RAHASIA SUKACITA ALA PAULUS

hati

RAHASIA SUKACITA ALA PAULUS

(Filipi 4:4)

hati

       Saya teringat sebuah cerita tentang dua ekor anjing liar yang datang ke sebuah rumah kosong di waktu yang berbeda. Uniknya di rumah itu terdapat banyak cermin. Anjing pertama datang dan terkejut melihat banyak anjing di rumah itu. Ia menggonggong marah kepada semua anjing yang sebenarnya adalah bayangannya sendiri. Ia benci dan tidak suka tempat itu. Setelah beberapa saat anjing pertama memutuskan tidak akan pernah datang lagi ke rumah kosong ini.

       Anjing kedua datang dan terkejut melihat banyak anjing di rumah tersebut. Ia menggoyangkan ekor pertanda keramahan. Ia berusaha bermain dan berbicara baik kepada semua anjing yang dilihatnya. Sungguh mengejutkan, semua anjing yang dilihatnya sangat ramah dan baik. Setelah sekian waktu akhirnya ia putuskan untuk pergi. Anjing ini begitu senang dan berharap suatu saat akan kembali. Kedua anjing ini berada di tempat yang sama, melihat hal yang sama tetapi memberi respon yang berbeda. Cara pikir terhadap realitas menentukan suasana hatinya. Sukacita tidak ditentukan dari luar tetapi dari dalam hati.

       Agaknya hidup di jaman maju semakin membuat banyak orang sibuk, tidak peduli dan mementingkan diri sendiri. Inilah realitas yang tengah terjadi saat ini, di banyak tempat. Peristiwa negatif atau tindakan kejahatan yang menimpa seseorang membuat banyak orang apatis dan kasih jadi hambar. Apa yang dialami oleh rasul Paulus tidak terkecuali yakni menghadapi orang-orang yang jahat, penyebar fitnah dan kebencian serta pengajar-pengajar sesat yang berusaha memutar balikan para murid Kristus di kota Filipi pada waktu itu.            

       Uniknya adalah bagaimana respon Paulus di tengah keadaan sulit baik yang dialami oleh jemaat Filipi maupun Paulus sendiri yang waktu itu ada di penjara, adalah cara pandang hidup yang bersukacita. Paulus meletakkan dasar hidupnya kepada pengharapan sorgawi dalam Tuhan Yesus Kristus. Baginya yang tidak kelihatan lebih penting dari pada yang kelihatan. Paulus memilih berpikiran positif dengan belajar mencukupkan diri apa yang ada padanya dan bukan membandingkan diri dengan orang lain. Paulus tidak merasa diri lebih rohani atau sudah sempurna. Ia belajar mengenal kelebihan dan kelemahan dirinya dengan terus berusaha mengerjakan iman percayanya dalam hidup yang berbuah. Cara pandang inilah yang memampukan Paulus tetap bersukacita hidup bagi Tuhan.

SUKACITA SEJATI TIDAK DITENTUKAN DARI LUAR TETAPI DIMULAI DARI DALAM HATI

BOCAH LOPER KORAN

waktu

BOCAH LOPER KORAN

(Baca: Matius 7:1-5)

waktu

       Elias dilahirkan dari keluarga miskin.  Di usia Sekolah Dasar, ia harus mengantar surat kabar pada waktu subuh dan setelah pulang sekolah. Tidaklah heran nilai pelajaran di sekolahnya sangat jelek.  Ayahnya mengijinkan Elias untuk menekuni dunia menggambar. Hasil gambarannya banyak ditolak di sana sini. Ia bahkan pernah dipecat karena dianggap tidak bisa menggambar dengan baik. Ketika usahanya mulai berhasil, ia ditipu oleh rekan kerjanya. Apakah hidupnya berarti gagal? Apakah masa depannya suram karena lahir dari keluarga miskin dan prestasi sekolahnya tidak baik?

       Elias atau nama lengkapnya Walter Elias Disney adalah pesohor kartunis yang terkenal di dunia. Bermula dari menggambar tikus yang diberi nama Mickey Mouse, kelak berdiri taman hiburan anak Internasional disney land, resort, hotel, televisi dll. Di akhir hidupnya, Elias (05 Desember 1901-15 Desember 1966) memiliki kekayaan lebih dari US $.20 juta. 55% diwariskan kepada keluarga dan 45% dipersembahkan untuk amal.

disney

       Banyak orang menilai dan menghakimi orang lain sebelah mata. Manusia sering kali diukur dari  besarnya kekayaan, tingginya pendidikan dan banyaknya prestasi keberhasilan. Setiap orang memiliki waktunya sendiri yang unik dan dipertanggung jawabkan kepada Tuhan kelak. Membandingkan diri dengan orang lain dapat menghasilkan tinggi hati atau rendah diri. Firman Tuhan mengingatkan kita bahaya menilai dan menghakimi orang lain dapat berakibat pada iri hati atau merendahkan orang lain. Sebaliknya meng-evaluasi diri adalah sikap yang bijaksana. Sebelum mengumpat, memaki, atau mengejek orang lain yang berbeda dengan kita; ada baiknya kita belajar mempertimbangkan dengan pertanyaan: Apakah Tuhan akan tersenyum atau kecewa dengan sikap saya? Apakah berita yang saya dengar adalah benar atau saya pikir mungkin benar? Apakah reaksi yang saya timbulkan lebih karena emosi atau menyuarakan kasih? Kiranya Tuhan menolong kita selangkah lebih maju lewat refleksi diri, motivasi hati dan cara menyikapi sesuatu dengan bijaksana. Amin.

SETIAP ORANG MEMILIKI WAKTUNYA SENDIRI YANG UNIK DAN DIPERTANGGUNG JAWABKAN KELAK KEPADA TUHAN