FOBIA SALIB

 

FOBIA SALIB

(Baca: Matius 10:38)

 

       Beberapa waktu lalu di Kotagede, Jogjakarta sekelompok orang melarang orang meninggal dikubur dengan tanda salib. Mereka memotong salib sehingga terlihat bentuk “T” saja. Sebenarnya dalam bahasa Yunani (huruf Tau) ataupun latin (crux commissa) justru mengindikasikan nisan salib yang dipotong tinggal huruf “T” adalah simbol salib juga.

       Kejadian lain adalah di jalan Sudirman, kota Solo yang tengah berbenah dengan pembuatan mosaik jalan yang sejatinya berbentuk arah mata angin dituduh gambar salib. Wali Kota Solo, FX. Hadi Rudyatmo mengatakan justru kalau itu lambang salib, maka adalah penghinaan bagi umat Nasrani karena salib itu dimuliakan bukan diletakkan di jalan untuk diinjak kendaraan. Singkat cerita menghindari konflik horizontal, maka jalanan di cat putih oleh pemkot atas desakan kaum intoleran.

       Apakah Fobia itu? Definisi kata “fobia” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ketakutan yang sangat berlebih terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya.  Orang yang fobia salib melihat segala bentuk seperti salib sebagai serangan dan dominasi terhadap dirinya. Padahal ajaran Salib justru bukan menyerang tetapi mengasihi, sebab kebenaran itu memerdekakan dan bukan memberi rasa takut. Tidak bisa dipungkiri terlalu banyak orang yang dicekoki paham kebencian dan prasangka buruk terhadap Salib dan pengikutnya. Mereka yang fobia salib sedang menghambat diri bertoleransi di tengah masyarakat majemuk dan sekaligus semakin menyuburkan rasa takut dengan bersikap agresif.

       Bagaimana sikap kita sebagai pengikut Salib? Hari baik maupun hari buruk disediakan Tuhan agar kita belajar mengandalkan Tuhan. Alkitab sendiri mengajarkan umat percaya siap pikul salib (bekorban) karena iman percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (Matius 10:38). Alkitab sudah menubuatkan hadirnya orang-orang fobia salib. Bagian kita bukan tertular ikut-ikutan takut, tetapi justru semakin semangat menjalani prinsip kebenaran Alkitab. Hari ini terlalu banyak orang Nasrani di “nina bobokan” dengan janji berkat tetapi tidak diiringi pikul salib.

       Seorang petobat baru bertanya kepada pendeta apa yang harus dilakukan sebagai pengikut salib? Pendeta itu bertanya, “Apa pekerjaanmu selama ini?” Ia menjawab, “Saya adalah tukang sepatu”. Jawab Pendeta itu, “Jikalau engkau ingin menjadi pengikut Kristus yang pikul salib, maka buatlah sepatu dengan kualitas yang sangat baik dan jual lah dengan harga yang pantas.”. Inilah hakikat memikul salib, yakni menjalani hidup yang terbaik dalam kebenaran dan kasih.  Kiranya Tuhan menolong kita tetap menjadi pengikut salib meski ada orang-orang fobia salib. Amin.

Yesus berkata, “Siapa tidak memikul salibnya serta mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”

               

               

ASIAN GAMES INDONESIA

ASIAN GAMES INDONESIA

(Baca: II Timotius 2:5)

       Tidak bisa dipungkiri Asian Games sebagai pesta olah raga Asia ke-18 kali ini membawa spirit kebangsaan Indonesia yang sangat tinggi. Mengapa? Pertama, pertandingan ini adalah kali kedua digelar di Indonesia sejak 1962. Kedua, perhelatan yang terjadi di Jakarta dan Palembang (18 Agustus-02 September 2018) menghasilkan rekor medali emas terbanyak sepanjang sejarah atlit Nusantara berlaga  membawa harum nama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

       Jaman dahulu para atlit yang menang mendapatkan mahkota daun Zaitun tetapi tidak mendapat uang. Mengapa akar kata “atlit” dalam bahasa Yunani yang artinya “bersaing untuk mendapat hadiah”? apakah benar tidak dapat hadiah sama sekali dan hanya untaian daun Zaitun? Tidak juga. Mereka yang jadi pemenang mendapat pembebasan pajak, berhak status club istimewa dengan biaya ditanggung pemerintah, status kedudukannya di masyarakat meningkat dan juga tentunya ada sponsor dari orang-orang kaya.

       Jaman Now di Asian Games para atlit Indonesia yang mendapat medali emas tidak kalah luar biasanya, yakni uang dalam jumlah besar, rumah dan jaminan pekerjaan sebagai Apartur Sipil Negara. Ini belum terhitung dengan sponsor dan iklan yang bakalan mengontrak mereka kelak maupun bonus dari kebijakan pemerintah daerah setempat. Inilah penghargaan yang sudah seharusnya diberikan kepada juara kebanggaan kita.

       Hidup iman kepada Tuhan bisa diumpamakan seperti atlit yang berlomba di gelanggang pertandingan. Para peserta berusaha sedemikian keras berlatih, berlatih dan berlatih untuk mencapai tujuan utama yakni bertanding sesuai aturan dan menang. Tidak ada kata menang bagi yang tidak mengikuti aturan main apalagi curang. Dalam surat kepada murid rohaninya yang bernama Timotius, Paulus menyemangati agar hidup melakukan yang terbaik untuk Tuhan. Tuhan bukan saja sanggup menyelamatkan umat-Nya tetapi juga menjaga dan memelihara kehidupan umat-Nya.

       Hari ini setiap kita berada dalam pertandingan hidup. Pertandingan ini bukan menjatuhkan yang lain atau membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain tetapi berusaha yang terbaik mengikut Tuhan menjadi saluran berkat-Nya. Motivasi bukan dilihat manusia, tetapi Tuhan sebab kelak kita mempertanggung jawabkan hidup yang diberikan oleh-Nya. Bagaimana dengan berkat atau mahkota atau hadiah? Jangan kuatir! Jangan membandingkan dengan yang lebih dari Anda! Tuhan akan atur sesuai dengan waktu dan hikmat-Nya. Bagian kita adalah bersyukur dan mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita. Kiranya hidup kita memperkenan hati Tuhan dan membawa harum kemuliaan Tuhan dengan menjadi berkat bagi sesama. Amin.

 

Everyone who competes in the games goes into strict training … to get a crown that will last forever (1 Corinthians 9:25).

REFLEKSI PASKAH: ARTI IKUT YESUS

Refleksi Paskah: Arti Ikut Yesus
(Baca: Matius 26:30-35,56)

pesach

       Coba tebak gambar berikut di bawah ini: Di mana dan kapan kejadiannya?

Picture1

Gambar ini terjadi di Gereja St.Lidwina, Bedog-Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari minggu 11 Februari 2018 pada pukul 07.30 pagi. Seorang radikalis menembus masuk gereja dengan membawa sebilah pedang samurai sambil menyebut nama Tuhan namun sekaligus merusak dan melukai orang-orang yang dilihatnya. Empat orang dilarikan ke Rumah Sakit, termasuk pastor Prier (80 tahun) yang sedang melayani misa (Perjamuan Kudus). Kalau seandainya Anda sebagai umat Nasrani ada di sana, apa yang akan Anda lakukan? Bagaimana kita harus bersikap sebagai umat percaya?

       Momen Paskah adalah puncak dari apa yang dikerjakan oleh Yesus Kristus selama hidupnya di dunia. Malam sebelum Yesus disalibkan, disebut malam gelap karena kuasa kegelapan sedang merasuk dan memakai manusia berjubah agama untuk melakukan pengeroyokan, penyiksaan dan pembunuhan. Secara khusus, Yesus menyampaikan kepada Petrus bahwa ia akan menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Pun demikian Yesus menyemangati kalau sudah insaf agar segera bangkit dan tetap jadi saluran berkat (Lukas 22:32). Malam itu para murid kabur meninggalkan Yesus.

       Sikap yang memalukan dan sangat tidak terhormat ini dicatat dengan tujuan bahwa para pembaca melihat yang hebat itu Tuhan bukan tokoh tertentu. Kalau kita memandang manusia, kita bisa kecewa dan berkecil hati tetapi apabila kita memandang Tuhan maka iman kita akan dikuatkan.

       Pastor Prier yang dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih sudah pulih dan bangkit. Ia memaafkan pelaku. Ketika ditanya oleh reporter sebuah stasiun televisi, “Mengapa bapak memaafkan?” Dengan tersenyum dan yakin, romo Prier menjawab, “Karena itu ajaran Injil!”. Ya benar, ajaran Alkitab adalah mengampuni orang yang bersalah dan tidak melanjutkan lingkaran setan balas dendam.

       Petrus malam itu merasakan hancur hatinya karena gagal bersikap yang seharusnya. Ia bangkit dan terus melayani Tuhan. 3000 orang percaya, gereja berkembang dan umat-Nya bertumbuh dalam Firman. Itulah arti mengikut Yesus. Hari ini apabila Anda merasa banyak kelemahan, jatuh bangun dan banyak kekurangan maka jangan berkecil hati dan berhenti mengiring Tuhan. Tuhan tahu kelemahan kita dan memanggil kita untuk bertobat dan kembali bangkit menjadi saluran berkat. Selamat Paskah: biarlah kebangkitan Kristus dari kematian menjadi kebangkitan kita mengiring Tuhan sampai akhir. Amin.

KALAU KITA MEMANDANG MANUSIA, KITA BISA KECEWA NAMUN BILA KITA MEMANDANG TUHAN MAKA IMAN KITA AKAN DIKUATKAN

BILLY GRAHAM MENINGGAL

BILLY GRAHAM MENINGGAL

(Baca: Mazmur 116:15)

sungguh bharga

       Pada 22 Februari 2018 saya mendapat kabar rohaniwan senior Pdt.Billy Graham (99 tahun) meninggal dunia. Sebelumnya sudah beberapa kali rumor beredar tentang kepergian hamba Tuhan yang jadi berkat bagi ratusan juta orang di Amerika Serikat dan seluruh dunia, namun dibantah oleh pihak keluarga. Hari ini semua media massa besar Amerika dan Internasional meng konfirmasi kepergiannya. Saya pribadi sedih karena kita kehilangan figur teladan pengikut Yesus, Pewarta Kabar Baik, rohaniwan yang setia hingga akhir.

       Ketika membuka ulasan sejumlah media massa di dunia maya tentang beriat kedukaan ini, saya melihat ada seorang yang berkomentar, “I hate Jesus and I love Satan” dan kemudian di “like” oleh beberapa orang. Apapun alasannya menuliskan komentar ini justru membuat saya semakin respek terhadap Pdt. Billy Graham. Mengapa? Itu artinya wajar orang yang hidup dalam kebenaran dibenci oleh orang yang hidup dalam kegelapan.

       Pemazmur menuliskan kalimat yang sangat indah tentang bagaimana Tuhan itu menghargai kematian orang yang dikasihi-Nya. Terjemahan Alkitab bahasa Inggris The Message menyebutkan bahwa orang yang mengasihi Tuhan ketika meninggal disambut dengan sangat baik oleh Tuhan. Konteks bagian ini adalah cara pandang hidup orang percaya: “Tuhan, Engkau sudah mengasihi dan memberkatiku. Apa yang saya bisa lakukan untukmu?”. Kiranya hidup kita yang sekali ini dalam kesementaraan boleh kita gunakan dengan bijaksana untuk menghadapi kekekalan. Jangan fokus pada kebencian, balas dendam dan terbuai dalam nafsu duniawi. Mari fokus pada hidup yang jadi berkat, melayani, dan bersaksi tentang kebaikan Tuhan. I Love Jesus. Do You?

GOD WELCOMES THOSE WHO LOVE HIM