MENGENDARAI PERUBAHAN

mengendarai perubahan

 

MENGENDARAI PERUBAHAN

Markus 2:13-17

mengendarai perubahan

 

       Beberapa waktu lalu saya naik Grab, yakni salah satu nama jasa transportasi on line.  Sederhananya aplikasi ini dirancang mempertemukan pengguna di satu titik dengan penjual jasa di titik terdekat untuk menghemat biaya dan waktu.

       Rupanya tidak semua orang menyukai perubahan dan selalu ada pro dan kontra. Setidaknya itulah yang dikeluhkan oleh salah seorang sopir Grab yang saya tumpangi. Beberapa kali kendaraannya di gores oleh oknum dari jasa transportasi konvensional. Ketidaksiapan mengendarai perubahan berarti tertinggal. Dalam kondisi seperti ini, maka mudah sekali bagi manusia untuk jatuh dalam iri hati, kebencian dan kemarahan.

       Rasa benci, iri dan berusaha mencari kesalahan inilah yang dilakukan oleh para rohaniwan jaman itu ketika melihat Yesus lebih dibutuhkan dari pada mereka. Yesus makan bersama dengan para pemungut cukai yang waktu itu dianggap sebagai pengkhianat bangsa  dan perampok uang rakyat. Dengan motivasi cari kesalahan, para Farisi dan Ahli Taurat bertanya, kenapa Yesus yang seharusnya adalah tokoh rohaniwan justru dekat dekat dengan pendosa?

       Yesus melakukan sebuah terobosan melampaui tradisi saleh agamawi. Alih-alih menjauhi “orang bermasalah”, Yesus justru merangkul dan menjangkau “mereka yang terbuang” agar diselamatkan. Tradisi, rutinitas agamawi, kebiasaan akan diuji oleh perubahan dan tolak ukurnya adalah kebenaran Tuhan.

       Saat ini kita ada ditengah perubahan jaman. Orang yang tidak mengikuti perubahan jaman menjadi kuno. Orang yang asal ikut perubahan jaman tanpa hikmat Tuhan akan tersesat dan dibawa ke mana saja angin bertiup. Untuk mengendarai perubahan jaman dibutuhkan  prinsip kebenaran Firman Tuhan agar tetap relevan dan tidak keblinger/terjerumus dalam kehancuran.

       Jaman terus berubah. Sikap seperti apakah yang ada pada kita? Membenci semua perubahan? Iri dan tidak suka dengan orang yang lebih baik? Ketika kita “melempar batu” terhadap orang yang dianggap saingan, bukankah itu sama halnya yang dilakukan para rohaniwan kepada Yesus?  Bukan orang yang merasa diri baik, suci dan saleh yang dilawat oleh Tuhan tetapi mereka yang sadar sangat butuh Tuhan, bertobat dan mengikut Dia! Mari berjalan bersama Tuhan di tengah perubahan jaman ini.

KITA BUTUH HIKMAT TUHAN MENGENDARAI PERUBAHAN JAMAN

 

KETIKA HIDUP SERASA DI PADANG GURUN

Water cascading over a pair of hands.

 

 

KETIKA HIDUP SERASA DI PADANG GURUN

(Baca: Keluaran 15:22-27)

water

       Apakah kehidupan Anda serasa seperti katak yang hampir tertelan masalah besar? Ada kalanya hidup ini terasa tidak adil dan tidak aman. Sebagian orang cemas dan gelisah akan apa yang sedang terjadi dan mungkin akan terjadi. Peter Kinderman, Professor of Clinical Psychology dari University of Liverpool memberikan tips praktis tentang kesehatan mental dengan 5 cara: Aktif (Melakukan olahraga yang sehat akan mengaktifkan kimia dalam otak, mengaktifkan neurotransmiter sehingga merasa lebih enak); Terkoneksi (Memiliki kualitas relasi yang baik seperti dengan keluarga, teman, dsb. mempengaruhi ketahanan tubuh dalam proteksi kuman, mengurangi resiko sakit jantung dan dimensia); Tetap Belajar (Bersikap ingin tahu dan mau tetap belajar akan membuat kita lebih baik dalam menghadapi tantangan hidup); Memberi (Manusia adalah bagian dari komunitas. Penelitian menunjukkan bahwa memberi dengan tulus meningkatkan rasa bahagia seseorang), Mawas Diri (Refleksi apa yang tengah terjadi “mindfulness” menolong menghadapi stress dan membuat seseorang lebih rileks. brain

       Orang-orang Israel pada jaman Musa menghadapi masalah hidup di padang gurun. Bukan saja panas dan gersang tetapi juga tidak ada penunjang utama kehidupan yakni air segar. Air di Mara rasanya pahit! (Keluaran 15:23). Meskipun mereka terhitung sehat dengan berjalan kaki jarak jauh, tetapi sikap  bersungut-sungut dan meragukan pemeliharaan Tuhan membuat tidak mawas diri. Sikap pro aktif Musa untuk berdoa/terkoneksi kepada Tuhan sungguh menolong Israel mengalami mujizat Tuhan. Kalau saja mereka belajar berjalan dengan Tuhan maka mereka sungguh akan bersyukur bahwa tidak jauh dari Mara, Tuhan sedang mempersiapkan Elim yakni tempat dengan 12 mata air dan 70 pohon korma yang segar dan nikmat.

       Hari ini Anda dan saya memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan berkat Tuhan ketika kita mengikuti cara pandang Firman Tuhan dan bukan egoisme sekuler. Dunia mengajar untuk mengambil, merampas dan menjatuhkan. Firman Tuhan justru mengajar untuk memberi, mengampuni dan mengasihi. Semakin dipelajari dan diteliti dalam ilmu Psikologi, kita akan menjumpai sebuah kesimpulan bahwa orang yang belajar menghidupi Firman Tuhan sedang menyehatkan dirinya.

KETIKA ANDA BELAJAR LEBIH BANYAK ILMU KESEHATAN MENTAL, MAKA ANDA AKAN MENEMUKAN BAHWA BELAJAR MENGHIDUPI FIRMAN TUHAN BERARTI SEDANG MENINGKATKAN KESEHATAN DIRI

Water cascading over a pair of hands.
Water cascading over a pair of hands.

RUMAH SEMUT

cross

RUMAH SEMUT

Baca: Yohanes 16:29-33

1

Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia (Yohanes 16:33b).

 

 

       Anda pernah dengar rumah semut Musamus di Merauke, Papua? Saya pernah memegang dan mengetuk bekas koloni rayap (termites) ini, luar biasa kerasnya. Tidak heran benteng yang juga ditemukan di Afrika, Australia, Amerika Selatan ini terkadang dapat diinjak gajah dan tidak hancur.

       2Hari itu saya nonton ulasan koloni musamus yang diserang musuh. Koloni serangga ini berusaha menutup sarangnya sambil ramai-ramai mempertahankan diri. Akhirnya raksasa besar diusir oleh kawanan kecil ini. Kerjasama dapat menghasilkan sinergi yang kuat, sendirian cenderung lemah dan kalah.

       Itulah yang tampaknya terjadi ketika Yesus dan para murid disergap kawanan prajurit bersama para tokoh agama yang hendak memebelenggu Yesus (Yohanes 18:12). Yesus mengetahui segala sesuatu dan mengingatkan para murid agar tidak kecewa, berkecil hati dan pupus harapan (Yohanes 16:31-32). Apakah para murid sendirian? Apakah Yesus sendirian? Sebenarnya, Tuhan hadir di saat sukar dan kelam sekalipun. Gelapnya aniaya salib diterangi lewat kebangkitan dan kemenangan Allah yang hidup.

       Daud bisa mengalahkan raksasa Goliat (I Samuel 17:50) bukan karena ia seorang diri tetapi ada Tuhan menyertai-Nya. Yusuf kerja keras dan gesit mengambil peluang hingga hidupnya sukses bukan karena kehebatan dirinya (Kejadian 50:20). Mereka sebenarnya tidak seorang diri tetapi bersama Tuhan ada kekuatan dan kemenangan.

       Mengikut Yesus bukan tentang hidup terus menerus lancar dan tidak ada masalah, tetapi tentang berjalan bersama Tuhan adalah seperti membangun benteng yang kokoh dari musuh kehidupan. Jangan terlarut dalam mental pesimis, kesepian, kelemahan dan kegagalan. Lihatlah Yesus Pemenang yang sanggup memberi kekuatan, keberhasilan dan damai sejahtera. Selamat memasuki masa Paskah.

 

MENGIKUT YESUS BUKAN TENTANG HIDUP TERUS MENERUS LANCAR TETAPI BERJALAN BERSAMA ALLAH YANG HIDUP

cross