TREN BAKAR DIRI

TREN BAKAR DIRI
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
Ibrani 12:3
Siapa yang sangka bahwa aksi bakar diri seorang pemuda terpelajar, Muhammed Bouazizi pada bulan desember 2010 di Tunisia menjadi inspirasi sekaligus “tren” sejumlah orang di berbagai negara seperti: Mesir, Aljazair maupun Mauritania?  Sebenarnya aksi bakar diri di dalam sejarah bukan hal baru.  Ada orang-orang yang berbuat ini karena marah, kecewa ataupun “berani” untuk melakukan aksi destruktif ini demi falsafah atau cara pandang hidupnya.
Peristiwa tahun 2011 tentang bakar diri yang dibuka oleh Bouazizi sebelumnya,  mengetengahkan tema yang hampir sama: kemiskinan.  Kemiskinan dan ketidak-adilan hidup memicu sejumlah orang untuk jadi putus asa.  Putus asa diungkapkan dengan mengakhiri hidup alias bunuh diri.
Hal yang paling mematikan dari diri manusia bukan pada saat ia kekurangan sesuatu atau berada dalam keadaan sulit, tetapi pada saat seseorang berputus asa.  Putus asa adalah sikap menyerah terhadap hidup.  Putus asa dipicu dari kelelahan berlebihan yang dialami secara terus menerus.
Putus asa dapat menyerang siapa saja, di mana saja dan kapan saja.  Apakah orang itu kaya atau miskin, pandai atau bodoh, muda ataupun tua; putus asa bisa menghancurkan hidup manusia tanpa pandang agama dan kepercayaan sekalipun.  Saya pernah mengetahui seorang tetangga yang bunuh diri karena putus cinta.  Apa yang salah adalah cinta yang tidak kesampaian?   Bukan.  Saya pikir lebih karena putus asa.
Bagaimana sebaiknya kita menghadapi permasalahan dan keadaan sulit, bahkan mungkin bagi sebagian orang adalah terus menerus ini?  Belajar dari surat Ibrani, penulis mengingatkan bahwa memang kita tinggal di dunia yang sebenarnya tidak layak dihuni.  Suatu dunia yang dipenuhi dengan dosa, dimeriahkan dengan kekerasan dan ketidak-adilan. 
Penulis Ibrani mencontohkan banyaknya orang-orang percaya yang disiksa karena iman percayanya.  Mereka harus menghadapi penganiayaan dan keadaan yang sulit secara berkelanjutan.  Hal yang membuat mereka kuat, modalnya adalah iman.  Mereka tergoda untuk merangkul keputus-asaan, tetapi mereka memandang dengan iman kepada Tuhan Yesus Kristus dan akhirnya beroleh pengharapan dan kekuatan.
Mengarahkan pandangan kepada Yesus Kristus/Isa Almasih/Yesua Hamashiach membuat kita sadar bahwa kita tidak sendirian.  Mengarahkan pandangan kepada-Nya memberikan kekuatan oleh kuasa kebangkitan-Nya.  Mengarahkan pandangan kepada Kristus dapat memberikan pengharapan, sukacita, damai sejahtera dan kelegaan (Matius 12:28-30).
Adalah kecenderungan kebanyakan kita apabila ada masalah ataupun kesulitan hidup dan kemudian memperhatikan, menghabiskan waktu untuk melihat kesusahan kita.  Sementara Penulis Kitab Ibrani mengajak kita mengarahkan pandangan kepada Yesus.  Seperti ada pepatah, “Bila kita melihat manusia, kita akan kecewa.  Bila kita melihat Tuhan, kita akan beroleh kekuatan menjalani hidup.”. 
Suatu kali ada dua orang berjalan di kota besar.  Orang pertama mendengar suara binatang jangkerik, tetapi orang kedua tidak.  Tidak berapa lama orang pertama ini menyeberangi jalan, mendekati sebuah pot bunga dan merogoh seekor binatang jangkerik.  Temannya heran dan berkata, “Wah, pendengaranmu tajam luar biasa!  Bagaimana kamu bisa mendengar di tengah keramaian kota ini?”  Dengan enteng, orang pertama menjawab, “itu tergantung apa yang kau perhatikan.”
Kemudian orang pertama memberikan tanda kepada temannya untuk memperhatikan.  Ia merogoh dikoceknya sejumlah uang, kemudian melemparkan ke jalan. Terdengar bunyi, “kerinciiiing…. !!”  segera banyak orang yang lewat di sana menoleh, termasuk pekerja bor tanah.  Teman dari orang pertama segera mengerti maksudnya.  Itu semua tergantung dari apa yang kau perhatikan.
Hidup ini sulit.  Itu tidak bisa dipungkiri.  Semua orang tahu bahwa menjalani hidup itu tidak mudah, terlebih hidup yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan.  Mari kita membuat hidup ini tidak bertambah sulit dengan pikiran-pikiran negatif: khususnya putus asa.  Masih ada Tuhan!  Masih ada harapan!  Masih ada kehidupan kekal di surga yang luar biasa indah tak terkatakan bagi setiap orang yang mau percaya dan mengarahkan hatinya kepada Tuhan Yesus Kristus. 
Mari kita mengucapkan dan merenungkan kembali apa yang dikatakan oleh penulis kitab Ibrani, “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. “  Mari kita mengingat Dia, Tuhan Yesus Kristus!  Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *