ULANG TAHUN KE-17

Ulang Tahun ke-17
Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Yohanes  15:5
17
Siapakah yang tidak kenal dengan perayaan ulang tahun pada usia 17? Hampir semua remaja tidak asing dengan istilah ini.  Entah mereka sendiri ataupun temannya yang mengadakan ulang tahun, bisa dikatakan sebagian besar remaja usia ini pernah menikmati pesta sweet seventeen.
Kado adalah bagian yang menyemarakkan acara ulang tahun itu sendiri.  Bukan suatu kewajiban bagi mereka yang diundang, tetapi secara tidak langsung tradisi memberi hadiah terus berlaku di berbagai tempat dan acara.  Ada kalanya justru pihak yang berulang tahun memberikan sejumlah hadiah kepada undangan.
Selain kado, juga adalah acara potong kue dan permainan yang melengkapkan sweet seventeen.  Semuanya dibuat untuk sukacita dan kegembiraan bersama khususnya remaja yang berulang tahun.
Di balik semua kemasan perayaan ulang tahun, ada dua perbedaan mencolok yang umumnya dilakukan oleh orang yang mementingkan dimensi rohani.  Perbedaan itu adalah: ada doa sebelum makan ataupun bahkan ibadah, sementara yang tidak mementingkan dimensi rohani lebih menekankan pesta bahkan tidak jarang adanya diskotik kecil-kecilan.
Hal menarik dari sejumlah perayaan, yakni mengundang rohaniwan entah pendeta atau penginjil untuk datang menghadiri, mendoakan bahkan memimpin kebaktian pengucapan syukur.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Yesus mengenai orang percaya berbuah bila dekat dengan Tuhan.  Kesempatan ulang tahun bukan sekedar perayaan dan pesta tetapi dilihat dari sudut pandang Firman Tuhan: berbuah.  Perayaan ulang tahun menjadi sarana pengucapan syukur kepada Ilahi sekaligus pelayanan dengan menjadi saluran berkat. Melalui renungan Firman Tuhan, sejumlah remaja lain boleh diberkati dalam perayaan ulang tahun.  Melalui pembagian makanan kepada yatim atau orang-orang yang membutuhkan telah membuat Tuhan tersenyum, hati gembira dan lega dalam perayaan ulang tahun.
Memang berbeda antara orang yang di dalam Kristus berbuah dengan orang yang mengaku Kristen tetapi tidak menyentuh dimensi spiritual.  Apapun yang dilakukan orang yang melihat dari dimensi rohani—entah acara ulang tahun, pernikahan, kelahiran, kedukaan—cenderung menghasilkan buah bagi kemuliaan nama Tuhan, menghasilkan kepuasaan lebih besar dalam bersyukur dan keefektivitasan makna perayaan itu sendiri.  Kiranya kita semua boleh belajar melihat perayaan hidup dari sudut rohani.  Tinggal dalam Kristus dan berbuah lebat… lebat… hingga banyak orang boleh menikmati buah yang nikmat, harum dan enak!
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

SULITNYA MENCARI PEKERJAAN

SULITNYA MENCARI PEKERJAAN
Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.   Matius 20:16
Seorang bapak menceritakan betapa bersyukurnya ia atas berkat Tuhan.  Anaknya mendapat pekerjaan setelah beberapa waktu menunggu dan mencari lowongan.  Bukan saja dapat pekerjaan yang baik dan cocok, ada uang makan, uang cuti, gaji bulan 13, masih pula ditambah dengan uang pakaian dan fasilitas perumahan.
Ada pula seorang bapak yang mengeluh dan merasa hampir putus asa setelah sekian lama mencari pekerjaan tidak ada yang menerimanya.  Kalaupun ada pekerjaan, itu bersifat orderan sekali-kali setelah itu sepi.  Ia merasa terus berdoa dan berusaha, tetapi tidak ada hasilnya.
Bila melihat kedua contoh di atas, boleh dikatakan: mencari kerja jaman sekarang ini gampang-gampang sulit.  Dikatakan gampang karena ada banyak pekerjaan dan usaha yang dapat dipilih di tengah-tengah banyaknya bidang usaha.  Dikatakan suit, karena memang mencari pekerjaan saja sukar ditemukan apalagi mencari pekerjaan yang cocok, penghasilan tinggi dan segala jaminan yang memadai.
Inilah yang terjadi pada perumpamaan yang diceritakan Yesus Kristus tentang Kerajaan Allah (Matius 20:1-19).  Seorang tuan rumah mencari pekerja dengan UMR (Upah Minimum Regional) yang layak.  Saat itu, banyak orang menganggur, tetapi lowongan pekerjaan sedikit.  Kemudian ia merekrut pekerja lain pk.09,00, 15.00 dan 17.00. Semuanya bekerja satu hari tetapi mendapat upah harian yang sama.
Pada sore hari ketika semua buruh menerima upahnya, mereka protes.  Buruh yang bekerja dari pagi hingga sore mendapat upah sama banyak dengan mereka yang hanya bekerja sebentar saja.  Tuan rumah ini menjawab: “Apa urusanmu?  Apakah saya bertindak tidak adil?  Setiap orang mendapat upah layak sesuai dengan kasih karunia masing-masing.  Jikalau saya mau bayar lebih seseorang dan membayar standar kepada yang lain adalah kemurahanku.  Apakah kamu marah karena saya murah hati?”
Uniknya dalam cerita ini adalah gambaran orang-orang disekitar kita yang iri terhadap prestasi dan berkat orang lain.  Tuan rumah berlaku sangat adil bahkan bermurah hati terhadap beberapa orang.  Pertama, ia memberi upah kepada setiap pekerja sesuai UMR.  Kedua, ia terus menambah pekerja karena banyak yang menganggur.  Kesempatan diberikan, yang pertama akan menjadi terakhir dan yang terakhir akan menjadi pertama.
Seperti halnya mendapat pekerjaan adalah anugerah, melayani Tuhan pun adalah anugerah.  Ketika Tuhan memberikan kesempatan seseorang mendengar Injil dan dipanggil untuk melayani, itu adalah berkat! 
Banyak orang mungkin sudah mendapat pekerjaan bahkan dengan keadaan yang sangat makmur, namun statusnya dihadapan Tuhan adalah pengangguran rohani.  Jiwanya diperbudak oleh dunia.  Mereka diberikan kesempatan pertama, tetapi tidak mengindahkan untuk ambil bagian dalam pelayanan.  Setelah itu ditawarkan kepada orang lain dan mereka menerima dengan sungguh dan baik.  Di hadapan Tuhan kelak—sekalipun orang percaya—orang itu akan menjadi terakhir karena meremehkan anugerah Tuhan!
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

NAFSU ATAU CINTA

Nafsu atau Cinta?
(Baca: II Samuel 13)
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.  Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.  Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. I Korintus 13:4-7
Pernah lihat film lucu dan romantis berjudul Cinderella Story.  Film ini berkisah tentang seorang gadis remaja cantik tetapi miskin yang ditaksir remaja rupawan lagi kaya.  Banyak gadis menyukai cowok ini karena selain baik, cool, juga pewaris harta dan usaha orang tuanya.  Film ini mengetengahkan tentang cinta sejati dan cinta palsu.
Cinta sejati melihat karakter/kepribadian, cinta palsu hanya melihat  kecantikan/ketampanan.  Cinta palsu menuntut kepuasan segera dan tergila-gila (tidak pikir panjang), cinta sejati mau menunggu dan berkembang sejalan proses pengenalan.  Cinta sejati tidak sama dengan nafsu.
Kisah cinta serupa juga terjadi di keluarga kerajaan Daud.  Amnon yang menyebut dirinya sedang dimabuk cinta sedang “sakit” karena Tamar adik Absalom.  Dengan berpura-pura sakit, Amnon minta Daud mengutus adik Tamar yang sangat cantik itu untuk membuatkan kue enak.  Setelah kue itu jadi dan dibawa sendiri oleh Tamar, Amnon langsung memperkosanya.
Ada kemungkinan bahwa sebelumnya Tamar juga tertarik dengan Amnon.  Pertama, Tamar bukannya menolak kawin dengan Amnon tetapi tidak mau berdosa dengan melakukan percabulan.  Tamar bersedia dinikahi Amnon dengan cara yang tepat dan benar.  Ke dua, Tamar merasa sangat sakit hati sewaktu diusir oleh Amnon.  Pasal 13:16 tidak menjelaskan betapa pahit dan pedihnya perasaan Tamar karena diperkosa, tetapi karena dicampakkan.
Amnon sebenarnya bisa mendapatkan cinta Tamar jikalau ia mengendalikan nafsu tubuhnya.  Amnon menyebut keadaannya kepada Yonadab sebagai cinta, tetapi itu sebenarnya nafsu.  Jika Amnon memiliki cinta sejati, maka ia akan sabar dan mengikuti prosedur pernikahan dengan mendatangi orang tua Tamar.  Cinta sejati menjaga kekudusan.  Cinta sejati tidak mementingkan diri sendiri.  Cinta sejati perduli pada perasaan dan keadaan orang yang dicintainya.
Bagaimana keadaan Anda saat ini: sedang jatuh cinta atau menjalin asmara dengan kekasih Anda?  Lihat dan pikir baik-baik perbedaan antara cinta dengan nafsu.  Cinta membawa kebaikan bersama.  Nafsu membawa kepuasan sesaat dan diakhiri dengan kekosongan, penyesalan dan banyak kerugian.
Sudahkah Cinta yang benar menjadi bagian hidup sehari-hari Anda?  Ataukah kebiasaan Anda adalah nafsu seperti: pikiran ngeres, bacaan porno, omongan kotor, lingkungan mesum?  Jika Anda membiasakan hidup dalam cinta, maka godaan nafsu tidak akan menguasai hidupmu.  Hidup dalam cinta adalah (I Korintus 13:4-7): sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, sopan, tidak egois, tidak dendam, bersukacita karena kebenaran dan yang paling pentig bergaul bersama Sang Kasih itu sendiri: Yesus Kristus (I Yohanes 4:7-12).  Manakah yang Anda pilih mulai hari ini: Membiasakan hidup dalam nafsu atau kasih?  Kiranya Tuhan menolong kita hidup daam cinta-Nya.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

BERIKAN TELADAN DULU DONK!

BERIKAN TELADAN DULU DONK!
Segera setelah perintah ini tersiar, orang Israel membawa dalam jumlah yang besar hasil pertama dari pada gandum, anggur, minyak, madu dan segala macam hasil bumi. Mereka membawa juga persembahan persepuluhan dari segala sesuatu dalam jumlah yang besar.
II Tawarikh 31:5
Saya pernah mendengar orang tua melarang anaknya untuk merokok sementara dia sendiri merokok seperti asap kereta api sepanjang jalan.  Tidaklah heran perkataan-perkataan seperti ini sering didengar tetapi sulit untuk dilakukan.  Orang yang memberikan pengajaran dan instruksi harus disertai dengan keteladanan.
Inilah yang dilakukan Hizkia, raja Yehuda di dalam menjalankan roda pemerintahannya.  Ia tidak memulai dengan ketamakan untuk mencapai kemajuan negaranya.  Ia merendahkan diri dan mencari Tuhan yang memimpin masa depan bangsanya.
Hizkia memberikan jumlah persembahan yang sangat banyak yang belum pernah terjadi setelah masa pemerintahan raja Salomo.  1000 ekor lembu jantan dan 7000 ekor kambing domba (II Taw.30:23).  Tindakan memberikan persembahan yang besar bagi Tuhan ini diikuti oleh para pemimpin.
Jelaslah ada suatu kaitan antara bagaimana raja Hizkia, para pemimpin memberikan teladan hidup dengan ketaatan rakyat Israel memberikan persembahan bagi Tuhan.  Ketika para pemimpin, rohaniwan dan pengurus gereja memberikan hati yang sungguh bagi pelayanan, tidak hitung-hitungan dalam pelayanan, maka pekerjaan Tuhan di gereja itu akan dibangunkan seperti jaman Hizkia.
Sewaktu SMA, saya pernah mengikuti ret-ret perpisahan kelas 2.  Waktu itu yang putra tidur di ruangan yang besar beramai-ramai.  Seperti barak yang digelar tempat tidur, banyak yang istirahat bersebelahan.  Sebelum tidur saya berdoa.  Rupanya tindakan ini diikuti pula oleh beberapa teman yang tadinya sudah dalam posisi tidur.
Satu orang yang melihat saya berdoa, bangun dan tidak lama juga ikut berdoa kemudian melanjutkan tidur.  Saya senang melihat sejumlah teman juga melakukan hal demikian di hari berikutnya.
Perbuatan kita memberikan efek bagi orang lain.  Memberikan pengaruh dan dipengaruhi adalah bagian dari hidup berkomunitas.  Apa yang dikerjakan di dalam kebenaran Firman Tuhan memberikan efek yang lebih besar dengan perbuatan dari perkataan.  Biarlah kita boleh belajar dari Hizkia, seorang raja muda yang rendah hati dan takut akan Tuhan.  Kiranya Tuhan menolong kita dan menjadikan kita saluran berkat bagi orang-orang di sekitar kita.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail