NATAL KELABU DI LINDT CAFE SYDNEY


NATAL KELABU DI LINDT CAFÉ SYDNEY
Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi. Yeremia 31:15
Tepat 10 hari sebelum Natal, 15 Desember 2014 dunia dikejutkan dengan peristiwa teroris membajak Lindt Café di pusat kota Sydney, Australia. Man Haron Monis menodongkan senjata kepada 17 orang (sebelumnya 5 orang berhasil lolos). Dalam sekejap daerah bisnis Martin Place ditutup dan kompleks kejadian perkara dipenuhi dengan aparat keamanan.
17 Jam masa menegangkan berakhir dengan 2 orang meninggal dan 4 orang mengalami luka. Seorang yang meninggal adalah ibu dari 3 anak dan seorang lagi adalah manager dari Lindt kafe. Pelaku teroris yang ternyata tidak asing di catatan kriminal kepolisian juga meninggal setelah baku tembak dengan polisi khusus anti teroris.
Ada satu foto dari media massa yang memuat gambar dua orang tawanan (hostages) menempelkan tangan di kaca dan dipaksa menyelipkan bendera ISIS sementara di bawah kaca terpajang dekorasi dan ucapan Selamat Natal. Tragedi kelabu di sana mengingatkan saya kepada tragedi kelabu di Natal pertama ketika Herodes hendak membunuh bayi Yesus dan semua bayi di Bethlehem (Matius 2:16-18). Waktu itu tidak ada pasukan anti teror, tidak ada media massa yang berani meliput di tempat kejadian perkara dan yang ada adalah kepanikan, tangisan histeris dan kedukaan mendalam.
Apa dampak dari kejadian ini? Banyak! Tentunya membuat teror pada banyak orang dan tidak terlepas orang Nasrani maupun Muslim. Sejumlah orang-orang muslim Indonesia berjilbab berkomentar: takut keluar dan jadi korban kekerasan dari orang-orang yang berprasangka buruk kepada muslim. Bukankah ini jebakan Iblis bagi kita semua?
Ketika (saya menyebutnya) “lingkaran setan balas dendam” menyambut  kekerasan seperti teror di atas, maka dapat menimbulkan prasangka (prejudice) buruk terhadap sterotipe tertentu baik agama maupun suku bangsa tertentu yang berujung saling membalas. Di sinilah propaganda yang sengaja dibuat ISIS menguatkan asumsi bahwa muslim sedang dihancurkan dan satu-satunya cara adalah berjuang jihad dengan kekerasan hingga mati pula.
Bagaimana seharusnya sikap kita sebagai orang-orang Nasrani ketika Natal diwarnai kelabu ini? Apakah kita ikutan menaruh prasangka buruk? Apakah kita terpancing untuk melakukan balas dendam dan terjebak dalam kebencian?
Yesus Kristus memahami masalah kehidupan secara nyata (real problem of life) dan ketika Ia datang di Betlehem hingga di Golgota memberikan harapan bagi yang putus asa, terang di dalam kegelapan dunia. Yesus Kristus menjawab masalah nyata dunia dengan hal nyata: menyembuhkan yang sakit, mengenyangkan yang lapar, mengobati yang luka, memulihkan yang hancur, mendampingi yang berduka dan sendiri (lonely), memberikan jaminan keselamatan hidup kekal kepada manusia yang hidup di dunia yang tidak ideal. Tuhan-lah dan bukan agama manusia yang menjadi jawaban atas masalah nyata ini.
Setidaknya ada beberapa hal praktis yang perlu kita pegang: Pertama, jangan prasangka buruk terhadap suku, agama dan kelompok tertentu. Saya mengenal banyak Muslim yang sangat baik dan ramah, bahkan tetangga-tetangga Muslim kami saling berbagi makanan termasuk di bulan Natal ini. Seorang teroris Man Haron Monis jangan serta merta membuat kita berpikiran negatif dan buruk terhadap semua orang Islam.
Kedua, jangan biarkan “lingkaran setan balas dendam” membuat hidup dan dunia kita menjadi makin kelabu. Kristus datang memberi Terang dalam kegelapan dan mewarnai dunia yang kelabu ini, demikian pula Nasrani dipanggil bukan untuk membuat makin kelabu tetapi penuh warna indah termasuk merah dan hijau yang menyapa dan memberkati semua orang.
Ketiga, mari kita jadi saluran berkat Tuhan sesuai konteks keadaan kita manusia yang rapuh ini. Tidak perlu berlagak sok suci, sok saleh dan sok hebat menjadi orang yang bukan diri kita tetapi sesuai kekuatan dalam proses iring Yesus. Bila kemampuan kita hanya 2 helai baju untuk menolong orang yang kedinginan, itu yang terbaik. Bisa jadi 2 buah roti yang kita bagikan dipakai Tuhan untuk menghangatkan orang yang beku hatinya. Anda dan saya dapat dipakai dalam mujizat Tuhan Yesus. Selamat menyambut Natal. Doa saya untuk keluarga korban meninggal dan korban yang trauma, dihibur dan dipulihkan kembali (oh ya, satu orang yang berhasil lolos dari peristiwa di Lindt kafe ini adalah orang Indonesia). Doa saya untuk Anda di bulan Natal ini. Immanuel.
KRISTUS DATANG MEMBERI TERANG DALAM KEGELAPAN, MEMBERI WARNA PENGHARAPAN DALAM KELABU KEPUTUS ASAAN

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *