BELAJAR BERSAMA TUHAN

(Baca: Kejadian 5:18-27)

Pagi ini sewaktu merenungkan kisah Henokh, saya berpikir apa tujuan akhir dari belajar? Naik kelas? Mendapatkan gelar? diwisuda? atau mungkin lebih kekinian dapat pekerjaan impian dan gaji tinggi? Hidup Henokh boleh disimpulkan sebagai belajar bersama Tuhan. Ya, pembelajaran nya 350 tahun! Wisuda nya adalah ke sorga. Bonus nya, tidak mengalami kematian alias diangkat ke sorga. Asyik bukan?!

Secuil kisah Henokh sengaja diletakkan dari rentetan konteks pohon kehidupan manusia sejak Adam hingga nabi Nuh (Antediluvian/Pre Flood Era). Umur akhir hidup mereka masing-masing dicatat jelas, kecuali Henokh. Dari sana kita melihat pesan yang jelas bahwa angka harapan hidup manusia (life expectancy) terus merosot sejak dosa masuk dalam hidup manusia. Ya, bak kanker yang menggerogoti dengan sakit dan penyakit baik mental maupun jasmani.

Uniknya, bukan di jaman Adam umur tertinggi manusia (930 tahun), tetapi di jaman Metusalah (969 tahun), anak dari Henokh. Coba tengok ayah nya Henokh, Yared yang hidup selama 962 tahun! Apakah ada korelasi secara tidak langsung antara orang yang takut akan Tuhan dan belajar hidup di dalam Tuhan dengan umur panjang? Apakah ada keterkaitan secara tidak langsung antara orang yang saleh dibesarkan oleh orang tua yang takut akan Tuhan dan melahirkan generasi yang diberkati Tuhan? Sebaliknya, apakah ada sebab akibat orang yang hidupnya menjauh dari Tuhan atau jalan sendiri tidak melibatkan Tuhan atau berbuat jahat dengan kekacauan global dan umur pendek (relatif menurun angka harapan hidup)?

Saya mencoba untuk mengukur trend penurunan angka harapan hidup dengan data yang ada dari Adam sampai Salomo. Kerohnaian diukur dari angka 1-5, dimana 5 adalah belajar bersama Tuhan, tidak ada catatan perbuatan dosa yang fatal; angka 4 untuk pribadi yang setia tetapi ada waktu berbuat kesalah fatal seperti membunuh, berzinah; angka 3 untuk ukuran kerohanian di tengah-tengah ya duniawi tetapi juga rohani. Kehidupan yang relatif kacau. Angka 2 untuk hidup yang jauhh dari Tuhan, banyak pemberontakan dan perbuatan tercela tetapi di akhir ditandai pertobatan dan angka 1 untuk yang hidup dalam dosa dan tidak bertobat. Ini sebagai independen variabel dan dependen variabel adalah umur saat meninggal. Data diinput menggunakan perhitungan Regression Analysis lewat Phyton code. Hasil nya: angka coefficient negatif dan dapat diintepretasikan ada korelasi antara kerohanian yang buruk dengan angka harapan hidup yang lebih rendah.

Tentu saja banyak variabel yang tidak lengkap dan bisa terjadi confounding factor karena bias ataupun belum dikaitkan dengan tingkat kesehatan, gaya hidup sehari-hari termasuk nutrisi makanan, aktivitas olah raga, pendidikan, gender, dan lain sebagai nya. Ini hanya gambaran sederhana mengenai untuk melihat bahwa orang yang belajar bersama Tuhan memiliki hidup yang lebih baik.

Sudah banyak penelitian serupa mengenai orang yang memperhatikan hal kerohanian berdampak positif, seperti: berkutat dalam hal religius diasosiasikan dengan kesehatan fisik dan mental yang lebih baik; orang yang menghadiri acara religius seperti beribadah di Gereja cenderung memiliki angka mortalitas yang lebih rendah 5-10 tahun; kegiatan rohani melibatkan sejumlah orang berdampak pada dukungan sosial (social support), merasa bagian dari komunitas (sense belonging community) dan berbagi kegiatan ritual. Ini semua berdampak pada mengurangi stress (reduce stress), memberi semangat hidup yang lebih sehat, mencegah perilaku buruk (discourage harmful behavior) dan menguatkan kesehatan mental dan fisik. Belajar bersama Tuhan seringkali dikaitkan dengan kerohanian vertikal dan berdampak pada horizontal sesama.

Saya rasanya ingin diskusi dan bertanya kepada Henokh, apa apa saja yang telah dipelajari selama 350 tahun bersama Tuhan? Apakah banyak belajar membuat dia menjadi malaikat dan jauh dari realitas kekurangan manusia atau justru sebaliknya dalam kelemahan kuasa Tuhan semakin nyata dalam anugerah-Nya? Rahasia dan tips apa agar bisa sukses belajar sewaktu bersama Tuhan? Di Alkitab dituliskan Henokh “diangkat” (לָקַח) ke sorga (Kejadian 5:24). Kata ini mengandung arti yang sangat dalam, baik oleh pribadi Ilahi yang berinisiatif memberikan kenaikan kelas, memberkati, mendapat anugerah spesial termasuk di dalam nya penebusan. Belajar bersama Tuhan memang luar biasa! Bukan karena manusia nya, tetapi karena Tuhan yang luar biasa mau memberkati. Saya pikir Henokh ini setara pendidikan doktoral yang sudah jadi professor. Kalau ditanya, apakah 350 tahun studi doktoral membuat dia jadi luar biasa hebat? Saya ber imajiner, Henokh menjawab, “Ah, tidak Jeff. Bisa aja kau ini! Semua karena anugerah Tuhan. Saya ini cuman pembelajar. Namanya juga belajar bersama Tuhan bukan bermain menjadi Tuhan apalagi sok menyebut lebih tau dari Tuhan.


BELAJAR BERSAMA TUHAN BUKAN UNTUK KESOMBONGAN DIRI, TETAPI UNTUK MENGERTI SEDIKIT LEBIH TENTANG ANUGERAH-NYA.

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

SEMUA BAIK

SEMUA BAIK

(Baca: Kejadian 50:20)

Suatu malam seorang pemuda pulang dari tempat nya bekerja dan melewati sebuah jalan remang-remang di malam hari. Ia melihat seorang pemabuk sedang terhuyung huyung sambil membungkukan kepala mencari sesuatu. Pemuda ini bertanya kepada pemabuk tersebut, “Bapak sedang mencari apa? Apakah ada yang hilang?”, dijawab pemabuk ini, “Oh ya, saya mencari kunci rumah ku yang jatuh dari kantong celana.” Sang pemuda kontan membantu mencari dan mencari tetapi tidak menemukan.

Kemudian pemuda ini bertanya lagi, “Apa bapak yakin kunci tersebut jatuh dari kantong celana? Tampak nya tidak ada di sini. Kira kira tadi jatuh nya di mana ya?”, Pemabuk itu menjawab, “Tadi jatuh di seberang sana.”. Kontan pemuda ini kaget dan berkata, “Lah, ngapain bapak cari di sini kalau jatuhnya di seberang jalan sana?”. Pemabuk ini ketawa dan berkata, “Sebab di sini lebih terang dekat lampu jalan. Di sana gelap tidak ada penerangan lampu”. Pemabuk kemudian sambil tertawa terbahak bahak berjalan pergi.

Jatuh nya di sana koq cari di sini? Manusia cenderung membandingkan diri dengan orang lain. Ada yang terburu buru menyalahkan pihak lain tanpa mengevaluasi diri. Ada pula yang lebih suka menuduh penyakit akibat ulah Iblis padahal kita lah yang kurang menjaga kesehatan. Masalah besar menimpah yang disalahkan Tuhan, kenapa tidak menjaga dan memberkati, padahal setiap hari keputusan diambil secara ceroboh dan dengan motif nafsu duniawi.

Berbeda hal nya dengan Yusuf yang sudah ditempah Tuhan dari nol sampai sukses. Perkataan yang keluar dari mulutnya adalah sari dari hidup berjalan bersama Tuhan. Ia pernah naif sewaktu kecil di tengah tengah keluarga besar nya. Bermimpi boleh boleh saja, tetapi penyampaian tanpa hikmat menimbulkan efek yang tidak perlu. Yusuf pernah dikhianati, dijual, difitnah bahkan dilemparkan ke dalam penjara yang gelap dan kotor. Kendati demikian, ia tidak menyalahkan Tuhan dan menyimpan dendam dan kebencian. Yusuf belajar melanjutkan hidup dengan tau belajar menempatkan diri. Ia keluar sebagai pribadi yang tidak menyimpan dendam, memaafkan dan bahkan mengasihi. Jatuh nya di sana dan cari  nya di sana. Inilah yang disebut tepat sasaran.

Mari belajar dari Yusuf dengan melihat hidup ini dari persepektif Ilahi. Manusia bisa saja mereka rekakan yang buruk, negatif bahkan putus asa; tetapi bila kita berjalan bersama Tuhan maka yang di depan tersedia pengharapan, kebaikan dan keberhasilan. Adalah lebih baik mulai dari Nol dan tidak punya apa-apa yang dibanggakan tetapi berjalan bersama Tuhan dari pada memiliki segala nya tetapi berjalan sendiri tanpa Tuhan. Kiranya Tuhan menolong setiap kita, Amin.

ALLAH TURUT BEKERJA DALAM SEGALA SESUATU UNTUK MENDATANGKAN KEBAIKAN
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

379 SELAMAT SEMUA

379 SELAMAT SEMUA

(Baca: Yosua 1:8)

Tolong segera buka pintu (darurat) nya!” Teriak seorang anak di dalam pesawat yang sedang terbakar. Penerbangan pesawat JAL 516 dari New Chitose, Hokkaido pada 2 Januari 2024 sekitar pukul 6 sore menyisahkan isak sedih dan haru pada peristiwa kecelakaan tabrakan dengan pesawat Japan Coast Guard yang sementara membawa bantuan logistik bagi korban gempa dan tsunami sehari sebelum nya pada Tahun Baru 1 Januari 2024.

Ya, hari sebelumnya kami sekeluarga di Jepang merayakan Tahun Baru dengan kejutan datang nya gempa 3 SR. Letak pusat bencana cukup jauh dari tempat kami, yakni di area semenanjung Noto, Prefektur Ishikawa 7,6 S.R. Kendati demikian hari itu pukul 4 sore hampir seisi Jepang terkena gempa bumi. 100.000 orang yang tinggal di wilayah rawan tsunami di pesisir utara harus mengungsi, ribuan rumah hancur akibat gempa, sebagian hilang, sebagian dirawat di Rumah Sakit dan yang lain nya ditemukan meninggal dunia. Inilah latar belakang konteks betapa mengejutkan nya peristiwa hari kedua musibah di bandara Haneda, Jepang.

Pesawat JAL bertipe Airbus A350 keluaran terbaru ini di isi hampir penuh penumpang karena memang musim liburan. Seperti hal nya kalau di Indonesia orang-orang mudik pada saat lebaran, kalau di Jepang warga nya mudik pada saat Tahun Baru. Dari 379 penumpang, semua nya selamat! Waktu tempuh keluar dari pesawat melalui 2 pintu darurat adalah sekitar 90 detik! Para pakar Aviasi termasuk professor dari berbagai universitas bidang penerbangan memberi komentar: “Ini adalah mujizat!”; “Ini adalah karena orang Jepang mengikuti instruksi! Budaya orang Jepang antri dan tertib mengikuti aturan lah yang menyelamatkan mereka”; “Luar biasa, selamat kepada para awak kabin yang melakukan tugas nya dengan hebat!”. Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan karena mereka mengikuti instruksi dengan tepat (follow instruction).

Jadi teringat dengan pesan Tuhan kepada Yosua ketika mulai menjalankan fungsi nya sebagai pemimpin umat Tuhan menggantikan Musa. Ikuti instruksi Firman Tuhan dengan teliti, maka engkau akan selamat, berhasil dan diberkati. Bila instruksi penerbangan dibuat oleh para pakar dan ilmu nya diuji dan diteliti puluhan tahun, apalagi instruksi Firman Tuhan yang sudah di uji dan diteliti ribuan tahun. Hari ini kita perlu mengevaluasi beberapa hal: Apa makna hidup manusia yang sementara ini?  Untuk apa manusia ada dan hidup di dunia ini? Bagaimana memperoleh keselamatan? Apa tujuan hidup dan bagaimana seharus nya menggunakan hidup dengan bijaksana?

Saya berdoa: Kiranya Tuhan menghibur dan menguatkan keluarga yang berduka akibat musibah kecelakaan dan bencana alam, untuk mereka yang dirawat di Rumah Sakit agar cepat pulih dan sehat kembali, yang rumah dan usaha nya hancur akibat bencana dapat bangkit kembali. Kiranya Injil Keselamatan hidup boleh terus diberitakan di Jepang! Setiap kita yang masih diberikan kesempatan hidup hingga saat ini, tentu ada rencana dan maksud Tuhan. Kiranya Tuhan menolong setiap kita, Amin.

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

SIMPLE WAYS TO BECOME GOD’S BLESSING

(Baca: Efesus 2:10)

Terkadang dari hal sederhana kita bisa memahami sapaan Tuhan kepada kita. Itulah yang saya alami pagi ini lewat kehadiran orang yang cacat. Jadi cerita nya, pagi ini saya turun dari sebuah gedung menggunakan lift. Beberapa detik kemudian lift terbuka, dan saya lihat ada orang cacat dengan ditandai tangan dan kaki tidak sempurna.

Saya keluar dari lift itu dengan asumsi sudah tiba di lantai 1, tempat parkir sepeda. Bapak yang cacat ini kemudian berbicara kepada saya. Saya kurang mengerti ia berbicara apa karena ia mengatakan dengan tidak jelas alias pelat (kurang sempurna mengucapkan kata-kata). Beberapa kalimat beliau ucapkan tetapi tidak juga saya mengerti. Hanya satu kata yang saya mengerti, “empat”.

Akhirnya, bapak ini masuk lift dan saya keluar lift. Waktu saya lihat tanda di lift, baru lah saya mengerti bahwa saya masih berada di lantai empat dan belum mencapai lantai tujuan yakni lantai satu. Saya sadar dan segera masuk kembali sambil menertawakan diri sendiri. Konyol sekali diri ini, sibuk dengan pikiran pikiran mau berbuat apa saja pagi ini sampai tidak sadar kalau belum saat nya keluar dari lift.

Ku tatap wajah bapak cacat ini dan sambil tersenyum, saya menyampaikan terima kasih atas kebaikan nya. Rupanya dari tadi bapak ini sudah berusaha berulang kali mengingatkan masih di lantai empat. Baik sekali orang ini.  Pagi ini, beliau jadi berkat buat saya.

Hal sederhana seperti mengingatkann dan menyapa dengan ramah itu penting, apalagi di era modern banyak orang tidak peduli satu dengan yang lain. Banyak orang lebih suka membiarkan dan tidak berurusan. Banyak orang tidak saling sapa dan tidak peduli. Sungguh era modern yang tersesat, sakit dan menuju kebinasaan.

Hari ini Firman Tuhan lewat Efesus 2:10 mengingatkan kita akan siapa diri kita dan apa panggilan kita sebagai ciptaan baru. Tuhan mau kita hidup menjadi saluran berkat buat sesama. Menjadi ramah terhadap orang lain, termasuk keluarga, tetangga, rekan, bahkan orang asing adalah hal sederhana yang bisa kita lakukan sebagai orang Nasrani. Dunia yang sudah keruh, gelap dan lelah ini butuh terang dan garam. Anda dan saya lah dipanggil untuk hal ini. Kiranya Tuhan menolong kita jadi saluran berkat-Nya. Amin.

BEING NICE TO OTHERS IS THE SIMPLE WAY TO BECOME GOD’S BLESSING.

Jeffry Sudirgo
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail