SEPATU DI ATAS MEJA MAKAN

Untitled design

SEPATU DI ATAS MEJA MAKAN

(Baca: 2 Petrus 1:20)

Untitled design

       Apa reaksi Anda bila ada sepatu di atas meja makan? Inilah yang terjadi pada saat hidangan penutup dari tuan rumah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu kepada tamu kehormatan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe (02 Mei 2018). Hidangan penutup berupa coklat di dalam sepatu lengkap dengan kaos kaki di rancang khusus oleh koki terkenal Segev Moshe sementara sepatu besi adalah hasil seni kawakan dari Inggris, Tom Dixon Studio.  Apa yang sesungguhnya terjadi? Inilah pertemuan antara seni modern dan budaya sopan santun.

       Bagi yang tidak setuju, pendapat mereka adalah “sikap yang tidak peka”, “menjijikan”, dan “menghina”. Sementara bagi mereka yang setuju memandang sajian tersebut sebagai elegan, berdaya seni tinggi, dan kreatif. Tergantung apa penafsiran Anda tentang hal ini.

sepatu hid pnutup

       Demikian juga dalam membaca Kitab Suci, ada banyak orang menafsirkan sesuai dengan keinginan dan seleranya. Kitab Suci ditulis oleh penulis jaman dahulu untuk pembaca di konteks budaya dan dalam tulisan bahasa asli (Yunani, Ibrani dan Aramik) waktu lampau. Pembaca jaman “now” dengan konteks budaya modern tentu perlu mendekati teks dengan cara yang seharusnya agar tidak salah mengambil kesimpulan kebenaran universal dan holistik dalam Kitab Suci.

       Hari ini ketika Anda membaca Alkitab, jangan buru-buru mengambil kesimpulan bahwa  Tuhan mau ini dan itu dalam hidup Anda. Perhatikan konteks perikop bacaan. Lihat dan selami apa maksud penulis kepada pembaca jaman itu. Usahakan disiplin baca Alkitab dari awal hingga akhir agar memahami konteks kebenaran lebih utuh. Kalau mau cepat, tengoklah buku tafsiran atau renungan dari penulis yang memang ahli/dapat dipertanggung jawabkan. Jangan suka khotbah dan renungan yang disampaikan pembicara abal-abal yang mengajarkan “firman Tuhan” tetapi juga menyarankan hari baik tertentu, yang masih mencampurkan dongeng dan takhayul. Karena yang namanya Firman Tuhan itu disampaikan oleh dorongan Roh Kudus dan dalam kebenaran.

       Oh ya tentang sepatu di atas meja makan para menteri adalah sebuah persinggungan antara budaya sopan santun jaman “old” dan rasa seni modern jaman “now”. Berbahagia lah orang yang dapat memahami konteks diantara kedua belah pihak.

KETIKA ANDA MEMBACA ALKITAB, JANGAN BURU-BURU MENGAMBIL KESIMPULAN TANPA MEMAHAMI MAKSUD PENULIS TERHADAP PEMBACA JAMAN ITU.

IJAZAH PALSU

fake

IJAZAH PALSU

(Baca: Matius 7:13-14)

“Jadi dari buah-nyalah kamu akan mengenal mereka” Matius 7:20.

fake

 

 

       Akhir-akhir ini Indonesia dihebohkan dengan berita Ijazah palsu. Terkhusus ketika Menristek Indonesia M.Nasir mengadakan kunjungan mendadak ke sebuah institusi “abal-abal/bodong” (palsu) di bilangan Jl.Proklamasi Jakarta. Di situ tercantum ada ratusan alumni pejabat tinggi negara dan wakil rakyat dari berbagai daerah bergelar doktor hingga profesor, berbekal membeli ijazah jutaan hingga puluhan juta rupiah.

       Cara pintas mendapat gelar tinggi dengan beli ijazah sering kali dimotivasi oleh prestise, gengsi, hingga urusan kenaikkan pangkat dan gaji. Sebenarnya ijazah palsu adalah pengkhianatan terhadap integritas diri dan menghancurkan masa depan.

      Ketika Yesus berada di bukit Arbel, Ia menyampaikan pesan penting agar manusia jangan mencari jalan pintas menuju kebinasaan (Matius 7:13-14; Lukas 13:22-24). Sikap yang tidak jujur dan mau gampangnya saja digambarkan seperti pintu yang lebar dan luas tetapi menuju kehancuran. Sikap dengan iman tulus, diikuti kerja keras dan kejujuran dilukiskan sebagai pintu yang sempit tetapi menuju kehidupan yang sesungguhnya.

       Pintu kehidupan sejati inilah yang menjadi ajakan Yesus kepada semua orang. Memang ada harga yang harus dibayar. Betul, harus merangkul ketekunan dan kerja keras. Sudah sesuai lajurnya manusia mewaspadai virus kerakusan, ketamakan, gila jabatan dan gelar. Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak fokus pada apa kata orang tetapi apa kata Tuhan dalam kebenaran yang membawa hidup.

life

       Saya memilih untuk tidak menunjuk si A atau si B yang membeli ijazah palsu, tetapi lebih bersikap reflektif karena kita semua juga rapuh, lemah dan berdosa. Relahkah kita lewat pintu yang “sempit” demi kehidupan yang sesungguhnya? Ketika kita menjawab, “Ya!”, berarti kita memilih cara pandang hidup yang berbeda dari apa yang kebanyakan ditawarkan dunia. Kiranya Tuhan menolong kita berani jujur terhadap diri sendiri, terhadap Tuhan dan sesama. Amin.

 

JALAN PINTAS YANG SEMU TIDAK AKAN PERNAH MEMBAWA KEPADA JAWABAN KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA