LET IT SNOW…! LET IT SNOW…! LET IT SNOW..!


LET IT SNOW..!   
LET IT SNOW..!   
LET IT SNOW…!
Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kiabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.”  Matius 2:8
(Baca: Matius 2:1-12)


Pagi itu selesai mencuci baju dan hendak menjemur, saya dikejutkan oleh angin yang cukup keras dan hujan.  Hanya saja hujan kali ini berbeda dari hujan sebelumnya, hujan salju!  Ya, kristalisasi air yang membeku di awan-awan berjatuhan ke bumi.  Its snow!  Kata pertama yang terungkap dalam hati adalah syukur!  Oh puji Tuhan!  Hati ini begitu gembira melihat karya Tuhan yang luar biasa indah. 
Let it snow!  Let it snow! Let it snow! Adalah lagu Natal yang dibuat tahun 1945 dengan kalimat-kalimat sederhana tentang kehidupan di musim dingin akan jadi hangat karena orang-orang terkasih ada di rumah itu.  Seolah lagu ini menyatakan, tidak perduli seberapa dingin udara di luar, biarlah bersalju sekalipun tetapi hatiku tenang, hangat dan senang.  Seolah intonasi lagu “qui sera sera, what ever will be.” menyatakan hal serupa, terjadilah apa yang perlu terjadi.  Masalah dan kesulitan boleh ada, terjadilah yang harus terjadi asal Tuhan beserta kita dan kita iring Dia ada kedamaian penuh.
Kata: let it snow! (biarlah bersalju) saya pikir boleh juga disematkan pada Natal pertama di Bethlehem.  Ketika para Majus gencar, gempita dan heboh mencari Tuhan Juruselamat yang jadi manusia sebagai bayi Yesus Kristus.  Alkitab menulis “terkejutlah” seluruh Yerusalem dan tidak terkecuali raja bengis, jahat dan culas yang bernama Herodes.
Herodes menginvestigasi para Majus dengan cermat dan ditutup dengan “madu di tangan kanan dan racun di tangan kiri” lewat perkataan akan menyembah Yesus padahal hendak membunuh bayi Yesus.  Kendati raja sekalipun hendak berbuat nista dalam kehidupan keluarga Yusuf, tetapi malaikat mendahului niat jahat dengan pencegahan ke Mesir.  Herodes mau berbuat jahat?  Qui sera sera, let it snow!  Berbuat jahatlah, tetapi tanpa seijin Tuhan, tanpa ketetapan dari Tuhan maka melihatpun bayi Yesus pun tidak akan bisa, apalagi menyentuh-Nya.
 Masalah bisa datang kepada siapa saja, bukan hanya keluarga Yusuf tetapi keluarga Anda dan saya.  Bila kita memastikan diri berjalan bersama Tuhan, maka kita pun dapat berkata Let it snow ! let it snow ! let it snow!  Yang perlu terjadi, terjadilah dan kita kerjakan bagian kita untuk hidup di dalam Tuhan sembari melihat karya Tuhan yang ajaib, tak terselami, melampaui pikiran dan rencana kita. 
Minggu-minggu ini ketika kita merayakan Natal, bisa jadi ada sejumlah masalah yang masih harus dihadapi, ada setumpuk kepahitan, kekecewaan, kesedihan yang harus diselesaikan, bisa jadi keadaan saat ini jauh di luar ideal untuk merayakan Natal dan keadaan kita kurang baik.  Tapi ingatlah!  Natal pertama juga demikian!  Selama Tuhan Yesus jadi sandaran kita dan kita terus kerjakan hidup dalam Firman Tuhan, let it snow!  Let it snow! Let it snow!  Selamat Natal!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *