PRIVILEGE

PRIVILEGE

(Baca: II Raja-raja 2:1-18)

Privilige

       Apa yang ada dalam benak Anda mendengar kata “privilige”? Kalau saya langsung teringat Airport Lounge Club. Tidak semua orang memiliki akses ke ruangan ini kecuali orang tersebut adalah _membe_r dan sedang akan terbang ke suatu tempat.

       Kata “privilige” dalam kamus  Meriam Webster didefinisikan sebagai keuntungan atau hak atau kesempatan khusus yang diberikan kepada orang tertentu dan tidak kepada orang lain dalam sebuah komunitas. Status inilah yang diberikan oleh Tuhan kepada Elia dan Elisa, yakni sebuah privilege dari Tuhan kepada umat tertentu yang dipilih-Nya.

       Tidak semua orang dapat masuk ke surga, tetapi hanya sejumlah orang tertentu atas anugerah-Nya. Tidak semua orang dapat menikmati naik ke surga tanpa kematian (Alkitab mencatat 2 orang yakni Henokh dan Elia). Tidak semua orang mendapat kesempatan melihat Elia naik ke surga kecuali Elisa yang memang dipilih dan dipersiapkan Tuhan.

       Kalau Tuhan memilih umat-Nya, maka pilihan-nya tidak setengah hati alias sepenuhnya. Tuhan yang memilih adalah Tuhan yang memanggil dan memperlengkapi hamba-hamba-Nya. Pertanyaannya sekarang adalah Apakah kita sebagai orang percaya mengikut Tuhan setengah-setengah atau sepenuh hati? Pengikut Tuhan yang ambil bagian dalam pelayanan atau penonton yang terlambat bereaksi?

       Ketika Elia dipanggil Tuhan untuk melayani, ia mengikut sepenuh hati dan kemuliaan Tuhan dinyatakan. Ketika Elisa dipanggil dalam pelayanan, ia langsung merespon dengan totalitas dan kemuliaan Tuhan dinyatakan. 50 orang yang mengaku rohaniwan, pandai bicara dan mengerti banyak tentang Teologi namun hanya menjadi penonton dari kejauhan ketika Tuhan beperkara dalam hidup Elia dan Elisa. Mereka telat berespon dan tidak melihat jejak apapun dari kenaikan Elia ke surga. Sementara itu Elisa berkeputusan tidak akan meninggalkan Elia sebentar saja menjelang masa kenaikan ke surga.

       Seandainya sekarang Tuhan berkata, “Mintalah sesuatu!”, Kalau Elisa tentu menjawab jadikan saya rohaniwan seperti Elia. Kalau Anda? Apa respon Anda? Mari kita gunakan privilige dari Tuhan dengan baik, ketika kita bisa percaya, mengikut dan melayani Tuhan. Amin.

elia naik ke sorga

ADALAH PRIVILEGE APABILA KITA DAPAT MENGIKUT DAN MELAYANI TUHAN DALAM HIDUP INI

TUHAN PUNYA CARA

TUHAN PUNYA CARA

(Baca: 2 Raja-raja 3:1-27, Mazmur 23:5)

Tuhan punya cara

       Pada umumnya kita ingin selalu dapat kabar baik dan hidup lancar, namun kenyataannya tidak setiap hari hidup berjalan lancar. Apa yang kita rencanakan dengan matang sekalipun tidak berarti pasti berhasil. Ada kalanya semua perencanaan gagal total dan membuat suasana hati dan keadaan menjadi buruk.

       Inilah yang dialami oleh Yosafat (raja Yehuda), Yoram (raja Israel) dan raja Edom. Mereka mempersiapkan dengan matang peperangan terhadap Moab, namun perjalanan yang seharusnya ditempuh sekitar 2-3 hari menjadi lebih 7 hari dan belum juga tiba di wilayah Moab. Seluruh rombongan kehausan, kekurangan logistik dan mental pasukan dalam keadaan sangat buruk hingga mulai meragukan para pemimpinnya.

       Di sinilah Yosafat ingat Tuhan dan mengajak para raja mencari Tuhan. Elisa menubuatkan datangnya air berlimpah dengan cara Tuhan yang melampaui pikiran. Wilayah Edom ke atas itu padang gurun. Wilayah Moab khususnya di sekitaran Madaba dikelilingi pegunungan dengan kontur medan yang sukar dan gersang. Hingga sekarang wilayah yang dulu disebut Edom dan Moab atau kini disebut Jordania dikenal kekurangan air.

       Singkat cerita, Tuhan datangkan banjir air yang menyegarkan pasukan Yosafat dan koleganya,  Tuhan memberikan kemenangan dahsyat kepada mereka.

       Ingatlah, Tuhan sanggup mendatangkan banjir berkat bahkan ketika kita semua berpikir yang ada hanya kekeringan dan kesulitan hidup. Mari cari Tuhan sekarang juga! Pililah jalan yang benar dan lurus. Tuhan punya cara untuk beperkara dalam hidup kita. Amin.

TUHAN PUNYA CARA UNTUK BEPEKARA DALAM HIDUP KITA, CARI DAN ANDALKAN TUHAN DENGAN CARA-NYA.

PAPA JANGAN MINTA KBRI JEMPUT!

ANAK: “PAPA JANGAN MINTA KBRI JEMPUT!”

(Baca: Amsal 22:6)

transfer

 

       Baru-baru ini dunia media massa digegerkan dengan ulah oknum wakil rakyat yang minta “jatah” layanan fasilitas transport dan tempat tinggal dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di luar negeri untuk kepentingan pribadi anaknya.  Inilah potret carut marut antara penyalah gunaan kekuasaan dengan kekuatiran berlebihan dari orang tua kepada anaknya.

       Apa kata Firman Tuhan mengenai mendidik anak/generasi muda? Tuhan mengasihi dan perduli dengan anak-anak sebagai pribadi yang berharga. Ketulusan, keterbukaan dan kemauan untuk diajar di dalam kebenaran adalah modal dasar menjadi pribadi yang utuh dan sehat. Di sinilah pentingnya peran orang tua mengajar, mengingatkan Firman Tuhan dan mendoakan.

       Mendidik anak atau generasi muda bukan perkara gampang. Dibutuhkan keseimbangan dan dasar yang kuat untuk mendampingi pribadi menjadi dewasa. Seorang anak tidak akan tumbuh memiliki mental dan kepribadian yang baik hanya dengan fasilitas makanan, uang dan pakaian.

       Seorang dosen di universitas ternama di Indonesia mengambil resiko menugaskan mahasiswa/i-nya ke luar negeri tanpa ikut tour, tanpa dijemput alias semuanya urus sendiri dan pergi sendirian. Bagi banyak orang tua tentu kuatir tetapi kurikulum ini sebenarnya membentuk rasa percaya diri, membuka wawasan lebih luas, mengajar dinamis dalam perkembangan jaman.

       Berlebihan kasih sayang, perhatian dan terlalu dimanja akan merusak pribadi anak.  Sebaliknya, anak-anak yang terlalu dibiarkan bertumbuh dengan sendirinya tanpa kehangatan kasih sayang orang tua, keteladanan dan pendampingan akan menjadi sasaran empuk predator dunia.

       Hari ini selagi masih ada kesempatan, doakan anak/generasi muda Anda. Ajar mereka tentang kebenaran Firman Tuhan. Berikan teladan dan dampingi bagaimana menghadapi lika liku kehidupan. Jika waktunya sudah tiba, relakan mereka untuk lepas “terbang” mandiri. Spontan anak  berkata, “Papa, jangan minta KBRI jemput saya!”

 

ORANG TUA YANG BEKERJA KERAS MENDIDIK ANAKNYA DI DALAM TUHAN SEDANG MEMBERI HAL YANG LEBIH BAIK DARI FASILITAS UANG DAN HARTA

Mendidik Anak

JIKA BUKAN KITA SIAPA?

JIKA BUKAN KITA, SIAPA?

(Baca: Ulangan 6:7, Yosua 1:8)

jika bukan anda

 

       Saya terkesima melihat gambar anak-anak sedang menyusu pada seekor babi betina besar di tengah lingkungan yang kotor. Ilustrasi ini tadinya dibuat untuk sebuah badan sosial membantu anak-anak kelaparan. Hari ini bukankah ada lebih banyak anak-anak yang tidak kelaparan secara fisik, tetapi secara rohani sedang “menyusu” bacaan porno, manga sadistik, ajaran sesat, yang semuanya sama kotor dan jorok seperti Sodom dan Gomora (Kejadian 19)?

       Musa mengingatkan umat Tuhan agar orang tua, termasuk generasi yang lebih senior tidak henti-hentinya mengajarkan kebenaran Firman Tuhan kepada anak-anak. Tuhan sendiri mengkonfirmasi Yosua mengenai kunci keberhasilan adalah terus mengingat Firman Tuhan dan bertindak hati-hati berdasarkan kebenaran. Sejarah Alkitab mencatat Yosua berhasil.

       Manusia bukan sampah, dan anak-anak manusia layak mendapatkan makanan yang sehat termasuk makanan rohani. Keberlangsungan makanan rohani sehat tidak hanya di gereja, sekolah, tetapi juga di rumah bahkan di manapun berada. Jangan biarkan anak-anak Anda bertumbuh dengan sendirinya tanpa mengenal indahnya Firman Tuhan. Ini dimulai dari kita bersama. Berikut alternatif praktis: menceritakan kisah Alkitab, menjadi guru Sekolah Minggu, memutar lagu rohani, membaca buku-buku rohani, berdoa bersama, dst. Jika bukan kita bersama, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi?

 

JIKA BUKAN KITA BERSAMA, SIAPA LAGI YANG AKAN MENGAJARKAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN KEPADA MEREKA?