BAHAYA SOMBONG ROHANI

merunduk

BAHAYA SOMBONG ROHANI

(Baca: Lukas 9:51-56)

merunduk

       Anda pernah dengar pepatah, “Padi semakin berisi, semakin meruduk”? Inilah yang dapat saya simpulkan dari pengalaman beberapa waktu yang lalu. Saya sangat gembira Tuhan mempertemukan dengan dua orang guru yang memiliki sikap (attitude) berbeda. Guru pertama tidak terlalu senior tetapi bersikap sebagai pejabat yang harus dilayani dan dihormati. Guru kedua adalah seorang profesor, membawahi banyak guru dan sangat berpengalaman. Herannya guru kedua justru sangat rendah hati, tidak gila hormat dan perkataan begitu ramah dan menguatkan kebaikan orang lain.

       Peristiwa serupa terjadi ketika Yesus dan para murid berhadapan dengan orang Samaria yang menolak mereka. Murid Yakobus dan Yohanes yang begitu percaya diri bahwa Tuhan memberi kuasa dan otoritas, hendak merespon penolakan orang Samaria ini dengan pukulan maut api dari surga. Yesus menegur murid yang sok rohani tetapi bergaya mafia ini dan kemudian melanjutkan lawatan ke desa lain. Ada sebuah sikap kesombongan rohani dari Yakobus dan Yohanes. Sebenarnya sombong tidak rohani dan rohani tidak sombong. Mengerti banyak tentang ayat kitab suci tanpa memahami isi hati Tuhan dapat menjadikan kita sombong rohani (Raja-raja 1:9-16 ).

       Memakai baju agamis tidak membuat kita lebih hebat dari orang lain. Memiliki status pengurus lembaga keagamaan bukan berarti kita lebih tinggi dari orang lain. Menghafal ayat suci tidak membuat kita lebih rohani dari orang lain. Tolok ukur rohani tidak ditentukan tempelan luar yang dilihat orang, tetapi dari dalam hati dan mengalir keluar dalam perbuatan yang dilihat Tuhan.

       Hari ini kita belajar dari Sang Guru Agung, Yesus tentang menghadapi penolakan dan  pengampunan tanpa membalas dendam. Memiliki identitas rohani sebagai anak-anak Allah adalah dahsyat dan sangat baik, namun virus kesombongan dibalut hal rohani dapat menjauhkan kita dari hidup yang dikehendaki Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita belajar dari Sang Guru Agung. Amin.

PADI SEMAKIN BERISI SEMAKIN MERUNDUK, KEROHANIAN SEMAKIN TINGGI MENUNJUKKAN KERENDAHAN HATI

PERJALANAN SINGKAT

P sing

PERJALANAN SINGKAT

(Baca: Efesus 5:14-21)

P sing

 

       Seorang pemuda baru pertama kali ia naik kereta api. Ia begitu gembira dan sambil menikmati laju kereta, pemuda ini mengamati sekelilingnya. Kemudian naiklah seorang ibu muda yang cerewet dan suka mengomel dengan banyak barang bawaan. Ibu ini duduk di sebelah seorang ibu lain yang berusia paruh baya. Ibu muda cerewet tersebut mengomel bagaimana buruknya layanan kereta, mengkritik pemerintah yang dinilai lamban dan menggerutu tentan banyak hal.

       Akhirnya tiba di titik transit perhentian dan ibu cerewet tersebut bergegas turun. Pemuda yang dari tadi terasa terganggu serasa lega. Kemudian dari lajur samping tempat duduknya, pemuda ini melontarkan kalimat, “Ribut sekali nona cerewet itu. Ibu tidak jengkel dengan komentarnya yang semua negatif?” Ibu ini tersenyum dan menjawab, “Kenapa harus ribut untuk sesuatu yang sepele? Perjalanan bersama kita singkat. Di perhentian berikutnya, saya juga turun.”

       Pemuda ini terdiam sejenak dan menyadari bahwa perkataan ibu paruh baya tersebut penuh dengan hikmat. Perjalanan bersama kita singkat kenapa harus ribut dengan hal sepele. Bukankah perjalanan hidup manusia ini singkat dan kekekalan jauh lebih panjang? Hari ini kita hidup di tengah-tengah banyak orang yang suka berkomentar negatif, rasialis, bahkan sambil menyebut nama Tuhan bersamaan melakukan tindakan kekerasan dan makian terhadap orang yang berbeda sudut pandang.

       Paulus mengingatkan jemaat di Efesus mengenai arti hidup sebagai umat Allah di tengah-tengah dunia yang jahat. Ketika orang lain berkata kotor, kita dipanggil untuk berkata baik dan membangun. Ketika orang lain berbuat jahat, kita dipanggil tetap berbuat baik. Ketika orang lain mengeluh dan menyumpah, kita dipanggil untuk belajar mengucap syukur dan mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita. Ketika dunia hidup dalam kegelapan, kita dipanggil untuk hidup dalam terang Tuhan. Perjalanan hidup kita singkat, mari kita gunakan dengan bijaksana di dalam Tuhan. Niscaya kita memetik banyak berkat-Nya. Amin.

PERJALANAN HIDUP BERSAMA INI SINGKAT, MARI KITA GUNAKAN DENGAN BIJAKSANA DI DALAM TUHAN

PERBUDAKAN MANUSIA?

human traffic

PERBUDAKAN MANUSIA?

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan (Galatia 5:1).

human traffic

 

       Percayakah Anda bahwa satu perbuatan baik dan benar akan memberi dampak pada kebaikan di sisi lain? Inilah yang terjadi ketika Indonesia berani tegas tentang  ilegal fishing. Dari sana tersibak jumlah besar dan masif adanya perdagangan manusia. Oknum jual beli manusia ini menjerat banyak ABK (Anak Buah Kapal) seperti di  Thailand (penghasil komoditi raksasa untuk sea food murah) hingga ribuan pengungsi Rohingya.

       Miris apabila melihat kondisi korban. Media CNN (Klik Ini) menyebutnya, pemakaman mengapung (floathing graveyards). Apa pandangan Firman Tuhan tentang hal ini? Sebagian orang salah kaprah memahami bahwa Alkitab menyetujui bahkan Yesus menghalalkan perbudakan manusia. Apa benar demikian?

       rohingya refuge victim of human traffickingHal pertama adalah Alkitab kental dengan tema tentang kemerdekaan dari perbudakan. Lebih dari 638 kali (Klik Ini) disebut kata “budak”, yang artinya Alkitab tidak menutupi realitas perbudakan terjadi di Timur Tengah jaman itu dan memberikan tata cara bagaimana memperlakukan hamba secara manusiawi dan benar, yang dengan kata lain menghapus sistem perbudakan bukan dengan cara kekerasan ataupun revolusi yang ujung-ujungnya menelan banyak korban karena kekerasan dilawan dengan kekerasan.

       Kedua, adalah banyak orang salah tafsir membaca Alkitab. Alkitab ditulis pada jaman dahulu dalam konteks budaya, bahasa dan keadaan pada saat itu untuk penerima di jaman itu pula. Konteks dan konten adalah dua hal yang tidak dapat dilepaskan untuk menemukan kebenaran universal. Intinya, lihat Alkitab dari Kejadian-Wahyu sebagai kesatuan dan bukan asal kutip ayat untuk membenarkan pikiran asumsi kita. Apabila kita memakai kaca mata hijau untuk melihat sebuah tulisan, maka semua berwarna hijau.

       Ketiga, Yesus hadir di dunia, disalib, mati dan bangkit adalah perwujudan penuh dari makna Paskah, yakni kemerdekaan dari perbudakan dosa. (Lukas 4:18-19 ; Galatia 5:1). Akar perbudakan manusia adalah perbudakan dosa. Penyelesaian perbudakan dosa adalah pembebasan (baca: kemerdekaan) dari belenggu dosa. Untuk inilah Tuhan datang ke dalam dunia agar setiap orang memiliki kesempatan untuk dibebaskan dari akar perbudakan manusia, yakni sengat dosa (Yohanes 3:16).

       Bagaimana sikap orang percaya menanggapi fenomena ini? Jangan termakan emosi dari cemoohan orang yang salah mengerti tentang Nasrani dalam topik perbudakan.  Bersyukur dan menghargai kemerdekaan hidup anugerah Tuhan dengan jalan melakukan semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, disebut kebajikan dan yang patut dipuji. Pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8).

 

ADA JALAN KELUAR BAGI MANUSIA YANG MAU DILEPASKAN DARI PERBUDAKAN. INILAH AJARAN FIRMAN TUHAN