MENGGENAPI KEHENDAK TUHAN SEBAGAI GAYA HIDUP

MENGGENAPI KEHENDAK TUHAN SEBAGAI GAYA HIDUP
(Baca: Kejadian 11:10-32)
Sebuah pepatah mengatakan, “Satu perbuatan adalah tindakan, berkali-kali tindakan adalah kebiasaan yang akan menjadi perangai/tabiat.”  Pepatah ini hendak mengatakan bahwa yang penting dari kehidupan dimulai dari sebuah tindakan dan menjadi gaya hidup yang menyatakan keberadaan orang tersebut.
Peristiwa pasca kekacauan di menara Babel (Kejadian 11:1-10) menempelak umat manusia yang sombong dan berpikir “saya bisa!” dengan dirinya sendiri.  Kenyataannya, kehendak Tuhan bukan kehendak manusia dan manusia yang berjalan sendiri tanpa Tuhan akan menghadapi kegagalan. 
Silsilah setelah menara Babel menggambarkan rentetan kehidupan manusia dari keturunan Sem hingga Abraham.  Suatu daftar yang dipenuhi dengan nama dan tahun masa hidup.  Menurut perhitungan kasar dari penelitian yang saya baca memperkirakan kehidupan manusia selama sekitar 400 tahun menghasilkan setidaknya lebih dari 18 juta manusia.
Alkitab mencatat Terah mengajak seisi keluarga ke Haran dan Abraham membawa keluarga dari Haran ke Tanah yang dijanjikan Tuhan (Kejadian 12).  Kebiasaan untuk nomaden atau berpindah pindah. Apakah alasan utama pindah? Belum jelas.  Bisa jadi karena masa sulit di tanah yang sulit seperti jamannya Naomi di kitab Rut.  Bisa jadi karena konflik antar keluarga seperti di jamannya Kain dan Habel.  Bisa jadi karena kehendak Tuhan yang memimpin mereka untuk pergi ke tanah yang dijanjikan seperti Abraham.
Bila kita lihat perikop Kejadian 11:10-32 tampaknya hanya sebagai transisi untuk mengantar jejak peristiwa Abraham.  Namun bila dikaji lebih lanjut, terlihat sebuah benang merah adanya rencana Tuhan dalam keselamatan.  Mereka dari generasi ke generasi sedang menggenapi kehendak Tuhan untuk beranak cucu dan memenuhi bumi melalui perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat yang lain.
Pada bagian ini, menggenapi kehendak Tuhan dalam Kejadian 1:28 menjadi bagian hidup mereka bahkan gaya hidup mereka.  Mereka sadar ataupun tidak sadar, mau ataupun tidak mau, ingin maupun tidak ingin diarahkan oleh Allah lewat tangan-Nya yang kuat menuju suatu masa depan yang apabila ada anak-anak Tuhan mau taat dan mengasihi akan masuk dalam recana Allah yang indah.  Bilangan Abraham, Musa, Daud adalah titik momentum dalam rangkaian sejarah keselamatan pada datangnya Yesus Kristus sang Juruselamat.
Hari ini kehidupan iman percaya kita adalah seperti setetes air dalam rangkaian lautan dinamika kehidupan.  Setiap hal yang kita lakukan menentukan kehidupan kita di masa yang akan datang.  Setiap tindakan yang kita ambil di dalam Tuhan memberikan pengaruh di masa yang akan datang.  Kebiasaan kita untuk melakukan Firman Tuhan memberikan arti penting bagi kekristenan di sekitar kita bahkan kota ini. 
Sejarah Alkitab tentang hidup Abraham dimulai dari orang-orang di generasi sebelumnya yang biasa melakukan Firman Tuhan (Kejadian 1:28).  Bagaimana bisa muncul kualitas karakter dan kehebatan setara Musa? Abraham dan tokoh-tokoh Alkitab lain?  Ini semua tidak terlepas dari generasi-generasi sebelumnya.  Apakah Anda ingin menghasilkan generasi hebat di masa yang akan datang?  Apakah Anda ingin memberi impact bagi generasi yang akan datang? Bila Anda ingin mengerjakan hidup ini berkenan di hadapan Tuhan, mari kita jadikan melakukan kehendak Tuhan sebagai gaya hidup: di rumah, tempat kerja, tempat studi, di perkumpulan dan di manapun Tuhan tempatkan kita.  Amin.

MAKE IMPACT TO OUR GENERATION, FULFILL GOD’S PLAN FOR YOU.

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

KOMUNIKASI DALAM TIM WORK DARI PERSPEKTIF ROHANI

KOMUNIKASI DALAM TIM WORK DARI PERSPEKTIF ROHANI
(Baca: Kejadian 11:1-10)
Pernakah Anda melihat atau mengalami konflik di dalam sebuah kelompok? Konflik kerap kali terjadi di berbagai tataran kelompok yang terdiri dari berbagai macam individu.  Ada kalanya karena hal-hal sepele kedua belah pihak yang bertikai mengambil keputusan untuk berpisah.  Di kelompok rumah tangga, ada banyak kasus di mana suami cerai dengan istri karena konflik pelik yang berkepanjangan.  Di partai politik, konflik antar kubu tokoh tertentu dapat memisahkan diri dan mendirikan partai baru.  Di pelayanan, konflik yang tajam dapat berakhir dengan perpecahan atau perpisahan.  Konflik terjadi di mana-mana dengan alasannya masing-masing.
Alkitab banyak mencatat konflik antar manusia, mulai dari Kain dan Habel, Abraham dan Lot, Yusuf dan saudara-saudaranya, Saul dengan Daud, Rehabeam dan Yerobeam, para nabi dengan para raja Israel, Paulus dengan Barnabas, bahkan Yesus pun konflik dengan para Imam dan ahli Taurat.  Konflik dalam Alkitab adalah hal yang wajar terjadi karena perbedaan dalam diri setiap orang.  Konflik bisa jadi karena Tuhan menghendaki, bisa jadi karena tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, bisa jadi karena perbedaan visi dalam pelayanan, dsb.  Konflik adalah bagian dari kehidupan manusia termasuk anak-anak Tuhan yang berusaha hidup berkenan kepada-Nya.
Peristiwa di Babel adalah tentang konflik antar manusia karena kegagalan komunikasi.  Kalau di mata pelajaran komunikasi, konflik cenderung dilihat sebagai perlunya skillatau keahlian dalam berkomunikasi yang perlu dikembangkan dan dipelajari, namun sudut pandang Alkitab memperlihatkan lebih luas dari sekedar komunikasi dua pihak.  Konflik di dalam perspektif rohani cenderung mengarah kepada masalah motivasi hati dan campur tangan Tuhan.
Peristiwa di Babel adalah rangkaian dari perjalanan hidup manusia yang tengah berkomunikasi tanpa melibatkan Tuhan dan tidak melihat dengan serius motivasi hati di balik semua tujuan dan rencana pekerjaan mereka.  Manusia di jaman Babel berintensi menyombongkan diri dibalik pembuatan menara Babel (ay.3).  Tujuan mereka membangun menara Babel adalah untuk arogansi manusia bukan kemuliaan Tuhan.  Motivasi mereka membangun menara Babel adalah ambisi bawa mereka sendiri bisa tanpa Tuhan.
Peristiwa di Babel menyertakan pernyataan Allah atas niat manusia dalam membangun menara.  Tuhan melihat manusia yang berpikir bisa berbuat segala sesuatu.  Kejadian 10:6 dalam versi King James tertulis bahwa manusia berpikir rencananya tidak ada yang menghalangi.  Padahal yang empunya sejarah dan masa depan, yang mengatur siklus alam dan bekerja di balik yang tidak kelihatan adalah Tuhan.
Komunikasi dalam Tim Work adalah anugerah Tuhan oleh sebab itu kita perlu melihat motivasi terdalam dari tindakan dan tujuan kita.  Seseorang boleh berencana, tetapi keberhasilan di tangan Tuhan.  Dari perspektif Alkitab inilah kita mengetahui bahwa kalau sebuah tim bisa berkomunikasi dengan baik, maka itu adalah pemberian Tuhan yang patut disyukuri dan digunakan dengan bertanggung jawab. 
Komunikasi dalam Tim Work adalah anugerah Tuhan, oleh sebab itu kita perlu menyamakan langkah sederap dengan kehendak Tuhan.  Kehendak manusia di jaman Babel adalah membangun menara dan bersatu di dalam kota metropolitan yang besar dan padat.  Kehendak Tuhan bagi manusia di waktu itu adalah menyebar dan memenuhi bumi seperti yang diamanahkan Tuhan kepada Adam (Kejadian 1:28).  Apa yang dikerjakan manusia selayaknyalah sesuai dengan tujuan manusia diciptakan oleh Tuhan.  Tuhan menciptakan manusia agar menggenapi rencana Allah bukan hidup semau-maunya dan sembarangan.
Apakah Anda ingin komunikasi dalam Tim Work dipimpin oleh Tuhan?  Apakah Anda ingin dalam Tim Work diberkati dan dibuat Tuhan berhasil?  Bila jawaban ya, maka kita perlu melihat motivasi dan tujuan kita pribadi.  Apakah ada ambisi yang salah dan tidak berkenan di hati Tuhan?  Kita perlu bertanya: Apakah yang menjadi kehendak Tuhan atas apa yang tengah kami kerjakan?  Barulah dari sana kita perlu juga diperlengkapi dengan anugerah umum, yakni belajar keahlian komunikasi yang baik.  Kiranya Tuhan menolong Anda didalam menggenapi tujuan hidup Anda bagi Allah.  Amin.

Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

MENGENAL LEBIH DALAM SILSILAH KELUARGA

MENGENAL LEBIH DALAM SILSILAH KELUARGA:
MENGUAK SEDIKIT MAKSUD DARI SILSILAH DALAM ALKITAB
(Baca: Kejadian 10:1-32)
Dalam salah satu cabang materi psikologi terdapat pelajaran mengenai mengerti diri sendiri lewat pohon keluarga.  Dengan asumsi bahwa siapa diri kita sedikit banyak dipengaruhi dan membawa gen dari generasi di atasnya, maka kita bisa melihat kecenderungan sikap dan perilaku kita di masa sekarang dan akan datang.  Sebagai contoh, seseorang yang pohon keluarganya banyak memiliki keadaan bunuh diri, sakit jiwa tertentu akan menurunkan kecenderungan tersebut di anak atau cucu atau mungkin juga salah seorang dari generasi ke tiga.
Seberapa jauh keabsahan kebenaran teori ini belum dapat dipastikan meskipun lewat sejumlah kasus dan dengan hasil analisa sementara.  Sedikit banyak inilah yang membuat sebagian orang tua menasihati anaknya agar mencari pasangan memperhatikan bibit, bobot, bebetalias memperhatikan latar belakang, status dan keadaan secara menyeluruh.
Bila ada teori tentang pohon keluarga dari salah satu cabang materi psikologi, ternyata Alkitab juga memaparkan beberapa kali catatan tentang pohon keluarga (Kejadian 10; I Tawarikh 1; Matius 1; Lukas 3).  Tentu saja Alkitab tidak menyetujui teori sementara pohon keluarga ini.  Alkitab punya tujuan khusus yang terlihat jelas ketika dipaparkan silsilah dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.  Alkitab tidak mengkotakkan seseorang dengan nasib tertentu yang merugikan, tetapi justru lebih pada hal positif di dalam misi Kerajaan Allah.
Alkitab mencatat silsilah untuk memperlihatkan secara jelas blue print atau bagan dari rencana pekerjaan Allah untuk menyelamatkan manusia.  Silsilah Yesus Kristus Sang Mesias yang diutus Allah datang kedunia menaiki kereta keluarga Adam, Abraham, Musa, dan juga Daud.  Mereka adalah tokoh-tokoh Alkitab yang bukan kebetulan dan sekedar ada tetapi dihadirkan Tuhan dengan misinya masing-masing dalam rangkaian rencana Allah bagi umat manusia.
Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa setiap orang, setiap pribadi, setiap individu adalah berharga di hadapan Tuhan.  Setiap kita ada bukan sekedar mencari penghasilan hidup, menikah, punya anak, membangun rumah dan mewujudkan cita-cita tetapi harus diingat bahwa Tuhan menciptkan kita dengan tujuan menggenapi rencana Allah.
Apakah Anda seorang pedagang? Apakah Anda seorang montir? Apakah Anda seorang manajer? Entah Anda adalah orang tua maupun anak, Anda diundang untuk masuk dalam blue printAllah bila Anda ingin berhasil dalam hidup ini.  Rencana Tuhan bukan menghancurkan tetapi membangun, bukan membinasakan tetapi menghidupkan, tidak selalu sensasional tetapi bersifat kekal.
Psikologi pohon keluarga mungkin bisa membawa kita lebih mengenal siapa diri kita dan mengapa kita ada, tetapi tidak bisa menjawab untuk apa kita ada.  Alkitab memberikan paradigma pohon keluarga kita adalah gambaran peran kita dalam sejarah penyelamatan Allah lewat Yesus Kristus.  Peran anak-anak Tuhan bukan sekedar ada dan hidup tetapi memberi makna untuk men-sukses-kan pekerjaan Allah.  Mari, kita ada bukan sekedar ada tetapi ikut dalam pekerjaan Allah yang dirancangkan-Nya sebelum permulaan jaman, supaya kita hidup didalamnya (Efesus 2:10).  Amin.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail

BAGAIMANAPUN JUGA ITU ADALAH ORANG-TUAMU


BAGAIMANAPUN JUGA ITU ADALAH ORANG-TUAMU
(Kejadian 9:18-28)
Beberapa waktu lalu anak saya, Jonas suka sekali dengan buku interaktif berbentuk bahtera Nuh.  Hampir setiap hari dia selalu minta diambilkan buku ini, “Papa, buku..  Papa buku…”.  Ketika sudah membuka buku kisah Nabi Nuh ini, Jonas mengamati seluruh isi dalam bahtera itu, membuka tutup pintu, menaik-turunkan tangga, meletakkan binatang maupun tokoh-tokoh di dalamnya.  Bagi Jonas ini adalah permainan yang mengasyikan karena buku interaktif bahtera Nabi Nuh adalah hal yang baru baginya.  Jonas senang melibatkan ayahnya untuk berbagi pengalaman.
Siapa sih yang tidak pernah mendengar kisah klasik menarik dari Nabi Nuh? Kisah nyata ini bermakna dalam dan tetap relevan bagi kehidupan setiap orang di setiap usia bahkan pada saat ini.  Nuh dan keluarganya yang baru keluar dari bencana air bah.  Mereka memulai kehidupan yang baru di mana Nuh dicatat sebagai petani kebun anggur.  Besar kemungkinan anak-anaknya membantu “mainan” baru dalam usaha mereka.  Anggur bukan saja di makan sebagai buah tetapi juga menjadi minuman yang memabukan.
Di sinilah Alkitab mencatat bahwa ketika Nuh mabuk dan kelihatan auratnya, Ham anaknya bersikap tidak sopan dengan mengumbar keadaan orang tuanya.  Nuh sangat marah ketika mengetahui dan menubuatkan kutukan untuk Kanaan.  Jika kita lihat sekarang, memang sebagian besar landscapeKanaan gersang, panas dan menjadi daerah konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestian.  Nubuatan Nuh terjadi!

Alkitab dengan jelas mengajarkan agar anak-anak menghormati orang tuanya tidak perduli bagaimana dan seperti apa keadaan orang tua.  Ini adalah perintah Tuhan (Ulangan 5:16; Matius 15:4; Efesus 6:3-4) yang sangat jelas.  Perintah Tuhan ini berkaitan dengan relasi kita dengan Tuhan yang memberi berkat.  Bila Anda ingin terus diberkati dan berada dalam rencana Tuhan yang indah, maka sikap menghormati orang tua adalah sikap yang membiarkan Tuhan bekerja untuk dan melalui Anda.
Ada banyak peristiwa anak memiliki hubungan tidak baik dengan orang tuanya.  Ada anak yang tidak tahan dengan sikap semena-mena orang tua, memaki, kata-kata kasar dan pedas yang melukai hati.  Ada anak yang menganggap orang tuanya kuno, tidak “nyambung” bila diajak bicara, dst.  Bahkan ada banyak peristiwa ketegangan dalam keluarga antara anak dan orang tua sehingga mereka tidak saling bicara, tidak saling bertemu bahkan bermusuhan.
Ketika konflik orang tua-anak semakin runyam, biasanya semua pihak membela dan membenarkan diri. Tidak ada satupun yang sudi mengalah dan tetap mengasihi, apalagi bila ini menyangkut sakit hati, kekecewaan, harga diri dan kemarahan yang meledak-ledak.  Pada saat seperti inilah ujian kualitas hidup kita terlihat.  Pada saat seperti inilah kita membutuhkan pemulihan, kekuatan, kerendahan hati dan dorongan kasih Tuhan Yesus.
Apabila kita menghendaki kehidupan yang lebih baik, berkat Tuhan terus mengalir dalam aspek-aspek yang memulihkan dan melegakan, maka kita harus kembali kepada Firman Tuhan.  Hormatilah orang tuamu!  Hal ini tidak dapat ditawar dan dikurangi.  Menghormati dalam arti kata di Perjanjian Lama mengacu kepada sikap menaruh beban, perhatian, dan respek.  
            Apakah gampang menghormati orang tua? Sebagian orang berkata, ya.  Sebagian yang lain akan berkata, tidak!  Keputusan menghormati orang tua adalah pilihan bukan kesanggupan.  Keputusan menghormati orang tua adalah tindakan yang berasal dari sikap kita mengasihi dan menghormati Tuhan.  Menghormati orang tua bukan ditentukan dari sikap orang tua terhadap anak, tetapi lebih pada sikap kita melakukan Firman Tuhan.  Kiranya kasih Tuhan terus memberkati keluarga Anda.
Facebooktwitterredditpinteresttumblrmail