IMLEK BUAT KELUARGA

sincia

IMLEK BUAT KELUARGA

(Baca: Matius 15:4-6)

sincia

 

 

       Imlek atau Tahun baru pengkalenderan Tiongkok 2569 ditandai pada 16 Februari 2018 ini. Bagi banyak orang yang belum mengenal Firman Tuhan, cenderung melihat ramalan dan mengikuti petunjuk atau larangannya, tp bagi orang-orang percaya Firman Tuhan maka tahun baru tetap mengandalkan petunjuk dan larangan dari Alkitab. Ramalan belum tentu pasti dan berdasarkan teori konformitas persuasi dalam psikologi, kita cenderung mengkonfirmasi memori dan sugesti diri dengan apa kata orang.

       Imlek bagi umat Nasrani adalah baik karena di masa ini adalah waktu untuk bersyukur, berbakti kepada orang tua/keluarga dan memasuki hari depan dengan semangat dan harapan baik. Imlek di Tiongkok seperti lebaran di Indonesia. Banyak orang pulang kampung menengok orang tua dan berkumpul dengan keluarga besar. Saya pun melakukannya selama puluhan tahun merantau kecuali memang dalam keadaan yang sangat tidak memungkinkan.

       Bukankah menghormati orang tua dan peduli keluarga juga dicantumkan dalam Firman Tuhan? Yesus justru menegur keras para munafik berjubah agama yang rajin melakukan rutinitas religi tetapi mengabaikan hal mengasihi sesama termasuk keluarga dan terkhusus orang tua. Teguran dilayangkan kepada para aktifis dan rohaniwan Yahudi yang pada saat itu memakai dalih “demi Tuhan” dan atas nama  tradisi tetapi berbuat jahat terhadap sesama terkhusus orang tua. Ini kejam dan Tuhan benci dengan sikap munafik seperti ini.

       Apabila Anda merayakan Imlek, mari gunakan kesempatan ini (dan bukan kali ini saja) untuk menengok orang tua/berkumpul dengan keluarga. Lakukan Firman Tuhan dengan jadi saluran berkat. Beri ang pao kepada orang tua dan makan bersama. Bukan jumlah nya yang terutama tetapi kualitas dan hati yang paling penting. Selamat tahun baru Imlek bagi yang merayakannya! Sin nien men en, Sang Ti cu fu ni men.

MERAYAKAN IMLEK BERDASARKAN FIRMAN TUHAN SUNGGUH INDAH DAN BERMAKNA

SPINNER ANAKKU

spinner

SPINNER ANAKKU

(I Korintus 10:31)

spinner

       Beberapa waktu lalu anak-anak saya membeli mainan spinner. Mereka begitu gembira dan berterima kasih kepada orang tua. Katanya, “bersyukur”.  Suatu kali salah satu anak kami melihat anak lain memiliki lebih dari satu spinner dan ia ingin punya spinner lagi.

       Dalam percakapan ayah dan anak, hari itu saya menjelaskan arti bersyukur dan mensyukuri apa yang ada pada kita bukan apa yang tidak ada pada kita. Inilah yang membedakan gaya hidup rohani dan duniawi. Gaya hidup duniawi contohnya melihat tetangga memiliki kulkas baru dan ia ingin punya juga padahal kulkas lamanya masih berfungsi baik. Gaya hidup rohani sebaliknya, Firman Tuhan mengajarkan hidup yang bebas tetapi bertanggung jawab untuk sesuatu yang berguna dan membangun.

       Hari ini meskipun banyak orang rajin ke tempat ibadah, tahu dan bahkan hafal ayat Kitab Suci tidak berarti dirinya bebas dari virus hidup duniawi. Paulus mengingatkan jemaat di Korintus agar memiliki moto hidup melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan. Apabila  frasa “untuk kemuliaan Tuhan” dirasa terlalu rohani dan jauh dari kegemaran hidup kita, maka itu pertanda bahwa virus duniawi menjangkiti kerohanian kita yang rapuh.

       Ingatlah, apa yang kita tabur akan kita tuai. Mari menabur dengan gaya hidup rohani yang memperkenan hati Tuhan. Bisa jadi wadah taburan itu adalah pekerjaan di kantor, mendampingi anak di rumah, kencan dengan pasangan hidup kita, atau mungkin pergi pelayanan misi menjangkau pelosok. Mungkin Anda berkata, “Tetapi… saya banyak dosanya dan banyak melakukan kesalahan. Apakah Tuhan masih memberikan kesempatan?” Selagi Anda dapat membaca tulisan ini, itu artinya Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk berubah, bertobat dan memulai lagi melakukan yang baik, benar, yang manis, yang berguna dan membangun. Selagi ada kesempatan mari membiasakan gaya hidup rohani. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin.

HIDUP BAGAIKAN SPINNER, SUATU SAAT AKAN BERHENTI BERPUTAR. BERBAHAGIALAH ORANG YANG MENGGUNAKAN HIDUPNYA DENGAN BAIK.

KETIKA HIDUP SERASA DI PADANG GURUN

Water cascading over a pair of hands.

 

 

KETIKA HIDUP SERASA DI PADANG GURUN

(Baca: Keluaran 15:22-27)

water

       Apakah kehidupan Anda serasa seperti katak yang hampir tertelan masalah besar? Ada kalanya hidup ini terasa tidak adil dan tidak aman. Sebagian orang cemas dan gelisah akan apa yang sedang terjadi dan mungkin akan terjadi. Peter Kinderman, Professor of Clinical Psychology dari University of Liverpool memberikan tips praktis tentang kesehatan mental dengan 5 cara: Aktif (Melakukan olahraga yang sehat akan mengaktifkan kimia dalam otak, mengaktifkan neurotransmiter sehingga merasa lebih enak); Terkoneksi (Memiliki kualitas relasi yang baik seperti dengan keluarga, teman, dsb. mempengaruhi ketahanan tubuh dalam proteksi kuman, mengurangi resiko sakit jantung dan dimensia); Tetap Belajar (Bersikap ingin tahu dan mau tetap belajar akan membuat kita lebih baik dalam menghadapi tantangan hidup); Memberi (Manusia adalah bagian dari komunitas. Penelitian menunjukkan bahwa memberi dengan tulus meningkatkan rasa bahagia seseorang), Mawas Diri (Refleksi apa yang tengah terjadi “mindfulness” menolong menghadapi stress dan membuat seseorang lebih rileks. brain

       Orang-orang Israel pada jaman Musa menghadapi masalah hidup di padang gurun. Bukan saja panas dan gersang tetapi juga tidak ada penunjang utama kehidupan yakni air segar. Air di Mara rasanya pahit! (Keluaran 15:23). Meskipun mereka terhitung sehat dengan berjalan kaki jarak jauh, tetapi sikap  bersungut-sungut dan meragukan pemeliharaan Tuhan membuat tidak mawas diri. Sikap pro aktif Musa untuk berdoa/terkoneksi kepada Tuhan sungguh menolong Israel mengalami mujizat Tuhan. Kalau saja mereka belajar berjalan dengan Tuhan maka mereka sungguh akan bersyukur bahwa tidak jauh dari Mara, Tuhan sedang mempersiapkan Elim yakni tempat dengan 12 mata air dan 70 pohon korma yang segar dan nikmat.

       Hari ini Anda dan saya memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan berkat Tuhan ketika kita mengikuti cara pandang Firman Tuhan dan bukan egoisme sekuler. Dunia mengajar untuk mengambil, merampas dan menjatuhkan. Firman Tuhan justru mengajar untuk memberi, mengampuni dan mengasihi. Semakin dipelajari dan diteliti dalam ilmu Psikologi, kita akan menjumpai sebuah kesimpulan bahwa orang yang belajar menghidupi Firman Tuhan sedang menyehatkan dirinya.

KETIKA ANDA BELAJAR LEBIH BANYAK ILMU KESEHATAN MENTAL, MAKA ANDA AKAN MENEMUKAN BAHWA BELAJAR MENGHIDUPI FIRMAN TUHAN BERARTI SEDANG MENINGKATKAN KESEHATAN DIRI

Water cascading over a pair of hands.
Water cascading over a pair of hands.