APAKAH HIDUP ANDA DIKENDALIKAN RASA TAKUT

APAKAH HIDUP ANDA 
DIKENDALIKAN RASA TAKUT?
Mazmur 34:19
Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu
Orang yang takut bisa tidak berbuat apa-apa.  Ada kalanya justru karena rasa takut, seseorang berbuat apa saja.  Pelajar yang takut tidak lulus, mencontek sewaktu ujian.  Pekerja yang takut dipecat boss-nya, datang tepat waktu dan mengerjakan tugasnya dengan disiplin.  Seorang yang takut digigit anjing bisa berlari dengan sangat lebih cepat dari biasanya.  Ketakutan meningkatkan adrenalin tubuh sekaligus memotivasi seseorang untuk warning adanya kerugian yang tidak diinginkan.  Orang yang takut cenderung bersikap waspada dan menjadi berbeda.
Daud pernah mengalami ketakutan yang sangat hebat di kota Gat (I Samuel 21:12).  Sekalipun Daud seorang pahlawan gagah berani, namun tetaplah ia memiliki ketakutan.  Sekalipun Goliat raksasa pernah dirobohkannya dengan lontaran ketapel dari batu kali, namun Daud gemetar seperti anjing mati di depan raja kota Gat.  Daud takut karena merasa sendiri dan tidak berdaya.
Ketakutan Daud terjadi ketika rasa iri hati dan kebencian muncul  dalam hati pimpinannya, raja Saul.  Saul mencoba membunuh Daud dengan berbagai cara dan beribu-ribu tentara.  Di saat tidak berdaya, dan ditekan oleh raja Israel sendiri, Daud yang sedang dikhianati itu menjadi berkecil hati dan terus berpindah tempat dari satu kota ke kota lain, dari padang gurun ke gua-gua.
Kitab nyanyian Mazmur nomor 34 ditulis setelah Daud dilepaskan Tuhan dari cengkraman raja kota Gat.  Daud merasa bersyukur atas kebaikan Tuhan.  Daud mengajarkan bahwa orang yang diberkati adalah orang yang benar, hancur hatinya (bertobat), mau menaruh kepercayaan  dan melayani-Nya.
Pada saat ini adakah ketakutan-ketakutan yang mendera hidup Anda?  Ada orang yang karena takut, tidak dapat mengerjakan fungsi hidupnya dengan baik.  Sebagian orang yang takut justru berbuat menyimpang dari kehendak Tuhan.  Ada orang yang karena takut, tidak bisa tidur dan makan dengan baik.  Ada orang yang takut masa depan diri dan keluarganya.  Ketakutan-ketakutan apakah yang Anda sedang gumulkan saat ini?
Daud memberikan resep atas ketakutan yang merusak fungsi hidup.  Pertama, Orang yang mengarahkan hati kepada Tuhan akan mendapat pertolongan.  Ketika masalah datang, dan orang percaya berseru dan meyakini janji Tuhan, akan mendapat pengharapan dan kelegaan.
Kedua, orang yang takut akan Tuhan akan menjaga hati, pikiran, perkataan dan tindakannya dari berbuat kebodohan.  Biarlah ketakutan terhadap masalah diganti dengan keseganan/ketakutan terhadap Tuhan.  Suatu sikap menghormati dan menaruh prioritas untuk Tuhan.
Ketiga, orang yang dekat kepada Tuhan akan mendapat kekuatan dan bangkit kembali pada waktu pemulihan-Nya.  Masalah hidup orang percaya tetap ada.  Apa yang ditakutkan seseorang mungkin terjadi, tetapi bukan berarti itu adalah akhir dari segala-galanya.  Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.  Kiranya Tuhan menolong kita.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

AJAIBNYA MATA ROHANI

Ajaibnya Mata Rohani
II Raja-raja 6:16-17
Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.” Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.
Pernah seorang hamba Tuhan, Pdt.Eri  menceritakan bagaimana Tuhan menolong keluarganya.  Orang tuanya yang sudah percaya  tidak putus asa   mengabarkan Injil di daerah anti Kristen.  Suatu malam mereka diserbu oleh ratusan orang dengan membawa obor (waktu itu belum ada listrik).  Sambil berteriak: “bakar gereja ini!” dan melempari banyak batu ke arah rumah, mereka mendekat.
Suasana begitu panik dan mencekam.  Ayah  dari Eri (waktu itu masih kecil) menganjurkan keluarganya lari mengungsi, sementara sang ayah di rumah.   Eri tidak menyetujui dan justru mengajak seisi keluarga berlutut dan berdoa.  Tidak lama kemudian, mereka terheran-heran.  Tidak ada suara sama sekali.
Beberapa waktu kemudian ada seorang bapak-bapak datang minta didoakan agar sembuh.  Selesai didoakan, bapak ini meminta maaf.  Ayah dari Eri heran: “Kenapa meminta maaf pak?!”  Kemudian diceritakan bahwa bapak ini beberapa waktu yang lalu ikut hendak membakar gereja itu, namun tidak jadi.  Sewaktu mereka berteriak-teriak, tiba-tiba mereka melihat sejumlah tentara disekeliling mereka.  Tentara ini berjumlah sangat banyak dengan senapan laras panjang dan bayonetnya.  Penduduk itu kemudian melarikan diri.
Kesaksian ini mirip sekali dengan kejadian yang dialami oleh Elisa.    Peristiwa ini dimulai dengan kemarahan raja Aram karena Elisa berkali-kali menggagalkan serangan tentara Aram ke Israel.  Setelah diketahui Elisa berada di kota Dotan, raja Aram mengirim sangat amat banyak tentara beserta kereta dan kuda.
Mengetahui jumlah tentara yang sangat banyak di depan rumah, Gehazi jadi ketakutan.  Pada saat itu  Tuhan berkenan membuka mata rohani  Gehazi akan  penyertaan-Nya.  Gehazi melihat sekeliling bukit, mungkin jutaan kuda dan kereta api!  Cerita lebih lengkapnya silahkan baca II Raja-raja 6:1-23.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana orang yang melihat tetapi buta rohani.  Ada banyak orang Kristen dibuat takut oleh masalah hidup.  Padahal sebenarnya:  sebesar apapun masalah, Tuhan Yesus Kristus  lebih besar!  Elisa melihat dengan mata rohani.  Eri dan keluarganya yang percaya melihat dengan mata rohani. 
Jikalau kita  rindu mata rohani kita dicelikkan, mintalah Tuhan membuka mata rohani kita.  Lihatlah bagaimana Anda sesungguhnya tidak sendiri!  Pastikan Anda berada dipihak Allah, dan Anda akan melihat bala tentara sorgawi Allah.  Yakinlah Tuhan memegang kendali sekalipun dalam situasi yang buruk.    Iman percaya kepada kuasa dan penyertaan Tuhan sungguh ajaib.  Melihat dengan mata rohani memang ajaib!
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

SUKA BERADA DI MANA

SUKA BERADA DI MANA?
(Baca: Lukas 2:41-52)
Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku?  Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”  Lukas 2:49
Apabila Anda ditanya, “Anda suka berada di mana?”  Apakah yang akan Anda jawab?  Sebagian orang suka berada di sekolah atau kampus, karena di sana ia dapat banyak meneliti dan belajar.  Ada orang yang suka berada di tempat kerja, karena di sana ia dapat menghasilkan uang dan kepuasan kerja.  Ada yang suka berada di rumah, karena ia merasakan indahnya home sweet home.  Ada pula orang yang suka berada di tempat liburan.  Seperti saya J karena di sana bisa mendapatkan suasana baru, refreshing, dan juga wawasan baru.
Menurut Anda, Yesus suka berada di mana?  Mengacu kepada ayat yang kita baca, sekilas kita akan berasumsi bahwa Yesus tentu suka berada di tempat Ibadah.  Kalau jaman itu tampaknya Yesus suka berada di Sinagoge.  Mungkin kalau di jaman sekarang, Yesus atau Isa Almasih suka berada di gedung Gereja atau gedung Masjid.  Semula sewaktu saya membaca bagian ini juga berpikir demikian. 
Teringat dengan perkataan I Yohanes 2:6, “Barangsiapa mengatakan bahwa ia adald di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristu telah hidup”, seolah mengajak kita semua untuk menyukai dan selalu ada di tempat ibadah.  Kendati demikian,  Ketika dikaji lebih lanjut ternyata maksud perkataan Yesus sama sekali tidak berkaitan dengan gedung atau tempat ibadah.
Konteks tanya jawab pakar keagamaan Yahudi dengan Isa Almasih adalah Maria dan Yusuf yang sudah tiga hari mencari Yesus karena tidak bersama rombongan yang kembali ke daerah asalnya di Nazaret, Galilea.  Tampaknya Isa Almasih begitu asyik menikmati Firman Tuhan dan memberi banyak inspirasi kepada ahli-ahli Kitab.  Bahkan mereka dibuatnya terheran-heran dan kagum akan kejeniusan-Nya.  Yesus bukan saja senang dengan hukum Allah, tetapi tampak sangat menguasainya.
Sewaktu Maria menemukan Isa Almasih, dituliskan oleh dokter Lukas perkataan Isa demikian, “… Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada dalam rumah Bapa-Ku?” (Lukas 2:49b).  Dalam beberapa terjemahan Alkitab dan mengacu kepada tulisan Yunani-nya, ternyata ada maksud yang lebih dalam dari kata yang dipakai dalam bahasa Indonesia.  Frasa “Aku harus berada” memiliki maksud bukan sekedar hadir tetapi datang memenuhi kewajiban.  Setelah meneliti lebih jauh tentang ayat ini, ijinkan saya mengkalimatkan dengan inti yang sama dari Alkitab LAI tetapi dengan kalimat yang saya abstrakkan: “… Seharusnya kamu tahu saya ada di mana, saya harus mengerjakan misi dari Bapa-Ku.”
Yesus tidak bicara tentang suka berada di dalam gedung ibadah.  Yesus tidak sedang bicara tentang kesukaanya berada dalam suasana religius tempat ibadah penuh ornamen.  Yesus menyukai tinggal dalam hadirat Tuhan bukan tinggal dalam tempat ibadah.
Demikian pula dengan I Yohanes 2:6, kata “hidup” memiliki kedalaman pengertian: hidup; berjalan; mengikuti atau menghidupi seperti.  Dengan demikian, maksud dari Yohanes tentang kita yang mau tinggal di dalam Yesus maka kita harus mengikuti atau menghidupi apa yang menjadi misi dari Tuhan.  Setiap kita diciptakan dengan tujuan dan bukan sebuah kebetulan kita ada dan hidup saat ini.  Tuhan menghendaki kita mengerjakan bagian kita, tidak selalu di tempat ibadah.  Ada kalanya di tempat kerja, di sekolah/kampus, di tempat liburan sekalipun.  Kita dipanggil satu misi dengan yang Yesus/Isa Almasih sudah kerjakan (Matius 28:18-20).  Bedanya, Yesus pernah datang ke dalam dunia, hidup dalam konteks sekitar 2000 tahun lalu di Israel.  Kita yang hidup saat ini dengan konteks tempat kita tinggal, hidup, bergaul dan berkarya dengan keberadaan masing-masing.
Menutup renungan ini, mari kita bertanya kembali: Apa arti hidupku?  Apakah saya hanya hidup untuk mencari “segenggam berlian” demi masa depanku, keluargaku, cita-citaku, dan semua yang berujung “ku”?  Apakah Kristus benar-benar menjadi pusat dari hidup yang disebut “ku” ini?  Apa bagiaku untuk melanjutkan tongkat estafet yang sudah diberikan oleh Isa itu (Matius 28:19-20)?  Kiranya Tuhan menolong kita di manapun berada, hati kita melekat dengan apa yang menjadi kerinduan Kristus.  Selamat melanjutkan misi hidup yang dari-Nya!  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

TETAP FIT MELAYANI

TETAP FIT MELAYANI
“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” Yesaya 40:31
 
Kesibukan luar biasa bisa membuat diri kita dalam keadaan jenuh; letih dan lelah.  Saya pernah mengalami hal tersebut ketika dalam waktu yang singkat harus menyelesaikan banyak program di beberapa komisi; banyak pertemuan rapat dan konsolidasi bersama pengurus-pengurus komisi.  Belum lagi ditambah beberapa kali ke luar kota untuk survei pelayanan dan bermacam persiapan khotbah.  Kesan saya waktu itu adalah rasanya ingin minum aspirin (obat penenang) dan berlibur.
Indah sekali Firman Tuhan yang tertulis di atas; bak iklan “Energizer” yang terus memiliki kekuatan dan kesegaran demikian pula orang yang di dalam Tuhan.  Rahasianya satu sebenarnya: bersekutu menunggu Tuhan.
Kerap kali kesibukan yang luar biasa tidak mengenal kata “menunggu” apalagi dikejar oleh batas tenggang waktu penyelesaian pekerjaan.  Padahal justru di dalam istirahat manusia memperoleh kembali kesegarannya dalam hidup.
Pengertian menunggu dalam Firman Tuhan di atas adalah menanti dengan sabar; terus berpengharapan dan istirahat di stasiun perhentian.  Saya pernah naik kereta api kelas ekonomi di Jawa.  Setiap kali ada stasiun, kereta itu akan berhenti sejenak untuk menunggu penumpang dan kemudian menunggu aba-aba untuk berangkat.  Begitu banyak yang harus disinggahi dan lambat rasanya.
Keadaan sekarang berbeda jauh dengan masa silam, kita hidup dalam era yang serba cepat dan instant.  Mengikuti irama hidup yang sangat cepat tanpa adanya istirahat akan menghasilkan kejenuhan/stagnasi/”burn out”.
Ada kalanya kita perlu istirahat; berlibur bahkan cuti di dalam pekerjaan.  Ada kalanya kita bersikap diam; tenang; terus menantikan dan menggumuli Firman Tuhan.  Kita perlu mengambil waktu evaluasi lebih banyak dan mendekatkan diri dalam persekutuan dengan-Nya pada saat-saat itu.  Kekuatiran dan ketergesaan hanya akan menghasilkan kekecewaan dan keletihan.
Tetap fit melayani tidaklah berarti beraktivitas tanpa berhenti.  Kita adalah manusia fana dengan segala keterbatasan dan kekurangan.  Hanya ketika kita berhenti dan menengok kembali pada kasih karunia Allah, maka kita akan disadarkan dan dikuasai oleh kasih-Nya.  Di sanalah sebenarnya kehadiran Allah dirasakan dan dihayati.
Bagaimanakah dengan Anda?  Apakah Anda merasa jenuh; letih; lelah dan stagnasi?  Mungkin kini saatnya mengambil waktu istirahat atau berlibur.  Mungkin pula kini saatnya mengambil waktu khusus bertemu Tuhan dalam iman.  Mungkin juga tidak perlu melakukan apa-apa selain menunggu dan menunggu dan menuggu.  Ada kalanya kita harus memasuki dimensi rohani, yakni bergumul bersama Tuhan dalam doa dan Firman Tuhan.  Kiranya Tuhan menolong kita tetap fit dalam Tuhan, tetap fit melayani Tuhan.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail