KETIKA HIDUP KELIHATAN SEMPURNA

hidup sempurna

KETIKA HIDUP KELIHATAN SEMPURNA
(Yohanes 1:10)

hidup sempurna

       Beberapa waktu lalu saya makan malam dengan seorang kenalan dari luar negeri. Bagi saya, hidupnya boleh dikatakan hampir sempurna. Ia memiliki tubuh yang atletis, mahir bela diri, sehat, sangat tampan, cerdas, orangnya baik, memiliki visi yang mantap dan penghasilan yang terbilang tinggi. Ia memiliki istri dan anak-anak yang rupawan. Kurang apa lagi? Sekilas terasa hidupnya begitu sempurna di mata kebanyakan orang.

       Percakapan ringan kami mengalir dan ternyata ia adalah seorang ateis. Yang mengejutkan adalah bagaimana ia dibesarkan dalam sebuah gereja tradisi. Sejak kecil mengenal sekolah minggu sebagai tempat yang membosankan. Pada waktu itu Ia melihat bagaimana rohaniwan di gerejanya menggunakan politik agar dapat naik ke jenjang atas hierarki pelayanan. Entah apalagi yang dilihatnya, namun saat ini ia menolak untuk ber-Tuhan. Hidup yang kelihatan sempurna dan sangat baik di luar, ternyata dalamnya mati rohani.

       Itulah yang disebutkan dengan jelas oleh Yohanes mengenai manusia yang menolak Pencipta-Nya. Agama tidak serta merta membawa orang menemukan Tuhan kecuali Tuhan yang mencari manusia. Bagi sebagian orang, agama bak sandiwara kemunafikan. Di tempat ibadah mengatakan hal yang super rohani, tetapi di tempat lain perkataan kotor dan najis lah yang keluar dan melukai orang-orang sekitarnya. Di bibir setuju mengandalkan hanya Tuhan, namun dalam tindakan mengajak dukun dan jimat. Ketika kemunafikan dan kepalsuan merajalela di tempat ibadah maka di sana lah berpotensi besar melahirkan generasi muda yang ateis.

       Malam itu saya tidak dapat tidur memikirkan kengerian ini. Di satu sisi menaikkan doa bagi kenalanku. Di sisi lain tebersit pertanyaan: Apa yang anak-anak ku lihat tentang hidupku? Apakah kerohanian yang saya miliki adalah sandiwara belaka di tempat ibadah? Apakah keluargaku dan orang-orang di sekitar melihat hidupku dan memuliakan Tuhan atau justru rutinitas agama kosong, penuh aturan dan membosankan? Kiranya Tuhan menolong setiap kita yang percaya dan menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dapat menyatakan kesaksian yang baik sebagai anak-anak Allah yang hidup dan bukan anak-anak agama yang munafik dan palsu.

KETIKA HIDUPMU KELIHATAN SEMPURNA, CEK KEMBALI APAKAH KEROHANIANMU JUGA HIDUP ATAU SEKARAT

KASIH YANG BEKORBAN

kasih yang bekorban

KASIH YANG BEKORBAN

(Yesaya 53:5)

kasih yang bekorban

       Lilin adalah ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan arti dari sebuah pengorbanan. Ketika lilin dinyalakan dengan api, ia berfungsi penuh sebagai penerang di sekelilingnya. Gelap tidak dapat disingkirkan dengan gelap, tetapi hanya terang lah yang sanggup memusnahkan kegelapan. Hanya saja, ketika lilin itu menyala, maka ia sedang mengorbankan dirinya hingga habis total.

       Itulah yang dilakukan oleh Tuhan Pencipta alam semesta dan isinya agar manusia beroleh harapan hidupan yang sesungguhnya. Nubuatan Yesaya di dalam Pasal 53 mengetengahkan dua fakta nyata: Pertama, manusia berdosa dan tersesat menuju kehancuran. Dunia menyebutnya kebebasan tanpa batas, kitab suci menyebutnya sebagai kesesatan yang membinasakan.

       Kedua, Tuhan memiliki rencana pemulihan manusia kembali kepada hidup yang sesungguhnya. Tuhan datang ke dalam dunia yang gelap, mengorbankan diri di atas kayu salib agar manusia yang berdosa dipulihkan dan menghidupi tujuan ia ada diciptakan di dunia ini. Orang yang menghidupi hal ini tengah mengerjakan keberhasilan hidupnya. 

       Beberapa waktu lalu saya mendapatkan sebuah gambar seorang anak dan seorang ayah berdiri berhadapan. Si anak tampak menerima potongan kotak dari bagian ayahnya. Gambar ini hendak menunjukkan seorang ayah yang mengasihi anaknya dengan terus menerus memberi bagian dari dirinya.  Inilah yang dilakukan oleh orang tua kepada anak yang dikasihinya. Setiap potongan kotak itu dapat berupa menyediakan waktu bermain bersama, mendampingi belajar,  mengajak ibadah keluarga bersama, menyediakan makanan sehat hingga menyertai ke dokter ketika sakit hingga sembuh. Inilah yang disebut sebagai pengorbanan karena kasih.

dad to son

       Seperti halnya orang tua mengasihi anaknya, terlebih pula Tuhan mengasihi manusia. Alkitab mencatat bahwa Tuhan Yesus datang ke dunia, berkorban di kayu salib agar terbuka  jalan menuju pemulihan dengan Allah, alam semesta dan sesama manusia. Hidup yang dipulihkan Tuhan tersedia bagi setiap orang yang mau percaya dan mengikut Dia. Maukah Anda hidup dalam rencana-Nya yang mengagumkan ini? Kiranya Tuhan menolong kita memiliki hidup yang penuh bersama Dia. Amin.

.

DUNIA MENYEBUT KETERSESATAN YANG MEMBINASAKAN SEBAGAI KEBEBASAN TANPA BATAS, FIRMAN TUHAN PENGORBANAN ADALAH KASIH YANG MENYELAMATKAN

TAKUT GELAP

takut

“TAKUT GELAP..!”

(Yohanes 6:16-21)

takut

       Entah siapa yang mengajari, tetapi akhir-akhir ini anak-anak kami takut ke toilet sendirian. Alasannya gelap dan membayangkan ada monster. Sebagai orang tua, kami harus meyakinkan anak-anak agar merasa aman dan tenang ketika ke kamar kecil. Ada kalanya kami membiarkan pintu terbuka agar mereka dapat sewaktu waktu melihat kami. Ada kalanya anak yang paling kecil berkata, “Pa, lihat ya!” hanya sekedar untuk memastikan perjalanan beberapa meter ke toilet aman baginya.

       Setiap orang memiliki rasa takutnya sendiri. Bagi anak-anak, takut itu kalau tidak naik kelas atau berada di ruangan gelap. Bagi orang dewasa takut itu bisa jadi kehilangan pekerjaan atau mungkin menghadapi kematian. Malam itu para murid yang tengah berada di perahu sangat ketakutan karena ganasnya ombak danau Galilea. Di sana memang terkenal sering terjadi angin sakal, yakni pertemuan arus panas dan dingin yang menimbulkan badai. Mendadak muncul sebuah sosok yang berjalan di atas air. Mereka berpikir melihat penampakan hantu padahal itu adalah Gurunya sendiri. Yesus menenangkan mereka dan mengingatkan untuk tidak dikuasai rasa takut. Singkat cerita, ombak mendadak jadi sangat teduh dan para murid jadi tenang karena Yesus berada di dalam perahu.

       Hari ini banyak orang takut menghadapi gelapnya kehidupan. Pemikiran berada dalam keadaan suram menyamarkan realitas. Akibat dikuasai rasa takut membuatnya berpikiran negatif, tidak keluar rumah, tidak bergaul, enggan mengambil keputusan dan gamang untuk melangkah. Dunia menawarkan percaya diri yang palsu dengan bungkusan sok kuat, sok yakin dan sok bisa. Semuanya itu kemudian dibumbuhi dengan religius agamis yang munafik.

       Sebaliknya Firman Tuhan mengajarkan untuk mempercayai Tuhan sebagai yang utama dan dasar dari hidup. Mempercayai Tuhan berarti berani menolak diri dikuasai rasa takut, berani melangkah, berani bersaksi, berani percaya dan mewujudkan panggilan hidupnya. Kalau dibahasakan secara bebas, Firman Tuhan mengajarkan, “Saya mengerti keadaanmu. Engkau lemah dan rapuh itu sebabnya ada rasa takut. Pandanglah AKU! Ijinkan bukan rasa takut yang menguasai hatimu tetapi Firman-KU menguasai hatimu. Engkau akan mendapat damai dan pertolongan pada waktu-Nya.” Amin.

SETIAP ORANG MEMILIKI RASA TAKUTNYA SENDIRI, DAN MEREKA YANG MEMPERCAYAI HIDUPNYA KEPADA TUHAN LAH YANG BERANI MENOLAK DIKUASAI RASA TAKUT

PERTANDINGAN DENGAN ANAK

perjalanan b

PERTANDINGAN DENGAN ANAK

(Yesaya 41:10)

perjalanan b

       Cukup sering saya mengadakan pertandingan ganti baju dengan anak yang paling kecil. Apabila pulang dari sekolah atau sepulang dari kegiatan di luar, kami punya kebiasaan berganti baju santai di rumah. Pertandingan ini bertujuan agar anak bukan saja pakai baju sendiri tetapi mahir dalam keterampilan motorik, baik itu membedakan baju terbalik atau pun memasukkan  pakaian ke anggota tubuh dengan waktu yang singkat. Ketika menang, ia begitu gembira. Padahal ia tidak tahu bahwa bapaknya sengaja memberi kemenangan.

       Siapa sih yang tidak suka menang? Ketika kita menghadapi masalah berat dan kita berusaha kerja keras untuk menyelesaikannya. Kemudian hasil akhir adalah berhasil! Menang! Bukankah itu yang kita harapkan, doakan dan usahakan? Itulah janji Tuhan kepada umat-Nya seperti yang dituliskan oleh Yesaya.  Tuhan memberi semangat dan peneguhan bahwa orang yang melibatkan Tuhan sepenuhnya tidak ditinggalkan tetapi akan mendapat pertolongan dan kemenangan.

       Banyak orang berpikir karena kepandaian, kerja keras dan kelebihannya yang membuat berhasil tetapi kerap kali lupa bahwa Tuhan yang memberi kemenangan. Jangan lupa anugerah Tuhan. Jangan anggap remeh kebaikan-Nya. Tuhan sengaja memberi kebaikan dengan keadaan kita saat itu agar kita menyaksikan kasih setia Tuhan.

       Apabila kita masih bisa makan hari ini, bisa bernafas dan bahkan bisa membaca tulisan ini, itu artinya Tuhan belum selesai beperkara dalam hidup kita. Anda merasa seorang diri? Apakah Anda mulai ragu untuk tetap berjalan di jalan yang benar? Atau Anda lelah dan hampir menyerah karena sekeliling yang berlawanan dengan kebenaran? Jangan menyerah dan berputus asa. Tuhan adalah Allah yang meneguhkan dan menolong, yang menyertai dan memberi kemenangan. Ia akan menunjukkan jalan kehidupan bagi orang yang bertobat. Di dalam ketenangan dan kepercayaan terletak kekuatan dari Tuhan. Amin.

TUHAN SENGAJA MEMBERI KEBERHASILAN KEPADA KITA BUKAN KARENA KEHEBATAN DAN KERJA KERAS KITA TETAPI AGAR KITA INGAT SIAPA TUHAN PENCIPTA