APAKAH BAIK MENGAMBIL KEPUTUSAN CARA UNDIAN?

hagoral

APAKAH BAIK MENGAMBIL KEPUTUSAN DENGAN CARA UNDIAN?

(Baca: Kisah Para Rasul 1:26)

hagoral

       Bagaimana kesan Anda apabila ada orang yang mengambil keputusan dengan undian? Alkitab mencatat sejumlah peristiwa bagaimana umat Tuhan memakai cara undian untuk mengambil keputusan. Mulai dari Yosua yang menggunakan undian untuk pembagian wilayah Israel (Yosua 14:2), Nehemia menggunakan undian dalam pembagian jadwal kerja pelayanan di Mezbah Tuhan (Nehemia 10:34), hingga para murid Yesus yang dikoordinir oleh Petrus menggunakan undian untuk memilih rasul pengganti Yudas Iskariot (Kisah Para Rasul 1:26). Undian adalah salah satu cara yang dipakai umat Allah dalam sejarah Alkitab untuk mencari kehendak Tuhan.

       Undian untuk mengambil keputusan di dalam Firman Tuhan tidak pernah dimaksudkan bahwa manusia bersikap konyol dan sembarangan dalam mengambil keputusan. Undian pada dasarnya memiliki prinsip dasar bahwa kita sebagai umat Allah melakukan bagian kita dan menyerahkan kepada Tuhan apa yang menjadi kedaulatan dan rencana-Nya. Undian dimaksudkan menghindari pilih kasih atau keputusan yang terlalu subjektif. Undian juga dimaksudkan untuk dua pertimbangan akhir yang sudah dipikirkan dengan matang dan masih belum ada jalan keluar terbaik.

       Para murid Yesus tidak asal melempar undian untuk memilih jabatan rasul. Mereka haruslah orang yang memiliki kerohanian baik, salah satu dari orang-orang yang berkumpul dan hadir melayani bersama Yesus. Tujuan pemilihan juga jelas, yakni menjadi pelayan yang bersaksi tentang kebangkitan Yesus dari kematian. Yusuf (Barsabas/Yustus) dan Matias adalah dua nama yang sudah dipertimbangkan dengan serius sebelum mereka mendoakan dan pada akhirnya menggunakan undian sebagai cara mengambil keputusan.

       Hari ini meskipun pengambilan keputusan dengan cara undian adalah cara yang sangat kuno, namun boleh digunakan oleh orang-orang percaya dengan pemahaman dan langkah-langkah yang benar alias tidak fatalistik. Memilih makan siang di mana, mengambil gelas besar atau kecil untuk minum tentu tidak perlu menggunakan undian. Prinsip dasarnya adalah kita dipanggil untuk menggunakan pertimbangan dengan baik, membawa dalam doa, dan mengambil keputusan yang terbaik diantara yang baik. Barulah pada saat itu boleh lah kita mengatakan, “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.” (Amsal 16:33).

UNDI DIBUANG DI PANGKUAN, TETAPI SETIAP KEPUTUSANNYA BERASAL DARI PADA TUHAN

JALAN HIDUP BERKERIKIL

Tuhan hadir

JALAN HIDUP YANG BERKERIKIL

(Roma 8:28)

Tuhan hadir

       Berada dalam pergumulan yang berat tentu menyita energi setiap orang. Kerap kali pergumulan berat itu datang bak tamu yang tidak diundang dan pergi meninggalkan luka batin yang menyayat. Inilah yang dialami oleh Eva Mozes Kor. Seisi keluarga dibantai oleh tentara Nazi, Jerman. Ia menjadi saksi hidup kekejaman kamp konsentrasi dan pelenyapan manusia di Auschwitz. Ia adalah korban bersama 1500 orang yang dijadikan kelinci percobaan oleh Dr.Yosef Mengele. 1945 Perang Dunia II sudah berakhir. Senjata diletakkan, dan tawanan perang dibebaskan namun tidak halnya bagi ibu Kor yang terus berperang dengan trauma emosional yang mendalam.

       Setelah 50 tahun bergumul dalam luka batin, pada tahun 1995 ibu Eva sembuh. Dalam buku yang ditulisnya ia menyimpulkan: Pengampunan bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat lebih dari pada keadilan ditegakkan.

       Paulus pun bergumul dalam berbagai permasalahan, baik itu penganiayaan, fitnah, cambuk, penjara dan ancaman hukuman mati karena iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Ketika Paulus menuliskan kitab Roma, ia memaparkan dengan jelas bahwa setiap orang percaya yang tidak memiliki pengharapan bak sudah mati selagi hidup. Pengharapan kepada Yesus dan bersama Yesus adalah kekuatan tak terlihat menghadapi hidup yang berkerikil. Sejarah dunia mencatat bahwa Paulus berakhir dengan dipenggal kepalanya sebagai martir.

       Beberapa waktu lalu seorang rekan pelayanan menyaksikan bagaimana saat-saat akhir sebelum mamanya dipanggil Tuhan. Mamanya sakit keras di usia 85 tahun. Ketika ditanya apakah siap bertemu Yesus? Oma tersebut mengatakan, “Siap!”. Beberapa waktu kemudian ia bertanya, “Siapakah mereka ini yang berdiri memakai baju putih-putih?” Orang disekitarnya heran karena tidak ada siapapun termasuk banyak orang apalagi berbaju putih bersinar. Sebelum ibu ini meninggal, ia mendapat karunia khusus melihat para malaikat menjemputnya. Sakitnya tetap tidak sembuh hingga meninggal, tetapi kehadiran Ilahi menguatkan dan mengantar pada kehidupan kekal.

Tahukah Anda kemenangan terbesar dalam pergumulan bukan mendapatkan apa yang kita mau, tetapi TUHAN hadir dan berjalan bersama kita. Paulus tetap dipenggal kepalanya sebagai martir. Ibu 85 tahun tetap meninggal dalam sakitnya tetapi ia dan keluarganya dikuatkan dengan kehadiran malaikat Tuhan. Doa saya Tuhan menolong setiap kita dalam anugerah-Nya menghadapi jalan hidup berkerikil. Amin.

KEMENANGAN TERBESAR DALAM PERGUMULAN BUKAN MENDAPATKAN APA YANG KITA MAU, TETAPI TUHAN HADIR DAN BERJALAN BERSAMA KITA

TIDAK SADAR DILAWAT TUHAN

encounter with God

TIDAK SADAR DILAWAT TUHAN

(Baca: Lukas 24:13-35)

encounter with God

       Ada seorang yang titip beli sekotak susu segar pada kawannya. Berhubung mereka adalah kawan dekat, setelah membeli ia langsung masuk rumah dan meletakkan di dalam kulkas. Tidak berapa lama kemudian kawan yang titip susu keluar dari kamar dan berbincang-bincang. Ia membuka kulkas dan mengambil buah. Setelah menutup pintu kulkas, kawannya ini bertanya, “Apa kamu sempat beli susu titipanku? Temannya tertawa dan menjawab, “Kawan, kamu baru saja menatapnya.” Mungkin kita kita akan berkata, “Kalau kejadian itu tidak mungkin menimpa saya. Susu kotak begitu besar, bagaimana mungkin tidak melihat?!”

       Tahukah Anda kerap kali banyak pengikut Tuhan yang justru tidak menyadari bahwa Tuhan tengah bekerja dan hadir dalam hidup mereka. Kenapa? Karena banyak orang yang sibuk dengan pikiran dan rencananya sendiri. Inilah yang dialami oleh Kleopas, pengikut Yesus. Kleopas hendak pulang kampung menuju Emaus. Ia sedih, bingung dan kecewa terhadap keadaan Yesus yang mati disalibkan. Bahkan ketika Yesus menyapa dan mengajak bicara dengannya, ia tidak menyadari kehadiranNya, bak selubung kain yang menutupi mata rohaninya.

       Yesus menegor Kleopas bukan karena bodoh, tidak tahu banyak ayat hafalan atau menguasai segudang teori Sistematika Teologi; namun karena kelambanan hatinya alias tidak menaruh sepenuhnya percaya pada perkataan Yesus dan Alkitab. Ketika Dua murid yang menuju Emaus makan bersama Yesus, mata rohani mereka tercelik. Mereka menyadari tengah dilawat oleh Yesus. Bukankah Yesus yang sanggup membuat buta melihat, tuli mendengar, sakit sembuh, lumpuh berjalan dan mati dibangkitkan? Yesus yang sama yang sanggup mengadakan mujizat kepada para murid waktu itu adalah Tuhan yang sama yang sanggup menolong Anda dan saya. Bisa jadi lewat masalah dan kesulitan yang tidak kita harapkan, Tuhan justru hadir tengah menyapa kita. Mari tetap percaya dan taat Firman-Nya. Amin.

PERCAYA & TAAT PENUH ADALAH BAGIAN TAK TERPISAHKAN UNTUK MENGALAMI TUHAN SANG PENOLONG