KETIKA IBADAH DISALAHMANFAATKAN

ibadah

KETIKA IBADAH DI SALAH MANFAATKAN

(Baca: I Timotius 6:6)

ibadah

       Bagi kita yang tinggal di negara mayoritas ber agama, tentu tidak asing dengan sejumlah oknum yang memanfaatkan frasa “agama”, “demi Tuhan”, “ibadah” untuk kepentingannya dari pada kepentingan-Nya. Kedok seolah saleh ini jauh dari kebenaran dan kerap dibungkus dengan banyak kebaikan. Sejarah agama mencatat noda oknum yang membakar manusia demi nama Tuhan, korupsi tidak apa-apa asal seiman, hingga intrik politik saling menjatuhkan di institusi berbalut hal rohani.  

       Rasul Paulus pada waktu itu pun mengingatkan orang-orang percaya dan sekaligus para pelayan Tuhan khususnya Timotius agar mewaspadai virus dosa keji ini. Ibadah memang membawa manfaat bagi pemeluknya, asal di dalam ajaran yang benar dan motivasi yang benar pula. Kata “ibadah” dalam pengertian “chasidus” (istilah Ibrani) mengandung makna saleh, tidak egois, rohani, hidup dan sekaligus revolusioner (selalu refleksi diri untuk selangkah lebih maju). Tentu pemahaman ini bertolak belakang dengan motivasi cinta uang, sikap benci, dan menjauhi hakikat kebenaran.

       Ada fenomena menarik tentang pemilihan majelis/diaken dalam sebuah gereja. Ada gereja yang orang-orangnya berebutan ingin dan mau dicalonkan sebagai pengurus karena berkaitan dengan uang, kehormatan dan kekuasaan. Ada pula sebaliknya, sulit sekali mencari jemaat yang bersedia dicalonkan karena pelayanan yang akan dijalani penuh pengorbanan baik itu waktu, tenaga hingga tidak jarang uang. Pada titik keadaan seperti ini, masing-masing kita dipertanyakan pada motivasi dasar hidup yang paling mendalam: ibadah untuk siapa?  Kalau Tuhan memanggil dan mempercayakan maka hidup itu pada dasarnya adalah ibadah yang akan dipertanggungjawabkan dalam kekekalan.

       Apabila motivasi hati sudah benar, maka tidak dapat dipungkiri ibadah membawa manfaat dan berkat dari Tuhan kepada pemeluknya seperti rasa syukur, damai, mujizat, sukacita, hikmat Tuhan, dst. Orang yang ber organisasi keagamaan belum tentu beribadah, tetapi orang yang beribadah akan lebih menjadi saluran berkat lewat organisasi. Kiranya Tuhan menolong kita menjalani hidup beribadah dengan motivasi yang benar di tempat kerja, tempat ibadah, komunitas kampung, yayasan, dan di mana pun. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan, Soli Deo Gloria.

IBADAH YANG DISERTAI RASA CUKUP MEMBAWA MANFAAT BESAR

PAPA JANGAN MINTA KBRI JEMPUT!

Mendidik Anak

ANAK: “PAPA JANGAN MINTA KBRI JEMPUT!

(Baca: Amsal 22:6)

transfer

 

       Baru-baru ini dunia media massa digegerkan dengan ulah oknum wakil rakyat yang minta “jatah” layanan fasilitas transport dan tempat tinggal dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di luar negeri untuk kepentingan pribadi anaknya.  Inilah potret carut marut antara penyalah gunaan kekuasaan dengan kekuatiran berlebihan dari orang tua kepada anaknya.

       Apa kata Firman Tuhan mengenai mendidik anak/generasi muda? Tuhan mengasihi dan perduli dengan anak-anak sebagai pribadi yang berharga. Ketulusan, keterbukaan dan kemauan untuk diajar di dalam kebenaran adalah modal dasar menjadi pribadi yang utuh dan sehat. Di sinilah pentingnya peran orang tua mengajar, mengingatkan Firman Tuhan dan mendoakan.

       Mendidik anak atau generasi muda bukan perkara gampang. Dibutuhkan keseimbangan dan dasar yang kuat untuk mendampingi pribadi menjadi dewasa. Seorang anak tidak akan tumbuh memiliki mental dan kepribadian yang baik hanya dengan fasilitas makanan, uang dan pakaian.

       Seorang dosen di universitas ternama di Indonesia mengambil resiko menugaskan mahasiswa/i-nya ke luar negeri tanpa ikut tour, tanpa dijemput alias semuanya urus sendiri dan pergi sendirian. Bagi banyak orang tua tentu kuatir tetapi kurikulum ini sebenarnya membentuk rasa percaya diri, membuka wawasan lebih luas, mengajar dinamis dalam perkembangan jaman.

       Berlebihan kasih sayang, perhatian dan terlalu dimanja akan merusak pribadi anak.  Sebaliknya, anak-anak yang terlalu dibiarkan bertumbuh dengan sendirinya tanpa kehangatan kasih sayang orang tua, keteladanan dan pendampingan akan menjadi sasaran empuk predator dunia.

       Hari ini selagi masih ada kesempatan, doakan anak/generasi muda Anda. Ajar mereka tentang kebenaran Firman Tuhan. Berikan teladan dan dampingi bagaimana menghadapi lika liku kehidupan. Jika waktunya sudah tiba, relakan mereka untuk lepas “terbang” mandiri. Spontan anak  berkata, “Papa, jangan minta KBRI jemput saya!”

 

ORANG TUA YANG BEKERJA KERAS MENDIDIK ANAKNYA DI DALAM TUHAN SEDANG MEMBERI HAL YANG LEBIH BAIK DARI FASILITAS UANG DAN HARTA

Mendidik Anak

UANGMU UANGKU

talent

UANGMU UANGKU
(Baca: Matius 25:14-30)
Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan.  Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (Matius 25:29)
Ada beberapa tipe orang menyikapi harta.  Pertama di sebut individualis.  Semboyan hidupnya “uangku adalah uangku dan uangmu adalah uangmu”.  Tidak ada yang dirugikan dan jangan coba-coba merugikannya.  Orang kedua disebut preman.  Pedoman hidupnya bebas.  Bebas?  Ya bebas!  Bebas mengambil, memukul dan merampok.  Semboyan hidupnya “uangmu adalah uangku”.  Tipe ketiga disebut komunis.  Prinsip hidupnya “semua uangku uangmu, semua uangmu uangku.”  Hidupnya dihabiskan sebisa mungkin sama rata, sama susah akhirnya sama membingunkan karena pedoman hidup ini hanya idealis semata.
Tipe ke empat disebut pengikut Tuhan (Matius 25:14-15). Moto hidupnya adalah hidup ini milik Tuhan dan akan dipertanggung jawaban kepada-Nya kelak.   Sekilas mirip seperti komunis tetapi jauh berbeda dasar dan implikasinya.  Ia dapat menikmati hidup sesuai berkat yang diterima dari kerja kerasnya secara benar dan ia percaya TUHAN!
Perumpamaan kerajaan Sorga seperti 3 orang hamba yang dipercayakan harta (talenta) berbeda oleh majikannya (Matius 25:14-30).  Kedua orang menghasilkan talenta lebih lagi tetapi orang terakhir menaruh prasangka negatif terhadap majikannya dan celakanya tidak menghasilkan talenta apapun.  Sebenarnya yang disoroti bukan membandingkan keadaan diri dengan orang lain tetapi sikap tidak bertanggung jawab.  Sikap hamba terakhir disebut jahat dan malas karena tidak percaya Tuhan Yesus  dan berpikiran negatif tentang-Nya.  Sikap hati yang membuatnya rugi dan binasa.
Anda tipe orang ke berapa? Hari ini Tuhan memberikan kesempatan hidup kepada kita sesuai dengan keadaan masing-masing.  Iri hati bukan sikap yang tepat.  Tuhan sanggup memberikan berkat lebih lagi kepada Anda dan saya. Ingat kelak Tuhan akan bertanya, “Apa yang sudah kau lakukan untuk-Ku?  Apa ada gunanya Aku menciptakan dan membiarkanmu hidup sekian lama itu?”
BERKAT YANG PALING BESAR DALAM HIDUP INI TIDAK DITENTUKAN OLEH BARANG MAHAL DAN MEWAH TETAPI RASA SYUKUR BISA MENIKMATI ANUGERAH TUHAN.