HIDUP INI SEPERTI SEKOLAH

HIDUP INI SEPERTI SEKOLAH

“… dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.”  Efesus 5:10

Pernahkah Anda tiba-tiba tidak disukai oleh orang lain?  Anda bertanya-tanya dan bingung karena orang itu yang tadinya ramah dan baik kemudian menjadi cuek dan menghindar.  Anda dimusuhi.  Saya pernah dan rasanya tidak enak.

Jikalau Anda adalah orang kolerik, maka kemungkinan besar tidak akan merasakan hal ini sampai yang bersangkutan melakukan tindakan kasar dan mengganggu sistem dan kinerja pekerjaan Anda.  Jikalau Anda adalah sanguin, maka Anda akan langsung bertanya dan terus berbicara dan lupa apa yang terjadi.  Jikalau anda adalah phlegmatik, maka kemungkinan Anda akan bertanya dan menghadapi dengan ringan.  Jikalau Anda melankolis, kemungkinan Anda akan memikirkan dan terus memikirkan hingga stres.

Saya termasuk orang melankolis dan ada tendensi untuk terus memikirkannya.  Kemudian saya menyadari dan berpikir: “Kalau ini diteruskan akan tidak baik hasilnya.  Apa yang Tuhan mau bagi saya?”  Setiap peristiwa di dalam kehidupan yang terjadi setiap harinya, entah itu peristiwa menyenangkan, buruk, berkat dan kerugian, semuanya diijinkan Tuhan terjadi dengan maksud agar kita bertumbuh dan berjalan bersama dengan Kristus.

Paulus menasihatkan kepada jemaat di Efesus agar menunjukkan kualitas hidup orang Kristen yang seharusnya: hidup sebagai anak-anak Tuhan yang taat.  Terjemahan living Bible  menggunakan istilah mengikuti teladan Tuhan.  Setiap orang percaya perlu introspeksi diri.  Jikalau ada dosa, ia harus bertobat dengan meninggalkan dosa itu.  Belajar membiasakan hidup kembali sebagai anak-anak Terang.

Dari renungan ini, Firman Tuhan mengingatkan setiap orang percaya untuk terus mengevaluasi hidup setiap hari.  Setiap efek dari berelasi dengan orang lain seharusnya menghadirkan 3K: Kebaikan, Keadilan dan Kebenaran.

Saya percaya ada maksud Tuhan dibalik sikap orang yang tidak baik.  Pertama, membuat kita belajar mengevaluasi diri.  Kedua,  membuat kita lebih berjaga dan memperhatikan waktu hidup yang dipakai. 

Di dalam dunia pendidian, orang yang ingin lulus harus memperhatikan aturan main dan materi yang disajikan.  Setiap siswa/i harus menggunakan waktu untuk belajar dan mengevaluasi apa yang telah dipelajari.

Hidup ini dapat diilustrasikan dengan sekolah.  Diri sendiri adalah siswa, orang-orang di sekelilingnya adalah teman sekolah.  Materi pelajarannya adalah masalah dan tantangan hidup.  Jikalau orang itu berhasil menyelesaikan dan menghadapi masalah seturut dengan petunjuk Guru, ia naik kelas.  Oh ya, Sang Gurunya adalah Tuhan.  Sang Guru memberikan petunjuk, materi dan ujian.  Murid menerima pelajaran, mengevaluasi dan mengikuti ujian.

Biarlah melalui segala permasalahan, baik kecil maupun besar membuat kita boleh maju selangkah lebih baik, selangkah serupa Kristus.  Marilah kita melihat setiap pergumulan dari cara Tuhan bekerja.  Apakah yang harus dievaluasi dalam hidup saya?  Apakah tindakan saya meresponi peristiwa adalah tindakan yang memperkenan Tuhan?  Atau jangan-jangan tindakan kita egois dan bersifat kedagingan.  Mari kita masuk kelas.

DENGAR SUARA TUHAN?

Dengar Suara Tuhan?!

Di antaramu janganlah didapati seorangpun … menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.  Ulangan 18:10-11

Pernah saya mendengar seorang ibu yang sedang frustasi berat karena suaminya mempunyai selingkuhan dengan wanita lain.  Dalam keadaan stres ini ia bertemu dengan orang Kristen yang memerintahkan untuk melakukan beberapa hal yang katanya adalah perintah langsung dari Tuhan.  Benarkah ini?  Apakah orang Kristen itu memang punya karunia dengar suara Tuhan?  Bagaimana pula dengan sejumlah “dukun” Kristen yang mengaku   perkataannya adalah didengar langsung dari Tuhan?

Praktik perdukunan dan peramalan sangat dilarang Tuhan.  Di Perjanjian lama memang banyak orang yang mendengar suara Tuhan dan itu benar.  Kendati demikian, jika tidak waspada bisa jadi tidak sungguh-sungguh dengar suara Tuhan tetapi justru suaranya sendiri dalam hati, dijadikan suara Tuhan.

Jaman Yerobeam tidak jauh beda dengan keadaan sekarang.  Banyak pembesar yang hidup di luar kebenaran dan sejumlah nabi yang mengaku mendengar suara Tuhan.  Seorang abdi dari Yehudah mendengar suara Tuhan dan pergi bernubuat tentang masa depan Mesias (I Raj.13:2).  Raja Yerobeam yang mulanya tidak percaya, menjadi takut dengan abdi itu.  Yerobeam lumpuh ketika memarahi abdi dari Yehudah.

Ketika abdi Allah itu pulang, seorang dari Betel mengaku mendengar suara Tuhan dan meminta nabi dari Yehuda itu makan dirumahnya.   Sebelumnya Tuhan berbicara agar nabi dari Yehuda itu tidak makan apapun di Betel. Permintaan bapak tua dari Betel tidak berani ditolak apalagi setelah dengar: “ini dari Tuhan lho!!”  Esoknya, sewaktu nabi dari Yehudah pulang, ia diterkam mati oleh seekor singa karena melanggar perintah Tuhan.

Apapun dan bagaimanapun keadaannya, suara Tuhan tidak pernah bertentangan dengan Firman-Nya sendiri.  Jadi, apa yang tertulis di Alkitab menjadi tolak ukur untuk mengetahui seseorang mendengar suara Tuhan atau suara hatinya sendiri.  Jangan-jangan yang didengar suara setan.

Alkitab adalah Firman Tuhan dan itu tidak boleh ditambah atau dikurangi lagi.   Yesus Kristus adalah perantara kita sehingga dapat langsung datang kepada Bapa (Ibr.4:14-16).  Dengan demikian, kita sebagai orang percaya tidak boleh mencari orang tertentu (‘dukun’ Kristen) untuk mengetahui kehendak Tuhan.

Jika ada orang mengklaim dengar suara Tuhan seperti:“semalam saya mendengar suara Tuhan, kamu harus berpacaran dengan si Q.” Atau “Saya tahu kamu sakit kanker dan suamimu hendak meninggalkanmu.  Tuhan berkata agar kamu tinggal di kota anu beberapa hari.”   Hati-hati!  Jangan sampai Anda justru lebih mencari “dukun” Kristen dari pada Tuhan Yesus.  Meski ‘peramal’ itu tahu banyak tentang Anda, jangan lugu.  Kehendak Tuhan adalah Anda mengetahui kebenaran (Alkitab) dan kebenaran itu akan memerdekakan Anda (Yoh.8:32).

HIDUP BAK TANAMAN

HIDUP BAK TANAMAN

 

Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku… Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”  Ester 4:15

 

  

Saya sangat menyukai berada di sekitar kebun bunga-bunga.  Di samping terasa segar dan menyejukkan juga memiliki rasa gembira yang tidak terlukiskan.  Mungkin ini disebabkan salah satunya oleh bakat naturalis.  Pernah saya mencoba memelihara setangkai mawar, namun tidak berapa lama menjadi layu dan mati.

Beberapa waktu yang lalu saya diberi oleh seorang dokter yang juga sangat gemar dengan tanaman.  Entah apa namanya, namun saya menyukai dan ingin mencoba memeliharanya.  Kemudian muncul pertanyaan dalam benak saya: “Mungkinkah tanaman ini bisa hidup?”  Bagaimanapun juga saya harus mencobanya lagi.

Beberapa hari berlalu, saya gembira melihat proses tanaman ini yang tadinya sedikit layu, kemudian menjadi lebih segar.  Pagi itu saya melihat tanaman itu sudah mulai tumbuh tunas.

Bukankah hidup ini seperti tanaman.  Kehidupan membutuhkan perawatan yang tepat, penyiraman pupuk kerohanian yang sehat dan proses untuk bertumbuh.  Dibutuhkan lebih dari sekedar hati-hati dan informasi yang cukup untuk itu.  Jikalau tidak mencoba untuk bercocok tanam maka tidak ada kemungkinan untuk berhasil.

Inilah yang dilakukan oleh Ester ketika Mordekhai mengingatkan keadaan bangsa Yahudi yang di ujung tanduk segera disembelih dan dimusnahkan.  Ester mengetahui jika salah langkah menghadap raja akan dihukum mati.  Bagaimanapun juga Ester harus mencoba berbicara kepada raja.

Ester memulai dengan doa dan puasa, baik untuk dirinya maupun orang-orang Yahudi sebagai wujud mengandalkan Tuhan dalam menghadapi masalah ini.  Ester mengambil resiko martir untuk menyelamatkan bangsanya.

Jaman ini kekristenan di Indonesia banyak digencet dari luar dan dalam.  Dari dalam adalah perpecahan dan keegoisan masing-masing gereja.  Dari luar adalah tekanan penganiayaan, penutupan gereja, pengucilan bahkan pengganyangan orang Kristen di berbagai tempat.  Mulai dari difitnah hingga dibakar hidup-hidup adalah fakta yang terjadi di Indonesia.

Pertanyaan bagi kita sekarang adalah: adakah kita sebagai orang percaya berani mencoba untuk mengerjakan bagian kita mendukung tubuh Kristus?  Maukah kita bersatu dan tidak saling menjegal diantara gereja-gereja yang berbeda denominasi?

Semua rencana untuk membawa kekristenan bertumbuh dan selangkah lebih maju adalah baik.  Semua usaha doa, puasa dan pujian penyembahan bagi Tuhan adalah perlu, namun tidak cukup bila orang-orang Kristen hanya kemudian datang; duduk dan sibuk di dalam gedung Gereja saja.  Kita perlu keluar, seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Amanat Agung “Pergi..!” (Matius 28:19-20).

Perhitungan, perencanaan dan persiapan untuk pelayanan Amanat Agung itu penting, namun terlalu lama berencana hingga sempurna barulah keluar adalah tidak benar.  Hari ini terlalu banyak orang-orang yang sangat baik dan tulus mengasihi Tuhan terbiasa bahkan terlena dengan kegiatan agamawi di Gereja hingga tidak berani dan segera melangkah keluar menjadi berkat bagi orang lain di luar gedung Gereja.

  Seperti halnya bercocok tanam, kita mengusahakan dan Tuhan dengan anugerah-Nya menumbuhkan.  Demkian hidup bergereja: kita harus mencoba; mengusahakan; mengambil langkah dan Tuhan yang akan memperlengkapi dan menyertai dengan kuat kuasaNya.  Kiranya Tuhan menolong kita mengerjakan hidup yang berkenan kepadaNya.

DASAR KEHIDUPAN YANG TEPAT

DASAR KEHIDUPAN YANG TEPAT

Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.  II Tawarikh 7:14

Pagi hari itu, ketika saya bangun dan mendengarkan siaran BBC, dikabarkan bahwa telah terjadi kerusuhan di Uganda pasca meninggalnya wakil presiden negara itu.  Kemudian saya teringat film “Hotel Wranda” yang peristiwa kerusuhannya dipicu oleh meninggalnya seorang pemimpin negara.

Sebelum peristiwa banjir darah ini, banyak orang optimis terjadi pemulihan dan bahkan didengungkan oleh pasukan PBB sudah terjadi pendamaian dari pihak bertikai.  Kenyataan, pendamaian apalagi pemulihan berubah menjadi kerusuhan dan kekacauan.

Banyak orang menginginkan adanya pemulihan dan perdamaian, bahkan sejumlah diantara mereka meyakini terjadinya hal itu.  Benarkah pemulihan dapat terjadi?  Bagaimana pendamaian diwujudkan?

Firman Tuhan kepada bangsa Israel, khususnya kepada Salomo dapat menjadi petik pelajaran untuk setiap orang percaya.  Ketika Salomo memiliki hati dan hikmat untuk Tuhan, maka segala hal yang dikerjakan adalah untuk kemuliaan Tuhan.  Salomo mempersiapkan pembangunan bait Allah secara megah dan besar karena memang yang terbaik dan termahal haruslah untuk Tuhan.

Perayaan peresmian bait Allah yang sudah jadi dengan berbagai persembahan, pujian dan penyembahan mendapat perkenan Tuhan dan sekaligus Firman-Nya yang berharga.  Perkataan Tuhan ini menjadi kunci dasar hidup manusia yang tepat, kuat dan benar.

Pemulihan dan pendamaian sejati baru terjadi setelah adanya pertobatan.  Jikalau orang-orang yang ingin mendapat pemulihan dan pendamaian di dalam hidup, maka haruslah merendahkan diri, berdoa, mencari wajah Tuhan dan bertobat.

Banyak orang mengaku beragama, banyak orang Kristen mengaku melayani tetapi hidupnya kosong dan rapuh.  Sekalipun banyak kegiatan pelayanan tidaklah menjamin memiliki kerohanian yang sehat.  Sekalipun banyak harta dan kariernya berhasil tidak menjamin sebagai perkenan dan berkat Tuhan.  Jikalau ada dosa yang belum dibereskan di hadapan Tuhan, maka segala upaya dan usaha manusia adalah sia-sia dan menuju kehancuran.

Salomo di dalam kekayaan dan ketenaran dan kebesaran, pada akhirnya jatuh dan tidak lagi menempatkan Tuhan sebagai yang pertama dan utama dan satu-satunya.  Kekayaan Israel dan bait Allah menjadi timbunan puing sejalan dengan bangsa yang tidak bertobat dan berbalik kepada Tuhan.

Hari ini banyak orang tengah membangun masa depannya.  Ada yang menyusun strategi untuk memenangkan pertempuran.  Ada yang mempersiapkan diri untuk karier.  Ada yang mengumpulkan harta dan membangun gudang-gudang menyimpang kelebihan penghasilannya.  Bahkan banyak orang saat ini sedang berkarya untuk mengerjakan kehidupan yang lebih baik dan lebih mapan.  Pertanyaannya adalah sudahkah kita meletakkan dasar hidup yang tepat?  Sudahkah pertobatan dan menemukan kehendak Tuhan menjadi dasar kita melangkah?  Kiranya Tuhan menolong kita.