BAGAIMANA MENGASAH PISAU HIDUP DENGAN TEPAT?

BAGAIMANA MENGASAH PISAU HIDUP DENGAN TEPAT?
(Baca: Matius 25:14-30)
“Maka kta tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.  Masuklah turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”  Matius 25:21
Diceritakan, si Lugu sedang bersusah payah menebang pohon yang dari beberapa jam tidak juga tumbang.  Kemudian lewatlah seorang bijaksana dan mengamati apa yang tengah dikerjakan si lugu ini.  Sang Bijaksana kemudian mendekat dan bertanya: “Sepertinya Anda sedang mengalami kesulitan menebang pohon ini.  Apakah Anda sering mengasah kapak itu?”  Mendengar pertanyaan itu, si Lugu menjawab: “Ah, saya tidak ada waktu untuk mengasah kapak.  Pekerjaan memotong beberapa pohon saja sudah memakan waktu seharian, apalagi menghabiskan waktu mempercantik kapak jelek ini!”  Sang Bijaksana kemudian mengeluarkan kapaknya dari tas yang dipegangnya.  Ia mengambil beberapa menit memotong pohon dengan kapaknya.  Sekejap jatuh.
Si Lugu kagum melihat kapak yang tajam dan kuat.  Ia kemudian mengatakan: “Wah, Anda pasti baru beli kapak mahal ini ya..!  Kapak jelek saya sudah 2 tahun dan sekarang makin tidak tajam.”  “Kapak ini sudah 20 tahun, tahukah Anda, apa rahasia kapak ini bisa tetap tajam?  Gampang, sediakan waktu untuk mengasahnya.”
Jika kita simak kisah di atas, maka mungkin dalam hati akan mengatakan “bodoh sekali si Lugu ini!”  Pisau manapun bagusnya, jika tidak terus diasah akan kehilangan ketajamannya semula.  Banyak orang menghabiskan waktu hidupnya dengan “menebang pohon” (bekarya) tanpa menyediakan waktu cukup untuk mengasah “pisau hidupnya” (keterampilan).  Ada juga orang yang menggunakan banyak waktu untuk ikut seminar ini dan itu, bahkan berbagai kursus yang dipikirnya sebagai mengasah “pisau kehidupan”, tetapi tidak pernah dapat hasil yang maksimal atau memuaskan.
Firman Tuhan dalam Matius 25:14-30 menceritakan bagaimana seharusnya manusia hidup, apa yang diperlukan untuk mengasah secara efektif/maksimal pisau hidupnya.  Semuanya dipaparkan oleh Yesus Kristus dalam perumpamaan seorang yang hendak pergi ke luar negeri dan mempercayakan hartanya kepada sejumlah orang.
Apa yang dikatakan Yesus pada waktu itu adalah gambaran untuk menjelaskan implikasi dari Kerajaan Allah.  Mereka yang percaya dan meresponi akan mendapat keselamatan Allah, sedangkan mereka yang tidak percaya, tidak setia dan lebih takut dunia dari pada Allah akan mendapat penghukuman.  Perumpamaan ini dipakai untuk mengajar, menegur dan menasihati bagaimana setiap orang mengerjakan kehidupannya.
Setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kebenaran ini mengenai bagaimana kita harus menggunakan dan mengasah pisau kehidupan ini.
1.      Talenta yang diberikan Tuhan kepada setiap orang sesuai dengan porsinya (ay.14-15).
Tuhan memberikan setiap orang kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang berguna, membangun dan baik adanya, termasuk setiap Kristen diberikan-Nya talenta.  Jumlah talenta/bakat/karunia Tuhan ini berbeda untuk setiap orangnya.  Minimal setiap orang mempunyai satu talenta untuk dikerjakan, dikembangkan dan dipertanggung jawabkan kepada Tuhan Pencipta Alam.
Talenta yang Tuhan berikan kepada setiap orang percaya bukan tanpa tujuan apalagi dikerjakan dengan asal-asalan.  Setiap orang yang hidup wajib mengerjakan kehidupannya dengan tujuan memuliakan Sang Pencipta.  Setiap karya yang dikerjakan dengan asal-asalan adalah suatu kesalahan dalam menjalani dan menghayati arti hidup ini.
Hal ini bukan berarti setiap orang—entah itu berkarier, studi, pelayanan, dst—harus bekerja sebanyak mungkin di berbagai bidang atau bekerja tanpa memperhatikan keseimbangan hidup.  Keaktifan adalah baik apabila di dasarkan pada pengerjaan talenta yang Tuhan sudah tanamkan pada manusia.
Itulah sebanya mengasah pisau hidup yang efektif adalah spesialisasi.  Setiap pelayanan, pengerjaan apapun bentuknya tidak didasarkan pada berapa banyak waktu, jumlah, ataupun bidang yang dipelajari, namun pada motivasi hati yang benar dan bertolak dari kemampuan yang Tuhan berikan. 
Di sinilah perlunya untuk tidak bersikap lebih hebat atau lebih pandai dalam mengerjakan sesuatu.  Ada orang yang diberikan talenta pandai dalam berpikir, merencanakan, maupun mengkalimatkan dalam teori.  Ada juga yang diberikan talenta dalam mengelolah materi untuk dijadikan hasta karya.  Ada juga yang diberikan talenta dalam menjangkau dan mendekati seseorang untuk suatu tujuan.
2.      Cara yang paling efektif untuk spesialisasi talenta adalah dengan: investasi, mengerjakan dan melipatgandakan apa yang Tuhan sudah berikan (ay.16-18).
Pengertian investasi dalam mengasah pisau kehidupan adalah menyediakan waktu, tenaga dan prioritas untuk pengembangan bakat.  Contohnya orang yang memiliki talenta musik, dapat mengivestasikan waktunya dengan menyediakan 2 jam setiap hari untuk belajar piano. 
Pengertian mengerjakan dalam mengasah pisau kehidupan adalah berkarya, menggeluti dan berpengalaman di dalam talenta yang ada padanya.  Contohnya menulis artikel untuk mereka yang talentanya di bidang literatur.
Pengertian melipat gandakan dalam mengasah pisau kehidupan adalah membuat apa yang sedang dikerjakan jadi berkat bagi lebih banyak orang.  Misalanya melalui training kepada person-person, melalui publikasi media massa, melalui sinergi dengan sejumlah orang yang berbeda keahlian.
3.      Kegagalan hidup dimulai dengan bekerja tanpa fokus kepada talenta yang Tuhan sudah berikan (ay.18-30).
Menyimpan bakat adalah dosa besar yang membuat hidup paling tidak efektif.  Menyimpan bakat dari Tuhan dan tidak mengerjakan maupun mengembangkannya adalah orang tidak baik dan tidak setia.  Orang tersebut dikatakan tidak baik bila hanya mengerjakan talenta untuk kemuliaan sendiri.  Orang yang tidak setia adalah orang yang tidak terus menerus mengembangkan talentanya (sebentar ini, sebentar itu).
Menyimpan bakat dengan asumsi Tuhan yang jahat dan pemaksa adalah mental kebodohan.  Tuhan tidak marah jika kita tidak mengerjakan banyak kegiatan atau bahkan aktivitas pelayanan yang bukan menjadi bidang/talenta kita.
Ketakutan adalah bentuk pemikiran dan sikap mental yang menghambat keberhasilan diri bahkan menghancurkan pemenuhan kehendak Allah dalam diri kita (ay.25).  menyimpan bakat karena taktu adalah sedang menghancurkan diri.
Anda ingin mengasah pisau hidup dengan tepat?  Mulailah bersama dengan Tuhan.  Kerjakan bagian Anda sesuai dengan talenta dan visi yang Tuhan titipkan.  Ingat, biasa terjadi adalah tipis perbedaan antara ambisi dan visi dari Tuhan; tipis perbedaan antara mengerjakan apa yang kita mau dengan yang Tuhan mau.  Oleh sebab itu pastikan bahwa Anda berjalan bersama dengan Tuhan walau kelihatan suram dan tidak jelas langkah ke depan.  Lebih baik berjalan bersama Tuhan di dalam ketidakpastian dari pada berjalan sendiri di dalam “kelancaran” tanpa Tuhan.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

JANGAN KETINGGALAN

Jangan Ketinggalan
(Baca: Kejadian 12:1-20)
“Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya…” Kejadian 12:4
Hidup dengan iman sebenarnya tidak sulit.  Hampir di setiap keadaan, kita ditantang untuk beriman pada langkah yang diputuskan.  Sebagai contoh: jika kita hendak duduk di sebuah kursi, tentu kita melihat penampilan kursi itu dan jika kelihatan kuat dan baik langsung duduk.  Jarang sekali orang hendak duduk kemudian mengukur ketahanan beban suatu kursi, mengamati, mencoba dengan benda lain, diuji di laboratorium baru kemudian duduk di kursi itu. 
Contoh lain: jika kita berjalan, tentu kita hanya melihat jalan di depan yang kelihatan kuat.  Padahal kita tidak pernah tahu apakah jalan di depan kita pasti mutlak aman dan kuat menahan beban kita.  Secara tidak sadar kita sudah hidup dengan iman dengan apa yang biasa kita jalani.
Kenyataannya, hidup beriman jadi sulit ketika berada dalam kondisi di luar kebiasaan, tidak kelihatan bahkan didahului dengan prasangka buruk.  Banyak orang lebih mudah percaya untuk duduk di suatu kursi dari pada percaya kepada Tuhan.  Kepercayaan kepada Tuhan semakin sulit karena Tuhan tidak kelihatan.  Apalagi permintaan Tuhan untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa dan tidak menyamankan diri, kita cenderung meragukan janji Tuhan apakah membawa kebaikan atau keburukan bagi diri sendiri.
Abraham diminta Tuhan untuk pergi meninggalkan kampungnya ke tempat yang ditunjukkan-Nya.  Permintaan ini termasuk kategori sangat sulit karena harus membawa semua harta benda dan keluarga ke tempat yang tidak biasa dan belum kelihatan pasti wujudnya.  Pada saat seperti ini, pada umumnya orang menjadi ragu, tidak percaya dan enggan untuk meninggalkan kenyamanan dan keamanan diri.
Pada umumnya yang menjadi masalah seseorang taat atau tidak pada pimpinan Tuhan adalah karena kurang beriman pada janji Tuhan, terlebih karena tidak biasa meninggalkan zona nyaman dan kebiasaannya.  Abraham berani meninggalkan zona nyaman karena ia memandang dan memfokuskan hidupnya kepada janji Tuhan.  Ia terus berkomunikasi dan memelihara komunikasi itu dengan Allah.
Manusia cenderung mengandalkan diri sendiri dengan memakai segala usaha pemikiran dan tenaganya.  Di sinilah mudah bagi orang percaya untuk kurang mengandalkan dan melibatkan Tuhan secara mutlak.  Padahal di balik perintah Tuhan ada janji indah yang menanti diberikan kepada orang percaya yang taat.
Saya pernah ditinggalkan pesawat terbang karena terlambat datang pada jadwal yang sudah ditentukan.  Rasanya pada waktu itu adalah menyesal, sedih, dan kecewa pada diri sendiri.  Peristiwa hidup juga dapat mengalami kerugian seperti ini.  Panggilan Tuhan lewat Firman-Nya dikumandangkan berkali-kali.  Tuhan bekerja lewat hati nurani, lewat suara hati kita, lewat orang-orang di sekitar kita, lewat peristiwa hidup.  Suatu saat, waktunya akan tiba dan tidak ada lagi panggilan.  Orang yang tidak merespon panggilan akan ditinggalkan dan mengalami kerugian yang teramat besar.
Jika kita mengikuti dan taat pada pimpinan Tuhan, maka kita tidak akan ketinggalan rencana indah yang disediakan bagi kita sebelum permulaan jaman.  Jika kita lebih mengandalkan diri dan tidak mau meninggalkan zona kenyamanan demi janji Tuhan, kita akan menderita kerugian, menyesal, sedih dan kecewa.  Biarlah setiap kita belajar memandang dan taat pada pimpinan Tuhan agar tidak ketinggalan apa yang dijanjikan Tuhan bagi kita.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

MENGENAL HATI YESUS

MENGENAL HATI YESUS
BERDASARKAN Matius 18:1-35
Matius 18:1-5
1.       Yesus menghendaki pertobatan, yakni berbalik arah hidup dari dosa dan diri sendiri kepada Tuhan dan kehendak-Nya.
2.       Yesus menghendaki sikap hati seorang anak di dalam menerima Tuhan, maksudnya sikap rendah hati yang tulus, polos, mau dan gampang diajar oleh kebenaran.
3.        Yesus menghendaki kita melayani orang yang hatinya mau belajar dan diajar oleh Firman Tuhan tanpa memperhatikan latar belakang, kepandaian, status/jabatan.  Menerima berarti: menyambut, meraih, tidak membiarkan “anak-anak” ini.
Matius 18:6-14
4.       Yesus menghendaki agar kita tidak ikut penyesat maupun ajaran sesat.  Waspadalah…! Banyak ajaran sesat dan penyesat di sekitarmu.  Mereka kelihatan baik, bahkan sangat baik dan suka membantu tetapi bisa jadi adalah ajaran sesat.  Janganlah sedikit-sedikit berkata, “Tidak apa-apa, kan dia sesama orang Kristen dan mengaku Kristen juga.”  Banyak orang mengaku dari aliran Kristen bahkan menyebut Yesus, tetapi sebenarnya ajaran sesat.  Tuhan menghendaki agar kita tidak tersesat.  Tuhan menghendaki kita menghindari, menjauhi, tidak ikut terpancing, jangan mendengarkan dan hanyut/ikut dalamnya.
5.       Yesus menghendaki agar kita menghargai orang yang memiliki hati “anak” ini.  Yesus tidak pernah segan dengan orang karena dia adalah: kaya, pandai, berpangkat/pejabat, terkenal, tokoh masyarakat, rohaniwan/pendeta/vicaris/evangelis/pastor,dst.  Yesus mengasihi semua orang, tetapi Yesus menghargai orang-orang yang mau terbuka dan datang kepada Tuhan.
6.       Yesus menghendaki agar org dengan hati “anak” diselamatkan: bertobat dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Matius 18:15-35
7.       Yesus menghendaki kita intervensi terhadap saudara seiman yang  jatuh dosa dengan cara yang benar.  Intervensi terhadap saudara seiman yang jatuh dalam dosa tidak didasarkan pada gosip/berita yang belum jelas kebenarannya, bukan pula didasarkan pada perbedaan pendapat dan tidak boleh disamakan dengan asumsi/prasangka negatif/jahat.
8.        Yesus menghendaki kita mengampuni.  Ini sangat tidak mudah, terkhusus bila kita disakiti sedemikian rupa dan terluka sedemikian dalam.  Tuhan menghendaki kita mengampuni karena Dia terlebih dahulu mengampuni kita, menghapus semua dosa-dosa kita yang keji dan mau memulihkan relasi kita yang tadinya musuh Allah.
Kiranya Tuhan menolong kita mengenal keinginan hati Yesus terhadap orang-orang percaya dan belajar menghidupi yang kita percayai.  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

BENTENG PERLINDUNGAN

BENTENG PERLINDUNGAN
Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah,
kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan
dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.
Roma 6:22
 
Ada cerita fabel mengenai seekor kambing yang dikejar oleh pemburu.  Mulanya, pemburu tidak dapat menemukan kambing itu karena bersembunyi di antara ranting-ranting pohon Anggur.
Karena merasa aman, kambing keluar dari persembunyiannya dan mulai makan daun-daun pohon anggur itu.  Pada saat itulah, pemburu mendengar gemerisik daun dan melihat bagian badan kambing.  Kambing ini dibidik dengan sebuah panah dan mati.  Fabel ini coba menjelaskan bagaimana orang yang meninggalkan perlindungannya akan merusak dirinya sendiri.
Menjadi orang Kristen dan tinggal di dalam Kristus adalah sama dengan seorang prajurit tinggal di benteng yang sangat kuat.  Ia dapat mengerjakan tugasnya dengan lebih efektif dan dan efisien.
Demikian halnya orang Kristen menghadapi segala permasalahan hidup.  Di mana-mana dosa mengintip dan memperbudak manusia.  Sisi ekstrim dosa: membuat orang kecanduan narkoba; kecanduan film porno hingga tindak kejahatan yang di luar pikiran sehat.  Belum lagi perkataan dan pikiran kotor hingga berbagai permasalahan yang menyebabkan manusia menjadi rusak.
Sengat dosa inilah yang dibereskan oleh Yesus Kristus dengan datang ke dalam dunia; disalibkan; mati; dan bangkit mengalahkan maut.  Setiap orang yang mau menerima Yesus dan karya-Nya dalam iman, akan diselamatkan.  Orang yang sudah diselamatkan disebut manusia baru.
Manusia baru inilah yang mampu hidup bebas dari belenggu dosa.  Jikalau manusia baru mau mentaati Kristus, ia akan hidup menurut pimpinan Roh.  Jikalau ia menuruti keinginan daging, maka ia akan menderita dalam dosa kembali.
Itulah sebabnya, Paulus mengingatkan setiap orang Kristen agar mati dan bangkit bersama Kristus.  Mati bersama Kristus artinya, mati terhadap dosa dan hidup lama.  Bangkit bersama Kristus artinya, mengenakan manusia baru dan mentaati Kristus.  Di sinilah hidup Kristen baru efektif, hanya ketika ia berpaut sepenuhnya kepada Kristus. 
Seperti ranting yang menjadi perlindungan bagi kambing dalam cerita di atas, demikian pula manusia membutuhkan benteng perlindungan dengan tetap tinggal sepenuhnya dalam Kristus.  Bagaimana dengan hidup kita?  Adakah saat ini kita tergoda untuk menikmati “jajan” duniawi? 
Meninggalkan waktu untuk saat teduh (baca Alkitab, merenungkan dan mengevaluasi hidup), mengesampingkan apa yang kita tahu itu tidak boleh, tetapi kita terus saja melakukan, memilih cari dukun atau gwamia atau iseng-iseng lihat horoskop/ramalan bintang di Facebook adalah tindakan sederhana meninggalkan benteng perlindungan diri.
Mengesampingkan atau bahkan meninggalkan benteng perlindungan adalah tindakan nekat merusak diri.  Jikalau kita perduli dengan diri kita yang adalah bait Allah, mari kita cepat-cepat kembali kepada Yesus benteng hidup kita.  Amin.

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail