MENENGOK KEMBALI ARTI GARIS KETURUNAN ADAM

garis-keturune

Menengok Kembali Arti Garis Keturunan Adam
(Baca: Kejadian 5:1-32)
 
Apakah Anda pernah membuat bagan “pohon keluarga”?  Saya pernah.  Dari beberapa kumpulan data seputar asal muasal keluarga, terdapat sejumlah keterangan baru tentang hidup dan diri pribadi.  Pohon Keluarga adalah catatan mengenai siapa orang tua, kakek-nenek, sepupu bahkan hingga keluarga jauh beserta sejumlah catatan sejarahnya.
Pohon Keluarga yang dituliskan dalam kitab Kejadian 5 ini juga mencantumkan sejumlah nama dan keturunan dari Adam hingga Nuh.  Memang tidak semua keluarga dituliskan secara detil oleh penulis kitab Kejadian (Musa), namun bila mengkaji rangkaian pasal pertama hingga ke lima dapatlah disimpulkan adanya maksud Tuhan dalam hidup orang-orang-Nya.
Setidaknya ada hal-hal yang dapat kita pelajari dari pohon garis keturunan Adam hingga Nuh.  Kehidupan mereka sungguhlah kehidupan saleh-saleh yang bersekutu erat dengan Tuhan bahkan dipakai Tuhan secara luar biasa di tengah-tengah jaman yang rusak.  Hal pertama dapat kita pelajari dari genealogi ini adalah mengenai perkembangan manusia yang terbatas.  Manusia hidup di dunia ada batasnya.  Entah ia akan mati atau diangkat ke surga, tetapi masa hidupnya terbatas.  Manusia akan menjadi tua dan menurun kekuatan fisiknya. 
Hari ini banyak orang yang mengerjakan hidup tanpa menyadari dengan sungguh akan keterbatasannya.  Ada orang yang bekerja mati-matian dari pagi hingga malam demi meraup sejumlah milyaran uang.  Mereka mengorbankan persekutuan dengan Tuhan, mengorbankan waktu dengan keluarga dan mengorbankan kesehatan karena didorong oleh nafsu dan ambisi.
Sesungguhnya ketika seseorang tidak menyadari keterbatasannya, ia telah masuk di dalam jebakan Iblis persis seperti Adam dan Hawa.  Iblis mempengaruhi manusia sedemikian rupa bahwa mereka tidak akan mati dengan memakan buah pengetahuan baik dan jahat.  Manusia jaman sekarang dipengaruhi sedemikian rupa untuk meraih dunia dan kegemerlapannya sehingga lupa siapa diri yang sesungguhnya.
Melalui pohon keturunan keluarga (genealogi) Adam hingga Nuh, sebenarnya hendak menyatakan bahwa dalam perkembangan hidup manusia akan silih berganti dengan generasi yang baru.  Yang lama akan berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang untuk menggantikan dan melanjutkan tongkat estafet kehidupan.  Semakin ditahan-tahan, maka kehidupan bukan bertambah baik tetapi menjadi kaku dan ketinggalan jaman.
Hal kedua yang dapat kita pelajari dari garis keturunan ini adalah kehidupan manusia berasal dari satu garis keturunan Adam.  Sesungguhnya manusia adalah satu spesies dari satu keluarga besar Adam.  Perbedaan akan selalu ada dalam berbagai dimensi dan aspek-aspek sekitarnya, namun hal itu haruslah menjadi kekayaan bukan perpecahan. 
Hari ini banyak orang berselisih paham dan bermusuhan karena perbedaan suku, agama, dan ras.  Banyak orang saling bermusuhan dan terpecah belah di dalam prasangka negatif.  Pada saat ini muncul dalam hidup kita, marilah kita bercermin kembali kepada akar kehidupan dan sejarah yang sama. 
Di komunitas orang percaya pun bisa terjadi perpecahan dari prasangka buruk antara orang miskin dan kaya, antara yang pandai dan yang kurang pandai.  Semuanya ini tidaklah boleh terjadi di dalam tubuh Kristus sebab kita telah disatukan kembali bukan saja dari Adam, tetapi dari Yesus Kristus (Adam kedua).  Satu di dalam Tuhan, satu Tubuh Kristus, satu Roh, satu baptisan dan Allah Bapa.
Hal ketiga yang dapat dipelajari dari garis keturunan ini adalah bahwa dari keturunan mereka inilah akan muncul Mesias sesuai dengan yang dinubuatkan (Matius 1:1-17; Lukas 3:23-38).  Orang-orang yang dituliskan adalah bagian dari keturunan dan penggenapan nubuatan kehadiran Mesias.  Setiap mereka sekalipun adalah orang-orang yang dipilih Allah juga memiliki kelemahan dan kekurangan.  Justru di dalam kekurangan inilah kuasa Allah menjadi sempurna di dalam penggenapan-Nya.
Hal keempat yang dapat kita pelajari dari garis keturunan dari Adam hingga Nuh adalah juga hendak menunjukkan bahwa mereka ini berharga di mata Tuhan.  Alkitab menuliskan nama-nama mereka, bukan kumpulan atau nama kelompok.  Mereka disebutkan satu-satu namanya karena mereka masing-masing berharga dan Tuhan punya rencan yang indah buat hidup mereka.
Demikian dengan setiap kita diciptakan Tuhan bukan dengan sia-sia dan tanpa tujuan.  Tuhan punya rencana dan tujuan yang disiapkan sebelum permulaan jaman (Kejadian 1:26-28; Mazmur 139; Efesus 2:10; II Timotius 1:9).  Setiap kita diciptakan dengan tujuan untuk menggenapi rencana Tuhan.  Inilah kehidupan yang berhasil, bila kita berjalan di dalam rencana Tuhan dan bukan berdasarkan pikiran manusia.
Hari ini banyak orang berpikir bahwa hidup yang berhasil adalah kalau banyak punya uang, kalau sekolah tinggi dan punya pengaruh yang penting di masyarakat.  Tidak heran orang berlomba-lomba mencari uang siang malam; banyak orang belajar dan mengeluarkan uang habis-habisan untuk dapat gelar; bahkan banyak orang yang berebutan menjadi wakil rakyat untuk dapat posisi di dunia politik.  Semua ini bukan ukuran keberhasilan, tetapi ukuran ketamakan, kerakusan, takabur.
Hidup yang berhasil adalah hidup yang menjalani sesuai dengan bakat/talenta dan panggilan yang Tuhan sudah siapkan sebelumnya.  Menjadi tukang sapu pun adalah baik bila dilakukan dengan sungguh, dengan hati yang melayani, dengan profesional.  Kekayaan dan semua berkat Tuhan adalah bonus dari pengabdian hidup kita untuk berkarya bagi Tuhan.  Tujuan kita bukan bonusnya, tetapi karya.  Motivasi kita bukan manusianya, tetapi Tuhan.  Kiranya melalui sekilas pandang runtutan garis keturunan Adam hingga Nuh boleh menambah kita berhikmat di dalam Tuhan, di dalam menjalani hidup ini, di dalam memandang keberadaan kita sebagai ciptaan.  Amin.