SULITNYA BILANG CUKUP

contentment-poet

SULITNYA BILANG CUKUP
Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir.   II Raja-raja 4:6
Berjalan pagi bersama-sama di pantai losari (Makassar, Sulawesi Selatan) adalah hal yang sangat menyenangkan lagi sehat.  Dikatakan menyenangkan karena dapat bangun pagi, menghirup udara segar, melihat pemandangan pantai dan menikmati kebersamaan.  Dikatakan sehat karena olah raga melatih otot-otot yang kendur, menambah stamina dan memperlancar kerja otak. 
Sewaktu berada di pantai, ada beberapa macam tanggapan orang mengenai olah raga pagi.  Seorang merasa cukup berjalan kaki saja, sementara yang lain lebih suka lari kencang pada jarak tertentu.  Ada juga merasa cukup dengan lari-lari kecil dan yang lain duduk menikmati terbitnya matahari.
Sebutan “cukup” bagi setiap orang bisa relatif, masing-masing mempunyai pendapat sendiri tentang kata cukup berolah raga pagi itu.  Kecukupan dapat didasarkan stamina, jarak maupun mood.  Demikian juga dengan namanya berkat dari Tuhan.  Sering kali banyak pendapat tentang kecukupan berkat itu sendiri.  Ada yang merasa cukup dengan penghasilannya, ada yang merasa puas dengan kesehatannya, tetapi ada juga yang sekalipun sudah banyak harta masih belum merasa cukup.  Memang “cukup” itu relatif.
Perjalanan nabi Elisa bertemu dengan seorang janda miskin yang kekurangan berada di dalam konteks keadaan kacau, miskin dan masa sulit perekonomian.  Janda ini hidup dililit hutang besar dan jika tidak melunasi tunggakan, maka anak-anaknya terancam jadi budak.
Elisa menjadi saluran berkat Tuhan bagi janda miskin itu.  Pertolongan Tuhan datang secara luar biasa dalam tuangan minyak zaitun secara melimpah-limpah keluar dari sebuah buli-buli.  Ketika semua bejana kosong terisi, minyak itu seketika juga habis.  Sungguh kata: “cukup” memberi arti tersendiri dalam peristiwa ini.
Masalahnya, “cukup” bukan dari seberapa rakus dan hausnya keinginan  dipenuhi oleh berkat Tuhan, melainkan seberapa tahu diri dan bersyukurnya seseorang pada setiap tetesan minyak berkat itu. 
Jika standar “cukup” dilihat pada manusia, maka kata “cukup” seringkali menjadi sulit diucapkan.  Bisa jadi janda ini akan berkata: “kenapa Tuhan memberi berkat sedikit?!  Mana cukup?!  Kalau minyak sudah dijual dan dapat membeli sedikit makanan, bulan depan kami makan apa?” 
Marilah kita mewaspadai hati yang tamak.  Semakin sulit kita menghayati dan mensyukuri setiap tetesan berkat Tuhan, bisa jadi semakin besarlah benih ketamakan itu.  Kata “cukup” dimulai dari hati bukan dari benda yang kita inginkan.  Seperti ada tertulis: Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *