SIAPKANLAH SEJAK SEKARANG….!

colourfull-umbrella


SIAPKANLAH SEJAK SEKARANG…!
(Baca: Kejadian 19:1-29)
I Korintus 3:13, “sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.”
Pernakah Anda mendengar pepatah, “sedia payung sebelum hujan” ? Empat frasa  kata ini memiliki pengertian yang sangat dalam bagi setiap orang agar bersiap sedia mengantisipasi hal ke depannya.
Ketika saya merenungkan kisah Lot dalam bencana hujan api dan belerang di kota Sodom-Gomora (Kejadian 19:1-29), teringat pula tulisan rasul Paulus kepada jemaat Korintus tentang akhir dari sebuah persiapan (I Korintus 3:1-23).  Apa yang dikerjakan oleh manusia akan nampak kualitas dari hasilnya suatu saat kelak di hadapan Tuhan pada hari penghakiman Allah.
Menengok sejenak tentang catatan Lot di masa lalu tentulah ada sejumlah keputusan yang diambilnya dalam meniti karier hidup.  Lot memulai perjalanan dengan baik ketika merantau dengan Abraham berdasarkan panggilan dan janji Allah.  Di tengah perjalanan, Lot lebih memilih lembah yang  subur di Yordan dari pada di Tanah Kanaan (Kejadian 13:10-13).  Sebuah kesalahan.   Kesalahan pilihan Lot berasal dari motivasi mencari (baca: teologi) kemakmuran.  Kota Sodom terkenal dengan orang-orang yang sangat jahat dan tidak takut akan Tuhan.
Bukankah tidak salah bagi setiap kita apabila mencari penghasilan hidup, meniti karier untuk kesejahteraan hidup?  Bukankah ini wajar dan justru baik?  Ya, memang wajar dan baik apabila kita hanya melihat dari sudut pandang manusia dan rencananya.  Rencana langkah hidup dan keputusannya menjadi salah ketika kita melupakan apa yang menjadi kehendak Tuhan.  Hidup orang percaya harus dimulai dari Tuhan Yesus Kristus dan dilanjutkan dengan hidup bagi Tuhan.
Tampak dengan jelas bahwa Lot tidak mengerjakan hidup Nasraninya dengan sepenuh hati selama di kota Sodom.  Ia justru terpengaruh dan lebih menyerupai cara hidup penduduk di sana dari pada menjadi Garam dan Terang (Lukas 14:34).  Lot menolak tamunya diperkosa oleh massa, tetapi justru menyarankan kedua anaknya perempuan yang akan menikah diperkosa orang banyak orang (Kejadian 19:7-8).  Bukankah tawaran Lot ini sudah jauh dari standar normal dan wajar?  Ada kemungkinan besar selama Lot tinggal di Sodom membiarkan anak-anaknya dapat pasangan hidup yang tidak seiman sehingga tidak masuk hitungan orang yang selamat.  Besar kemungkinan pula Lot tidak membawa keluarganya, khususnya istrinya hidup di dalam takut akan Tuhan.  Akhirnya, istri Lot jadi tiang garam karena kemewahan dan terjerat gemerlap kehidupan duniawi (Kejadian 19:26).
Paulus mengingatkan kita bahwa kelak pekerjaan tiap-tiap orang akan terlihat bagaimana kualitas dan hasilnya di hadapan Tuhan.  Apakah orang percaya itu mengerjakan hidupnya dengan baik di hadapan Tuhan? Apakah sudah dan sedang menghasilkan buah yang lebat?  Apakah  mengerjakan panggilan hidupnya untuk kemuliaan Tuhan?  Semua ini akan terlihat pada saat hari penghakiman.  Jika orang tersebut hanya mengerjakan kepentingan kesejahteraannya sendiri tetapi melupakan pekerjaan dan kehendak Tuhan, maka ia akan menjadi seperti orang yang hangus keluar dari kebakaran meskipun selamat.  Orang percaya kepada Tuhan Yesus itu tetap selamat berdasarkan janji Tuhan tetapi keadaannya seperti Lot.
Hari ini kita diingatkan dari dua bagian Firman Tuhan ini (Kejadian 19:1-29; I Korintus 13:1-23) bahwa kita tidak boleh hanya berhenti sampai pada titik percaya Tuhan Yesus Kristus saja dan menjalani hidup rohani dengan asal-asalan.  Setiap kita dipanggil untuk mengerjakan bagian dan talenta/bakat/kemampuan kita masing-masing sesuai dengan keadaan setiap kita.  Kita harus mempersiapkan sejak sekarang dengan membangun dan berusaha bagi pekerjaan Tuhan.  Kelak suatu saat kita akan mempertanggunjawabkannya di hadapan Tuhan.  Apakah Anda sedang menyiapkan sejak sekarang?  Saya berdoa kiranya apa yang kita kerjakan bagi Tuhan boleh mendapatkan hasil dengan kualitas yang baik dan beroleh upah surgawi.  Mari kita bersama-sama kerjakan bagian kita membangun pekerjaan bagi Tuhan.  Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *