BBM NAIK, APA SEBAIKNYA RESPON ORANG PERCAYA?

BBM NAIK, APA SEBAIKNYA RESPON  ORANG PERCAYA?

Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Roma 13:12.

Kenaikan BBM Rp.2000 telah didahului dengan naiknya harga barang-barang, jasa hingga diprediksi akan membuat inflasi Indonesia menjadi 7,3%.  Sebagian orang protes, tidak nyaman dan tentu saja tidak suka. Mulai dari demo anarkis, tutup jalan dan bakar ban hingga kicauan kekecewaan dan makian terhadap pemerintah membayangi keputusan yang serba sulit untuk strategi Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Keluarga Sejahtera yang belum dirasakan masyarakat luas.

Lalu apa hubungannya dengan kita sebagai orang-orang percaya? Kenaikan BBM menimbulkan efek langsung kocek dompet kita hingga rana yang lebih luas membuat kekuatiran lebih miskin dan hidup lebih susah. Nah di posisi seperti ini iman percaya seseorang diuji kemurnian dan pertumbuhannya.

RESPON PADA UMUMNYA

Apabila orang percaya berespon anarkis (merusak identik dengan teman setan), ikut demo menutup jalan (yang semakin buat macet dan BBM terbuang sia-sia, perekonomian semakin melambat), ikut bakar ban (mempercepat global warming: ozon atmosfer cepat lubang dan mengurangi perlindungan bumi dari radiasi sinar ultraviolet  yang praktisnya cuaca tambah panas/dingin secara ekstrim dan ditengarai sebagai akibat kanker kulit dan katarak pada komunitas). Sebagian orang lebih memilih komentar negatif dan makian atas reaksi BBM. Bagaimana respon seharusnya kita sebagai orang-orang percaya? Bolehkah kita ikutan tidak setuju atau justru mendukung kebijakan tersebut?

RESPON UMAT NASRANI

Ketika menyentuh aspek komunitas, bumi dan pemerintah maka Alkitab tidak berbicara tentang partai tertentu atau orang-orang tertentu yang dikultuskan tetapi lebih berakar pada prinsip yang harus dipegang oleh semua orang yang ingin hidup sesuai petunjuk Tuhan. Respon pertama adalah Jangan ikut bereaksi negatif destruktif.

Amanah Tuhan terhadap manusia adalah menjadi berkat bukan mengutuki (Kejadian 1:28; 2:19). Orang percaya dipanggil untuk mengarahkan energi positif dan bukan ter-okupasi pada hal-hal negatif (Filipi 4:8). Memalukan bila ada mahasiswa Nasrani tetapi ikutan demo dengan menutup jalan apalagi kalau sampai ada yang berorasi sambil memaki dan melempar batu. Tindakan ini adalah tidak elit, tidak intelek dan destruktif. Orang percaya yang ingin mendapat berkat dan penyertaan Tuhan dipanggil untuk mempraktikkan Firman Tuhan dengan melakukan hal konstruktif dan positif (Filipi 4:9).

Respon kedua adalah pegang erat bahwa Tuhan yang memegang kendali.   Di masa yang sukar termasuk nantinya efek dari kenaikan BBM yang merambat pada kenaikkan inflasi hingga barang-barang jadi lebih mahal membuat banyak orang cemas, takut dan kuatir akan masa depannya.

Sebagian orang berespon dengan menimbun BBM sebanyak mungkin secara ilegal, sebagian lainnya mengeluarkan kata-kata negatif, kritikan hingga makian di depan orang-orang non Nasrani. Ingatlah Firman Tuhan ini: Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (I Petrus 5:7).  Janganlah kamu kuatir … semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambhkan kepadamu (Matius 6:25-34).

Perbuatan konyol, serakah dan rakus sering kali berakar dari kekuatiran dan ketakutan akan masa depan.  Apabila kita berani bekerja keras dan bersikap positif terhadap hidup, maka itu kunci berkat yang menanti. Seperti halnya seseorang kehausan yang  melihat setengah gelas air dan berespon optimis: “Puji Tuhan! Masih ada setengah yang bisa dinikmati” atau berespon negatif: “Sialan! Gara-gara si A itu saya jadi kehausan dan sekarang air pun tinggal setengah. GRR..#@*!”. Emosi negatif akan membuat air serasa semakin tidak cukup dan  berdampak negatif pada dirinya.

Respon ketiga adalah jadilah warga yang baik. Firman Tuhan mengingatkan bagaimana orang Nasrani dipanggil untuk menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan dan manusia (Roma 13:1-7). Ajaran Firman Tuhan adalah pemerintah yang naik itu dibawah Tuhan. Mereka diijinkan Tuhan untuk melayani sebagai hamba Allah.  Mereka memegang otoritas dan “pedang” agar penduduknya menguasai diri dan bukannya mengumbar nafsu keinginannya. Apabila berlaku jahat maka oknum tersebut harus takut, tetapi apabila melakukan hal yang benar dan baik, maka pujian akan datang dari Tuhan dan orang-orang-Nya.

Sebagai penutup, lihatlah respon warga negara maju seperti Jepang terhadap naik turunnya harga BBM antara Rp.14.000-Rp.16.000. Lihatlah bagaimana respon warganya terhadap inflasi baru-baru ini (sejak tahun 1958 belum pernah menghadapi inflasi separah saat ini). Banyak diantara mereka yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintahan sekarang, namun mereka tetap rajin bekerja, bersikap positif terhadap hidup dan tanggung jawabnya. Ada sedikit demo yang tertib, elegan dan ramah terhadap komunitas, sementara kekerasan dalam demo adalah produk jaman dulu yang sudah tidak laku.  Alih-alih demo, orang-orang di Jepang tidak punya waktu untuk demo. Bagi mereka yang ada adalah kerja, kerja dan kerja.

Mental warga negara yang baik membuat bangsa disegani oleh dunia internasional. Mental warga negara yang baik mendukung kemajuan bangsa. Seharusnya kita malu apabila negara Indonesia yang dikenal ber-Tuhan tetapi banyak warganya anarkis dan bersikap negatif seperti tidak ber-Tuhan sementara di Jepang mayoritas penduduknya tidak beragama tetapi bersikap positif dan menjadi warga negara yang baik. Mari kita melakukan Firman Tuhan, jangan mau diprovokasi oleh kepentingan sejumlah elit politik tertentu yang mau membuat suasana kacau, buruk dan hancur. Tuhan memberkati Indonesia.

MENJADI WARGA NEGARA YANG BAIK ADALAH PANGGILAN ILAHI UMAT ALLAH

MATA DAN TELINGA

MATA DAN TELINGA

Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh Tuhan (Amsal 20:13).

Betapa sederhana kelihatannya kalimat ini.  Telinga ya untuk mendengar.  Mata ya untuk melihat.  Kenyataannya, sering kali telinga dipakai untuk mendengar gosip dan mata dipakai melihat apa yang seharusnya tidak pantas dilihat.  Buahnya adalah susah, sedih, cemas, gelisah yang berakhir pada penderitaan.

Amsal Salomo dikenal sebagai orang berhikmat karena ia belajar arti takut akan Tuhan. Sikap menghormati Tuhan inilah yang memampukan Salomo menulis kata-kata bijak tentang kehidupan sehari-hari.  Mata dan telinga adalah indera manusia dalam berkomunikasi, khususnya mengetahui dunia luar. Alkitab terjemahan bahasa Inggris _The Message_menuliskan bahwa mata dan telinga adalah perlengkapan dasar yang diberikan Tuhan kepada manusia (Proverbs 20:13). Artinya mata dan telinga bukan sekedar ciptaan Tuhan tetapi alat-Nya yang dititipkan kepada kita untuk digunakan dengan semestinya apabila kita ingin mendapatkan yang baik dan mulia.

Orang yang malas, baik itu malas bekerja ataupun malas melakukan hal-hal yang baik dan benar  adalah orang yang miskin. Sebaliknya orang yang rajin, baik itu rajin menggunakan mata dan telinganya untuk hal-hal yang benar maka akan menikmati kepuasan dari hal yang disebut kebenaran.

Kiranya Tuhan menolong kita menggunakan telinga untuk mendengar Firman Tuhan dan mata untuk melihat pekerjaan Tuhan.  Kiranya melalui perkataan dan perbuatan kita menggenapkan, “Apa yang baik, yang manis, yang sedap didengar, yang patut dipuji dan disebut kebenaran”.

MATA DAN TELINGA ADALAH CIPTAAN TUHAN, BILA DIGUNAKAN UNTUK TUHAN AKAN MENGHASILKAN YANG TERBAIK DARI HIDUP.

PERJALANANKU DI HIROSHIMA

PERJALANANKU DI HIROSHIMA

Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.  Markus 9:50b

Tidak pernah terbayang bahwa akhirnya saya menjejakkan kaki di Hiroshima, Jepang.  Hiroshima adalah salah satu sasaran bom atom Amerika Serikat sebagai rentetan konflik perang dunia II. Dari lebih dari 350.000 orang pada waktu itu, setidaknya ada sekitar 200.000 orang terkena dampak mengerikan dari bom atom. Mulai dari radiasi yang menyebabkan gatal, panas terbakar, kulit hancur hingga bentuk tubuh yang meleleh dan sulit dikenali apakah mahkluk berjalan itu laki-laki atau perempuan.

Di wilayah sekitar “Memorial Dome”; museum hingga titik nol bom atom, saya merasakan suasana hening, mencekam dan mengerikan.  Pasalnya bukan hanya foto-foto korban, kesaksian hidup yang ditulis dan disuarakan tetapi ribuan bukti akibat kekejaman perang manusia dipamerkan sebagai peringatan bahwa perang itu mahal harganya.  Lebih baik berusaha menjaga perdamaian dari pada terjebak dalam lingkaran setan “balas dendam” yang menghancurkan satu dengan yang lain.

Itulah yang dimaksud Tuhan Yesus ketika menyampaikan sebuah panggilan hidup menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13; Lukas 14:34-35).  Manusia diciptakan bukan untuk saling menghancurkan tetapi saling memberkati.  Kenyataan menunjukkan tidak semua orang mau berdamai dengan kita, tidak semua orang mau jadi berkat dan wajar tidak semua orang menyukai kita.  Panggilan Tuhan Yesus kepada umat manusia adalah berusaha menjaga perdamaian (shalom) sehingga orang tetap melihat dan merasakan manfaat (bukan sekedar) baik tetapi juga benar.

Saat ini Hiroshima adalah kota besar dengan penduduk lebih dari 1 juta jiwa.  Kota yang sangat maju, modern, bersih dan indah. Sejarah kota ini tetap berdengung di denyut nadi dunia seolah mengingatkan bahwa sebisa mungkin jaga dan usahakanlah perdamaian. Jangan membiarkan diri tenggelam dalam prasangka negatif tentang suku, agama, atau bangsa tertentu. Ketika mendengar berita dari orang atau media massa yang sifatnya provokatif, jangan terburu-buru panas hati tetapi berhenti sejenak, berpikir dan bertanya: Apakah hal ini baik? Apakah informasi ini berguna untuk kebaikan saya atau saya sedang dipermainkan oleh oknum tertentu? Apakah kata Firman Tuhan? Doa saya, kiranya kita tetap menjadi garam dan terang Tuhan di manapun kita berada.

ORANG YANG MENYADARI PERANG ITU SANGAT MAHAL AKIBATNYA, AKAN BERUSAHA MENJAGA PERDAMAIAN DAN MELEPASKAN DIRI DARI LINGKARAN SETAN KEBENCIAN.

KENDI AIR KERAMAH TAMAHAN

KENDI AIR KERAMAH-TAMAHAN

Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya. Matius 10:42

Sewaktu kecil saya mengenyam pendidikan TK (Taman Kanak-kanak) dekat pasar rakyat. Gedung TK ini kecil sehingga sebelum jam pembelajaran dimulai, kami suka nongkrong di depan sambil bermain atau melihat lalu lalang tawar menawar pembeli dan penjual sayur mayuran. Biasalah suasana pasar selain bau menyengat ikan mentah, sayur dan sampah berserakan juga riuh dan ramai dengan berbagai peristiwa yang unik setiap harinya. 

Hari itu saya memperhatikan seorang bapak membawa gerobak (entah apa yang dibawanya) dan berhenti persis di depan rumah di depan TK kami. Depan rumah tersebut berdiri tiang seukuran 1,5 meter dan diletakkan sebuah kendi air di atasnya. Kendi itulah yang diambil oleh bapak itu untuk diminum beberapa teguk dan dikembalikan ke tempatnya. Lalu ia melanjutkan perjalanan.  Tidak berapa lama ada seorang tukang becak yang juga berhenti sejenak, mengambil dan meminum kendi berisi air tersebut dan mengembalikan ke tempatnya. Semula saya berpikir sedang melihat aksi pencurian, tetapi kemudian saya menyadari ini adalah sebuah keramahtamahan.

Mungkin praktik seperti ini agak sukar dilakukan di jaman ini, kalau tidak hilang kendinya bisa pula terjadi orang-orang meminta teh manis, kopi atau minuman bersoda dengan es batu. Perbuatan baik jaman sekarang kerap langka, penuh prasangka dan disalahpahami.  Sebagian orang menolong justru dirampok. Syukurnya, hakikat perbuatan baik yang benar bukan lahir dari reaksi apa kata orang tetapi lahir dari motivasi mau berbagi secara tulus.

Mengikut Yesus secara radikal bukan tentang mengacungkan pedang dan melakukan kekerasan, melainkan mengedepankan prioritas hidup untuk Tuhan dalam cara yang nyata dan seimbang.  Berbuat baik seperti yang dikatakan Yesus, “..memberi air sejuk secangkir sajapun…” (Matius 10:42) adalah bentuk nyata radikalisme Nasrani. Menyambut “orang kecil”, mendukung rohaniwan yang tulus melayani Tuhan, mengunjungi orang sakit pun dapat dilakukan sebagai bagian dari menyambut Tuhan.  Upahnya bukan apa kata orang, apa balas orang, tetapi sebuah kehormatan bisa memberi dan melayani dengan motivasi untuk Tuhan. Inilah militanisme yang perlu dijaga setiap orang percaya apabila merindukan hidupnya berkenan dan diberkati Tuhan. 

KENDI AIR YANG SEDERHANA DAPAT MENJADI ALAT TUHAN MEMBERKATI ORANG LAIN, HIDUP MEMBERI YANG LAHIR DARI MOTIVASI UNTUK TUHAN TIDAK AKAN KEKURANGAN BERKAT TUHAN.