AK-47 KALASHNIKOV DAN HAK PATENNYA

AK
AK-47 KALASHNIKOV DAN HAK PATENNYA
(Baca: Matius 16:24-28)
Apa gunanya seorang memperolah seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?  Dan apakah yang dapat diberikannya sebagi ganti nyawanya?  Matius 16:26.

 

Anda tahu senjata otomatis AK-47?  Pernah dengar atau bahkan pernah menggunakannya?  Penemu senjata AK-47 bernama Michael Kalashnikov Timofeyevick lahir 10 november 1919 dan meninggal 23 Desember 2013 pada usia 94 tahun.  Senjata otomatis buatan rusia telah terjual lebih dari 100 juta buah.  Walaupun senjata ini tidak begitu akurat di jarak jauh, namun tahan hampir di segala medan cuaca.  Mulai dari masuk di air, kena lumpur hingga debu padat dari timur tengah tetap membuat senjata otomatis menyalak dan tidak mudah macet.  Senjata ini begitu populer dan dikenal dunia lewat keberadaanya di lebih 55 negara.
Kendati demikian ada sebuah fakta miris dari Kalashnikov hingga akhir masa hidupnya, yakni lahir dan mati tetap dalam keadaan miskin.  Meski senjata buatannya sangat populer dan mendunia, tetapi Kalashnikov hanya tinggal di apartemen kecil jatah negara di Izhevsk.  Bahkan konon ketika bertemu dengan pencipta senjata M-16, Eugene Stoner pada tahun 1990an ada perbedaan sangat besar diantara kedua penemu senjata mendunia ini.  Eugene bukan saja naik pesawat, punya pesawat tetapi bahkan mengendarai pesawatnya sendiri.  Sementara itu Kalashnikov untuk beli tiket pesawat Izhevsk-Moskwa saja hampir-hampir tidak sanggup karena biaya yang terhitung mahal bagi dirinya.
Apa yang menjadi perbedaan besar diantara Kalashnikov dan Eugene?  Eugene mematenkan hasil karyanya sementara Kalashnikov tidak.  Apabila kita hitung secara kasar harga per buah senjata AK-47 dengan kualitas bagus sekitar Rp.10 juta rupiah, maka berapa banyak bila dikalikan lebih dari 100 juta buah apabila hasil ciptaanya dipatenkan?  Ada pepatah mengatakan, “Lahir dari keluarga miskin itu bukan pilihan, tetapi mati sebagai orang miskin itu pilihan”.  Entah apa yang menjadi pergumulan dan keadaan Kalashnikov sehingga ia tidak mematenkan hasil ciptaanya, yang pasti sejarah mencatat Kalashnikov tidak mematenkan AK-47 nya dan hidup pas-pas-an kalau boleh dibilang miskin hingga akhir.
Seperti halnya Kalashnikov, hari ini ada banyak orang Entah apa yang menjadi pergumulan dan keadaan Kalashnikov sehingga ia tidak mematenkan hasil ciptaanya, yang pasti sejarah mencatat Kalashnikov tidak mematenkan AK-47 nya dan hidup pas-pas-an kalau boleh dibilang miskin hingga akhir.
Seperti halnya Kalashnikov, hari ini ada banyak orang memiliki dan sedang berada dalam ironis terbesar hidupnya.  Ada banyak orang begitu luar biasa baiknya, suka menolong, berpikiran positif, melakukan hal-hal yang berguna, membangun dan terlebih luar biasa baik.  Itu semua sangat baik dan indah, namun tanpa mematenkan hak keselamatan yang diperoleh dari Pencipta adalah ironis terbesar sepanjang hidup manusia.  Seperti Kalashnikov, mengusahakan penemuan yang mendunia tetapi tidak dapat menikmati royalti dari temuannya karena tidak ada hak paten.  Hidup manusia sebaik apapun tanpa jaminan keselamatan di surga adalah sebuah ironi mendunia.
Sebagian orang merasa dirinya jauh lebih baik dari orang-orang Nasrani, jauh lebih dari orang-orang beragama yang fanatik itu, tetapi perbuatan baiknya, bahkan sikap hidup dan cara pikir yang baik sekalipun tidak akan membawanya pada keselamatan hidup dan meaningful life seperti yang dirancang oleh Pencipta alam semesta dan isinya.
Yesus mengatakan “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Matius 16:26a).  Manusia bisa saja mendapatkan harta kekayaan, jabatan, kekuasaan yang berlimpah tetapi tanpa “hak paten” keselamatan yang dari Allah (Yohanes 3:16) adalah dalam keadaan rugi terbesar.  Konteks perkataan Kristus ini adalah dalam rangka orang-orang yang mau percaya (bukan sekedar setuju) dan mengiring Yesus harus sepenuhnya.
Apakah menjadi orang baik penting?  Ya, penting dan perlu!  Apakah berarti setelah percaya Tuhan Yesus dan iring Dia otomatis tidak usah lagi menjadi orang baik dan berbuat seenaknya?  Tidak.  Karena tetap berlaku apa yang ditabur orang itu jugalah yang dituainya (Galatia 6:7).  Menjadi orang baik, memiliki sesuatu bahkan dengan berlimpah itu satu hal, tetapi memiliki keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus dan berjalan bersama Allah itu segalanya. 
Seseorang tidak dapat memilih lahir dari keluarga mana, dengan keadaan seperti apa dan juga meninggal di waktu kapan, umur berapa dan pada saat kondisi seperti apa; tetapi ia dapat memilih akhir dari jalan hidupnya seperti apa.  Lahir miskin bukan sebuah pilihan, tetapi mati miskin apalagi tidak selamat di neraka adalah sebuah pilihan.
Bagi setiap pembaca yang sering atau pernah mendengar tentang Yesus tetapi belum bertobat dan sungguh-sungguh mau mengikut Dia: kalau bukan Anda siapa?  Kalau tidak sekarang, kapan?  Waktu akan cepat berlalu dan tidak pernah dapat ditebak kapan masing-masing orang jam kehidupannya akan berhenti berdetak.  Jangan tunggu nanti, putuskan saat ini untuk dapat anugerah terbesar dari Tuhan Yesus Kristus.
Bagi setiap kita yang sudah dan sedang mengiring Yesus, seringkali kita malu apabila ada orang-orang diluar yang sikap hidupnya lebih baik, lebih suka menolong, lebih berpikiran positif sementara kita masih berjuang jatuh bangun untuk bertumbuh secara rohani, bertumbuh jadi lebih baik.  Jangan menyerah!  Bangun lagi, bangkit lagi!  Belajar lebih militan, belajar lebih cerdik dan berhikmat seperti kata Sang Guru: Cerdik seperti ular dan (tetap) tulus seperti merpati.  Kiranya  Tuhan menolong kita membangun karya yang terbaik bagi peradaban manusia, bagi Kerajaan Allah, bagi kemuliaan-Nya.  Soli Deo Gloria.  Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *