PEPAYA Rp.15,

Fotor_150484601543330

PEPAYA 15 RUPIAH

(Yakobus 4:14)

Fotor_150484601543330

       Waktu berjalan terus. Tidak terasa siang itu ketika selesai makan, disajikan sepiring buah pepaya yang sudah dipotong-potong. Buah itu belum terlalu ranum alias masih muda. Saya terkenang sewaktu kecil, kami bersama teman-teman tetangga mengadakan bazar. Setiap orang boleh berjualan sesuai dengan apa yang ada padanya. Ada yang jualan mainan bekasnya, ada yang jualan pisang, ada yang jualan minuman teh dan ada juga yang berjualan pepaya. Teringat benar dalam benak harga seporsi beberapa iris buah pepaya seharga Rp.15.

       Pengalaman bazar kecil-kecil an membentuk masing-masing kami untuk belajar mengenai realitas kehidupan, sistem perekonomian dan kerjasama dalam kebersamaan. Waktu itu tidak ada tujuan khusus berjualan ala bazar selain having fun (bersenang-senang). Jaman sekarang mana ada pepaya seharga Rp.15, ? Apa yang kita pelajari dan alami di masa lalu dapat menjadi pelajaran berharga di masa kini.

       Inilah yang coba dibagikan oleh Yakobus mengenai realitas kehidupan manusia. Manusia boleh berencana bahkan memiliki perencanaan yang sangat baik di waktu jauh ke depan, namun hanya Tuhan lah yang tahu dan dapat menentukan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Itulah sebabnya orang yang bijaksana akan melibatkan Tuhan dalam menjalani hari-harinya termasuk perencanaan masa depan. Kesombongan dan merasa diri sendiri sanggup tanpa Tuhan hanya akan menghasilkan kebodohan dan penyesalan pada akhirnya.

       Saya berandai-andai, kalau jaman dahulu seporsi kecil pepaya seharga Rp.15, bagaimana dengan seporsi pepaya saat ini di hotel berbintang atau restauran dengan daftar harga menu pakai US. Dollar? Kalau waktu itu kebun belakang di tanam beberapa pohon pepaya dan cari seller kelas atas, tentunya sekarang saya menjadi agen pedagang buah pepaya bukan pendeta. Ah, ada ada saja pendeta Jeffry. Melamun habis makan malam.

WAKTU BERJALAN TERUS, JANGAN LUPA TETAP LIBATKAN TUHAN DALAM SEGALA SESUATU.

MENGURUS KTP ERA JOKOWI

e ktp

MENGURUS KTP ERA JOKOWI

(Galatia 6:7)

tabur

       Apa kesan Anda mendengar frasa “mengurus KTP”? atau berurusan dengan birokrasi di pemerintahan era Jokowi? Inilah yang baru saja saya lakukan setelah Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang lama habis masa berlakunya. Sedikit terlambat, namun sama sekali belum terlambat untuk mengurus e-KTP baru. Dalam benak saya, selama ini kalau namanya berurusan dengan yang satu ini terkenal dengan kesan negatif: lama, bertele-tele, uang dan pelayanan yang jauh dari kata memuaskan. Bagaimana dengan era pemerintahan Jokowi?

       Pagi itu saya sengaja datang lebih cepat ke kelurahan dan mempersiapkan mental menghadapi apapun yang mungkin mengecewakan. Kalau dahulu, pembuatan KTP bukan saja lama tetapi juga perlu uang pelicin. Mengejutkan sekali di kantor Kelurahan tempat saya berdomisili, petugas tidak meminta sepeserpun dan melayani dengan baik untuk surat pengantar ke kantor Kecamatan. Sesampai di sana, antri sejenak dan langsung di foto, diambil sidik jari dan keluar surat keterangan KTP sementara sehubungan dengan blanko e-KTP yang kosong. Pelayanan yang baik, ramah dan cepat adalah bukti nyata bahwa memang ada perubahan sejak era Jokowi. Saya tidak tau bagaimana di daerah Anda. Bisa jadi sebaliknya. Silahkan berkomentar di kolom bawah.

       Pelayanan yang terbaik adalah natur dasar hidup manusia yang bermutu. Kerja yang asal-asalan bukan saja merugikan orang lain tetapi juga pada akhirnya diri sendiri. Dalam suratnya kepada jemaat di kota Galatia, Paulus mengingatkan bahwa apa yang kita tabur akan kita tuai. Sebagai orang percaya yang dimerdekakan oleh Kristus dari dosa dan neraka, kita dipanggil untuk menjalani hidup ini tidak asal-asalan. Entah sebagai tukang sapu, sekuriti, pegawai kantor ataupun pemimpin perusahaan maka setiap kita dipanggil untuk menunjukkan profesionalitas kerja terbaik. Itulah hakikat iman Nasrani, bukan tunggu berapa banyak uang masuk tetapi bekerja untuk menjadi berkat bagi sesama dan nama Tuhan dipermuliakan lewatnya. Apapun profesinya, apakah kita sedang memberikan pelayanan terbaik? Kiranya nama Tuhan dipermuliakan dan berkat Tuhan dinyatakan lewat apa yang kita tabur dalam hidup ini. Amin.

APA YANG KITA TABUR AKAN KITA TUAI, OLEH SEBAB ITU PELAYANAN YANG TERBAIK ADALAH NATUR DASAR HIDUP MANUSIA YANG BERMUTU.

e ktp

HIDUP MATI UNTUK TUHAN

roma148

HIDUP DAN MATI UNTUK TUHAN

(Baca: Roma 14:8)

roma148

       Pagi ini ketika saya menulis renungan ini, saya dikejutkan dengan kabar kedukaan. Seorang sesepuh di sebuah gereja lokal telah dipanggil Tuhan. Selama hidupnya, ada banyak pekerjaan Tuhan telah dilakukannya dengan luar biasa. Seorang bapak yang mengasihi Tuhan dan dikenal memiliki keluarga yang cita Tuhan pula. Fakta ada kehidupan dan kematian mengingatkan kita ditengah-tengah rutinitas dan kesibukan tiada henti, bahwa suatu saat segala sesuatu yang kita kerjakan akan dipertanggungjawabkan kepada Pencipta.

       Dasar pemikiran dan kepercayaan adanya hidup sesudah kematian inilah yang membuat rasul Paulus menuliskan moto hidup dan mati untuk Tuhan. Kepada jemaat di Roma pada waktu itu, Paulus mengingatkan entah kita berada di posisi sebagai orang yang lebih kuat atau lebih kaya maka kita dipanggil untuk hidup bagi Tuhan. Entah kita sebagai warga negara Indonesia ataupun warga jemaat sebuah gereja, kita dipanggil untuk hidup bagi Tuhan. Bagian kita bukan saling membandingkan satu dengan yang lain, apalagi saling menjatuhkan tetapi saling membangun dan berfokus pada menggenapi kehendak Tuhan bagi kita.

       Lebih dari 19 tahun sejak saya pertama kali melayani ibadah kedukaan. Setiap pelayanan saya berusaha mengerjakan dengan penuh hormat dan kesungguhan. Semuanya mengingatkan bahwa hidup manusia itu ada batasnya. Kehidupan adalah sebuah anugerah dan kematian adalah sebuah kenyataan yang ada tidak dapat ditolak oleh manusia. Tidak semua orang sakit pasti disembuhkan dan tidak semua orang meninggal pasti karena sakit. Raja Hizkia disembuhkan dari penyakitnya dan meninggal bukan karena sakit (2 Raja-raja 20:5-6). Nabi Elisa meskipun banyak mengadakan mujizat namun meninggal karena kelemahan fisik, yakni sakit (2 Raja-raja 13:14).

       Hari ini apabila Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk menjalani hidup, itu artinya sebuah kehormatan untuk hidup bagi Tuhan. Ada orang-orang yang menjadi rohaniwan penuh waktu, ada yang menjadi pebisnis, karyawan ataupun pengajar. Apapun profesinya, setiap kita dapat hidup untuk Tuhan dengan melakukan yang baik, yang benar dan yang mulia. Kiranya hidup kita berkenan di hadapan Tuhan, Amin.

KEHIDUPAN ADALAH SEBUAH ANUGERAH DAN KEMATIAN ADALAH SEBUAH KENYATAAN YANG TIDAK DAPAT DITOLAK OLEH MANUSIA

SPINNER ANAKKU

spinner

SPINNER ANAKKU

(I Korintus 10:31)

spinner

       Beberapa waktu lalu anak-anak saya membeli mainan spinner. Mereka begitu gembira dan berterima kasih kepada orang tua. Katanya, “bersyukur”.  Suatu kali salah satu anak kami melihat anak lain memiliki lebih dari satu spinner dan ia ingin punya spinner lagi.

       Dalam percakapan ayah dan anak, hari itu saya menjelaskan arti bersyukur dan mensyukuri apa yang ada pada kita bukan apa yang tidak ada pada kita. Inilah yang membedakan gaya hidup rohani dan duniawi. Gaya hidup duniawi contohnya melihat tetangga memiliki kulkas baru dan ia ingin punya juga padahal kulkas lamanya masih berfungsi baik. Gaya hidup rohani sebaliknya, Firman Tuhan mengajarkan hidup yang bebas tetapi bertanggung jawab untuk sesuatu yang berguna dan membangun.

       Hari ini meskipun banyak orang rajin ke tempat ibadah, tahu dan bahkan hafal ayat Kitab Suci tidak berarti dirinya bebas dari virus hidup duniawi. Paulus mengingatkan jemaat di Korintus agar memiliki moto hidup melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan. Apabila  frasa “untuk kemuliaan Tuhan” dirasa terlalu rohani dan jauh dari kegemaran hidup kita, maka itu pertanda bahwa virus duniawi menjangkiti kerohanian kita yang rapuh.

       Ingatlah, apa yang kita tabur akan kita tuai. Mari menabur dengan gaya hidup rohani yang memperkenan hati Tuhan. Bisa jadi wadah taburan itu adalah pekerjaan di kantor, mendampingi anak di rumah, kencan dengan pasangan hidup kita, atau mungkin pergi pelayanan misi menjangkau pelosok. Mungkin Anda berkata, “Tetapi… saya banyak dosanya dan banyak melakukan kesalahan. Apakah Tuhan masih memberikan kesempatan?” Selagi Anda dapat membaca tulisan ini, itu artinya Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk berubah, bertobat dan memulai lagi melakukan yang baik, benar, yang manis, yang berguna dan membangun. Selagi ada kesempatan mari membiasakan gaya hidup rohani. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin.

HIDUP BAGAIKAN SPINNER, SUATU SAAT AKAN BERHENTI BERPUTAR. BERBAHAGIALAH ORANG YANG MENGGUNAKAN HIDUPNYA DENGAN BAIK.