ASIAN GAMES INDONESIA

ASIAN GAMES INDONESIA

(Baca: II Timotius 2:5)

       Tidak bisa dipungkiri Asian Games sebagai pesta olah raga Asia ke-18 kali ini membawa spirit kebangsaan Indonesia yang sangat tinggi. Mengapa? Pertama, pertandingan ini adalah kali kedua digelar di Indonesia sejak 1962. Kedua, perhelatan yang terjadi di Jakarta dan Palembang (18 Agustus-02 September 2018) menghasilkan rekor medali emas terbanyak sepanjang sejarah atlit Nusantara berlaga  membawa harum nama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

       Jaman dahulu para atlit yang menang mendapatkan mahkota daun Zaitun tetapi tidak mendapat uang. Mengapa akar kata “atlit” dalam bahasa Yunani yang artinya “bersaing untuk mendapat hadiah”? apakah benar tidak dapat hadiah sama sekali dan hanya untaian daun Zaitun? Tidak juga. Mereka yang jadi pemenang mendapat pembebasan pajak, berhak status club istimewa dengan biaya ditanggung pemerintah, status kedudukannya di masyarakat meningkat dan juga tentunya ada sponsor dari orang-orang kaya.

       Jaman Now di Asian Games para atlit Indonesia yang mendapat medali emas tidak kalah luar biasanya, yakni uang dalam jumlah besar, rumah dan jaminan pekerjaan sebagai Apartur Sipil Negara. Ini belum terhitung dengan sponsor dan iklan yang bakalan mengontrak mereka kelak maupun bonus dari kebijakan pemerintah daerah setempat. Inilah penghargaan yang sudah seharusnya diberikan kepada juara kebanggaan kita.

       Hidup iman kepada Tuhan bisa diumpamakan seperti atlit yang berlomba di gelanggang pertandingan. Para peserta berusaha sedemikian keras berlatih, berlatih dan berlatih untuk mencapai tujuan utama yakni bertanding sesuai aturan dan menang. Tidak ada kata menang bagi yang tidak mengikuti aturan main apalagi curang. Dalam surat kepada murid rohaninya yang bernama Timotius, Paulus menyemangati agar hidup melakukan yang terbaik untuk Tuhan. Tuhan bukan saja sanggup menyelamatkan umat-Nya tetapi juga menjaga dan memelihara kehidupan umat-Nya.

       Hari ini setiap kita berada dalam pertandingan hidup. Pertandingan ini bukan menjatuhkan yang lain atau membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain tetapi berusaha yang terbaik mengikut Tuhan menjadi saluran berkat-Nya. Motivasi bukan dilihat manusia, tetapi Tuhan sebab kelak kita mempertanggung jawabkan hidup yang diberikan oleh-Nya. Bagaimana dengan berkat atau mahkota atau hadiah? Jangan kuatir! Jangan membandingkan dengan yang lebih dari Anda! Tuhan akan atur sesuai dengan waktu dan hikmat-Nya. Bagian kita adalah bersyukur dan mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita. Kiranya hidup kita memperkenan hati Tuhan dan membawa harum kemuliaan Tuhan dengan menjadi berkat bagi sesama. Amin.

 

Everyone who competes in the games goes into strict training … to get a crown that will last forever (1 Corinthians 9:25).

MENGURUS KTP ERA JOKOWI

MENGURUS KTP ERA JOKOWI

(Galatia 6:7)

tabur

       Apa kesan Anda mendengar frasa “mengurus KTP”? atau berurusan dengan birokrasi di pemerintahan era Jokowi? Inilah yang baru saja saya lakukan setelah Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang lama habis masa berlakunya. Sedikit terlambat, namun sama sekali belum terlambat untuk mengurus e-KTP baru. Dalam benak saya, selama ini kalau namanya berurusan dengan yang satu ini terkenal dengan kesan negatif: lama, bertele-tele, uang dan pelayanan yang jauh dari kata memuaskan. Bagaimana dengan era pemerintahan Jokowi?

       Pagi itu saya sengaja datang lebih cepat ke kelurahan dan mempersiapkan mental menghadapi apapun yang mungkin mengecewakan. Kalau dahulu, pembuatan KTP bukan saja lama tetapi juga perlu uang pelicin. Mengejutkan sekali di kantor Kelurahan tempat saya berdomisili, petugas tidak meminta sepeserpun dan melayani dengan baik untuk surat pengantar ke kantor Kecamatan. Sesampai di sana, antri sejenak dan langsung di foto, diambil sidik jari dan keluar surat keterangan KTP sementara sehubungan dengan blanko e-KTP yang kosong. Pelayanan yang baik, ramah dan cepat adalah bukti nyata bahwa memang ada perubahan sejak era Jokowi. Saya tidak tau bagaimana di daerah Anda. Bisa jadi sebaliknya. Silahkan berkomentar di kolom bawah.

       Pelayanan yang terbaik adalah natur dasar hidup manusia yang bermutu. Kerja yang asal-asalan bukan saja merugikan orang lain tetapi juga pada akhirnya diri sendiri. Dalam suratnya kepada jemaat di kota Galatia, Paulus mengingatkan bahwa apa yang kita tabur akan kita tuai. Sebagai orang percaya yang dimerdekakan oleh Kristus dari dosa dan neraka, kita dipanggil untuk menjalani hidup ini tidak asal-asalan. Entah sebagai tukang sapu, sekuriti, pegawai kantor ataupun pemimpin perusahaan maka setiap kita dipanggil untuk menunjukkan profesionalitas kerja terbaik. Itulah hakikat iman Nasrani, bukan tunggu berapa banyak uang masuk tetapi bekerja untuk menjadi berkat bagi sesama dan nama Tuhan dipermuliakan lewatnya. Apapun profesinya, apakah kita sedang memberikan pelayanan terbaik? Kiranya nama Tuhan dipermuliakan dan berkat Tuhan dinyatakan lewat apa yang kita tabur dalam hidup ini. Amin.

APA YANG KITA TABUR AKAN KITA TUAI, OLEH SEBAB ITU PELAYANAN YANG TERBAIK ADALAH NATUR DASAR HIDUP MANUSIA YANG BERMUTU.

e ktp

PENGHARAPAN YANG MENGUATKAN

PENGHARAPAN YANG MENGUATKAN

(Baca:Yohanes 3:14-15 )

wild snake desert

       Apa reaksi Anda ketika melihat ular? Terkejut? Takut? Ngeri? Atau justru suka? Sebagian orang mungkin langsung bilang, “enaaak! Haujeeek!” karena terbayang daging yang lezat. Sebagian orang lagi langsung merinding dan terbayang gigitan beracun yang mematikan. Inilah yang terjadi pada sebagian orang-orang Israel pada zaman Musa ketika dipagut ular beludak dan banyak yang menderita keracunan dan mati. Mereka sangat panik dan takut melihat begitu banyak ular sangat berbisa di padang gurun yang tengah memangsa umat Israel.

       Umat Israel yang tengah melihat ular beludak dan dipagut dengan racun yang ganas ini justru ada harapan disembuhkan cukup dengan beriman dan melihat patung ular buatan Musa (Bilangan 21:4-9). Pada zaman itu belum ada ditemukan obat manjur untuk menyembuhan gigitan ular beludak secara massal. Apa yang dilakukan Tuhan lewat hambanya Musa adalah kasus khusus yang tidak dapat dan tidak boleh menjadi pengajaran hurufiah seolah menyembah patung ular adalah benar (II Raja-raja 18:4). Memandang ular tembaga buatan Musa adalah lambang bahwa mereka dipanggil untuk percaya dan bersandar kepada Tuhan (I Korintus 10:9).

       Injil Yohanes kembali menekankan bahwa memandang ular tembaga dapat menghidupkan orang-orang yang terkena racun ular beludak, demikian pula memandang salib Kristus dapat menghidupkan orang-orang yang terkena racun dosa mematikan (Yohanes 3:14).

ular perunggu nebo

       Ketika hidup ini jadi sulit, berantakan dan menyeramkan; kepada siapa kita memandang? Apakah kepada orang tertentu yang kaya, berkuasa, dan berpengalaman? Apakah kita tergoda untuk mencari jimat, patung sembahan? Apakah kita tertantang untuk mengandalkan diri sendiri atau justru menggunakan keadaan tersebut sebagai kesempatan berjalan bersama Tuhan dan meminta hikmat-Nya untuk melangkah? Kiranya Tuhan menolong kita meningat bahwa Yesuslah yang harusnya menjadi prioritas utama dalam mencari pertimbangan hidup. Amin.

PENGHARAPAN BUKAN SEKEDAR MEYAKINI APA YANG KITA INGINKAN, TETAPI MENGIMANI BAHWA APA YANG TUHAN LAKUKAN ADALAH YANG TERBAIK