MEMENTO MORI

grave-mappers-id

MEMENTO MORI!
Hosea 6:6
Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan,
dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.
J.C. Maxwell seorang penceramah kepemimpinan mengatakan ada dua ciri manusia sukses.  Manusia yang berhasil dalam hidupnya apabila ia mengenal siapa dirinya dan mengetahui tujuan hidupnya.  Berbicara tentang asal dan tujuan hidup manusia, maka manusia disadarkan dengan suatu kenyataan bahwa manusia tidak dapat memilih kapan dan di mana ia dilahirkan.  Manusia tidak dapat menentukan kapan meninggal dan dengan cara bagaimana.
Setiap kali kita menghadiri kebaktian penghiburan atau penutupan jenazah ataupun kebaktian peringatan orang yang sudah dipanggil Tuhan, maka secara implisit setiap manusia disadarkan dengan pepatah: memento mori! (Ingatlah, Anda akan mati!).   Peristiwa dipanggilnya seseorang ke rumah Bapa di sorga mengingatkan betapa hidup manusia terbatas, ditentukan sekali dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27).
Manusia diciptakan Tuhan dengan maksud dan tujuan-Nya.  Bukan suatu kebetulan seseorang lahir ditahun sekian dan mati diwaktu tertentu.  Jikalau seseorang hidup dan masih bisa menikmati satu hari lagi, itu berarti ada maksud dan tujuan Tuhan dalam hidup orang itu.
Ada satu kota kecil di Hamelin, Jerman yang terkenal dengan kisah suling dan tikus.  Suatu waktu kota ini terkena wabah pes akibat sangat banyaknya tikus berkeliaran di kota mungil itu.  Penduduk kuatir dan mulai mencari orang yang dapat memusnahkan tikus-tikus itu.  “Nyawalah paling pentig saat ini.  Jangan sampai anak-anak kita meninggal!  Kita rela membayar berapapun harganya!  Jika nyawa hilang, harta tiada arti!”
Datanglah seorang peniup suling dan memainkan sulingnya.  Begitu ajaib suara lagu itu hingga memikat puluhan bahkan ratusan ribu tikus keluar ke jalan dan berjalan di belakang mengikuti peniup suling.  Peniup suling ke luar dari kota dan semua tikus menceburkan diri ke sungai hingga mati.
Penduduk kota Hamelin sangat senang, dan lalu mereka berkata: “Kalau cuman meniup suling saya juga bisa.”  Peniup suling tidak dibayar.  Ia kecewa dan menundukkan kepalanya.  Kemudian peniup suling ini pergi sambil memainkan suling.  Ternyata lagu yang kedengaran begitu indah hingga menarik semua anak-anak di kota itu.  Mereka mengikuti peniup suling ke luar kota dan tidak pernah kembali lagi.
 
Seringkali ketika nyawa terancam, manusia rela mengorbankan segala hartanya.  Setelah keadaan lancar, manusia seringkali lebih mengutamakan harta dalam hidupnya.  Kita dicipta bukan tanpa tujuan.  Kita dicipta untuk menggenapi setiap tujuan Pencipta.  Tujuan penciptaan ada di dalam Kristus (Efesus 1:11).  Tuhan ingin makna dan tujuan hidup kita mengenal dan mengasihi Dia.  Memento Mori!

1 Comment

  1. two thumbs up! ilustrasinya terdengar ironis ya,Ko,tp mengingatkan sy sm “human nature” nya manusia,dan “bad habbit”ku juga hhe,melelahkan sekali tp semoga bs trs berjuang tiap hari utk sungguh2 mengasihi Dia,makasih buat renungannya:)Gbu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *