SEBUAH PEMIKIRAN

1christian-cafe
Sebuah Pemikiran tentang Cafe Nasrani:
Unsur-unsur Garden Community
(Baca: Kejadian 2:8-14)

Kira-kira seperti apa unsur-unsur sebuah Cafe Nasrani?  Bagaimana melibatkan Allah di dalam dunia usaha ini?  Bila kita mengamati kitab Kejadian 2:8-14, maka terdapat banyak hal menakjubkan bagaimana Allah sangat mengasihi dan perduli dengan kesejahteraan manusia.  Allah membuat sebuah taman (garden) khusus dengan rancangan yang sempurna untuk kesejahteraan manusia.  Mulai dari makanan, minuman dan semua unsur keindahan artistik ditata sedemikian rupa agar manusia memelihara dan menjalani kehidupan di dalam Tuhan.
Seperti apa persisnya taman Eden itu, kita tidak dapat memastikannya.  Berdasarkan kata “Eden”, yang artinya sangat memuaskan hati, sangat indah, sangat menyenangkan; terlihat bahwa taman ini bukan sembarangan taman yang ada apalagi terbentuk dengan sendirinya.  Allah memformulasikan dengan sejumlah unsur alam plus dengan sentuhan Allah yang membuat taman Eden ini boleh dikatakan seperti surga.
Tentu saja kita tidak mungkin membuat taman Eden kedua, sebab yang pertama saja kita tidak tahu persis dan unsur kesegaran alam sempurna tidak kita miliki.  Kendati demikian mengacu kepada beberapa aspek alam dan catatan Musa ini, maka kitab Kejadian setidaknya dapat merumuskan ide sederhana perihal usaha Cafe Nasrani yang bercorak Gardenia alias taman.
Saya membayangkan Gardenia di Eden ditata sedemikian asli dan bersih sehingga orang yang tinggal tidak stress tetapi mengalami kesegaran (refreshment).  Di dalam Gardenia terdapat unsur makanan yang sehat, bersih, enak dan sedap dilihat mata.  Makanan yang sehat artinya menggunakan bahan-bahan yang baik bagi kesehatan tubuh.  Makanan bersih artinya terhindar dari penyakit, maupun kuman-kuman lain, alias higenis.  Makanan enak tentu saja nikmat dan berasa khas sesuai dengan selera kebanyakan orang.  Makanan yang sedap dilihat artinya ditata sedemikian rupa sehingga kelihatan elegan (terpilih & tertata rapi).
Adapun minuman di taman Eden mengalir dari air kehidupan dan memancar ke sungai Pison, Gihon, Tigris dan Efrat.  Air yang diminum bukan mematikan, membiuskan, memabukkan, ataupun beracun.  Minuman sehat tidak selalu hambar dan tidak enak.  Minuman yang ada di Gardenia selain bersih, sehat dan juga baik untuk sirkulasi tubuh manusia. 
Keindahan taman Eden memang tidak tergambarkan secara jelas dan sulit untuk dibayangkan kecermatannya.  Meskipun demikian, kitab Kejadian menyebutkan unsur penataan pohon-pohonan dan buah-buahan.  Bisa jadi terdapat kerindangan, campuran warna hijau yang konon katanya menyegarkan mata.  Adanya aliran air di Gardenia yang bersih, segar dan mengeluarkan suara gemericik.  Konon aliran air gemericik dipakai pula untuk terapi di jaman ini. 
Bisa juga setting Gardenia dilengkapi dengan satu atau lebih jenis bebatuan yang diikuti dengan sirkulasi udara yang baik.  Aroma alam dapat ditimbulkan secara soft dan berefek ringan untuk membawa suasana yang fresh.  Campuran warna emas adalah bagian dari keceriaan, keindahan sekaligus berkelas.  Semua unsur inipun didapati dari aliran cabang sungai Pison, Gihon, Tigris dan Efrat.
Hal terpenting dari semua komponen di taman Eden adalah adanya pusat taman dengan hadirnya pohon kehidupan dan pohon pengetahuan baik dan jahat.  Pohon kehidupan bisa ditafsirkan sebagai pohon yang nyata yang bila dimakan buahnya membuat orang awet muda.  Pohon kehidupan bisa juga ditafsirkan sebagai simbol bahwa Allah hadir sebagai pusat kehidupan dan yang menyelenggarakan kesejahteraan. 
Pohon pengetahuan baik dan jahat bisa ditafsirkan sebagai standar yang menentukan yang jahat dan baik adalah dari Tuhan.  Ketika manusia memutuskan untuk menentukan sendiri arti baik dan jahat, pada saat itu pula manusia tersesat.  Pengertian lain tentang pohon pengetahuan baik dan jahat adalah simbol ketaatan manusia.  Bila manusia memakannya, maka manusia memberontak terhadap Allah karena sudah dilarang sebelumnya.
Gardenia ala Nasranibukan tentang agama, tetapi seputar kehidupan yang dipelihara.  Gardenia ala Nasranibukan religi, tetapi menghadirkan Allah sebagai pusat hidup dan pusat dunia usaha. 
Di tengah-tengah Gardenia dapat didesign sedemikian rupa dengan ornamen yang mengagungkan Allah, yang menyatakan bahwa Tuhanlah pusat kehidupan yang menyegarkan.  Bisa juga diletakkan sejumlah ayat Alkitab di berbagai sudut atau pusat Gardenia.
Akhir kata dari semua pemikiran seputar Cafe Nasrani adalah inti dari bagian ini jangan sampai dilupakan pembaca.  Pertama, Allah yang menciptakan kehidupan dan memfasilitasi manusia dengan kesejahteraan.  Kedua, Hidup manusia dirancang untuk bersekutu dan berpusat kepada Allah.  Ketiga, Sentuhan kehidupan yang sejahtera, damai, dan menyegarkan berasal dari Allah dan untuk kemuliaan Allah.    Oleh sebab itu mari kita mulai bersama Allah, dengan doa dan relasi di dalam Tuhan kita menjalankan masing-masing panggilan kita.  Amin.

INGIN BERKARIER DENGAN BENAR?

Executive
Ingin Berkarier dengan Benar? 
Simak Hakikat Dasar Karier Manusia
(Baca: Kejadian 2:4-7)
 
Jaman ini banyak orang berlomba-lomba mencari karier yang terbaik.  Kebanyakan mereka yang mengambil pendidikan di perguruan tinggi di dorong oleh tren, arahan (terkadang instruksi) orang tua, pengaruh teman dan asal masuk tanpa kejelasan arah hidupnya. 
Di masa lalu, bidang ekonomi menjadi rebutan lowongan pekerjaan.  Banyak orang tua mendorong generasinya masuk bidang manajemen dan akuntansi agar bisa dapat penghasilan besar dan berhasil.  Di waktu selanjutnya, justru bidang dunia maya menjadi tatapan bagi banyak orang untuk berhasil tanpa berlelah-lelah fisik.  Banyak orang tuamulai menyarankan anaknya masuk di teknik informatika dan perpaduannya.
Siapa yang tidak ingin sukses?  Siapa yang tidak ingin berhasil?  Kerap kali pencapaian sukses hanya dibatasi banyak uang dan bekerja di perusahaan besar.  Padahal hakikat dari keberhasilan hidup seseorang adalah apabila ia menggenapi tujuannya diciptakan.  Dengan melakukan kehendak Allah, di dalamnya termasuk menggarap dan mengembangkan talenta/bakat yang ada pada dirinya.
Setelah berhasil, kerap banyak orang mengatakan “Keberhasilanku adalah mulai dari nol.”  Sering pula kita dengar banyak orang mengatakan “si A berhasil dalam usaha, tidak lepas dari kerja kerasnya mulai dari nol.”  Benarkah hal ini?
Bila kita melihat sekelumit sejarah penciptaan alam semesta, maka kita akan lebih instropeksi diri bahwa sesungguhnya Allah yang memodali kita hingga kita berhasil.  Apa buktinya?  Pertama, tanpa sarana dan prasarana alam dan isinya maka manusia tidak mungkin bertahan hidup.  Makanan sayuran, buah dan semua hewan diciptakan Allah sebelumnya.  Bahkan udara, air dan daratan adalah bagian dari awal yang disiapkan sebelum manusia hadir di bumi. 
Kedua, manusia diciptakan dengan misi untuk berhasil seturut dengan panggilan hidup-Nya.  Masing-masing orang memiliki panggilan hidup yang unik dan berbeda.  Secara universal, panggilan hidup manusia adalah bertanggung jawab mengerjakan kehidupan, mengatur alam dengan baik, dan mengembangkan masa depan secara bertanggung jawab: baik itu beranak cucu ataupun regenerasi.
Ketiga, dengan jelas kitab Kejadian memperlihatkan salah satu tujuan hidup manusia adalah menggarap alam semesta.  Kejadian pasal dua berisi sekilas mengenai keadaan alam yang baru saja ada dan perlu digarap oleh manusia.  Benih kehidupan alam beserta dengan semua tumbuh-tumbuhan sudah tertanam di tanah.  Inilah modal bagi manusia pertama untuk menggarap tanah.  
Keempat, mengacu kepada kejadian pasal satu terdapat sejumlah hewan yang diberikan kepada manusia untuk dinamai dan ditaklukan dalam pengertian dikelolah dengan bertanggung jawab.  Allah memberi modal selain tanaman juga hewan.
Dari ketiga pernyataan ini, jelaslah bahwa hakikat manusia berkarier tidak pernah dimulai dari nol.  Allah memodali manusia dengan sarana dan prasarana.  Allah memodali manusia dengan bakat/talenta.  Allah memodali manusia dengan hikmat dan kepandaian.
Bukankah di sini kita bisa melihat, bahwa bila seseorang memulai karier dan berhasil harusnya ia mengatakan “Tuhanlah yang membuatku berhasil.  Tuhanlah yang memodali keberhasilan ini.  Oleh sebab itu, segala kemuliaan dan syukur harus kembali kepada-Nya.”.  
Bila Anda akan memulai berkarier, ingatlah bahwa Anda tidak sendiri.  Allah hadir memodali dan menyertai orang-orang yang percaya dan mencari Dia dengan sepenuh hati. 
Bila Anda tengah berkarier, ingatlah bahwa tidak ada kemustahilan untuk berhasil di dalam Tuhan.  Tuhan merancang kita untuk berhasil sesuai dengan tujuan-Nya.  Ingatlah untuk melibatkan-Nya setiap saat. 
Bila Anda sudah berhasil di dalam karier dan tengah merintis pengembangan usaha lebih lanjut, ingatlah bahwa semua awal modalnya dari Tuhan.  Perasaan dan keangkuhan semua usaha dari diri sendiri hanya akan membuat kita tersesat dan jatuh secara perlahan.  Janganlah lupa mempersembahkan ucapan syukur dari apa yang Tuhan sudah berikan selama ini.
Hakikat karier manusia berasal dari Allah.  Allah-lah yang memodali awal kehidupan dan menaruh semua potensi dalam diri manusia.  Oleh sebab Allah pencipta dan pemodal karier kita, maka sudah seharusnya kita melibatkan Tuhan dalam setiap perencanaan (Yak.4:15) dan mengembalikan syukur kepada Allah atas berkat-berkat yang telah kita terima.  Amin.

Allah Cuti?

chairs
Allah Cuti?
(Baca: Kejadian 2:1-3)
Dewasa ini istilah cuti begitu lekat bagi banyak orang yang bekerja di berbagai bidang.  Setiap tahun ada sejumlah hari untuk cuti, baik itu di lembaga pemerintahan, swasta hingga di gereja.  Cuti bertujuan bukan saja untuk istirahat, refreshing, tetapi juga menjadi ajang untuk belajar dan diperlengkapi dengan lebih baik.  Inti dari cuti adalah istirahat, berhenti sejenak.
Sebagian orang tidak menyukai kata “cuti”, sebab bagi mereka hidup adalah terus menerus bekerja, produktif dan menghasilkan sesuatu.  Bila tidak bekerja, rasanya diri ini bersalah bahkan berdosa.  Sebagian orang lain merasa “cuti” adalah sebuah kerugian dan kegagalan.
Sebagian orang lain sangat menyenangi yang namanya “cuti” tetapi mempergunakannya dengan keliru.  Cuti dipakai sebagai kesempatan untuk mengumbar nafsu.  Ada orang yang mengkorupsi “cuti” dengan bolos kerja atau memperpanjang sendiri waktu liburnya.  Sudah tidak asing bila sejumlah oknum di instansi tertentu masuk kerja semaunya, pulang kerja secepatnya, dan libur kerja seenaknya.

Bagaimana dengan pola Allah dalam hal cuti?  Apakah Allah juga cuti?  Iya, Kejadian pasal dua adalah pemaparan sangat jelas bagaimana Allah juga cuti alias istirahat.  Pengertian “cuti” ini berbeda dengan konteks pemahaman sejumlah orang pada umumnya termasuk pembahasan di atas.  Sebelum segala sesuatu ada, Allah telah merancang dengan akurat segala isi alam semesta.  Allah menciptakan dengan tidak terburu-buru dan menikmati hasil kerjanya dengan syukur.  Setelah menyelesaikankarya penciptaan, pada hari ketujuh Allah beristirahat.

Pola Allah di dalam berkarya adalah merencanakan, bekerja, istirahat dan menikmati ciptaan-Nya.  Setelah semua itu, Allah tetap bekerja melanjutkan karya-Nya hingga sekarang.  Pada waktu Allah beristirahat, bukan berarti dunia ini kacau ataupun vacuum.  Di dalam cuti Allah, alam berjalan dengan teratur, pemeliharaan Allah berlaku bahkan kehidupan yang dinamis dan bervariasi tengah berjalan dalam prosesnya.
Ada perencanaan dan ada kerja.  Ada kerja dan ada menikmati hasil kerja.  Ada kerja dan ada pula istirahat.  Rupanya ada pola kerja yang perlu diikuti setiap manusia dalam menjalani hidupnya.  Orientasi hidup bukan pada produktivitas atau seberapa banyaknya bekerja, tetapi pada rencana, tujuan, prioritas, kerja, evaluasi/mensyukuri hasil kerja/menikmati, istirahat dan berputar lagi mencapai tujuan (konsep spiral).
Menariknya dalam pola kerja Allah ini adalah Allah memberkati dan menguduskan semua ciptaan-Nya.  Artinya, apa yang dikerjakan Allah bukan saja baik, akurat dan sempurna, tetapi juga di dalam kekudusan.  Di bagian ini kita dapat mengerti bahwa setiap pekerjaan harus dikerjakan di dalam Tuhan dan untuk Tuhan, sebab hanya dalam kerangka inilah manusia dapat menikmati secara tepat dan benar arti dari kehidupan ini.
Apapun pekerjaan Anda (entah sebagai pelajar, karyawan, manager, dst), perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan cuti adalah bagian dari pola hidup yang sehat.  Tidak perlu berlebihan bekerja, sebab akan membuat kita kelelahan dan sakit.  Tidak boleh kelewatan libur, sebab akan membuat kita malas.  Kerja keras perlu, asal tidak diperbudak oleh kerja.  Mau cuti?  Silahkan, Tuhan aja juga cuti.