rumah.   Eri tidak menyetujui dan justru mengajak seisi keluarga berlutut dan berdoa.  Tidak lama kemudian, mereka terheran-heran.  Tidak ada suara sama sekali.
Beberapa waktu kemudian ada seorang bapak-bapak datang minta didoakan agar sembuh.  Selesai didoakan, bapak ini meminta maaf.  Ayah dari Eri heran: “Kenapa meminta maaf pak?!”  Kemudian diceritakan bahwa bapak ini beberapa waktu yang lalu ikut hendak membakar gereja itu, namun tidak jadi.  Sewaktu mereka berteriak-teriak, tiba-tiba mereka melihat sejumlah tentara disekeliling mereka.  Tentara ini berjumlah sangat banyak dengan senapan laras panjang dan bayonetnya.  Penduduk itu kemudian melarikan diri.
Kesaksian ini mirip sekali dengan kejadian yang dialami oleh Elisa.    Peristiwa ini dimulai dengan kemarahan raja Aram karena Elisa berkali-kali menggagalkan serangan tentara Aram ke Israel.  Setelah diketahui Elisa berada di kota Dotan, raja Aram mengirim sangat amat banyak tentara beserta kereta dan kuda.
Mengetahui jumlah tentara yang sangat banyak di depan rumah, Gehazi jadi ketakutan.  Pada saat itu  Tuhan berkenan membuka mata rohani  Gehazi akan  penyertaan-Nya.  Gehazi melihat sekeliling bukit, mungkin jutaan kuda dan kereta api!  Cerita lebih lengkapnya silahkan baca II Raja-raja 6:1-23.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana orang yang melihat tetapi buta rohani.  Ada banyak orang Kristen dibuat takut oleh masalah hidup.  Padahal sebenarnya:  sebesar apapun masalah, Tuhan Yesus Kristus  lebih besar!  Elisa melihat dengan mata rohani.  Eri dan keluarganya yang percaya melihat dengan mata rohani. 
Jikalau kita  rindu mata rohani kita dicelikkan, mintalah Tuhan membuka mata rohani kita.  Lihatlah bagaimana Anda sesungguhnya tidak sendiri!  Pastikan Anda berada dipihak Allah, dan Anda akan melihat bala tentara sorgawi Allah.  Yakinlah Tuhan memegang kendali sekalipun dalam situasi yang buruk.    Iman percaya kepada kuasa dan penyertaan Tuhan sungguh ajaib.  Melihat dengan mata rohani memang ajaib!
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

SUKA BERADA DI MANA

SUKA BERADA DI MANA?
(Baca: Lukas 2:41-52)
Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku?  Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”  Lukas 2:49
Apabila Anda ditanya, “Anda suka berada di mana?”  Apakah yang akan Anda jawab?  Sebagian orang suka berada di sekolah atau kampus, karena di sana ia dapat banyak meneliti dan belajar.  Ada orang yang suka berada di tempat kerja, karena di sana ia dapat menghasilkan uang dan kepuasan kerja.  Ada yang suka berada di rumah, karena ia merasakan indahnya home sweet home.  Ada pula orang yang suka berada di tempat liburan.  Seperti saya J karena di sana bisa mendapatkan suasana baru, refreshing, dan juga wawasan baru.
Menurut Anda, Yesus suka berada di mana?  Mengacu kepada ayat yang kita baca, sekilas kita akan berasumsi bahwa Yesus tentu suka berada di tempat Ibadah.  Kalau jaman itu tampaknya Yesus suka berada di Sinagoge.  Mungkin kalau di jaman sekarang, Yesus atau Isa Almasih suka berada di gedung Gereja atau gedung Masjid.  Semula sewaktu saya membaca bagian ini juga berpikir demikian. 
Teringat dengan perkataan I Yohanes 2:6, “Barangsiapa mengatakan bahwa ia adald di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristu telah hidup”, seolah mengajak kita semua untuk menyukai dan selalu ada di tempat ibadah.  Kendati demikian,  Ketika dikaji lebih lanjut ternyata maksud perkataan Yesus sama sekali tidak berkaitan dengan gedung atau tempat ibadah.
Konteks tanya jawab pakar keagamaan Yahudi dengan Isa Almasih adalah Maria dan Yusuf yang sudah tiga hari mencari Yesus karena tidak bersama rombongan yang kembali ke daerah asalnya di Nazaret, Galilea.  Tampaknya Isa Almasih begitu asyik menikmati Firman Tuhan dan memberi banyak inspirasi kepada ahli-ahli Kitab.  Bahkan mereka dibuatnya terheran-heran dan kagum akan kejeniusan-Nya.  Yesus bukan saja senang dengan hukum Allah, tetapi tampak sangat menguasainya.
Sewaktu Maria menemukan Isa Almasih, dituliskan oleh dokter Lukas perkataan Isa demikian, “… Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada dalam rumah Bapa-Ku?” (Lukas 2:49b).  Dalam beberapa terjemahan Alkitab dan mengacu kepada tulisan Yunani-nya, ternyata ada maksud yang lebih dalam dari kata yang dipakai dalam bahasa Indonesia.  Frasa “Aku harus berada” memiliki maksud bukan sekedar hadir tetapi datang memenuhi kewajiban.  Setelah meneliti lebih jauh tentang ayat ini, ijinkan saya mengkalimatkan dengan inti yang sama dari Alkitab LAI tetapi dengan kalimat yang saya abstrakkan: “… Seharusnya kamu tahu saya ada di mana, saya harus mengerjakan misi dari Bapa-Ku.”
Yesus tidak bicara tentang suka berada di dalam gedung ibadah.  Yesus tidak sedang bicara tentang kesukaanya berada dalam suasana religius tempat ibadah penuh ornamen.  Yesus menyukai tinggal dalam hadirat Tuhan bukan tinggal dalam tempat ibadah.
Demikian pula dengan I Yohanes 2:6, kata “hidup” memiliki kedalaman pengertian: hidup; berjalan; mengikuti atau menghidupi seperti.  Dengan demikian, maksud dari Yohanes tentang kita yang mau tinggal di dalam Yesus maka kita harus mengikuti atau menghidupi apa yang menjadi misi dari Tuhan.  Setiap kita diciptakan dengan tujuan dan bukan sebuah kebetulan kita ada dan hidup saat ini.  Tuhan menghendaki kita mengerjakan bagian kita, tidak selalu di tempat ibadah.  Ada kalanya di tempat kerja, di sekolah/kampus, di tempat liburan sekalipun.  Kita dipanggil satu misi dengan yang Yesus/Isa Almasih sudah kerjakan (Matius 28:18-20).  Bedanya, Yesus pernah datang ke dalam dunia, hidup dalam konteks sekitar 2000 tahun lalu di Israel.  Kita yang hidup saat ini dengan konteks tempat kita tinggal, hidup, bergaul dan berkarya dengan keberadaan masing-masing.
Menutup renungan ini, mari kita bertanya kembali: Apa arti hidupku?  Apakah saya hanya hidup untuk mencari “segenggam berlian” demi masa depanku, keluargaku, cita-citaku, dan semua yang berujung “ku”?  Apakah Kristus benar-benar menjadi pusat dari hidup yang disebut “ku” ini?  Apa bagiaku untuk melanjutkan tongkat estafet yang sudah diberikan oleh Isa itu (Matius 28:19-20)?  Kiranya Tuhan menolong kita di manapun berada, hati kita melekat dengan apa yang menjadi kerinduan Kristus.  Selamat melanjutkan misi hidup yang dari-Nya!  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

TETAP FIT MELAYANI

TETAP FIT MELAYANI
“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” Yesaya 40:31
 
Kesibukan luar biasa bisa membuat diri kita dalam keadaan jenuh; letih dan lelah.  Saya pernah mengalami hal tersebut ketika dalam waktu yang singkat harus menyelesaikan banyak program di beberapa komisi; banyak pertemuan rapat dan konsolidasi bersama pengurus-pengurus komisi.  Belum lagi ditambah beberapa kali ke luar kota untuk survei pelayanan dan bermacam persiapan khotbah.  Kesan saya waktu itu adalah rasanya ingin minum aspirin (obat penenang) dan berlibur.
Indah sekali Firman Tuhan yang tertulis di atas; bak iklan “Energizer” yang terus memiliki kekuatan dan kesegaran demikian pula orang yang di dalam Tuhan.  Rahasianya satu sebenarnya: bersekutu menunggu Tuhan.
Kerap kali kesibukan yang luar biasa tidak mengenal kata “menunggu” apalagi dikejar oleh batas tenggang waktu penyelesaian pekerjaan.  Padahal justru di dalam istirahat manusia memperoleh kembali kesegarannya dalam hidup.
Pengertian menunggu dalam Firman Tuhan di atas adalah menanti dengan sabar; terus berpengharapan dan istirahat di stasiun perhentian.  Saya pernah naik kereta api kelas ekonomi di Jawa.  Setiap kali ada stasiun, kereta itu akan berhenti sejenak untuk menunggu penumpang dan kemudian menunggu aba-aba untuk berangkat.  Begitu banyak yang harus disinggahi dan lambat rasanya.
Keadaan sekarang berbeda jauh dengan masa silam, kita hidup dalam era yang serba cepat dan instant.  Mengikuti irama hidup yang sangat cepat tanpa adanya istirahat akan menghasilkan kejenuhan/stagnasi/”burn out”.
Ada kalanya kita perlu istirahat; berlibur bahkan cuti di dalam pekerjaan.  Ada kalanya kita bersikap diam; tenang; terus menantikan dan menggumuli Firman Tuhan.  Kita perlu mengambil waktu evaluasi lebih banyak dan mendekatkan diri dalam persekutuan dengan-Nya pada saat-saat itu.  Kekuatiran dan ketergesaan hanya akan menghasilkan kekecewaan dan keletihan.
Tetap fit melayani tidaklah berarti beraktivitas tanpa berhenti.  Kita adalah manusia fana dengan segala keterbatasan dan kekurangan.  Hanya ketika kita berhenti dan menengok kembali pada kasih karunia Allah, maka kita akan disadarkan dan dikuasai oleh kasih-Nya.  Di sanalah sebenarnya kehadiran Allah dirasakan dan dihayati.
Bagaimanakah dengan Anda?  Apakah Anda merasa jenuh; letih; lelah dan stagnasi?  Mungkin kini saatnya mengambil waktu istirahat atau berlibur.  Mungkin pula kini saatnya mengambil waktu khusus bertemu Tuhan dalam iman.  Mungkin juga tidak perlu melakukan apa-apa selain menunggu dan menunggu dan menuggu.  Ada kalanya kita harus memasuki dimensi rohani, yakni bergumul bersama Tuhan dalam doa dan Firman Tuhan.  Kiranya Tuhan menolong kita tetap fit dalam Tuhan, tetap fit melayani Tuhan.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

PERJUMPAAN YANG MENGUBAHKAN

PERJUMPAAN YANG MENGUBAHKAN
(Baca: Yohanes 4:1-54)
Kata Yesus kepadanya:
“Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.”
Yohanes 4:26
Tidak ada seorangpun yang tidak berubah ketika berjumpa Yesus Kristus.  Hal inilah yang dialami pula oleh seorang perempuan Samaria.  Adalah hal yang menakjubkan ketika  seseorang asing yang baru saja mengenal kita tetapi sudah mengetahui seluruh masa lalu kita.  Perjumpaan wanita Samaria dengan Yesus adalah seperti itu.  Perjumpaan Yesus dengan wanita Samaria mengubahkan hidupnya.
Wanita Samaria ini bertemu Yesus sekitar siang hari; di mana Yesus telah seharian beraktivitas.  Permintaan Yesus Kristus akan air sebenarnya tengah membawa percakapan pada kebutuhan yang lebih dalam dan dibutuhkan oleh manusia: yakni air hidup.
Wanita Samaria menyadari adanya perbedaan besar antara budaya orang Israel dan Samaria yang tersisih.  Asumsi pada waktu itu  adalah: orang Israel dianggap umat Allah yang suci.  Orang Samaria yang kawin campur dengan agama lain dianggap kafir dan najis.
Orang yang mendapat kasih karunia Allah akan mengenal dan percaya bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat.  Inilah yang menjadi tanda anugerah Allah hadir dalam hidup manusia.  Ada banyak orang melihat mujizat yang dilakukan Yesus; ada banyak orang yang mendengar pengajaran Alkitab; bahkan ada banyak orang yang merasakan pertolongan Allah; namun jikalau mereka tidak percaya kepada Kristus sebenarnya mereka belum memperoleh karunia Allah.
Pernyataan Yesus Kristus mengenai air hidup membuat wanita Samaria ingin mengetahui lebih dalam mengenai kerohanian.  Jauh di dalam lubuk hatinya; wanita Samaria ini sadar akan kehausan jiwanya.  Ia sudah mempunyai 5 suami bahkan saat itu ia sedang berselingkuh dengan istri orang lain.  Herannya adalah wanita ini tetap merasakan kekosongan yang dahsyat dari jiwanya.  Wanita ini terus menerus mencari kasih sayang dari laki-laki untuk memenuhi kesepian jiwanya.  Tetapi sudah 5 laki-laki yang bergonta-ganti dan tidak juga memuaskan jiwanya.   Di dalam setiap hati manusia terletak suatu kebutuhan yang paling mendasar yang tidak dapat diisi kecuali dari Allah.
Seperti kebanyakan orang yang berpikir sedang mencari Allah yang benar dengan berbagai cara.  Demikian wanita Samaria ini berpikir bahwa untuk datang kepada Allah adalah datang ke suatu tempat ibadah di gunung Gerizim.  Orang Israel berpikir dapat mengenyangkan kehausan jiwa dengan datang di Yerusalem.  Sebenarnya bukan dengan datang ke suatu tempat seseorang dapat menjumpai Allah.  Bukan pula dengan mencari banyak allah  seseorang dapat menemukan salah satu yang paling benar.  Allah itu Roh.  Allah itu Esa.  Perjumpaan dengan Allah adalah anugerah yang hanya bisa dicapai melalui roh kita; iman kita dan seturut dengan kebenaran  yang Allah sudah nyatakan dalam Alkitab.
Pada kesempatan ini pulalah Kristus berbicara kepada murid-murid tentang Roti.  Sekali lagi perkataan Yesus mempunyai arti yang lebih dalam dari pada sekedar memenuhkan kebutuhan jasmani.  Yesus Kristus memaparkan pentingnya hidup orang Kristen untuk melakukan kehendak Bapa.  Bukankah tujuan hidup manusia adalah memuliakan Tuhan?  Inilah yang membuat manusia memperoleh kesegaran yang terus diperbaharui ketika mereka senantiasa mengerjakan kehendak Bapa dalam hidupnya.
Seperti perumpaan penuai dan penabur; demikian pula Yesus memberikan gambaran fungsi orang-orang percaya sebagai penuai dalam menggenapkan kehendak Allah: membawa jiwa pada Kristus.
Penabur adalah Yesus Kristus sendiri.  Ia datang ke dalam dunia; mati di kayu salib agar manusia yang percaya kepada-Nya di selamatkan.  Kristus lah yang memampukan orang percaya dapat menuai orang-orang yang mendapat kasih karunia Allah: keselamatan; yang sudah dirancang sebelum permulaan jaman.
Perjumpaan wanita Samaria telah mengubahkan hidupnya.  Bukan saja hidupnya; tetapi juga orang-orang di sekitar kota Sikhar.  Ia menjadi orang percaya yang juga menuai apa yang sudah ditabur Kristus.  Wanita Samaria sekalipun dengan masa lalu yang gelap; tetapi memakan rotinya dengan mengabarkan Injil.  Ia jadi lebih semangat; lebih hidup dan memang demikian: hidupnya diubahkan.  Ia tidak pernah menjadi sama seperti dulu lagi; sebab Kristus hidup di dalam hatinya.
Bagaimanakah dengan kita saat ini?  Adakah kita sudah memperoleh anugerah Allah itu?  Adakah kita ingin diselamatkan?  Adakah kita ingin kebutuhan rohani kita yang paling mendalam dipenuhkan oleh Kristus?  Adakah kita mau dipuaskan dengan memakan roti kehidupan (melakukan kehendak Allah) itu?
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail